CEO'S Prince

CEO'S Prince
Fast Response



"Kak Andre, terima kasih banyak untuk kiriman makan siangnya. Kinan tidak menyangka Kakak akan meluangkan waktunya untuk makan siang bersama-sama kami di sini," ucap Kinan sambil meletakkan segelas air mineral dingin di dekat piring Andre yang sudah hampir habis isinya.


Andre tersenyum. "Semoga cocok dengan selera kalian berdua."


"Tentu saja Rimba suka sekali dengan menunya. Galantin daging dengan aneka sayuran, ayam goreng krispi, burger isi daging dan banyak lagi. Terima kasih, Ayah." Rimba kembali menggigit paha ayam gorengnya.


Ddrrt. Ponsel Lusi bergetar. "Maaf, permisi. Saya angkat telepon dulu," ucap Lusi buru-buru meninggalkan meja makan.


"Ya, pergilah angkat telepon dulu!" ucap Kinan kembali lanjut menikmati hidangannya.


Tak berapa lama, Lusi datang dengan wajah gembira. "Bu Kinan, saya barusan mendapat telepon penting dari universitas di Bandung. Saya mendapat beasiswa, Bu. Jadi saya permisi pulang dulu ya, Bu. Saya hendak memberitahu orang tua saya. Oh iya, terima kasih banyak sudah menerima saya bekerja di sini hari ini. Ternyata saya tidak dapat bekerja lebih lama lagi. Maafkan saya, Bu."


"Tidak apa-apa, Lusi. Sungguh kabar yang luar biasa. Saya turut senang, kamu akhirnya mendapatkan beasiswa itu. Baiklah, silahkan pulang. Saya akan mentransfer gajimu hari ini." Kinan tersenyum bahagia untuk keberhasilan bawahannya.


"Selamat ya, Kak Lusi. Tuhan selalu memberkati." Rimba melambaikan tangannya ketika Lusi pergi meninggalkan ruang makan dan bersiap pulang ke rumahnya.


"Kinan, kenapa kau tidak menahan Lusi untuk pulang setelah operasi penyambungan tulang?" tanya Andre sedikit kurang suka dengan sikap Lusi yang terlalu memikirkan dirinya sendiri. Tiba-tiba resign, padahal belum genap sehari bekerja di klinik Kinan.


Rimba menggeleng-gelengkan kepalanya.


Menahan Kak Lusi lebih lama lagi di sini, dapat menghancurkan hubungan baik Bunda dan Ayah. Syukurlah kuasa Tuhan benar-benar luar biasa. Tanpa Rimba minta, Tuhan sudah menyingkirkan Kak Lusi dengan cara yang begitu ajaib dari sisi Bunda dan Ayah. So dont't ask her to back here again, batin Rimba.


"Kenapa harus ditahan, jika Kinan punya dua asisten handal yang akan membantu Kinan dalam operasi penyambungan tulang," ucap Kinan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rimba.


"Oh, maksudmu Rimba dan Tina?" tanya Andre.


Kinan menggelengkan kepala. "Rimba dan Kak Andre."


"Aku? Aku menjadi asisten dokter hewan?" tanya Andre tak percaya.


Kinan mengangguk. "Tenang saja, Kak. Rimba akan membantu Kakak."


Andre menggigit bibirnya. Ia tidak pernah menyangka bolos bekerja di kantor setengah hari malah akan merepotkannya. Seumur hidup, Andre tidak punya hewan peliharaan. Andre juga tidak suka berdekatan dengan anabul alias anak bulu. Eh ... Kok malah diminta jadi asisten dokter hewan?


OMG, God please help me! batin Andre.


Beberapa jam kemudian.


"Kak Andre, terima kasih banyak untuk bantuannya," ucap Kinan sambil memasukkan peralatan operasi yang sudah dicuci ke dalam mesin sterilisasi.


"Sama-sama," ucap Andre yang sedang bersandar di kursi putar. Kakinya diselonjorkan dan tangannya dikibas-kibaskan. Rasanya semua otot tubuhnya perlu relaksasi setelah berkerut kaku tegang membantu operasi dan mencuci peralatan operasi.


"Mau Kinan pijat, Kak?" tanya Kinan lembut.


Andre mengangguk. Kinan mendekati Andre dan memberikan massage yang nyaman dengan tekanan lembut dari kepala hingga ke punggung Andre. Jari jemari Kinan begitu terampil menekan titik-titik otot yang tegang, maklum Kinan sudah terbiasa memijat hewan-hewan peliharaan seperti kelinci, kucing dan anjjing. Langsung rasa pegal dan kaku di sekujur tubuh Andre menguap seketika.


