
Dengan punggung melengkung, hanya dibalut dengan pakaian sederhana dari kulit kayu pohon beringin putih, Kinan Lee mengusap lembut perutnya yang membuncit besar.
Butiran keringat mengucur deras di wajah cantik Kinan. Matanya yang bulat dengan bulu mata lebat dan lentik, mengerjab cepat mengusir cairan bening yang jatuh ke atasnya. Hingga butiran keringat itu menetes ke hidungnya yang mancung turun ke pipinya yang putih mulus.
Gigi geliginya yang putih menggigit bibirnya dengan keras hingga terlihat sedikit membiru. Berusaha membagi rata rasa sakit yang sungguh luar biasa di perutnya ke bagian tubuhnya yang lain.
Kontraksi yang makin sering dan sungguh menyakitkan membuat Kinan tak sanggup lagi menahan deritanya hingga akhirnya ia berteriak dengan lantang.
"Aargh! Sakit sekali, Tina. Sa-sakit ...." Jari jemari Kinan berusaha menggapai ke samping dan mencengkeram sebuah tangan mungil berbulu cokelat yang ada di sampingnya. Tangan seekor orang utan kecil berjenis kelamin perempuan, yang Kinan rawat dari bayi hingga berusia hampir tiga tahun. Salah satu sahabat Kinan yang selalu setia menemani Kinan dalam suka dan duka selama ini.
"Uu ... aaa ...." Tina menepuk-nepuk punggung tangan Kinan dan mengelusnya dengan lembut, seakan mengerti semua kesakitan dan perjuangan hidup dan mati yang Kinan lalui saat ini.
Manik mata hitam Tina yang tenang dan jernih nampak ingin menyalurkan kekuatan agar Kinan bertahan di tengah-tengah kesulitan yang dialami. Melahirkan seorang diri di dalam kawasan hutan, di sebuah pulau yang hanya dihuni aneka ragam binatang khas Indonesia bagian barat dan ditumbuhi vegetasi alam. Tanpa bantuan tenaga medis, alat kedokteran dan tempat yang memadai.
Walaupun Kinan tidak mengerti bahasa hewan, tapi dengan menggenggam tangan Tina, sahabatnya yang berwujud orang utan kecil, Kinan merasa dapat berkomunikasi batin dengan Tina.
"Tina, panggil Big Mama. Sebentar lagi bayiku akan lahir," cicit Kinan pada Tina.
"Uuu ... Uuu." Tina memanggil Big Mama, seekor orang utan berbulu merah kecokelatan, yang berbadan besar dan terlihat sudah berpengalaman dalam hal melahirkan, untuk mendekati Kinan dan membantu proses kelahiran bayi Kinan.
Kinan kembali menggigit bibirnya menahan sakit, namun mata bulatnya mengedip dan mengijinkan Big Mama untuk mendekat dan membantunya melahirkan.
"Bayiku, kau akan menjadi manusia kedua yang akan tinggal di pulau yang entah ada di bagian mana peta Indonesia," ucap Kinan lirih sambil memposisikan tubuhnya. Telentang di atas tumpukan rumput-rumput kering yang selama ini menjadi alas tidurnya, menekuk kedua kakinya, mengatur nafas dengan baik, lalu mulai mengejan. Mendorong si kecil yang ada di dalam rahimnya untuk segera keluar dan menghirup udara alam bebas yang sudah menantinya.
Setelah tiga kali mengejan dengan kekuatan penuh, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki akhirnya terlahir dalam keadaan sempurna dan selamat, menangis keras di bawah tubuh Kinan yang masih terbaring lemah.
"Oek ... Oek ... Oek ...." Suara tangis bayi yang begitu keras memecah keheningan malam. Memberitahukan seluruh penghuni pulau asing ini, bahwa kehidupan baru telah lahir ke dunia.
Membuat Kinan bangga dengan status baru yang disandangnya kini. Seorang ibu muda yang cantik, berani, tegar, tak pantang menyerah, mengandung selama hampir sepuluh bulan dan berhasil melahirkan seorang bayi yang tampan tanpa didampingi suami.
