CEO'S Prince

CEO'S Prince
Sayembara Teka Teki Angka



Rimba dan Leony akhirnya tiba di sebuah rumah minimalis dengan desain arsitektur yang indah.


"Ini rumahku, Rimba. Terima kasih, kau sudah mengantarku sampai di rumah dengan selamat. Apakah kau mau masuk dulu ke rumahku? Aku punya kue tart cokelat yang sangat enak," ajak Leony.


"Your welcome, Leony. Maaf, aku tidak bisa mampir ke rumahmu hari ini. Bunda dan Tina pasti cemas karena aku pulang terlambat. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Untuk tawaran kue tart cokelatnya, besok dibawa ke sekolah saja ya! Aku ingin mencicipinya," balas Rimba sambil tersipu malu. Ia segera melambaikan tangannya dan berlari cepat pulang ke rumah.


Leony tersenyum senang. "Tentu, aku besok akan membawakan banyak makanan untukmu, Rimba."


Leony segera masuk ke dalam rumahnya. Setelah meletakkan tas sekolahnya di atas meja tulis, Leony segera berganti pakaian, mencuci tangannya dan makan siang dengan lahap. Setelah selesai makan siang, ia segera berkutat memasak kudapan manis dengan pelayan di rumahnya, untuk dibawa ke sekolah besok pagi. Tentu saja, untuk siapa lagi, jika bukan untuk Rimba. Pahlawan super baik hati yang menolongnya dari para perudung.


***


"Shalom!" salam Rimba saat masuk ke dalam rumahnya yang berarti salam sejahtera atau hallo.


"Uuu ... Aaa ..." Tina segera berjalan cepat ke arah Rimba. Wajahnya terlihat cemas dan segera memeriksa tubuh Rimba dengan cepat. Ia khawatir Rimba terluka hingga pulang terlambat.


Rimba tersenyum lalu mengusap bulu-bulu cokelat kemerahan kepala Tina. "Aku baik-baik saja, Tina. Tadi aku mengantar Leony pulang ke rumahnya lebih dahulu. Kasihan Leony. Dia dirudung di sebuah gang sempit di dekat sekolah. Oleh sekelompok anak SD bertubuh besar. Mereka meminta uang pada Leony dan ingin merobek bajunya."


"Uuu ... Aa." Tina bersidekap dan mengerucutkan mulutnya. Tanda kurang suka, Rimba terlibat perkelahian dengan manusia.


"Jangan khawatir, Tina. Para perudung Leony tidak melihat wajahku. Aku bersembunyi di atas atap saat melempari mereka dengan batu-batu kecil. Mereka juga tidak terluka kok. Aku hanya menakut-nakutinya saja agar mereka pergi meninggalkan Leony," jawab Rimba sambil meletakkan tas sekolahnya di meja ruang tamu. Lalu bergegas cuci tangan dan duduk di meja makan.


"Aku sangat lapar, Tina. Apakah aku boleh makan lebih dahulu dan menjelaskan semuanya nanti?" tanya Rimba memelas.


Tina mengangguk setuju. Rimba dengan cepat segera mengisi piringnya dengan nasi, lauk pauk dan sayur mayur masakan Kinan.


"Lezat sekali, Tina. Bunda memang luar biasa," puji Rimba sambil mengunyah makanannya.


Tina meletakkan jari tangannya di depan mulut. Meminta Rimba tidak berbicara saat sedang mengunyah makanan. Itu adalah etiket sopan santun di dunia manusia. Sekarang mereka bertiga tinggal di Surabaya, buka di hutan lagi. Jadi harus bersikap sopan seperti manusia pada umumnya.


Rimba tersenyum dan mengangguk paham. Dengan cepat Rimba menghabiskan isi piringnya. Lalu ke kamar untuk berganti pakaian dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang terasa sangat mudah bagi Rimba. Dengan cepat Rimba segera menyelesaikan PR-nya.


"Tina, apakah aku boleh bermain komputer?" tanya Rimba dengan sopan.


"Uuu ...." Tina bertanya, "Apakah kau tidak lelah dan ingin tidur siang?"


Rimba menggelengkan kepala.


"Uuu ...." Tina mengijinkan Rimba bermain games komputer.


"Asyik, terima kasih, Tina." Rimba segera menyalakan komputernya. Dan mulai asyik bermain games. Games yang sedang booming dan sangat disukai masyarakat.


"Tina, lihat. Games ini memiliki iklan yang mengajak para pemain untuk mengikuti sayembara memecahkan teka teki angka. Berhadiah juga. Wow ... Hadiahnya sangat fantastis, Tina. Apakah aku boleh ikut sayembara ini, Tina?" tanya Rimba antusias.


