
"Pangeran Hutan adalah Rimba? Kau yakin?" tanya Andre dengan wajah serius. "Jangan bercanda, ini masalah penting!"
"Pak Andre, saya berani jamin seratus persen, jika putra Bapak adalah Pangeran Hutan yang berhasil memecahkan sayembara teka teki angka yang Bapak iklankan beberapa hari lalu," jawab Rendra yakin.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Andre tak percaya.
"Beberapa jam yang lalu Pangeran Hutan kembali bermain games online. Setelah ditelusuri ternyata Pangeran Hutan bermain games online menggunakan laptop milik saya, Pak. Dan siang ini orang yang menggunakan laptop saya untuk bermain games online hanya Rimba. Jadi, sudah pasti Rimba adalah Pangeran Hutan, Pak. Kalau Bapak tidak percaya, coba Bapak tanyakan pada Rimba saja," jawab Rendra enteng.
"Pelayan, saya pesan sebotol air mineral dingin," seru Andre sambil menaikkan sebelah tangannya.
"Bapak tidak pesan minuman bersoda dingin?" tanya Rendra kaget karena atasannya memesan minuman yang tidak manis alias tawar. Kebiasaan buruk Pak Andre, suka minum minuman manis jika hatinya sedang kalut.
Andre menggelengkan kepala. "Kinan memintaku untuk menjauhi minuman manis mulai dari kemarin," balas Andre.
Oh, wow! Bu Kinan memang luar biasa. CEO sedingin dan sekeras batu granit berhasil diatur hidupnya hanya dalam semalam. Mengarahkannya ke hidup yang sehat. Seharusnya Bu Kinan juga meminta Pak Andre untuk tidak bekerja terlalu keras juga. Agar aku bisa pulang kerja tepat waktu dan main games online di ponsel. Aku juga butuh refreshing lho! Dan main games online itu benar-benar refreshing bagiku, batin Rendra.
Pesanan air mineral Andre datang dengan cepat. Setelah meneguknya, Andre memijat dahi dan lehernya.
"Sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa Bapak tidak terlihat senang setelah saya memberitahu kalau Pangeran Hutan adalah Rimba? Bukankah Bapak begitu ingin ketemu dengan Pangeran Hutan untuk membahas cara menyelesaikan teka teki angka?" tanya Rendra.
Andre menghela nafas dalam-dalam. "Aku tidak ingin melibatkan Rimba dan Kinan dalam urusan ini. Aku tidak ingin Ariani atau ibu tiriku mengusik mereka lagi."
Raut wajah Rendra kembali terlihat bingung. "Mohon maaf sebelumnya, Pak. Saya tidak mengerti dengan ucapan Bapak. Bagaimana korelasi keterlibatan Pangeran Hutan dengan Nona Ariani dan Ibu Ayu Sekar?"
"Untuk menjatuhkan Ariani dan ibu tiriku, aku membutuhkan bantuan dari Pangeran Hutan. Kode angka yang didapat dari sayembara teka teki angka itu harus dirangkai untuk membentuk koordinat," jawab Andre.
"Koordinat lokasi untuk menemukan tempat persembunyian harta warisan ayahku," sambung Andre.
"Koordinat? Harta warisan?" tanya Rendra tak percaya. Mulutnya menganga lebar. Pak Andre ini sudah super tajir, memiliki harta yang tidak habis walaupun dipakai berfoya-foya setiap hari, ternyata beliau masih memiliki harta warisan yang tersembunyi. Uih! Bakal sekaya apa Pak Andre, jika berhasil menemukan tempat persembunyian harta warisan ayahnya.
"Tutup mulutmu, nanti ada lalat masuk," tukas Andre lalu menghela nafas panjang.
"Jika memang Rimba adalah Pangeran Hutan, terpaksa aku harus meminta bantuannya untuk merangkai kedelapan angka yang berhasil ia temukan hingga menjadi koordinat suatu tempat. Dan untuk itu, aku harus meminta ijin pada Kinan lebih dahulu. Memberitahukan semua resiko yang akan Kinan dan Rimba terima jika terlibat semakin dalam. Jika Kinan tidak mengijinkannya, aku pun tidak boleh memaksanya. Keselamatan mereka berdua adalah prioritas utama dalam hidupku. Aku akan mencari cara lain untuk menjatuhkan Ariani dan ibu tiriku, jika Kinan tidak mengijinkan Rimba terlibat," ucap Andre.
Rendra manggut-manggut.
Masalah orang dewasa tidak seharusnya melibatkan anak sekecil Rimba. Usianya baru lima tahun. Jangan sampai si lucu dan menggemaskan itu berakhir menggenaskan di tangan bibi dan nenek tirinya, batin Rendra.
"Apakah Bapak sudah tahu rencana busuk Nona Ariani dan Ibu Ayu Sekar?" tanya Rendra.
Andre mengangguk. "Ibu tiriku akan mengeluarkan kartu AS terakhir yang dia miliki. Bersiaplah, Rendra. Pertarungan kali ini jauh lebih dahsyat daripada enam tahun silam. Semoga aku masih dapat mempertahankan kedudukanku sebagai CEO Ariandono Group."
Flash Back Off
***
Di sebuah restoran, nampak seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun, sedang duduk seorang diri di sebuah meja VIP.
Di hadapannya ada beraneka makanan yang sangat lezat dan masih hangat, sebuah tart putih dengan hiasan bunga mawar biru yang indah, bertulis 'Happy Birthday, Dokter Song Hwa'. Juga ada sekeranjang besar bunga mawar biru dari pasien kesayangannya.
