
Kepala pelayan hampir tidak mempercayai pendengarannya saat mendengar rumah megah Raden Andre Ariandono kedatangan tamu seorang wanita dan seorang anak laki-laki.
Jelas-jelas tidak pernah ada kata 'teman' dalam kamus Andre. Andre selalu dingin pada siapapun. Lebih-lebih pada wanita. Karena Andre sangat membenci wanita. Banyak pengalaman menyedihkan yang dialami Andre dan sumber masalahnya adalah wanita.
Semuanya dimulai dari kedatangan Andre ke rumah besar ini. Rumah milik mendiang ayah Andre, Raden Mas Eko Ariandono. Andre dibawa oleh ayahnya ke rumah ini karena dibuang oleh ibunya setelah dilahirkan.
Saat itu Pak Eko, pemilik rumah ini memang sudah menikah dengan Ibu Ayu Sekar. Sayang ibu Ayu Sekar tak kunjung memberikan keturunan. Jadi, Pak Eko sengaja membayar seorang wanita untuk mendapatkan keturunan darinya.
Dan setelah membawa pulang Andre ke rumahnya, Pak Eko selalu menutup mulutnya rapat-rapat, merahasiakan siapa nama ibu Andre. Hal ini tentu saja membuat Ibu Ayu Sekar kesal. Ia tidak rela harta warisan suaminya yang tidak habis dalam tujuh generasi itu jatuh ke tangan putra semata wayangnya. Oleh karena itu Ayu Sekar dengan licik meracuni Andre agar syaraf otak Andre rusak, menjadi idiot dan tidak layak menjadi pewaris Raden Mas Eko Ariandono.
Pak Eko yang mengetahui bahwa putranya tumbuh menjadi anak idiot, menjadi stress. Sakit maagnya kambuh sehingga lebih sering dirawat di rumah daripada bekerja di kantor. Dan setelah beberapa tahun penyakit maagnya menjadi kronis, akhirnya Pak Eko meninggal dunia. Sayang, karena pewarisnya, Andre adalah anak yang idiot dan masih belum cukup umur, maka semua aset Pak Eko yang diketahui Ayu Sekar untuk sementara dikelola oleh Ayu Sekar.
Dengan meninggalnya Pak Eko, Bu Ayu Sekar yang kesepian mulai sering berhubungan dengan pria-pria muda. Hingga akhirnya Bu Sekar Ayu mengandung dan melahirkan Raden Ayu Ariani. Siapa ayah kandung Ariani? Krpala pelayan pun tidak tahu.
Kedua wanita yang pernah memimpin di rumah Andre, bukanlah wanita baik-baik. Ibu Ayu Sekar sering menyiksa Andre, menempatkan Andre di posisi yang paling terendah. Sementara Ariani, adik tiri Andre, bak harimau berbulu domba. Siap menusuk dari belakang. Membuat Andre selalu membenci wanita dan tidak mempercayai siapa pun yang ada di dekatnya.
Huh! Sepertinya ada sesuatu yang sudah dilewatkan oleh kepala pelayan, Andre tiba-tiba memiliki seorang teman wanita dan seorang anak kecil yang wajahnya begitu mirip dengan Andre. Jangan-jangan, wanita itu adalah kekasih Andre. Dan anak kecil itu adalah putra Andre.
Kalau mereka tidak memiliki hubungan istimewa dengan Andre, mana mungkin Andre mengundang mereka dan memerintah pelayan untuk memberikan pelayanan dan kamar terbaik di rumah ini untuk wanita cantik dan anak kecil itu?
Dan OMG, dari sinar mata Andre saat melihat tamu wanitanya turun dari tangga, jelas-jelas menyiratkan Andre jatuh cinta pada wanita cantik itu.
Aish! Siapa sebenarnya wanita itu? batin kepala pelayan.
Kepala pelayan mengambil ponselnya dari saku celananya lalu menghubungi seorang wanita yang selama ini selalu menjanjikan uang besar setiap ia melaporkan hal-hal istimewa yang ada di rumah Andre.
"Selamat pagi, Nona Ariani. Maaf, pagi-pagi sudah menelepon. Ada berita penting yang harus saya sampaikan. Semalam Pak Andre membawa tamu bernama Kinan dan Rimba Lee ke rumah. Mereka menginap di kamar anda, Nona," tutur Kepala Pelayan.
Tut! Tut! Tut! Tidak ada jawaban dari Ariani. Telepon ditutup begitu saja.
"Kurang ajar!" Kepala pelayan hanya dapat mengomel kesal diperlakukan kurang sopan sekali lagi oleh Ariani.
***
"Tina, kau sudah kenyang makan buah-buahan?" tanya Rimba pada seekor orang utan yang hari ini mengenakan baju yang sangat rapi. Warnanya senada dengan baju yang dipakai Rimba. Biru tua.
Tina mengangguk dan bergelung manja di bahu Rimba.
"Kita berangkat sekarang, Rimba?" tanya Andre sembari mengulurkan tangannya untuk menggandeng Rimba.
