CEO'S Prince

CEO'S Prince
Nado Saranghae, Rimba



Setelah mencatat semuanya dalam note ponselnya. Rendra menengadah dan melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang warna kecokelatan, turun dari tangga melingkar. Berjalan sangat anggun. Mengenakan terusan putih sabrina yang memperlihatkan keindahan kulit bahu dan lehernya yang jenjang. Rendra menelan salivanya dengan kasar. Manik matanya serasa hampir copot melihat pemandangan indah dan menyegarkan di hadapannya.


Astaga! Pantas saja Pak Andre mencari Kinan Lee sampai ke dalam lubang semut selama enam tahun. Wanita secantik bidadari di langit ke tujuh, memang harus ditemukan dan dibawa ke dalam pelukan, batin Rendra.


"Bunda cantik sekali ya, Ayah?" tanya Rimba melihat Andre menatap lekat Kinan yang berjalan anggun menuruni tangga.


"She likes an angel." Tanpa sadar, Andre berjalan meninggalkan Rimba, menaiki tangga, perlahan mengulurkan tangannya ingin menggandeng Kinan ke ruang makan. Rimba tersenyum melihat ulah Ayahnya.


"Jangan kau ingkari lagi, Ayah. Hari ini, kau telah jatuh cinta pada Bunda," gumam Rimba yang memilihkan gaun putih untuk dikenakan Bundanya saat makan malam bersama pertama kalinya. Menurut Rimba, kecantikan Kinan akan terlihat makin bersinar jika mengenakan baju berwarna putih.


Kinan tersenyum bahagia. Menyambut uluran tangan Andre dan sebuah kecupan manis mendarat di punggung tangan Kinan.


Dug! Dug! Dug! Jantung Kinan rasanya mau copot deh. Hand kiss from Kak Andre setelah enam tahun tak bersua. Selain menunjukkan sikap sopan, ciuman ini juga berarti gairah dan kagum pada seseorang.


Aih! Apakah dia hanya kagum dengan kecantikan dan keanggunanku? Semoga saja pintu hatinya sudah sedikit terbuka untukku, batin Kinan.


Rendra kembali meneguk salivanya dengan kasar. Akhirnya, setelah sekian purnama, Pak Andre 'sedekat' itu dengan wanita.


Pemandangan di depanku benar-benar langka. Hand kiss, tatapan mata penuh kekaguman hanya tertuju pada Bu Kinan, senyuman yang begitu hangat dan lembut terus terukir di wajah dingin dewa Yunani. Oh ... kamera, kamera, where are you? batin Rendra. Buru-buru ingin menekan simbol camera di ponselnya.


Belum sempat menekan simbol lingkaran untuk mengabadikan moment langka ini, Rendra merasakan celana panjangnya ditarik seseorang. Ia melirik ke bawah dan melihat putra atasannya sudah berdiri di dekatnya.


"Om namanya siapa?" tanya Rimba pada Rendra setelah memperhatikan ada pria lain selain ayahnya. Tampan, kelihatan bukan seperti orang jahat sih, tapi agak serampangan dan sedikit konyol.


"Saya Rendra, sekertaris ayahmu. You can call me Om Rendra. Senang berkenalan denganmu, Nak." Rendra berjabat tangan dengan Rimba.


"Om Rendra, apakah besok ayah akan bekerja di kantor?" tanya Rimba sambil mengelus kepala Tina yang melingkar di lengan tangannya.


"Tentu, Nak. Besok ayahmu harus ngantor. Ada beberapa meeting yang harus ayahmu ikuti. Ada apa, Nak?" tanya Rendra ingin tahu kenapa putra atasannya menanyakan hal yang tidak biasa ditanyakan anak kecil jaman sekarang. Biasanya anak kecil mana peduli dengan pekerjaan ayahnya.


"Tidak ada. Ayo kita makan, Om!" ajak Rimba sambil menggandeng tangan Rendra. Mengekor ayah dan bundanya yang sudah berjalan lebih dahulu ke ruang makan.


Aneka hidangan laut mewah sudah disiapkan koki istana Andre. Andre menarik sebuah kursi makan dan mempersilahkan Kinan duduk di kursi itu. Lalu Andre duduk di sebelah Kinan. Seorang raja harus duduk di samping seorang ratu, bukan? Sementara Rimba, Rendra dan Tina duduk di hadapan Kinan dan Andre.


Rimba memandangi aneka hidangan yang ada di hadapannya. Semuanya kelihatan sangat enak, tapi ...


"Apakah ini abalone, Bunda?" tanya Rimba sambil menunjuk sebuah piring berisi red abalone tiradito. Hidangan pembuka dari olahan abalone yang sederhana dengan perasan jeruk nipis, bawang putih hitam khas Korea, garam, dan kacang hitam hasil fermentasi.


Kinan mengangguk. "Cobalah. Rimba pasti suka. Bumbunya berbeda dengan yang biasa Bunda masak di pulau asing. Khas Korea."


Rimba mengangguk. Abalone adalah makanan yang sudah sering Rimba santap saat ada di pulau asing. Rimba menangkapnya dengan menyelam di dasar laut. Rasanya memang sangat nikmat, tapi karena sudah terlalu sering memakannya, Rimba agak bosan. Sejak tinggal di Surabaya, Rimba lebih suka mencoba menu-menu masakan yang baru. Apalagi yang berbahan dasar ayam dan sapi.


