CEO'S Prince

CEO'S Prince
Kartu As Ayu Sekar



Hari-hari berlalu, Kinan terlihat lebih pendiam dan murung. Pikirannya benar-benar galau. Dewa Yunani dambaannya sudah berhari-hari tidak muncul bahkan tidak sekali pun memperdengarkan suara baritonnya lewat panggilan telepon. Ditambah lagi, Kinan bimbang memikirkan apakah ia harus membicarakan masalah delapan angka titik koordinat lokasi penyimpanan harta warisan dengan Rimba atau sebaliknya.


Lubuk hati terdalam Kinan benar-benar tidak ingin Rimba terlibat lebih jauh lagi dengan urusan Andre. Memang Andre adalah ayah Rimba, seharusnya sudah kewajiban anak untuk menolong ayahnya jika ayahnya menghadapi kesulitan. Namun, Kinan takut Rimba sakit lagi gara-gara terlalu memeras otak.


"Bunda, Bunda kelihatan kurang sehat. Kita tutup kliniknya lebih awal saja ya?" tanya Rimba yang tiba-tiba sudah ada di samping Kinan.


Kinan mengangguk. Klinik sudah sepi sejak tadi, jadi lebih baik Kinan menutupnya lalu pergi mencari udara segar bersama putranya.


"Asyik! Bunda, apakah Rimba boleh mampir bermain di taman dekat rumah nenek Levi? Permainan outdoor di rumah ayah masih selesai dibangun," pinta Rimba.


Kinan tersenyum.


Secercah nostalgia kembali bergelung di pikiran Kinan. Taman di dekat rumah Ibu adalah tempat pertama Kinan bertemu dengan Andre. Jika saja sore itu Andre dan Kinan tidak bertemu di taman, semua ini tidak akan terjadi. Mungkin Kinan sekarang masih bekerja di laboratorium Profesor Rudolph dan tinggal bersama ibunya. Sedangkan Rimba, dia tidak pernah terlahir ke dunia.


Apakah aku menyesali semua yang sudah terjadi dalam hidupku? Kata-kata itu kembali terngiang di pikiran Kinan setelah memadu kasih bersama Andre enam tahun silam.


Tidak, aku tidak pernah menyesalinya. Aku menyukainya. Hidupku jadi semakin berwarna setelah mengenal Kak Andre. Dan Rimba, dia adalah hadiah terindah yang pernah kumiliki, batin Kinan.


Kinan menghela nafas panjang. "Baiklah, aku mengijinkan Rimba membantumu Kak Andre."


"Membantu apa, Bunda?" tanya Rimba bingung.


Kinan mengelus pucuk kepala Rimba. "Apakah Rimba sanggup merangkai delapan angka yang Rimba temukan dalam sayembara teka teki angka menjadi sebuah titik koordinat?"


"Ternyata memang bukan untuk membuka kotak rahasia seperti yang ada di dalam sayembara. Sesuai dugaanku delapan angka itu ternyata adalah titik koordinat lokasi," gumam Rimba pelan.


"Kalau Rimba kesusahan merangkainya, tidak apa-apa, Rimba. Bunda akan memberitahu ayah kalau Rimba tidak dapat merangkainya."


"Bunda jangan under expectation dulu dong. Merangkai delapan angka menjadi titik koordinat itu sangat mudah. Rimba bahkan sudah tahu dimana lokasi titik koordinat tersebut," jawab Rimba enteng.


"Apa? Rimba sudah tahu tempatnya?" tanya Kinan tak percaya.


Ada delapan angka yang sudah Rimba temukan, untuk merangkainya menjadi koordinat suatu lokasi itu berarti ada delapan pangkat delapan kemungkinan. Alias 16,777,216 kemungkinan. Bagaimana mungkin secepat ini putranya sudah berhasil menemukan lokasi titik koordinatnya?


"Iya, Rimba sudah tahu, Bunda. Titik lokasi koordinat tersebut adalah rumah dokter Song Hwa. Dokter penyakit dalam yang pernah Bunda temui beberapa minggu lalu di rumah sakit," jawab Rimba.


"Apa? Dokter Song Hwa?" pekik Kinan terkejut. Bagaimana bisa lokasi penyimpanan harta warisan ayah Andre ada di dalam rumah dokter Song Hwa?


Sebenarnya ada hubungan apa antara dokter Song Hwa dan Kak Andre? Bukankah Kak Andre hanya seorang pasien langganannya saja? Atau jangan-jangan, mereka punya hubungan khusus? batin Kinan.


"Bunda, ayo kita pergi ke taman. Keburu malam, banyak nyamuk," ucap Rimba sembari menarik tangan Kinan.


"Iya, Bunda kunci dulu pintu klinik."


Beberapa hari yang lalu Ariani memecat pelayan rumahnya. Sekarang apartement mewahnya terlihat berantakan seperti kapal pecah. Sangat kotor karena tidak ada yang membersihkan dan merapikan benda-penda pecah belah yang Ariani banting kala stress melanda.


