
Dua jam kemudian.
"Kalau nanti Princess telepon, diangkat ya! Itu artinya Princess sudah selesai bimbingan skripsi, siap dijemput." Princess melambaikan tangannya sebelum berlalu ke dalam kampus.
"Asiaaap. Hati-hati, My Little Princess." Rimba menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan pintu gerbang kampus. Menuju proyek rumah sakit miliknya yang sudah hampir rampung. Bagian depan rumah sakit bahkan sudah beroperasi sejak beberapa bulan lalu.
Tiba-tiba ponsel Rimba berbunyi. Rimba segera menggeser lingkaran hijau yang ada di ponselnya. Langsung tersambung dengan ear phone yang dipakai di telinganya.
"Selamat siang. Saya Erna, perawat dari rumah sakit Emerald. Apakah saya sedang berbicara dengan Bapak Rimba Lee?" tanya seorang wanita dari ujung sana.
"Benar, saya Rimba Lee." Rimba sedikit bingung, nama Rimba Lee sudah lama tidak ia pakai. Karena memang akta kelahirannya sudah beralih nama menjadi Raden Rimba Ariandono setelah Bunda Kinan menikah secara resmi dengan Ayah Andre. Lalu kenapa wanita itu masih memanggilnya dengan nama Rimba Lee?
"Senang sekali, akhirnya saya dapat berbicara dengan Bapak Rimba Lee. Begini, Pak. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Selama ini saya mengalami kesulitan mencari Bapak. Padahal sahabat baik Bapak yang bernama Leony Hadinata sudah sadar dan dapat diajak berkomunikasi," jelas wanita bernama Erna itu.
"Leony Hadinata? Sahabat saya? Ada apa dengan Leony?" tanya Rimba kaget mendengar kabar kurang baik dari perawat Rumah Sakit Emerald.
"Ibu Leony Hadinata mengalami kekerasan fisik, diperkosa dan sekarang sedang mengandung, Pak."
"Astaga! Kalau begitu saya akan segera ke sana. Terima kasih, Suster Erna." Rimba langsung memutar arah kemudinya, pergi ke tempat Leony, sahabat baiknya dirawat.
***
Rimba tiba di depan kamar rawat inap Leony. Perlahan ia membuka pintu. Nampak seorang perempuan cantik, kurus, pucat dengan luka memar di wajahnya sedang tertidur di atas ranjang pasien.
Rimba berjalan mendekati kursi yang ada di dekat pembaringan Leony. Lalu duduk di sana. Menggenggam jemari tangan sahabat kecilnya yang penuh luka gores. Bahkan beberapa kuku tangannya menghilang.
"Siapa yang tega berbuat seperti ini padamu, Leony?" tanya Rimba. Nada suara Rimba bergetar. Ada riak kemarahan di dalamnya.
"Aku akan mencari pelakunya. Aku akan menuntutnya agar mendapat hukuman seberat-beratnya. Pelakunya benar-benar sadis dan tidak punya belas kasih," geram Rimba.
Rimba menarik napas panjang berusaha mengontrol emosi.
"Padahal dua bulan lalu, kamu baik-baik saja. Masih sempat memasak untuk ayah ibuku dan keluarga Princess di mansion Kakek Hades. Kamu terlihat tampak bahagia sekali dapat kembali bertemu denganku, keluargaku dan Princess," ucap Rimba mengenang masa lalu.
Setelah lulus SMA, Leony pindah ke Australia. Mengambil kuliah kulinary dan belajar memasak dengan sungguh-sungguh. Setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai chef di sebuah restaurant mewah Australia.
Dua bulan lalu Leony mengambil cuti seminggu untuk pulang ke Indonesia, Leony pun langsung mengontak Rimba. Kebetulan waktu itu, Rimba dan Princess ingin minta ijin untuk pergi berdua ke pulau asing pada keluarga mereka. Jadi diaturlah sebuah acara makan malam bersama dua keluarga. Dan sebagai sahabat yang baik, Leony mengajukan diri untuk menjadi chef yang memasak semua hidangan di acara makan malam tersebut.
