CEO'S Prince

CEO'S Prince
Atasanku Punya Seorang Putra



"Ehm, Kinan dan Rimba silahkan membersihkan diri dan beristirahat. Makan malam siap pukul tujuh. Ketemu lagi di ruang makan ya," pungkas Andre sebelum meninggalkan kedua tamunya di kamar Ariani.


Dengan langkah tegap, Andre melangkah menuruni tangga melingkar rumahnya. Menelepon kepala pelayan rumahnya agar mengumpulkan semua pelayan yang semuanya berjenis kelamin pria, tukang kebun dan satpam yang tinggal di rumah ini. Dan satu lagi, Rendra. Sekertaris handal yang sudah betah menemani Andre selama menjadi CEO, juga harus segera datang ke rumahnya. Ada info penting yang harus mereka simak.


Tak berapa lama, Rendra sudah muncul di ruang keluarga rumah Andre. Dengan langkah terburu-buru dan ngos-ngosan, Rendra menyapa semua pelayan, tukang kebun dan satpam sudah berbaris di sudut ruangan.


"Saya sudah hadir, Pak Andre." Rendra segera membungkuk hormat pada Andre yang duduk di sebuah sofa besar seperti layaknya seorang raja kerajaan Ariandono Group.


"Baiklah. Karena Rendra sudah datang, saya akan segera mengumumkan apa yang ingin saya beritahukan. Di rumah ini akan tinggal seorang wanita bernama Kinan Lee. Seorang anak kecil bernama Rimba Lee dan seekor orang utan bernama Tina. Layani mereka dengan baik. Dan yang paling utama. Saya harap kalian semua menjaga mulut kalian. Jangan banyak bergunjing. Ingat jangan mencampuri urusan saya. Dan jika mereka bertanya sesuatu pada kalian, jawab seperlunya saja. Kalau mereka bertanya dan menurut kalian pertanyaannya terlalu berat untuk dijawab, lebih baik kalian diam. Kunci bibir kalian. Makin sedikit yang mereka tahu, berarti kalian bisa bekerja di sini lebih lama. Kalian paham?" tanya Andre dengan nada suara dan aura yang dingin.


"Paham, Pak Andre."


"Kalau begitu kalian boleh bubar."


Semua pekerja di rumah megah Andre langsung kembali ke ruangan mereka masing-masing.


Koki yang mendengar bahwa ada tamu spesial di rumah ini, langsung menyiapkan masakan untuk empat orang dan seekor orang utan. Rendra juga ikut makan malam bersama dong. Kasihan kan Rendra jika sudah bekerja keras seharian, pulang dengan perut kosong malam ini.


Pelayan yang bertugas bersih-bersih segera naik ke lantai dua, berniat mengambil pakaian kotor sekaligus menanyakan apa kebutuhan tamunya. Melayani mereka bak tamu VIP. Semua demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Perintah Pak Andre tidak boleh dilanggar.


Sementara tukang kebun dan satpam yang tugasnya tidak bersentuhan langsung dengan tamu, tidak terlalu khawatir dengan pengumuman Pak Andre. Tugas mereka tidak bertambah, tetap seperti biasanya. Senyum manis mengembang tanpa beban.


Melihat semuanya sudah pergi, Rendra dengan wajah tertunduk maju mendekati atasannya.


"Tolong jangan potong gaji saya 70 persen, Pak. Saya berjanji akan mencari tahu bagaimana bisa Kinan Lee masih hidup padahal jelas-jelas namanya terdaftar sudah meninggal. Saya juga akan menyelidiki, abu siapa yang ada di rumah duka Grand Heaven," ucap Rendra dengan suara bergetar ketakutan.


"Baiklah. Tebus kesalahanmu dengan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Oh ya, Kinan berkata bahwa ada pembunuh bayaran yang diutus untuk membunuhnya enam tahun silam. Selidiki hal itu juga."


"What? Ada pembunuh bayaran yang mengincar nyawa Bu Kinan? OMG!" Rendra ternganga mendengar tugas barunya. Kehidupan Bu Kinan benar-benar seperti roller coaster. Awalnya tenang, namun tiba-tiba sangat mengerikan berada di puncak ketinggian, meluncur deras ke tanah. Dan sekarang sudah kembali selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


"Sudah jangan banyak tanya. Pokoknya selidiki sampai tuntas," titah Andre.


"Baik, Pak. Saya akan menyelidiki semuanya." Rendra kembali mencatat tugasnya di dalam note ponsel.


"Hmm ... Ada dua hal lagi yang harus kamu kerjakan. Besok panggil desain interior dan dekor kamar di sebelah kamarku hingga menjadi seperti hutapn rimba," titah Andre.


"Baik, Pak. Siap laksanakan. Tugas berikutnya?"


"Lakukan tes DNA untuk dua sample rambut ini," ucap Andre sambil menyodorkan dua plastik kecil berisi beberapa helai rambut. Satu rambut berwarna hitam dan satunya lagi berwarna kecokelatan.


"Minta laboratorium menguji, apakah kedua sample rambut ini memiliki hubungan darah ayah dan putra?" sambung Andre yang membuat Rendra langsung menengadah. Memandang atasannya dengan wajah super kaget.


"Pak Andre tidak bercanda kan?" tanya Rendra sambil mencubit lengannya sendiri. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Pak Andre benar-benar memintanya mengetes hubungan antara putra Kinan Lee dengan dirinya. Apakah hubungan mereka ayah dan putra atau bukan? Oh wow! Ini baru kejutan. Wanita cantik yang pergi enam tahun silam, tiba-tiba keluar dari alam kubur sambil membawa seorang putra. Eh salah! Wanita cantik itu belum mati. Dia bukan hantu.


