CEO'S Prince

CEO'S Prince
Cerita Malam Itu



Flash Back On.


Di balkon depan kamar Kinan.


Andre membuka ikatan jubah tidur Kinan. Menarik jatuh jubah tidur Kinan, hingga Andre dapat melihat baju tidur seksi yang dikenakan Kinan. Bertali kecil dengan renda-renda cantik.


Jemari tangan Andre pun bergerak membelai punggung Kinan yang terbuka lebar. Dan Andre terkesiap kaget merasakan kulit punggung Kinan tidak semulus kulit wajah dan tangannya.


"Ada apa dengan punggungmu, Kinan?" tanya Andre segera melepaskan cengkeramannya di pinggang Kinan. Lalu memutar tubuh ramping Kinan hingga membelakanginya. Kulit punggung Kinan tidak rata, ada beberapa keloid yang muncul di sana.


"Punggungku terluka saat melindungi Rimba dari amukan ibu buaya di sungai," jawab Kinan jujur.


"Buaya? Kau berkelahi dengan buaya?" tanya Andre tak percaya dengan pendengarannya. Melihat mahluk reptil itu dari layar televisi saja, Andre tidak suka. Bagaimana Kinan bisa seberani itu berhadapan dengan hewan buas pemakan daging itu?


Kinan mengangguk. "Naluri dan keberanian seorang ibu langsung bangkit begitu melihat putranya dalam bahaya, Kak. Saat itu keadaan benar-benar mencekam. Untunglah Tina datang dan segera membantuku. Jika Tina tidak menimpuk buaya dengan batu kemudian berlari ke arah lain, mungkin aku akan kehilangan lengan tanganku."


Oh Tuhan, semengerikan itu hidup di alam liar, batin Andre.


"Pasti ini sangat sakit dan sembuhnya lama," gumam Andre. Jemari tangan Andre kembali menyusuri bekas luka yang cukup lebar di punggung Kinan.


Gairah asmara Andre langsung luruh memikirkan semua penderitaan yang Kinan alami selama tinggal di pulau asing. Pasti sangat berat. Mengandung, melahirkan, membesarkan putranya hanya sendirian di sebuah tempat terpencil. "Maafkan aku tidak ada di sampingmu untuk menjaga dan melindungi kalian berdua."


Perasaan sedih menggelanyut di hati Andre yang membuatnya kembali mendekap Kinan dari belakang. Meletakkan dagunya di ceruk leher Kinan. Menghirup wanginya tubuh Kinan. "Aku ingin mendengar semua kisahmu bersama Rimba di hutan. Banyak moment yang seharusnya kumiliki saat pertama menjadi seorang ayah, menguap begitu saja."


Kinan memgangguk, meremas jemari tangan Andre yang melingkar di perutnya. "Aku akan menceritakannya, Kak. Tapi di sini dingin, lebih baik kita masuk ke dalam. Kinan tidak mau Kakak masuk angin. Tidak pakai baju pula," ucap Kinan tak kunjung mengalihkan pandangannya dari keenam otot perut Andre yang super seksi.


"Apakah Rimba sudah tidur?" tanya Andre.


Kinan mengangguk.


"Rimba sudah tidur. Aku tak ingin tidurnya terganggu. Bagaimana kalau kita bicara di kamarku saja?" tanya Andre sambil memungut jubah tidur Kinan di lantai. Membantu Kinan memakainya kembali. Sebelum mengajak Kinan melompati balkon.


Astaga! Malam-malam pindah kamar dengan lompat balkon? Tidak takut jatuh kah?


"Masuklah," ajak Andre setelah membuka pintu kaca yang membatasi kamarnya dengan balkon.


Kamar yang sangat indah. Semuanya berwarna silver, batin Kinan saat memasuki kamar pria yang selalu dirindukannya.


"Duduklah di sofa." Andre lalu berjalan membuka kulkas yang ada di kamarnya. Mengambil dua kaleng minuman soda dingin untuk menjadi teman bicara malam yang sudah makin larut.


Kinan tidak beranjak dari tempatnya malah melirik sekilas apa isi kulkas Andre. Isinya penuh minuman soda kaleng. Tidak ada sebotol air mineral pun di sana.


Saat hendak masuk ke kamar Andre, Kinan juga melihat ada beberapa kaleng minuman dingin di meja kayu yang ada di balkon.


"Apakah Kakak suka minum minuman bersoda?" tanya Kinan dengan wajah khawatir.


Andre mengangguk. "Tidak minum alkohol tapi minum minuman bersoda. Efeknya sama-sama berbahaya. Dapat merusak tubuh." Andre tertawa menertawai dirinya sendiri yang konyol. Sudah tahu resikonya masih saja tetap nekat.


"Kalau sudah tahu bahayanya, kenapa minum sebanyak itu, Kak?" tanya Kinan tidak habis mengerti dengan kebiasaan Andre yang suka minum minuman dengan pemanis buatan.


"Karena aku butuh teman," jawab Andre singkat.


"Ya, teman yang dapat dipercaya. Semua orang yang ada di dekatku. Keluargaku, ibu tiri dan adik tiriku, pelayan di rumah ini, karyawan di kantor, para pemegang saham, semuanya tak dapat dipercaya," jawab Andre.