"Rimba tidak suka abalone ya? Mau dimasakin yang lain saja?" tanya Andre yang melihat putranya kurang antusias melihat menu sea food mewah yang tersaji di atas meja makan.


Andre melirik Kinan. Ia tidak percaya, putranya bersama Kinan begitu sopan dan sangat dewasa. Tidak rewel dalam hal makan. Padahal anak kecil seumuran Rimba biasanya super bawel jika tidak dituruti keinginannya. Kadang-kadang malah mogok makan dan terus merengek-rengek. Sungguh bikin stress!


Kinan tersenyum. "Kehidupan kami di pulau asing mengharuskan kami tidak pilih-pilih makanan. Apa yang disediakan alam dan tidak melanggar aturan negara dalam perlindungan hewan, akan kuolah menjadi makanan dan kami santap dengan penuh syukur."


Andre meremas jari jemari Kinan. Entah apa yang merasuki Andre. Beberapa jam yang lalu, ia kekeh mengingatkan dirinya untuk berbuat baik pada Kinan sebagai balas budi. Namun beberapa menit ini, Andre dengan suka rela menyentuh jari jemari Kinan berkali-kali. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? batin Andre. Maybe!


"Terima kasih kau sudah membesarkan Rimba dengan baik," ucap Andre kagum dengan kegigihan Kinan membesarkan Rimba seorang diri di pulau asing yang terpencil. Sungguh luar biasa, walaupun tumbuh besar di tempat yang jauh dari tehnologi dan peradaban, tapi putranya tumbuh menjadi pria kecil yang bijak dan dewasa.


Kinan tersenyum. "Sama-sama, Kak Andre. Oh ya, Rimba. Tolong pimpin doa makan malam, Rimba."


"Aish! Maaf saya lupa berdoa." Rendra tidak jadi memasukkan sesuap daging lobster ke mulutnya. Padahal dia sudah tidak sabar begitu mencium wanginya aroma mentega leleh di atas lobster.


"In the name of the Father, and to the Son, and to the Holy Spirit. Amen. Tuhan, terima kasih atas berkatnya. Hari ini Rimba dan Bunda dapat bertemu kembali dengan Ayah. Sekarang, kami akan malam. Berkatilah makanan dan minuman yang akan kami santap agar berguna dan menyehatkan tubuh kami. Amen. In the name of the Father, and to the Son, and to the Holy Spirit. Amen." Akhir doa Rimba.


"Selamat makan, Ayah. Selamat makan, Bunda. Selamat makan, Om Rendra." Rimba menunggu ayah dan bundanya melahap makanan lebih dahulu, barulah ia menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Etiket makan yang selalu diajarkan Kinan jika duduk makan bersama orang yang lebih senior daripada Rimba. Harus lebih dahulu menunggu yang senior makan dahulu, baru yang junior boleh makan.


Kembali hati Andre mengagumi Kinan dan Rimba. Moral dan atitude Rimba benar-benar sangat sopan dan luhur.


"Rimba, besok pagi ingin dimasakin apa? Apakah Rimba punya makanan favorite?" tanya Andre tidak ingin mengecewakan Rimba besok pagi. Andre ingin putranya tidak kembali mengalah dan makan makanan yang tidak ia sukai.


Rimba menengadah dan memandangi Kinan. Seakan meminta ijin lebih dahulu pada bundanya lewat kontak mata bahwa ia boleh menyebutkan apa yang diinginkan Rimba untuk disantap.


Begitu melihat Kinan mengangguk. Rimba langsung berceloteh. "Sebenarnya makanan kesukaan Rimba adalah makanan dengan daging sapi dan daging ayam. Karena selama tinggal di hutan, Rimba belum pernah makan daging sapi dan ayam. Di hutan tidak ada sapi, Ayah. Hmm ... Bunda juga melarang Rimba berburu ayam hutan karena jenis ayam hutan itu sudah langka, jadi tidak boleh sembarangan diburu dan disantap. Bunda meminta Rimba untuk melestarikannya bukan memangsanya."


Andre dan Rendra terpana mendengar penuturan Rimba.


"Baiklah, kalau begitu Ayah akan memberitahu koki agar membuat dimsum dengan bahan daging sapi dan ayam untuk sarapan besok pagi. Dan untuk makan siang dan malam, tidak akan ada lagi menu sea food di meja makan. Kita bertiga akan makan olahan daging sapi dan ayam," ucap Andre sambil menjentikkan jari. Meminta pelayan menyampaikan ucapannya pada koki dapur.


"Hore! Karena Ayah sangat baik dan menyayangi Rimba, Rimba punya hadiah untuk Ayah."


"Hadiah? Dimana hadiah untuk Ayah? Ayah tidak sabar untuk membuka hadiahnya." Andre terlihat antusias.


Rimba memasukkan jari tangannya ke dalam saku kemeja putih bersihnya. Lalu mengeluarkan sebuah simbol heart dari jari jempol dan telunjuk. Menggoyang-goyangkannya ke hadapan ayahnya.


"Ini hadiahnya, Ayah. Terima kasih, Ayah. Sarangheyo."


Andre, Kinan dan Rendra yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Rimba benar-benar lucu dan menggemaskan.


"Nado saranghae, Rimba." Andre dan Kinan mengucapkannya secara bersama-sama.