
Cairan obat penyakit alzheimer hasil percobaan Profesor Rudolp perlahan mulai bereaksi di tubuh Andre. Cairan tersebut memperbaiki susunan syaraf-syaraf otak Andre yang rusak karena racun yang terus menerus disuntikkan ibu Andre ke dalam tubuh Andre.
Andre yang tertidur pulas mulai merasakan tubuhnya menjadi panas. Keringat mulai bercucuran di dahinya. Andre merasa tidak nyaman. Mulutnya berulang kali mulai mengigau. Suara-suara kecil keluar dari bibir Andre. Makin lama makin bertambah keras seperti jeritan.
Kinan yang tidur di kamar sebelah Andre, terbangun oleh teriakan Andre. Kinan segera bangkit berdiri begitu mendengar Andre berteriak kesakitan. Jantungnya hampir copot karena kaget.
Sambil berjalan sempoyongan dan memegangi kepalanya yang sedikit pening karena terlalu cepat bangun dari tempat tidur, Kinan keluar dari kamar ibunya menuju kamarnya sendiri. Membuka pintu kamarnya dan terperangah kaget saat melihat Andre berguling-guling kesakitan di atas kasurnya.
Matanya terpejam, tapi kenapa dia berteriak kesakitan? Apakah dia sedang bermimpi? batin Kinan. Buru-buru Kinan menghampiri Andre.
"Kak Andre, Kak Andre, ada apa, Kak? Sakit di mana, Kak?" tanya Kinan bingung segera menepuk-nepuk pipi Andre. Berharap Andre segera membuka mata dan menjelaskan apa yang terjadi.
Perlahan Andre membuka matanya. Menatap Kinan dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Sinar matanya begitu mempesona. Jernih sebening air yang keluar dari mata air. Membuat wajah tampan Andre makin terlihat tampan dan menggoda seorang jomblowati macam Kinan.
Melihatnya, Kinan merasa lega.
"Ternyata Kak Andre mimpi buruk ya?" tanya Kinan sambil tersenyum hangat.
"Kak Andre bikin Kinan kaget deh. Syukurlah Kak Andre baik-baik saja." Kinan mengusap pucuk kepala Andre dengan lembut. Mata mereka masih terus bertatapan. Tapi Andre hanya diam saja. Ia tidak menjawab pertanyaan Kinan. Seolah terbuai oleh kecantikan, kelembutan dan kebaikan hati Kinan.
Sinar mata Andre perlahan berubah menjadi hangat. Mulai mendamba sebuah cinta yang dalam dari gadis cantik yang memiliki hati tulus dan baik hati itu.
Tanpa sadar, Andre mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Kinan. Mendaratkan sebuah ciuman manis ke bibir mungil Kinan. Ciuman yang membuat jantung Kinan berdegup cepat hingga ia menutup matanya.
Seumur hidup Kinan hanya pernah dicium pipi oleh almarhum ayah dan ibunya. Bibir Kinan belum pernah sekalipun bersentuhan dengan bibir orang lain. Apalagi lawan jenis.
It's my first kiss, batin Kinan yang terbuai dengan ciuman lembut dari Andre.
Makin lama ciuman itu berubah menjadi makin menuntut, panas dan liar. Kinan yang masih lugu dan polos sampai kewalahan meladeni permainan indera pengecap Andre. Bahkan tangan Andre yang kekar dan berurat mulai bergerilya menjamah tiap inchi tubuh Kinan.
"Aargh ..." Kinan mendesah tertahan. Bukannya berlari ketakutan, tubuh Kinan malah mendamba setiap sentuhan dan kecupan Andre. Perlahan Kinan makin terbuai dan larut dalam kenikmatan yang diberikan Andre.
Ada apa denganku? Tubuhku, wajahku semuanya terasa panas dan terbakar gairah. Aargh ... Kenapa aku tidak dapat menolak pesonanya? Sepertinya ada yang salah dengan diriku. Aku begitu mendambakannya di dalam diriku. Aku begitu menginginkannya malam ini. Apakah ini cinta? Secepat itukah aku jatuh cinta padanya? batin Kinan.