"Kali ini potongan gajimu 80 persen, Rendra. Kesalahanmu sangat parah. Berani meragukan keseriusan saya." Andre terlihat seperti tidak main-main dan tidak ingin bercanda.


"Maaf, Pak. Maafkan saya, Pak." Rendra mengiba minta diampuni supaya bulan depan menerima gaji tetap full, bukan cuma 20 persen. "Saya akan segera melakukan tesnya, Pak. Dan saya akan tutup mulut. Saya tidak akan banyak mulut dan bertanya yang aneh-aneh lagi."


"Siap, Pak." Rendra menyimpan kedua plastik ke dalam saku celananya. Urusan menyimpan rahasia, Rendra adalah jagonya. Pak Andre tidak perlu khawatir.


Andre mendengus. "Kau sudah menemukan Pangeran Hutan?"


Rendra menggelengkan kepalanya. "Saya sudah memasang iklan teka teki dari kepolisian di games online. Tapi sudah beberapa hari ini, Pangeran Hutan tidak muncul dan bermain games online, Pak. Jadi, saya masih belum berhasil menemukannya."


"Kenapa dia tidak main games online?" tanya Andre.


"Mungkin Pangeran Hutan sedang sakit atau lagi ingin hiatus, Pak. Mungkin capek main games. Pikiran, mata dan jemari tangannya butuh istirahat beberapa saat."


"Hei! Pangeran hutan itu bukan author novel digital dikejar dead line pengumpulan, kenapa kamu pakai istilah hiatus segala sih? Ngaco banget deh!"


"Biar lucu dan bapak terhibur. Sedari tadi bapak terlihat tegang dan menyeramkan." Rendra tersipu malu.


"Dasar sekertaris konyol!"


"Ayaaaahhh!" Tiba-tiba saja terdengar suara anak kecil dari ujung atas tangga melingkar. Seorang pria kecil berambut cokelat bersama seekor orang utan menyandarkan tulang ekornya di pegangan tangan tangga lalu meluncur turun ke lantai satu dengan kencangnya.


"Astaga! Itu berbahaya sekali, Putraku!" Andre langsung bangkit berdiri dan berlari ke tangga melingkar untuk menyelamatkan Rimba dan Tina jika saja mereka tergelincir dari pegangan tangga. Lantai dua rumah Andre lumayan tinggi. Kalau jatuh bisa dari rempeyek kacang di atas pecel. Terlalu tipis hingga mudah hancur sekali dikriuk.


Note: hal yang dilakukan Rimba jangan dicontoh ya! Itu berbahaya sekali. Jika tidak hati-hati, dapat jatuh dan mengancam keselamatan nyawa.


Rendra yang melihat ekspresi wajah Andre dan mendengar dengan jelas kalau Andre menggaungkan kata sapaan Putraku di akhir kalimat, sampai terdiam, melongo. Dengan mulut terbuka lebar dan lidah menjulur keluar. Konyol sekali.


Tanpa tes DNA juga saya sudah tahu kalau Rimba Lee adalah putra Pak Andre. Wajahnya seperti hasil fotocopy-an Pak Andre. Ganteng. Hanya rambutnya saja yang berwarna kecokelatan. Seperti warna rambut Kinan Lee, batin Rendra.


"Ya Tuhan!" Rendra segera berlari ke arah tangga saat melihat Rimba tergelincir dan siap terjatuh ke bawah dengan cepat.


Tapi sedetik kemudian, Rendra dan Andre kembali ternganga melihat adegan akrobatik Rimba dan orang utan betina yang tiba-tiba menjadi tamu kehormatan di rumah Andre.


Rimba dengan gesit mencekal batang besi yang menjadi teralis tangga, berayun dengan tertawa-tawa senang bersama orang utan peliharaannya. Turun perlahan-lahan ke lantai satu dengan bergelantung menuruni tangga.


Astaga! Dia manusia atau monyet? Begitu lincah dan gemulainya, pria kecil itu berpindah dari satu teralis besi ke teralis yang lain, batin Rendra.


Hup! Rimba menjejak ke lantai satu yang terbungkus karpet Persia tebal dengan corak yang menawan.


"Rimba, jantung Ayah hampir copot melihatmu seperti itu. Tolong lain kali jangan menuruni tangga dengan cara seperti itu. Turunlah seperti Bunda. Berjalan pelan, sangat anggun." Andre menepuk-nepuk dadanya yang bergemuruh. Mencoba menentramkan detak jantungnya yang meningkat tajam.


Rendra yang mendengar pujian Andre secara tidak langsung untuk Kinan Lee, kembali ternganga kaget. Tidak biasanya Pak Andre memuji wanita. Biasanya selalu diam, malas mengomentari atau mengurusi urusan wanita wanita lain selain Ibu Ayu Sekar dan Nona Ariani, batin Rendra.


"Sejak tinggal di Surabaya, Rimba tidak pernah bergelantung di atas pohon, Ayah. Otot lengan Rimba butuh latihan. Agar selalu kuat." Rimba mengelus lengan tangannya yang terlihat lebih berisi sejak pindah ke tempat yang baru.


"Rendra, besok minta pekerja kontraktor untuk memasang arena permainan outdoor yang melatih otot lengan tangan atau apa pun yang diinginkan Rimba. Pastikan area permainan outdoor itu aman agar Rimba tidak celaka," titah Andre.


"Siap, Pak. Akan saya laksanakan."