
"Ini sudah gila. Andre melamar dokter Kinan malam ini? Ariani dan Ayu Sekar bisa stroke mendengar berita ini," ucap Bu Komang buru-buru meninggalkan toilet setelah menonton cuplikan gambar yang terekam oleh kamera kecil yang sudah pelayan restoran pasang secara ilegal di ruang VIP yang Andre sewa.
Bu Komang berjalan cepat ke meja tempatnya bersantap malam dengan suaminya yang hobby selingkuh itu.
"Pak, kita pulang sekarang. Sekalian mampir le rumah Ariani dulu sebelum pulang," ucap Bu Komang sambil menarik lengan tangan suaminya yang hendak melahap potongan terakhir udang saos mayonaise di piringnya.
"Aku belum selesai makan, Bu. Tunggu aku menghabiskannya dahulu," tolak Pak Komang melihat piring-piring di hadapannya masih separuh utuh. Mubazir jika tidak dihabiskan.
"Ini masalah penting, Pak. Jangan dianggap enteng. Ini memyangkut masa depan kita semua. Ayo, Pak. Lekas pulang!" hardik Bu Komang yang sudah tidak sabaran.
"Kalau saya bilang nanti ya nanti. Sabar dikit lah, Bu." Pak Komang kembali mengisi piringnya dengan aneka lauk pauk. Tanpa nasi.
Tiba-tiba ada suara bariton yang membuat Bu Komang dan Pak Komang langsung menoleh ke sumber bunyi tersebut.
"Selamat malam, Om dan Tante Komang," sapa Andre yang berdiri berdampingan dengan tunangannya. Sungguh begitu serasi. Yang pria tampan, yang wanita sangat cantik. Apalagi sama-sama mengenakan baju berwarna biru.
"Selamat malam, Bu Komang," sapa Kinan.
Bu Komang yang melihat pasangan muda yang baru saja bertunangan beberapa menit yang lalu, langsung syok berat. Lidahnya kelu tak sanggup memberi salam balik.
"Hei, Andre. Siapa wanita cantik dan anggun yang ada di sampingmu ini?" tanya Pak Komang dengan pandangan mata kagum. Dasar pria mata keranjang, lihat wanita muda, cantik dan anggun langsung lupa kalau ada istri di sampingnya.
"Perkenalkan Om Komang dan Tante Komang, ini Kinan Lee, tunanganku." Andre menegaskan nama Kinan Lee sebagai tunangannya agar Bu Komang tidak salah menginfokan nama dan status terbaru Kinan kepada ibu dan adik tirinya.
"Nama yang sangat bagus sekali," ucap Pak Komang segera mengulurkan tangannya berharap Kinan mau menyambutnya. Tapi melihat tatapan mata Andre yang tajam tanda tidak suka wanitanya disentuh pria tak bermoral macam Pak Komang, pria tambun itu menurunkan tangannya dan menyembunyikan di belakang punggung tuanya.
"Selamat, Dokter Kinan," ucap Bu Komang berpura-pura bahagia untuk menghilangkan jejak pias di wajahnya.
"Kau mengenal Kinan, Bu?" tanya Pak Komang kaget tidak menyangka Bu Komang punya teman secantik ini. Padahal biasanya Bu Komang bergaul dengan nenek-nenek peyot yang hobbynya suntik botox agar kulitnya tetap awet muda.
"Tentu kenal. Rumah Dokter Kinan ada di seberang rumah kita. Bapak sih jarang pulang ke rumah, main gila terus sama wanita simpanan Bapak sampai hamil besar. Makanya tidak tahu kalau tetangga seberang rumah sangat cantik dan anggun," ucap Bu Komang dengan nada kesal.
"Oh ya? Saya tidak pernah menyangka jika Nona Kinan adalah tetangga kami," ucap Pak Komang malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Keterlaluan sekali istrinya ini. Membuka aib suaminya sejelas itu di depan wanita cantik.
"Apakah Om dan Tante sudah mau pulang? Kok buru-buru, padahal makanannya belum habis," sindir Andre.
Mendapat peluang emas untuk membalas istrinya yang sudah melaporkan kejelekannya pada Kinan, Pak Komang langsung menyahut. "Ini, Tantemu sudah tidak sabar mau ke rumah Ariani. Entah mau bergosip apa dengan adik tirimu itu."
