
Kinan turun dari mobil biru mewah Andre. Dan tanpa ragu, Andre segera menggandeng jemari tangan Kinan. Membuat siapa saja yang melihat pasangan baru itu menjadi cemburu. Kasak kusuk mulai terdengar. Orang tua murid yang sedang menunggu putra putri mereka keluar dari gedung sekolah sibuk bergunjing sambil melirik gandengan baru Kinan yang super tampan.
"Ayaaaahhh, Bundaaa!" Rimba berlari cepat memeluk Andre dan Kinan begitu melihat orang tuanya datang menjemput di depan gerbang keluar TK. Sungguh pemandangan super langka yang tidak bisa terjadi setiap hari.
"Apakah dia benar-benar ayah Rimba?" tanya seorang wali murid yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan sedikit pun ke arah Andre dan Kinan.
"Sepertinya begitu. Rimba termasuk anak yang super jenius dan tingkat kedewasaannya jauh di atas anak-anak kita. Dia pasti dapat membedakan perasaannya. Mana yang boleh diungkapkan, mana yang harus disimpan rapat-rapat. Rimba tidak mungkin asal bicara, panggil ayah kalau pria itu bukan benar-benar ayahnya," sahut wali murid yang lain.
"Rimba, kita pulang sekarang, Nak!" ajak Andre yang merasa kurang nyaman dipelototin oleh puluhan ibu-ibu muda.
"Baik, Ayah. Kita pulang secepatnya!" balas Rimba yang menyadari ketidak nyamanan ayahnya.
Semoga ayah tidak kapok menjemputku pulang sekolah, batin Rimba.
Mereka pun bergegas keluar dari gerbang sekolah, naik ke mobil dan meluncur pergi.
Di dalam mobil, Rimba mulai berceloteh.
"Bunda, tadi di sekolah, Leony membawa bekal makanan yang sangat enak. Leony mau membaginya dengan Rimba. Rimba ingin Bunda memasakkan Rimba makanan yang sama," ucap Rimba dengan wajah penuh harap.
"Makanan apa itu, Rimba?" tanya Kinan penasaran.
"Nasi timbel bakar, Bunda," jawab Rimba sambil menelan liurnya, membayangkan kelezatan makanan yang dibuat Leony. Nasi gurih dengan daging ayam suwir, beberapa lembar daun kemangi dibungkus dengan daun lalu dibakar. Ditambah kremesan ayam yang sangat gurih.
"Oh, wow ... Pasti enak sekali. Leony ini kecil-kecil sudah pandai memasak, Kak Andre. Dia sering membagi bekal makanannya dengan Rimba," jelas Kinan pada suaminya.
Andre memandang Kinan, masih tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang bocah lima tahun dapat memasak nasi timbel bakar?
"Sejak kecil, bunda Leony sering meninggalkan Leony di rumah sendirian. Jadi untuk isi waktu, Leony belajar memasak di rumah. Awalnya pasti amburadul, tapi lama kelamaan, masakannya tidak kalah dengan masakan koki rumah Kak Andre," jelas Kinan.
Andre manggut-manggut. Ternyata selain putranya yang jenius, ada seorang lain anak perempuan yang jenius. Jenius dalam memasak.
"Ok. Tak perlu menunggu Bunda memasak, Rimba. Bagaimana kalau sekarang kita makan di restoran yang khusus menjual nasi timbel? Dijamin nasi timbel bakarnya tidak kalah enak dengan sahabatmu itu," tanya Andre.
"Asyik, terima kasih banyak, Ayah." Rimba bertepuk tangan senang.
"Bagaimana, Sayang? Kita makan siang di restoran saja ya. Rasanya masih ada waktu kok. Profesor Rudolph pasti belum datang ke klinikmu," tanya Andre setelah melihat jarum jam di arlojinya.
Kinan mengangguk, mengiyakan ajakan Andre.
"Rimba, setelah makan siang, Profesor Rudolph akan datang ke klinik. Tolong bantu Bunda ya! Bicaralah dengan para hewan yang dibawa Profesor Rudolph. Tanyakan apa saja keluh kesah mereka selama ini. Bagian mana dari tubuh mereka yang sakit? Selidiki baik-baik, Rimba. Karena Bunda khawatir mereka ada masalah batin karena mereka tidak mau makan dan beberpa di antara mereka sudah hampir mati," ucap Kinan.
"Siap, Bunda. Perut kenyang, pasti lebih cepat selesai kerjanya," balas Rimba.
***
"Bagaimana, Rimba? Apa yang mereka katakan?" tanya Profesor Rudolph pada pria kecil yang wajahnya begitu mirip dengan CEO Ariandono Group.
"Kelinci dan marmut berkata kalau beberapa minggu ini mereka memang tidak ***** makan, tidak ingin bergerak lincah seperti dulu lagi. Moodnya seperti menurun. Tidak semangat lagi menjalani hidup. Apalagi mereka sudah lama hidup di dunia ini dan mereka merasa bosan dengan kehidupan mereka yang monoton. Mereka seperti terkurung, terpenjara di dalam sel terus menerus tanpa mendapat kasih sayang atau balasan yang setimpal dari Profesor setelah Profesor memanfaatkan mereka untuk penelitian," jawab Rimba.