Lho? Kenapa pelayan rumah Ariani dipecat? Tentu saja karena Ariani tidak mau ada mata-mata yang berpihak pada Kak Andre memata-matainya setiap hari dan melaporkannya pada Rendra, sekertaris Kak Andre.


Perang melawan kakak tiri demi memperebutkan Ariandono Group sudah dimulai. Kekayaan Raden Mas Eko Ariandono dan Raden Andre Ariandono harus jatuh ke tangan Ayu Sekar dan Ariani.


Ariani tidak mau rencana luar biasa ibunya gagal gara-gara dibocorkan oleh pelayan rumahnya. Sudah cukup mulut embernya itu membeberkan masalah kebenciannya pada Kinan ke Rendra, lewat telepon.


Ting tong! Ting tong! Bel pintu berbunyi, Ariani dengan langkah lebar langsung menuju ke pintu utama. Mengintip dari lubang intip pintu. Seorang wanita tambun dengan riasan menor ada di balik pintu. Ariani segera membuka pintu apartementnya.


"Silahkan masuk, Tante Ida Ayu Komang." Ariani mempersilahkan kakak kandung ibunya yang wajahnya berbanding terbalik dengan Ayu Sekar Sari ke dalam ruang tamunya.


"Bagaimana, Tante? Apakah Tante sudah mendapatkan informasi tentang Kak Andre?" tanya Ariani penasaran.


Bu Komang menggelengkan kepalanya. "Entahlah, dokter hewan itu begitu pandai menutupi kisah hidupnya. Dia lebih banyak diam dan membalas pertanyaanku dengan senyuman. Jauh dari kata asyik untuk diajak ngerumpi. Mungkin karena dia sudah lama tidak pernah ikut arisan atau kumpul-kumpul sosialita. Jangan minta aku mendekatinya lagi. Aku tidak mau kucing kesayanganku terluka lagi."


Aish! Ternyata kucing berbulu lebat itu sengaja dilepas dan ditabrak hanya demi ingin ngobrol dengan Kinan dan mengorek rahasia tentang Andre? Astaga! Jahat betul! Mana menyakiti hati seorang gadis cleaning servis pula.


"Huh! Dasar dokter hewan menyebalkan!" sungut Ariani kesal.


"Lalu apa rencana kalian berikutnya?" tanya Bu Komang penasaran.


"Kartu As yang selama ini ibu simpan sudah ibu keluarkan," jawab Ariani.


"Kartu As macam apa?" tanya Bu Komang kaget.


"Dulu ibu pernah meminta ayah kandungku untuk mengumpulkan semua bukti kejahatan atau kesalahan para pemegang saham di Ariandono Group. Ada yang suka membeli gadis-gadis perawan dan menidurinya, ada yang selalu berhasil lepas dari hukuman padahal sudah terbukti melakukan KDRT pada keluarganya, ada yang suka korupsi, memakai narkoba dan masih banyak lagi. Semua itu, ibu pakai untuk mengancam mereka semua agar mereka mau memihak ibu di rapat pemegang saham yang akan diadakan beberapa hari lagi," jelas Ariani. Wajahnya terlihat puas dan sangat bangga dengan pencapaian yang dilakukan ibu dan ayah kandungnya.


"Lalu bagaimana dengan suamiku? Apakah Ayu Sekar juga punya bukti kejahatan yang suamiku lakukan di masa lampau?" tanya Bu Komang ingin tahu.


Ariani mengangguk. "Paman langsung menandatangi surat yang diajukan pengacara ibu, begitu pengacara membeberkan semua bukti korupsi dan hobbynya yang suka selingkuh di belakang Tante Komang. Sepertinya Paman begitu takut Tante mengetahui keberadaan wanita simpanannya kali ini. Karena saat ini wanita simpanannya sedang hamil tua."


Bu Komang menggeram kesal. Ia tidak menyangka kalau suaminya begitu cepat tumbang di bawah tekanan adiknya. Dan yang lebih menyebalkan suami busuknya itu akan punya anak dengan wanita lain. Bukan dari rahimnya yang mandul.


"Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Bu Komang yang juga berhasil ditundukkan ibu tiri Andre gara-gara kasus penggelapan dana arisan sosialita.


"Pukul tujuh malam, datanglah makan malam bersama paman di restoran Jade Imperial. Di sana Tante akan bertemu Kak Andre. Selidiki apa yang Kak Andre lakukan di sana. Apakah Kak Andre bertemu orang penting di sana? Setelah itu laporkan semuanya padaku," titah Ariani.


"Baiklah." Bu Komang bangkit berdiri, berniat segera pulang ke rumahnya. Banyak hal yang harus ia lakukan. Pertama menelepon suaminya lalu membeli baju baru dan berdandan sebelum pergi ke restoran Jade Imperial. Selain menyelidiki Andre, Bu Komang juga berniat menggaet suaminya lagi, jangan sampai kesengsem berat dengan wanita simpanannya dan melupakan istrinya.