Perlahan Andre memutar kursi yang ia duduki, menarik pinggang ramping Kinan hingga Kinan jatuh terduduk di pangkuan Andre dalam posisi miring. Sontak Kinan terkejut dengan perilaku Andre. Manik mata mereka kembali beradu. Perlahan namun pasti, Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan.


Jantung Kinan berdetak cukup kencang, tubuhnya menegang, namun pikiran masih dapat mengontrol perasaan. Kinan sudah berjanji pada dirinya kalau dia harus sedikit jual mahal pada Andre.


Jadi, sebelum bibir mereka kembali bersentuhan seperti semalam, Kinan langsung memalingkan wajahnya ke samping. Menghindari medan magnet yang akan kembali menyedotnya ke pusaran magnet yang tak berujung.


Namun ... tidak semudah itu, Marimar. Sergio yang satu ini pantang menyerah. Kau memalingkan wajahmu, maka kuraih dagumu, dan cup. Bibir Andre kembali beradu dengan bibir Kinan.


Aish! Hancur sudah benteng pertahanan yang ingin dibangun Kinan. Belum beberapa detik beradu bibir dengan dewa Yunani, Kinan sudah tersedot ke dalam black hole. Alhasil tidak hanya bibirnya saja yang bengkak. Lehernya yang putih bersih pun kini punya jejak kepemilikan.


Untung saja, ponsel milik Andre berbunyi cukup keras, menyadarkan Andre bahwa masih ada hal penting yang harus ia urus.


"Kinan, aku harus pergi. Ada hal penting yang harus aku urus. Lebih baik, Rimba tetap bersamamu. Aku akan menemuimu saat makan malam di rumah. Bye, Kinan." Andre melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Kinan.


Begitu bayangan Andre menghilang, Kinan menggigit ujung bibirnya.


"Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku begitu bodoh saat bersamanya?" tanya Kinan pada dirinya sendiri. Ia segera merapikan pakaiannya. Berkaca di depan cermin.


"Sungguh memalukan," desah Kinan sambil mengoles foundation di lehernya untuk menutupi jejak kepemilikan yang Andre tinggalkan.


"Untung saja Rimba tidak keluar kamar setelah membantu operasi. Dan di luar klinik sudah tidak ada pasien lagi." Kinan kembali menggigit bibirnya.


"Kejadian ini jangan sampai terulang kembali. Mulai sekarang, aku harus menjaga jarak dari Kak Andre. Dilarang dekat-dekat Kak Andre dan dilarang menggoda Kak Andre," janji Kinan.


***


Tepat pukul tujuh malam, Kinan, Rimba dan Tina kembali bertemu Andre di ruang makan.


"Apakah kau sedang tidak enak badan?" bisik Andre pada Kinan yang malam ini mengenakan baju turtleneck (berkerah tinggi) lengan panjang warna kuning pucat.


Kinan menggelengkan kepalanya. Ia sehat, tidak sakit. Hanya ingin menyembunyikan jejak kepemilikan Andre dengan sempurna.


"Syukurlah, kalau begitu," balas Andre singkat sambil melempar sebuah senyuman penuh arti untuk Kinan.


Oh, no! Semoga saja, senyum itu hanya mengandung makna kosong, batin Kinan. Ia tidak berani membalas senyuman Andre. Bisa runyam kalau dibalas.


"Pimpin doa sebelum makan, Rimba," ucap Kinan lembut.


"Baik, Bunda."


Mereka pun segera bersantap malam dengan nikmat begitu Rimba selesai membaca doa.


"Bunda, tadi ayah bener-bener keren saat memimpin meeting di kantor," ucap Rimba membuka percakapan saat makan malam.


"Oh ya?" tanya Kinan penasaran.


"Iya, Bunda. Saat karyawan kantor mengatakan kalau ada cost overrun (pembengkakan biaya proyek dari anggaran awal) karena masalah internal. Ayah langsung meminta karyawan kantor untuk mengefisiensikan penggunaan sumber daya manusia dan biaya operasional. Selama ini Ayah selalu menerapkan management proyek yang baik, memonitoring secara real time. Unit kerja yang melenceng langsung direspon dengan cepat. Luar biasa!" jelas Rimba.


Kinan tersenyum.


Putra kecilku, siang tadi Bunda sudah membuktikan kecepatan respon Ayahmu. Begitu ciumannya melenceng tidak pas sasaran, Ayahmu langsung merespon dengan cepat hingga Bunda terjebak dan tidak dapat berkutik, batin Kinan.


OMG!