CEO'S Prince

CEO'S Prince
Tamu Istimewa di Rumah Kinan



"Maaf, Kak. Saya adalah putri dari ibu ini. Kakak tidak perlu khawatir. Saya hanya ingin mengajak ibu saya pulang. Sudah sore, mulai banyak nyamuk," jelas Kinan pada pria tampan itu agar tidak terjadi kesalah pahaman. Siapa tahu pria tampan itu mengira Kinan adalah seorang penculik wanita tua yang sudah pikun.


"Adik, tolong jangan tinggalkan aku di sini," pinta pria tampan itu dengan suara seperti seorang anak kecil dan raut wajah yang dibuat seperti sedang merajuk.


Kinan terkesiap kaget melihat keanehan pada diri pria tampan tersebut.


Telingaku tidak salah dengar kan? Bagaimana mungkin visual tampan dengan tubuh perkasa seperti dewa Yunani, berbicara dengan intonasi dan mimik seperti balita? Bagaimana bisa mengalami keterbelakangan mental separah itu? Apa yang terjadi pada pria tampan ini? batin Kinan tak percaya.


Kinan meneguk salivanya dengan kasar.


"Apakah Kakak tersesat dan tidak tahu jalan pulang?" tanya Kinan memberanikan diri.


Pria tampan itu mengangguk kemudian menangis keras.


"Ya ampun, hei ... hei ... kenapa menangis? Aduh, aku harus apa ini?" tanya Kinan bingung menenangkan seorang pria dewasa yang menangis seperti anak balita.


Tanpa basa basi, dengan cepat, Levi segera memeluk pria tampan itu dan menenangkannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Menepuk-nepuk punggung pria tampan itu hingga berhenti menangis.


"Gadis cantik, apakah ibu boleh mengajak Andre ikut pulang bersama kita? Kasihan Andre sendirian di taman," pinta Levi setengah memaksa.


Oh, nama pria tampan itu Andre ya? Ibu pasti sudah mengenalnya dengan baik sehingga ibu begitu melindungi Andre. Daripada Andre menangis lagi karena takut ditinggalkan di taman, lebih baik diajak pulang ke rumah dulu saja. Sesampainya di rumah, aku akan menanyai Andre lebih lanjut. Aku juga akan memeriksa dompet atau barang lain yang ada di tubuh Andre. Siapa tahu ada kalung atau gelang yang menunjukkan di mana rumah Andre berada, batin Kinan.


Kinan pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Kak Andre boleh ikut ke rumah kita, Bu."


"Terima kasih, Gadis Cantik. Andre, ayo sekarang ikut ke rumah ibu," ucap Levi segera menarik jari jemari Andre dan meletakkannya di tangan Kinan.


"Gandeng Andre juga, Gadis Cantik. Andre adalah anak yang baik," pinta Levi seperti ingin menjodohkan putrinya dengan seorang pemuda tampan yang baru saja dikenalnya siang ini di taman.


Dengan canggung, sebelah kanan tangan Kinan menggandeng tangan Andre dan sebelah kirinya menggandeng tangan Levi. Mereka bertiga berjalan bersama kembali ke rumah Kinan.


Setelah masuk ke dalam rumah, Kinan segera menyalakan televisi. Siaran film kartun. Kinan meminta Andre duduk di ruang keluarga untuk menonton televisi. Karena Kinan hendak memandikan ibunya.


Andre dengan patuh segera mengikuti permintaan Kinan. Duduk dengan santai menonton acara film kartun. Tertawa senang karena sangat menyukai film kartun tersebut.


Sungguh malang nasibnya. Ganteng-ganteng tapi idiot, batin Kinan.


Kinan hanya dapat menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah laku kekanak-kanakan Andre. Lalu segera beranjak pergi ke kamar ibunya.


Setelah selesai memandikan ibunya, Kinan segera menyisir rambut ibunya dan menabur sedikit bedak ke wajah cantik ibunya. Lalu mengajak ibunya keluar kamar dan duduk menonton televisi bersama Andre.


Berkat adanya Andre, ibu Kinan terlihat nyaman dan bahagia, serasa memiliki seorang teman yang senasib dengannya. Sama-sama lemah, membutuhkan perhatian dan perawatan orang lain.


Kinan pun dengan leluasa dapat memasak dan menyiapkan makan malam kesukaan ibunya. Setengah jam kemudian bubur abalone dan gorengan pangsit sudah tersaji hangat di atas mangkuk dan piring porselen.


"Ibu, Kak Andre, ayo makan!" ajak Kinan dari arah meja makan.


Andre segera bangkit berdiri dari sofa empuk, menggandeng tangan Levi dengan hangat membawanya ke meja makan. Menarik kursi meja makan, mempersilahkan Levi untuk duduk terlebih dahulu. Barulah Andre duduk di sebelah Levi.


"Silahkan makan," ucap Kinan mempersilahkan ibu dan tamunya untuk segera bersantap malam.