"Seminggu kemudian, kamu meneleponku. Katamu, kau akan kembali ke Australia bersama ibumu. Kau berniat memboyong ibumu yang sudah tua ke Australia. Pekerjaanmu sebagai chef memberikan salary yang besar. Lebih dari cukup untuk hidup berdua bersama ibumu di luar negeri. Tapi kenapa sekarang kau ada di rumah sakit dalam keadaan seperti ini? Dimana ibumu? Apakah ibumu baik-baik saja?" tanya Rimba.
Rimba kembali menarik nafas panjang.
Dokter yang merawat Leony menjelaskan bahwa tiga minggu yang lalu, tiba-tiba ada mobil ambulance datang membawa Leony.
Petugas ambulance yang mengantar Leony ke rumah sakit mengatakan bahwa mereka mendapat panggilan telepon tak dikenal. Peneleponnya seorang pria. Menyebut bahwa ada seorang wanita pingsan di bawah jembatan. Namun pria penelepon itu tidak ada di tempat saat ambulance datang. Hanya ada Leony yang kritis terbaring di sana.
Polisi sudah dikerahkan menyelidiki kasus ini, tapi hasilnya nihil. Mereka tidak berhasil menemukan pria penelepon maupun pelaku yang membuang Leony ke bawah jembatan. Karena daerah tersebut sangat sepi, tidak ada CCTV, tidak ada saksi yang melihat penelepon maupun pelaku.
Rimba mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya. Mengirim sebuah pesan teks singkat kepada seseorang. Siapa lagi kalau bukan asisten senior Kakek Hades. Pria tua itu pasti akan segera menyampaikan pesan Rimba pada kakek Princess. Rimba ingin bertemu kakek Hades dan segera menyelesaikan masalah Leony. Kalau bisa sebelum janur kuning melengkung, urusan Leony sudah berhasil terselesaikan.
"Rimba Lee, akhirnya kau datang. Aku sudah lama menunggumu," ucap Leony membuat Rimba menoleh ke arah sahabat kecilnya.
"Leony, kau sudah bangun. Maafkan aku baru dapat menemuimu sekarang," balas Rimba.
Leony berusaha bangun dan duduk. Rimba bergegas membantunya.
"Rimba, Rimba Lee. Aku merindukanmu. Terima kasih sudah datang menemuiku."
Sebuah kalimat singkat tapi sangat bermakna ditambah lagi sebuah pelukan terasa sangat hangat dan nyaman bagi Leony. Mata bulat Leony langsung mengembun. Tanpa diperintah bulir kristal air mata pun merebak.
"Hei, hei, jangan menangis, Leony. Yang penting kamu selamat dan segera lekas sembuh," sambung Rimba.
Sebenarnya saat ini juga Rimba sudah ingin memborbardir Leony dengan aneka pertanyaan sepanjang daftar interogasi tersangka. Rimba ingin menanyakan siapa pelakunya pada Leony. Namun sepertinya harus ditunda. Karena dokter mengatakan bahwa Leony tidak tahu wajah pelakunya.
Selama dua minggu, Leony disekap dan dianiaya secara fisik dan diperkosa dalam keadaan mata tertutup. Bahkan karena tertekan dan stress setelah sadar dari koma, Leony sulit diajak berkomunikasi. Jadi percuma saja memaksa Leony mengingat-ingat kejadian tiga minggu yang lalu. Polisi saja sudah pusing tujuh keliling, bagaimana mungkin dalam sesaat Rimba langsung dapat membuat Leony mengingatnya?
"Leony, cepat pulih ya. Setelah dokter mengijinkanmu pulang, tinggallah bersama ayah dan bundaku, okay?" ajak Rimba menenangkan Leony yang terus berurai air mata.
"Tapi aku sudah kotor, Rimba. Aku tidak seperti dulu lagi. Apakah ayah dan bundamu mau menerimaku yang kotor ini?" Leony tersedu-sedu menyelesaikan ucapannya.