"Persetan dengan semuanya. Kak Andre, please miliki aku malam ini," desah Kinan di puncak kenikmatan.
Akhirnya mahkota berharga milik Kinan pun direnggut Andre malam itu.
Keesokan harinya, saat matahari mulai bersinar dan sinarnya masuk menerangi ruangan kamar Kinan, Kinan mulai membuka matanya yang bulat. Ia mendapati Andre masih tertidur pulas di sampingnya.
Sangat tampan dan tubuh atletisnya terlihat polos seperti bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia. Tanpa sehelai benang pun. Kinan bebas memandanginya tanpa berkedip.
Sedikit demi sedikit bayangan adegan dewasa yang Kinan lakukan bersama Andre semalam menyeruak di dalam pikiran Kinan.
"Ya ampun, ternyata kejadian semalam bukanlah mimpi," ucap Kinan kaget setrlah melirik tubuhnya yang terbaring satu selimut bersama Kak Andre. Tanpa busana. Sama-sama polos.
Kinan terkesiap dan menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Aku sudah memberikan satu-satunya barang berhargaku padamu, Kak Andre," gumam Kinan malu hingga wajahnya kembali memanas.
Bulir air mata meleleh di pipi mulus Kinan.
"Aku tidak menyesalinya. Ini adalah air mata kebahagiaan bukan air mata kesedihan," gumam Kinan sembari menggelengkan kepala, meyakini bahwa apa yang sudah ia lakukan semalam bukan untuk disesali. Perlahan Kinan menghapus genangan air di matanya yang bulat.
"Jika aku tidak dapat menemukan keluargamu, tinggallah bersamaku dan ibu. Jangan khawatir. Aku akan mencintai dan merawatmu dengan baik." Kinan tersenyum lembut. Perlahan turun dari peraduannya. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi, Kinan mengambil pakaian kotor Andre di keranjang, hendak mencucinya bersama baju-baju kotor lainnya. Saat melewati Andre yang masih tertidur, Kinan berhenti sejenak. Merapikan anak rambut Andre yang menjuntai menutupi dahinya. Lalu memberikan sebuah kecupan kecil di sana.
"Aku akan menyiapkan sarapan untuk ibu dan untukmu. Setelah bangun, cepat mandi dan sarapan. Aku akan membantumu mencari keluargamu sekali lagi," ucap Kinan hangat.
Kinan pun segera keluar dari kamar. Memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci dan mencucinya. Lalu dengan cekatan segera mempersiapkan semua bahan masakan dan memasak spaghetti bolognese.
Saat masakan sudah tersaji di meja makan, tiba-tiba bel pintu rumah Kinan berbunyi. Cepat-cepat Kinan meletakkan mangkuk kaca berisi spaghetti bolognese yang masih mengepulkan asap ke meja makan, lalu keluar dari dapur. Membuka pintu ruang tamu, berlari kecil ke arah pagar rumahnya yang cukup tinggi.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Kinan saat melihat seorang nyonya cantik, kelihatan sangat elegan dan kaya raya bersama beberapa pria berpakaian jas serba hitam, berada di depan pagar rumahnya.
Kinan tidak mengenal nyonya cantik itu sebelumnya. Jadi Kinan merasa perlu bertanya lebih dahulu kepada tamunya.
"Saya kemari datang untuk mencari putra saya. Raden Andre Ariandono. Apakah dia ada di dalam rumah anda?" tanya nyonya itu dengan nada sengit dan jutek. Wajahnya yang cantik terlihat tidak sabar seperti ingin segera masuk dan mengobrak abrik rumah Kinan. Membawa pulang putranya secepat kilat.
Raden? Apakah Kak Andre berdarah biru? Keturunan bangsawan? Pantas saja wajahnya tampan, pakaian yang dipakai Kak Andre juga branded terkenal. Keluarganya memang bukan keluarga sembarangan, batin Kinan.