"Tentu, Ayah. Ayo segera berangkat." Rimba tersenyum senang digandeng oleh ayahnya. Mereka pun segera pergi ke halaman depan, masuk ke mobil dan melaju membelah kemacetan kota Surabaya.
Tak berapa lama mereka pun tiba di kantor Group Ariandono. Rendra segera turun dari mobil, membuka pintu mobil dan mempersilahkan atasannya keluar dari mobil.
Brugh! Terdengar suara keras sepertinya seseorang jatuh dari sisi mobil yang lain.
"Maaf, Ayah. Rimba terjatuh karena tidak hati-hati," ucap Rimba sambil tersenyum kecil.
Andre mengelus dadanya. Seperti kata Kinan, Rimba memang berbeda dengan anak lain. Jatuh dan berdarah seperti itu tidak menangis kesakitan, malah meminta maaf kepada ayahnya karena sudah ceroboh, tidak berhati-hati dan terjatuh.
Rendra yang melihatnya segera berlari dan melihat lutut Rimba. "Sakit banget ya? Nanti Om obati di dalam ya?"
"Om, punya rebusan air daun sirih di kantor?" tanya Rimba yang saat terluka biasanya dicuci dan diobati dengan air rebusan daun sirih yang kaya antiseptik oleh bundanya.
Rendra menggelengkan kepala. "Lukamu akan dibersihkan dengan alkohol dan diberi obat merah. Sedikit perih. Tapi pasti lukanya cepat sembuh daripada cuma disiram dengan rebusan air daun sirih."
Rimba mengangguk mengerti. Kini ia tinggal di Surabaya. Pengobatan yang ia terima tidak lagi menggunakan bahan-bahan alami. Semua obat mudah didapat jika tinggal di perkotaan.
Andre berjalan mendekati Rimba, memperhatikan lutut Rimba yang sedikit bengkak dan masih mengeluarkan darah segar. Pasti sakit untuk dibuat berjalan jauh ke lantai teratas gedung perkantoran. "Ayah gendong ya ke dalam?"
Rimba menggelengkan kepalanya. "Jangan, Ayah. Karyawan kantor akan memperhatikan kita berdua dan bergunjing di belakang, jika ayah menggendong Rimba ke dalam. Rimba masih kuat berjalan kok. Di hutan juga Rimba pernah jatuh dan terluka. Ini hanya masalah kecil, Ayah. Tidak perlu khawatir."
"Om Rendra saja yang gendong, bagaimana?" Rendra dengan hangat menawarkan bantuan.
Andre mengusap pucuk kepala Rimba dengan lembut. "Rendra tidak akan kuat menggendongmu sampai ke ruang kerja Ayah. Lihat tubuhnya kurus kering begitu tidak punya tenaga. Biar Ayah yang menggendongmu."
Rendra mengerucutkan mulutnya.
Pak Andre keterlaluan banget deh! Badan atletis begini dibilang kurus kering dan tidak punya tenaga. Bilang aja langsung kalau sayang anak, perhatian sama anak. Eh, malah menghina diriku! batin Rendra.
Sekali lagi Rimba menolak. "Tidak, Ayah. Tidak."
Andre membungkuk, menyejajarkan matanya dengan mata Rimba. "Putraku, ijinkan Ayah menggendongmu dan menjalankan peran Ayah sebagai pelindung keluarga mulai sekarang. Ayah menyesal tidak mengetahui kelahiranmu ke dunia ini. Dan Ayah tidak mau lebih menyesal lagi dengan tidak memperhatikanmu hanya karena takut gunjingan orang lain."
Rimba tersentuh dan langsung memeluk ayahnya. "I love you, Ayah."
Seketika itu juga, titik air mata bahagia meleleh di pipi Rimba. Jika beberapa menit yang lalu Rimba memaklumi keinginan ayahnya yang ingin menutupi keberadaan dirinya dari semua orang di dunia, sekarang Rimba sadar bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Tidak ragu untuk menunjukkan Rimba sebagai putranya pada seluruh dunia. Sudah tidak peduli lagi dengan komentar netizen-netizen yang selalu saja julid.
Aih! Pak Andre, so sweet banget sih! batin Rendra terharu.
Perlahan Andre menggendong Rimba. Sementara Tina berjalan bersama Rendra di belakang. Mereka berempat masuk ke area perkantoran. Dan semua karyawan kantor melongo melihat Andre menggendong seorang anak kecil yang wajahnya sebelas dua belas dengan Andre. Hanya rambutnya saja yang berbeda warna.
Detik berikutnya, kantor Group Ariandono langsung heboh.
"Siapa pria kecil di dalam gendongan Pak Andre? Apakah itu putra Pak Andre dengan wanita yang tidak pernah diperlihatkan ke depan publik?" tanya receiptionis kepada rekannya.
"Pupus sudah harapan kita untuk menjadi nyonya Ariandono," ucap staf kantor dengan raut wajah kecewa.