Dasar, Bedes! Bu Komang menginjak kaki Pak Komang saking kesalnya.
"Aduh! Sakit, Bu!" Pak Komang menjerit kesakitan karena diinjak gajah.
Andre tersenyum melihat ulah sepasang suami istri di depannya itu. Tidak pernah akur. Selalu saling mengkhianati satu sama lain.
"Baiklah, silahkan dilanjutkan makan malamnya, Om, Tante." Andre menggandeng Kinan dan meninggalkan suami istri bermasalah itu.
"Aku tidak pernah menyangka kalau Bu Komang adalah kakak dari ibu tirimu. Mereka berdua sangat berbeda dalam hal fisik," ucap Kinan setelah agak jauh dari Bu Komang. Bu Ayu Sekar begitu cantik dan anggun, sementara Bu Komang berbanding terbalik. Tambun dan berdandan menor.
"Namun dalam sikap dan kepribadian, mereka sangat mirip," sambung Kinan mengingat semua kelakuan buruk Bu Komang di kantor pemasaran perumahan.
"Apakah kau mau menceritakan bagaimana kau dapat mengenal Tante Komang?" tanya Andre. Ia tidak menyangka kalau rumah Kinan berada tepat di seberang rumah Tante Komang. Itu berarti sudah lama Ariani memata-matai Andre dan Kinan selama ini.
Kinan mengangguk. "Sambil makan ya? Kinan lapar."
Andre tersenyum. "Maafkan aku. Lupa kalau kau belum makan sedari tadi."
***
Di apartement mewah Ariani.
Ariani menggeram marah setelah membaca pesan teks dari Tante Komang.
"Kinan Lee boleh saja bertunangan dengan Kak Andre. Tapi menikah? Lupakan saja. Banyak kerikil tajam yang harus kau lewati jika ingin menikah dengan kakakku. Aku akan membunuhmu sekali lagi," ucap Ariani sambil tersenyum licik.
Jari jemari tangannya dengan lincah langsung menghubungi nomer ponsel yang sudah lama tidak pernah ia dial. Ben Manuel. Ayah kandungnya. Mantan pembunuh bayaran yang sekarang sudah tobat dan beralih profesi menjadi detektif swasta.
Berkali-kali Ariani menghubunginya. Namun sang ayah seperti mengabaikan panggilan teleponnya.
"Aaargh!!! Kenapa tidak diangkat?" pekik Ariani emosi kembali menelepon ayah kandungnya.
"Hallo, Putriku," sapa Ben. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Seperti ketakutan. Besar kemungkinan, nyalinya sudah menciut setelah masuk ke jalan yang benar dan legal dalam mendapatkan uang.
"Jangan pernah kau sebut aku putrimu. Aku membencimu! Kau bodoh! Kau berbohong padaku. Kau mengatakan bahwa Kinan tidak akan pernah kembali, tapi nyatanya Kinan datang dan mengobrak abrik hidupku." Ariani melampiaskan kemarahannya pada pria yang diutus untuk melenyapkan Kinan enam tahun silam.
Ben menghela nafas panjang. "Maafkan aku. Aku tidak pernah menduga kalau orang yang ingin kau lenyapkan dari dunia ini adalah wanitanya Andre. Kalau aku tahu, aku tidak mungkin membantumu. Karena aku tahu Andre akan menghancurkanmu dan ibumu jika aku membunuhnya enam tahun lalu. Aku mencintai kalian dan aku ingin kalian tidak bermusuhan lagi dengan Andre. Seharusnya kalian puas dengan semua yang sudah ayah tirimu berikan. Warisan Pak Eko sudah lebih dari kata cukup untuk memenuhi gaya hidup kalian yang suka berfoya-foya."
"Dasar pria bodoh! Makanya kau tidak pernah bisa maju, menjadi orang kaya dan terpandang. Kau tidak punya ambisi untuk menjadi penguasa di atas semua penguasa," balas Ariani kesal.
"Semoga kau dan ibumu disadarkan dan dibawa kembali ke jalan yang benar oleh Tuhan," ucap Ben segera melipat tangannya dan mulai berdoa.
"Dasar pria gila! Percuma aku menghubungimu. Kau jauh lebih bodoh daripada sebelum ini," balas Ariani emosi. Secepatnya Ariani harus menyewa pembunuh bayaran yang baru.