Andre yang mencium aroma gurihnya bubur abalone langsung cepat-cepat menghabiskan isi mangkuk buburnya.


"Enak sekali buburnya, Adik," puji Andre sambil menyodorkan mangkuknya untuk diisi penuh kembali.


"Kak Andre, di mana rumahmu? Apakah Kak Andre memiliki ponsel, dompet atau sesuatu yang bisa membantuku menemukan keluarga Kak Andre?" tanya Kinan lembut.


Andre menggelengkan kepalanya. Wajahnya polos seperti anak kecil, menunjukkan bahwa dia tidak berbohong kepada Kinan.


"Kak Andre, maaf, Kinan agak sedikit lancang. Apakah Kinan boleh melihat isi saku celana kakak?" tanya Kinan lagi.


Andre menganggukkan kepalanya. Kinan segera memeriksa saku celana Andre. Tidak ada dompet maupun ponsel. Bahkan tidak ada gelang atau kalung di tubuh Andre.


"Eits ... Apa ini?" tanya Kinan lirih.


"Ah ... hanya sebuah permen lolipop," jawab Kinan kecewa. Lalu ia mengembalikan permen lolipop itu ke saku celana Andre.


Kinan menarik nafas dalam-dalam, bingung memikirkan bagaimana cara menemukan keluarga Andre untuk mengabari bahwa Andre ada di rumahnya saat ini. Agar mereka tidak khawatir dan dapat menjemput Andre setelah makan malam.


"Biarkan Andre tidur di kamarmu malam ini, Gadis Cantik. Kasihan dia, terpisah dari keluarganya dan tidak tahu harus tidur di mana malam ini," ucap Levi yang membuat Kinan tidak dapat menolak, hanya dapat mengiyakan permintaan ibunya.


Hati kecil Kinan juga tidak tega melihat Andre terlunta-lunta di jalanan dalam keadaan seperti ini. Kinan khawatir Andre akan mendapat perlakuan tidak baik jika bertemu dengan orang yang tidak tepat.


Setelah membereskan meja makan, Kinan mengantar Andre ke kamarnya. Memberikan sebuah kaos dan celana pendek kedodoran pada Andre sebelum Andre mandi di kamar mandi.


"Mandilah, Kak. Pakaian kotornya diletakkan di keranjang saja, besok akan Kinan cuci. Setelah mandi, segera tidur ya. Kinan juga mau tidur bersama ibu. Kalau Kak Andre perlu sesuatu, ketuk pintu kamar ibu, Kinan akan membantu Kak Andre," ucap Kinan.


Andre mengangguk.


"Terima kasih," ucap Andre sembari memegang jemari tangan Kinan dan meletakkan sebuah permen lolipop di telapak tangan Kinan.


Kinan melempar sebuah senyum manis pada Andre, lalu ia pun keluar dari kamarnya.


"Lucu juga Kak Andre. Ia memberikan permen lolipop satu-satunya padaku. Aish ... Mumpung belum sikat gigi, makan permen dulu ah," ucap Kinan segera membuka bungkus permen lolipop yang diberikan Andre padanya. Dan menikmatinya sebelum tidur malam.


***


Beberapa menit kemudian, Andre keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah bersih, rapi, wangi. Berpakaian santai dan siap beristirahat.


Andre berbaring di kasur empuk milik Kinan. Menyandarkan tubuhnya yang lelah karena berjalan dan menangis sepanjang siang. Untunglah, saat ia berjalan melewati taman, ia bertemu Levi. Seorang wanita paruh baya yang juga kebingungan mencari rumahnya.


Merasa senasib, akhirnya mereka berdua duduk bersama di taman sambil menunggu kedatangan seorang penolong.


Namun sudah lebih dari setengah jam berbaring di kasur, mata Andre masih tak kunjung terpejam, hatinya bergejolak tidak nyaman. Berkali-kali Andre membolak-balikkan badannya di atas kasur.


"Aku belum disuntik ibu. Aku harus disuntik dulu agar bisa tertidur pulas," ucap Andre resah. Ia segera bangkit dari tempat tidur. Mencari-cari obat yang biasanya disuntikkan ibunya sebelum tidur.


Tak disangka Andre melihat sebuah cooler bag berwarna merah tergeletak di atas meja. Cooler bag itu mirip sekali dengan cooler bag milik ibunya.


Di dalam cooler bag itu pasti terdapat suntikan dan obatnya, batin Andre langsung bersemangat mendekati meja tulis Kinan dan membuka cooler bag itu.


Wajah Andre langsung berseri-seri senang melihat cooler bag merah itu berisi beberapa ampul obat berwarna bening dan peralatan suntik.


Andre mengambil sebuah alat suntik, menusukkan jarum suntik ke ampul injeksi. Lalu menyedot cairannya dan menusukkan jarum suntik ke lengan tangannya.


Setelah selesai menginjeksi dirinya sendiri, Andre kembali berbaring di kasur dan menutup matanya. Dan tertidur dengan perasaan nyaman.