Tina menganggukkan kepalanya.


Dalam sekejab, soal teka teki diungkap dengan tampilan games online yang menarik dan memikat. Rimba terdiam, berpikir keras untuk memecahkan teka-teki di dalam games.


Teka-teki yang menurut orang dewasa, tidak mungkin dapat dipecahkan oleh anak berusia lima tahun. Namun terasa sedikit easy bagi Rimba. Dalam waktu kurang dari setengah jam, teka-teki itu berhasil dikerjakan oleh Rimba.


"Aku sudah tahu jawabannya, Tina. Ada delapan angka yang harus dirangkai membentuk sebuah kode untuk membuka kotak rahasia. Delapan angka ini harus dicari satu persatu. Dapat dikatakan di dalam sayembara ini ada delapan soal algoritma yang rumit," jelas Rimba.


"Uuu ...." Tina mengacungkan jempolnya pada Rimba.


"Aku sudah menuliskan bagaimana cara dan rumus matematika yang kupakai untuk mendapatkan ke delapan angka itu. Tapi ... tidak sembarangan orang dapat memahami cara dan rumus yang sudah kutulis di kolom penjelasan sayembara," ucap Rimba sambil menyusut keringat yang keluar membasahi dahinya. Karena Rimba sudah mengerahkan semua kecerdasan otaknya untuk memenangkan sayembara itu.


Tina yang melihatnya, merasa sedikit bingung dengan apa yang terjadi dengan Rimba. Kenapa hanya memecahkan soal teka teki dalam setengah jam sudah membuat Rimba berkeringat sangat banyak. Namun Tina tidak banyak bertanya. Tina hanya menyodorkan sebuah sapu tangan warna putih agar Rimba dapat menyusut keringatnya.


"Tina, sepertinya aku kurang enak badan. Aku mau istirahat dulu ya," ucap Rimba segera memadamkan komputernya. Berbaring di kasurnya yang empuk dan kemudian terlelap dalam tidur dengan begitu cepat.


Hari mulai beranjak menjadi sore. Kinan pun menutup klinik hewannya. Lalu segera membersihkan diri dan mulai menyiapkan makan malam untuknya dan Rimba.


Tepat pukul enam malam, Kinan mencari Rimba di kamarnya. Saat membuka pintu kamar Rimba, Kinan melihat Rimba masih tertidur pulas. Kinan tersenyum.


Tumben sudah semalam ini Rimba masih belum bangun tidur siang, batin Kinan.


Kinan mendekati Rimba perlahan-lahan. Lalu duduk di samping Rimba dan membangunkannya.


"Rimba, bangun yuk! Sudah jam enam malam lho! Bunda juga sudah memasak makan malam. Ayo buruan mandi, Rimba," ucap Kinan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rimba.


Saat telapak tangan Kinan bersentuhan dengan kulit Rimba, Kinan tersentak kaget. Kulit Rimba sangat panas. Buru-buru Kinan menempelkan tangannya ke dahi Rimba yang basah berkeringat.


Astaga, apa yang telah terjadi? Kenapa suhu tubuhnya begitu tinggi? batin Kinan.


Kinan segera bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya. Mengambil stetoskop, termometer dan obat penurun panas.


"Uuu ... Aaa." Tina mulai berceloteh ribut di samping tempat tidur Rimba. Raut wajah Tina terlihat cemas dan khawatir. Tapi Kinan tidak memahami penjelasan Tina sama sekali. Padahal Tina sudah berulang kali menunjuk ke arah komputer di kamar Rimba.


"Tenang, Tina. Aku akan memeriksa Rimba lebih dahulu. Setelah minum obat penurun panas, pasti demamnya akan turun," ucap Kinan berusaha mengontrol emosi dan kekhawatirannya.


Kinan membuka kancing baju Rimba dan mulai menempelkan stetoskop ke dada Rimba. Mendengarkan pernapasan dan detak jantung Rimba.


"Pernapasannya bagus. Detak jantungnya juga normal. Sekarang aku akan mengukur suhu tubuh Rimba," ucap Kinan sambil menekan mesin termometer pengukur suhu tubuh.


Angka tiga puluh sembilan koma tiga tercetak di layar termometer. "Suhu tubuhnya cukup tinggi. Aku akan memberinya obat turun panas," ucap Kinan sambil menakar cairan obat berwarna merah muda ke dalam sendok takar.


Kinan segera mengangkat kepala Rimba yang terkulai lemas dan memasukkan sendok berisi cairan obat turun panas ke dalam mulut Rimba.


"Tina, tolong jaga Rimba. Aku akan menyiapkan kompresan dan memasak bubur untuk Rimba," pamit Kinan segera pergi keluar kamar Rimba.