Profesor Rudolph terperangah mendengar jawaban Rimba. Ternyata hewan-hewan penelitiannya ini memiliki perasaan seperti manusia. Dikarantina di dalam laboratorium terus menerus juga jenuh, ingin keluar menghirup udara alam yang segar.
"Lalu apa yang mereka inginkan? Apakah mereka ingin dibebaskan dan kembali ke alam liar?" tanya Profesor Rudolph ingin memastikan lagi.
"Ya, Profesor. Profesor sudah memiliki banyak hewan penelitian baru. Sementara mereka adalah hewan penelitian lama yang sudah jarang diperhatikan lagi. Jadi mereka ingin dibebaskan. Pergi dari laboratorium," tambah Rimba lagi.
Profesor Rudolph terdiam. Perkataan Rimba kembali benar dan mengena di hati Profesor Rudolph. Ia memang tak lagi memberikan perhatian lebih pada hewan penelitian lama. Saat mereka sakit pun, Profesor Rudolph juga tidak meminta staffnya untuk bekerja ekstra menangani masalah hewan penelitiannya. Sehingga banyak dari hewan penelitian lamanya yang mati begitu saja.
"Terima kasih sudah membantu saya menyelami perasaan hewan-hewan penilitian, Rimba. Tolong katakan pada mereka kalau mulai sekarang saya akan lebih memperhatikan mereka," ucap Profesor Rudolph.
"Maaf, Prof. Apakah Profesor dapat memberikan penjelasan lebih dalam? Apa bentuk perhatian yang akan Profesor berikan pada hewan-hewan penelitian ini?" tanya Rimba yang sangat prihatin dengan masalah yang dihadapi para hewan penelitian.
Rimba tidak mau hewan-hewan penelitian ini hanya mendapat janji-janji palsu dari Profesor Rudolph. Kasihan mereka. Sudah tertekan, masih digombalin dengan janji-janji manis tak berujung.
Profesor Rudolph terdiam beberapa saat. Pria kecil di hadapannya bukan anak kecil yang bodoh, yang dapat dibohongi dengan kata-kata manis. Rimba tidak akan mundur sebelum mendapat jawaban yang pasti dan dapat diterima olehnya.
"Saya akan membangun fasilitas baru di belakang laboratorium dengan dana sumbangan dari ayahmu. Sebuah rumah kaca yang dibuat menyerupai hutan rimba. Kuharap hewan-hewan penelitian ini mau tinggal di sana sementara agar tekanan batin mereka teratasi lebih dahulu. Setelah itu, saya akan kembali memikirkan solusi yang lebih tepat untuk mereka. Karena terus terang, saya masih membutuhkan mereka, saya tidak dapat membebaskan mereka ke alam liar begitu saja. Banyak hal yang harus dipertimbangkan lebih lanjut," jawab Profesor Rudolph jujur.
Rimba mengangguk. Untuk saat ini, solusi yang diambil oleh Profesor Rudolph adalah solusi yang sangat bagus. Membangun sebuah miniatur hutan rimba dirasa sangat baik untuk mengembalikan mood para hewan penelitian itu lagi.
"Saya akan menyampaikannya pada mereka. Terima kasih, Profesor," ucap Rimba sambil tersenyum hangat.
Sementara Rimba berbincang dengan hewan penelitiannya, Profesor Rudolph menemui Kinan yang sedang membaca hasil rontgent bagian kepala hewan penelitiannya.
"Profesor, sepertinya ada masalah serius. Hipotalamus, struktur kecil yang berada di tengah kepala, tepatnya di bawah talamus, yang berfungsi untuk mengendalikan suhu tubuh, sistem reproduksi, tekanan darah, emosi, ***** makan, pola tidur, dan produksi hormon, mengalami pengerutan," ucap Kinan sambil menunjukkan hasil rontgent seekor monyet penelitian bernama Annie.
"Lalu bagian hipotalamus kelinci dan marmut juga ada yang mengerut," tambah Kinan menunjuk ke dua foto rontgent yang lain.
"Apa? Kenapa staffku tidak melaporkan hal sepenting ini padaku?" sergah Profesor Rudolph tak percaya.
Kinan mengedikkan bahunya. "Berarti masalah mood dan ***** makan yang menurun tidak hanya karena kondisi psikologis saja. Namun juga karena adanya pengerutan hipotalamus, Prof."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kinan? Apakah operasi adalah jalan satu-satunya?" tanya Profesor Rudolph.
"Kita lakukan operasi untuk Annie lebih dahulu. Kita lihat bagaimana perkembangan Annie setelah operasi. Sedangkan untuk kelinci dan marmut, kita coba pindahkan mereka ke rumah kaca. Kita pantau dan catat baik-baik, solusi mana yang tepat untuk mereka," jawab Kinan.
"Baiklah, Kinan. Lakukan operasi untuk Annie lebih dahulu," balas Profesor Rudolph.