Air mata Kinan berlinang, rasa haru tak dapat dibendung lagi. Bibir pucat yang tak pernah tersentuh lipstik, tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Sang Pencipta yang sudah memberikan nafas kehidupan pada putranya yang tercinta. Putra yang tak pernah terbayang sebelumnya akan tumbuh dan berkembang dalam rahimnya setelah tidak sengaja semalam memadu kasih dengan seorang pria tampan berdarah biru.
"Tina, ayo kita lakukan!" Perlahan-lahan Kinan berusaha duduk tegak dengan bantuan Tina, lalu menerima uluran sebuah bilah kayu dari Tina. Bilah kayu yang sudah Kinan persiapkan untuk memotong tali pusar bayi.
Bilah kayu itu diasah hingga tajam seperti pisau dan sudah direndam dengan perasan daun sirih untuk mensterilkannya, meminimalisir bahaya infeksi pada putra Kinan.
Kinan menarik nafas lega. Proses pemotongan tali pusat bayi sudah selesai. Big Mama tersenyum bahagia, menunjukkan deretan gigi geliginya yang berwarna putih.
"Terima kasih banyak, Big Mama." Kinan memeluk Big Mama dan mengusap lembut bulu-bulu punggungnya.
Setelah melepas pelukannya, Big Mama pergi meninggalkan Kinan. Kembali ke pohon tinggi di samping rumah pohon Kinan. Untuk beristirahat.
"Kemarilah, Tina," ucap Kinan lembut langsung memeluk Tina dan mencium kening berbulu cokelat.
"Tina, sekarang anggota keluarga kita sudah bertambah. Jadilah kakak yang baik dan rawat putraku dengan penuh kasih sayang," ucap Kinan seperti menasehati seorang manusia.
"Uu ... Uuu." Tina menganggukkan kepalanya dengan patuh. Tersenyum bahagia.
Tina, orang utan kecil, adalah subjek eksperimen percobaan injeksi obat alzemeir yang Profesor Rudolph, atasan Kinan saat masih tinggal di Surabaya. Sehingga Tina memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi daripada orang utan lain yang ada di pulau asing ini.
Tina dapat memahami ucapan Kinan dengan baik dan banyak membantu Kinan saat hidup terpisah dengan manusia lain. Tina juga menjadi penyambung lidah saat berkomunikasi dengan orang utan lain dan hewan-hewan yang ada di pulau asing ini. Seperti monyet bekantan, beruang madu, ayam hutan, macan tutul dan buaya.
Insting Tina dalam membaca cuaca, mencari makan baik di darat dan di laut, menentukan daerah mana yang subur dan cukup baik untuk ditanami umbi, sayur dan buah-buahan, memilih pohon mana yang kuat dan aman untuk dijadikan tempat tinggal, selalu tepat. Keberadaan Tina di samping Kinan benar-benar sangat membantu Kinan bertahan hidup di alam liar.
Hmm ... Profesor Rudolph, memang sangat hebat. Hasil percobaannya terbukti dapat mengubah seorang orang utan kecil menjadi seperti seorang manusia dewasa dari segi perasaan maupun kecerdasan.
"Sekarang, aku akan memandikan bayiku. Tolong ambilkan baju bayinya, Tina," pinta Kinan lembut.
Dengan telaten dan cekatan, Kinan membersihkan tubuh putranya yang kotor dengan air dan sabun alami dari daun jambu air, yang memiliki manfaat sebagai pembersih dan antiseptik.
Tina berjalan dengan kedua kakinya ke pojok rumah pohon yang Kinan dan Tina tinggali selama ini. Mengambil selembar kulit kayu dari pohon beringin putih yang akan menjadi popok dan baju yang akan dipakai oleh bayi kecil Kinan.
"Uu ... Aaa." Tina menyodorkan barang-barang yang baru saja diambilnya.
"Terima kasih, Tina." Kinan mengeringkan tubuh bayinya dengan kapas yang sudah ia bentuk hingga menjadi seperti handuk. Lalu memakaikan baju dari kulit pohon warna putih pada bayinya.
Kinan tersenyum sekali lagi sembari berkata, "Kau sangat tampan, Putraku. Wajahmu begitu mirip dengan dia. Dia yang begitu kurindukan."