"Benar, Nyonya. Kak Andre semalam bermalam di rumah saya. Sekarang Kak Andre masih tidur. Apakah Nyonya adalah keluarga Kak Andre?" tanya Kinan sopan.
"Ya, saya Ayu Sekar Sari. Saya ibu tiri Andre. Cepat buka pintunya! Biarkan anak buah saya masuk dan menjemput Andre pulang," ucap Ayu dengan nada tinggi. Kelihatan kesal dan sangat tidak sabaran.
Kinan yang mendengar ucapan sombong Ayu hanya dapat menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah, Nyonya. Silahkan masuk," ucap Kinan dengan nada ramah.
"Tidak. Saya tidak mau masuk ke rumah jelek ini. Saya tunggu di luar saja. Cepat kalian bawa Andre pulang ke rumah!" ucap Ayu kesal pada anak buahnya.
Walaupun mungil dan menurut anda jelek, tapi rumah ini sangat berjasa untuk aku dan ibuku. Juga untuk putra tirimu. Jika tidak ada rumah mungil ini, mungkin semalam, putra tirimu tidur di jalanan. Tolong jangan hina rumahku, batin Kinan sambil menepuk dadanya agar tetap sabar menghadapi calon ibu mertua yang sangat menyebalkan.
Dengan perasaan dongkol, Kinan membuka pagar rumahnya dan mengijinkan anak buah Ayu untuk masuk ke dalam rumahnya. Lebih tepatnya kamar tidur Kinan. Menjemput paksa Andre yang masih mengantuk.
Andre yang dibangunkan paksa oleh anak buah ibu tirinya, terlihat kaget dan kurang nyaman.
"Lepaskan aku!" pekik Andre sambil memberontak kesal. Tidak mau ditarik paksa, berpisah dari Kinan, wanita yang ia sayangi dan cintai.
"Tuan Andre, ayo pulang! Ibu tiri anda menunggu di luar. Beliau akan marah besar pada anda dan kami, jika Tuan tidak segera keluar dari rumah ini," ucap anak buah Ayu berusaha menenangkan Andre.
Mendengar nama ibu tirinya, darah Andre langsung mendidih. Jemari tangannya mengepal dan bergetar marah. Sinar mata Andre penuh amarah dan dendam.
Masih pantaskah Ayu Sekar Sari menyebut dirinya seorang ibu? Ibu tiri yang kejam, tega meracuni putra tirinya hingga menjadi pemuda dengan keterbelakangan mental. Jika bukan karena Tuhan yang mengirimkan seorang penolong, Kinan dan ibunya, mungkin aku selamanya tidak akan pernah tahu siapa orang yang telah mencelakaiku selama ini, batin Andre.
Andre menarik nafas panjang.
Aku harus terus berpura-pura menjadi pemuda bodoh dan seperti anak kecil yang memiliki keterbelakangan mental. Lalu perlahan-lahan membalas semua perbuatan jahat ibu tiriku. Wanita jahat itu harus mendapatkan pembalasan dan hukuman yang setimpal. Dia sudah membuatku menderita selama ini. Dia sudah merebut masa mudaku yang seharusnya kuisi dengan sekolah, berteman dan bekerja. Maaf, Kinan. Aku harus pergi mengurus masalahku dahulu. Setelah semuanya beres, aku akan menjemputmu, batin Andre.
Api kemarahan pun Andre berangsur-angsur meredup dan emosinya kembali tenang.
"Baiklah. Aku akan keluar. Tapi ijinkan aku berpamitan dulu pada pemilik rumah ini," ucap Andre dengan nada tegas dan berwibawa. Suara Andre terdengar sangat berbeda dengan kemarin. Tidak kekanak-kanakan lagi. Membuat semua yang ada di sana terpana dengan aura yang dimiliki Andre. Termasuk Kinan.
Anak buah Ayu pun segera melepaskan Andre. Dan berdiri patuh mengikuti perintah Andre tanpa banyak tanya. Mereka tidak berani membantah Andre yang penuh aura seorang pemimpin.