Kinan kembali teringat raut wajah ibu tiri Andre yang jahat dan telah meracuni Andre hingga menjadi idiot. Lalu adik tiri Andre, Ariani. Dia juga bukan orang baik-baik. Tapi serigala berbulu domba. Pura-pura baik, tapi nyatanya jahat. Keluarga saja mengkhianatinya, tentu di dalam benak Andre ada krisis kepercayaan pada siapapun yang ada di dekatnya. Terlebih lagi, Wanita.


"Kakak juga tidak mempercayai Rendra?" tanya Kinan.


Andre mengangguk. Ia memang masih meragukan Rendra selama ini.


"Sepertinya dia baik, Kak. Rimba tidak melihat ada niat jahat dalam perilaku Rendra. Hanya suka bercanda kelewat batas. Kurasa Kakak dapat mempercayainya," ujar Kinan.


Alis Andre berjengit ke atas. "Maksudnya?"


"Rimba memiliki insting yang lebih kuat dari manusia biasa, Kak. Dia dapat membaca perilaku hewan dan manusia hanya dari gerak-gerik tubuh atau sorot mata. Saat di meja makan, Rimba langsung akrab dengan Rendra bahkan saling berbalas canda. Itu menandakan bahwa Rendra tidak punya maksud jahat pada Kakak maupun kami berdua," tutur Kinan.


"Baiklah." Andre menelan salivanya. Ada perasaan lega di dalam hatinya karena Rimba dan Kinan mengatakan kalau Rendra dapat dipercaya.


Andre menyodorkan sekaleng minuman soda dingin pada Kinan. "Hanya ada ini di kulkas. Minumlah. Aku tidak akan minum minuman ini lagi. Besok aku akan mengganti isi kulkas dengan air mineral atau minuman herbal yang sehat."


Kinan tersenyum. Andre menggapit pinggang Kinan dan berjalan bersama, duduk di sofa yang ada di dalam kamar Andre.


Splash! Kaleng minuman dibuka dan terdengar bunyi mendesis soda. Kinan meneguknya perlahan.


"Aku tak menyangka selain genius, Rimba juga punya banyak kelebihan lain yang terasah karena hidup di dalam hutan yang kaya akan flora dan fauna. Ngomong-ngomong, apakah Rimba juga dapat berbicara dengan hewan?"


Kinan mengangguk. "Sejak kecil Rimba sudah dapat berbicara dengan Tina dalam bahasa hewan. Makin bertambah usia, Rimba makin memiliki banyak teman di hutan. Sehingga ia dapat memahami banyak bahasa hewan. Klinik hewan milikku pun punya banyak pelanggan berkat kemampuan Rimba yang mengerti apa yang dikatakan pasienku. Rimba menyampaikan semua keluhan pasienku sehingga aku lebih mudah membuat resep dan memberikan nasehat yang pas kepada pemilik hewan-hewan tersebut."


"Wow." Andre terperangah mendengar cerita Kinan. "Rimba seperti Tarzan kecil."


Kinan mengangguk dan tersenyum lembut.


"Oh ya, dimana klinik hewan milikmu? Apakah besok kau akan bekerja?" tanya Andre.


"Ada di garasi rumah yang aku tinggali, Kak. Dan besok setelah jam makan siang ada jadwal operasi menyambung tulang. Tentu aku harus bekerja," jawab Kinan.


Andre manggut-manggut.


"Kalau boleh tahu, kenapa kau tidak tinggal di rumah Bu Levi, Kinan?" tanya Andre. "Seandainya kau tinggal di sana, aku pasti lebih cepat bertemu denganmu."


Kinan menghela nafas panjang. Hatinya kurang nyaman saat ingin melontarkan jawaban atas pertanyaan Andre. Sebenarnya Kinan dan Rimba tidak dapat bertemu lebih cepat dengan Andre karena ulah Ariani. Adik tiri Andre ini sudah menghalangi pertemuan mereka. Namun Kinan tak enak hati untuk membuat Andre memarahi Ariani. Membuat hubungan keluarga menjadi renggang. Apalagi sebelum ini Andre mengatakan bahwa di dunia ini ia tidak memiliki teman dan orang yang dapat dipercaya. Jadi jangan menambahkan garam di atas luka yang sudah menganga lebar.


Kinan tersenyum. "Yang lalu biarlah berlalu, Kak. Yang penting sekarang kita sudah bertemu. Itu berarti kita kembali berjodoh lagi."


Andre mengusap lembut kepala Kinan.


Kalau kau tidak ingin memberitahukannya padaku, aku akan meminta Rendra menyelidikinya, batin Andre.


Mereka terus berbincang-bincang hingga subuh menjelang. Ketika Andre kembali dari mengambil air mineral dari kulkas dapur, ia mendapati Kinan sudah tertidur di sofa. Dengan lembut Andre melepas jubah tidur Kinan, membuangnya di lantai. Lalu menggendong Kinan ke tempat tidur. Dan tertidur bersama wanita cantik itu sampai sebuah ketukan pintu membuatnya terbangun di pagi hari.


Flash Back Off.