"Ssttt ... Jangan berkata seperti itu. Rumah keluargaku selalu terbuka untukmu, Leony. Kamu adalah sahabat kecilku sampai sekarang. Ayah dan bunda juga sangat menyayangimu, bagaimana pun dirimu, mereka akan selalu menerima dan menyayangimu," jawab Rimba sambil mengelus punggung Leony.
"Terima kasih, Rimba. Kau memang sahabat terbaikku." Leony menyusut air matanya. Mencoba menarik ujung bibirnya agar terbentuk sebuah senyuman manis. Tapi malah terkesan makin menyedihkan.
Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Semua terpekur dalam diam. Hanya helaan nafas panjang mengusir sesak yang terus terdengar. Sampai akhirnya Rimba membuka suara.
"Sudah. Kita lupakan yang sudah lalu, mari sekarang kita buka lembaran baru. Sulit tapi kita harus move on. Oh ya ... Leony, apakah kau lapar? Mau aku suapin?" tanya Rimba melirik piring nasi berisi lauk pauk masih utuh di atas meja.
Leony mengangguk. Perutnya memang mulai terasa lapar. Sedari pagi ia malas sarapan. Bukan karena menunya yang kurang menggoda, tapi karena rasa mual yang mendera tiap pagi hari. Dan setelah mual menghilang begitu matahari mulai beranjak naik, perut Leony biasanya minta diisi.
Tawaran untuk disuapi oleh Rimba, membuat Leony jadi lebih ingin makan. Dulu ... Dulu sekali, Rimba pernah menyuapinya. Dan kenangan masa kecil Leony bersama Rimba, membuat Leony melupakan sebentar beban berat yang terus menghimpit hati dan jiwanya selama ini.
Leony pun membuka mulutnya saat Rimba menyendok nasi dan lauk.
"Makanan rumah sakitnya enak?" tanya Rimba.
Leony menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah. Oh ya, Leony ingin dimasakin apa sama bunda Kinan? Sepulang dari sini, Rimba akan langsung ajukan special request Leony pada Bunda Kinan," tanya Rimba lagi.
"Apa saja boleh, Rimba," jawab Leony singkat. Ia tidak ingin membebani siapapun. Apalagi Bunda Kinan. Apapun yang dimasak oleh Bunda Kinan, akan Leony habiskan sampai tandas.
"Bagaimana kalau sup? Atau kamu mau bubur abalone?" tanya Rimba kembali menyuap sesendok nasi ke mulut sahabatnya.
"Dua-duanya boleh, Rimba. Leony suka semua masakan Bunda. Masakan penuh cinta," jawab Leony lirih.
Leony teringat akan cinta yang diberikan Bunda Kinan pada Rimba. Sesibuk apapun Bunda Kinan, pasti selalu punya waktu untuk Rimba. Rimba tidak pernah kesepian karena hidupnya penuh warna. Memiliki Bunda Kinan yang care dan si tengil Princess yang selalu mengekori kemana pun Rimba pergi. Jauh berbeda dengan dirinya. Terbiasa sendiri dan hidup mandiri.
"Masakan bunda Leony juga enak. Like mother like daughter. Bakat memasakmu itu didapat dari ibumu, Leony," puji Rimba.
Tubuh Leony tiba-tiba bergetar. Jari jemari Leony langsung mencengkeram lengan tangan Rimba.
"Rimba, aku takut. Aku takut. Bunda ... selamatkan bunda Leony, Rimba. Bunda Leony masih ditahan di rumah itu," pinta Leony memelas. Wajahnya terlihat sangat panik ketakutan.
"Leony, tenangkan dirimu. Ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Kumohon tenangkan dirimu. Lalu ceritakan satu persatu kejadian yang sudah menimpamu," ajak Rimba dengan sabar dan halus. Rimba juga menepuk-nepuk punggung Leony agar lebih tenang.
"Aarrgh! Kepalaku sakit, Rimba. Sakit. Tolong aku, Rimba!" Leony tiba-tiba pingsan. Rimba yang melihatnya segera menekan tombol bel darurat. Memanggil perawat untuk segera menghubungi dokter yang menangani Leony.
"Kuharap kau bisa mengingat sepotong petunjuk setelah sadar nanti," gumam Rimba.
.