Pria itu mengecup lembut pucuk kepala adiknya, Song Hwa.
Sesuai dengan arti namanya, penolong, Song Hwa memang sering menolong kakaknya. Lebih tepatnya, membantu sang kakak dalam mencapai keberhasilan di bidang penelitian obat-obatan.
Tiga puluh satu tahun yang lalu, saat Song Hwa berusia 16 tahun, Song Hwa merelakan rahimnya dibuahi oleh sahabat baik Rudolph, Raden Mas Eko Ariandono, karena istri Eko tidak kunjung mengandung seorang pewaris group Ariandono setelah menikah beberapa tahun.
Sebagai bayaran dari sewa rahim, Eko memberikan uang yang begitu besar pada Rudolph. Dan Rudolph menggunakan sebagian uang yang diberikan Eko untuk membuka laboratorium, membuat penemuan baru, obat alzheimer. Sebagian lagi, ia diberikan pada Song Hwa agar dapat merengkuh cita-citanya sebagai dokter penyakit dalam, setelah menyerahkan darah dagingnya kepada Eko, untuk dirawat dan dibesarkan.
"Hanya terlambat sepuluh menit, Kak Rudolph." Song Hwa tersenyum lembut sambil menyentuh kalung berbentuk mawar yang melingkar di lehernya. Kalung pemberian Raden Mas Eko Ariandono.
"Kenapa kau tidak merayakan ulang tahunmu bersama putramu Andre? Apakah dia sibuk?" tanya Rudolph yang pernah bersua dengan keponakannya enam tahun silam di laboratorium miliknya.
"Andre sudah memiliki keluarga sekarang, Kak. Kekasihnya, Kinan Lee dan putranya Rimba Lee sekarang tinggal di rumahnya. Malam ini, Andre ada keperluan penting bersama mereka," jawab Song Hwa apa adanya. Sedikit rasa sedih mengalir di tiap ucapannya. Seharusnya acara ulang tahun ini dirayakan bersama Rudolph, Andre, Kinan dan Rimba. Sebagai suatu keluarga besar yang utuh.
"Kinan Lee?" tanya Rudolph tak percaya.
Song Hwa mengangguk. "Kinan Lee, salah satu mahasiswa teladan kedokteran hewan yang pernah kureferensikan pada Kakak, saat Kakak membutuhkan asisten di laboratorium untuk menjaga hewan-hewan objek penelitian."
"Lalu Rimba Lee?" tanya Rudolph penasaran.
"Putra Andre dan Kinan. Cucuku," jawab Song Hwa sambil tersenyum. "Aku tak pernah menyangka kalau Andre dan Kinan pernah bertemu enam tahun silam. Berpacaran dan memiliki seorang anak laki-laki."
Rudolph menepuk dadanya yang bergejolak kencang. "Ternyata rencanaku enam tahun silam berjalan dengan baik, bahkan sudah berbuah. Eko, aku sudah menyelesaikan mandatmu sebelum meninggal. Kau sudah memiliki cucu."
"Apa maksud, Kakak? Apakah Kakak mau menceritakan semuanya padaku?" tanya Song Hwa bingung, mendengar nama ayah Andre disebut-sebut lagi oleh Kak Rudolph.
Rudolph mengangguk dalam.
"Sebelum Eko meninggal, Eko sempat bertemu denganku. Eko menceritakan banyak harapannya. Dia ingin melihat putranya Andre tumbuh menjadi pria yang tampan, pandai dan dapat memimpin perusahaannya. Juga memiliki cucu agar keturunannya tidak berhenti di tangan Andre. Lalu Eko memintaku untuk terus mengembangkan penelitianku. Dia rela menggelontorkan banyak dana untuk mendukung penelitianku. Eko berharap obat alzheimer yang kubuat tidak hanya dapat mengobati penyakit alzheimer tapi juga dapat memperbaiki sistim syaraf otak agar tidak menjadi idiot lagi," jelas Rudolph.
"Dan setelah penelitianku berhasil membuat seekor orang utan menjadi pandai dan bersikap layaknya manusia yang bijak, aku mengatur agar Kinan Lee dan Andre bertemu. Aku membuat Andre terpisah dengan ibu tirinya di restoran. Membawanya ke area perumahan Kinan. Dan memberinya sebuah permen yang kuisi dengan obat perangsang. Aku berpesan pada Andre untuk memberikan permen itu pada gadis yang sudah menolongnya," tambah Rudolph.
Ya, Rudolph mengatur agar Kinan menolong Andre dengan memancing ibu Levi Lee keluar dari rumahnya saat Kinan tertidur di sofa.
"Aku juga mempengaruhi pikiran Andre agar dia ketakutan jika tidak mendapat suntikan dari ibu tirinya. Sehingga Andre menyuntik dirinya sendiri dengan cairan obat alzheimer yang ada di kamar Kinan Lee," tambah Rudolph.
Dan obat perangsang di permen yang dimakan Kinan malam itu, Rudolph siapkan agar Kinan bersedia memadu kasih dengan Andre setelah efek samping obat alzheimer mulai beraksi di tubuh Andre. Jangan sampai Kinan menolak melayani Andre. Karena jika gairah Andre meningkat dan tidak tersalurkan malam itu, Andre bisa tewas menggenaskan.
"Ternyata obat alzheimer buatanku benar-benar manjur, Song Hwa. Beberapa minggu kemudian Andre datang ke laboratoriumku. Dia sudah tidak idiot, bahkan dia sudah berhasil merebut perusahaan ayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh ibu tirinya," ucap Rudolph bangga.
Song Hwa menghela nafas dalam-dalam. Sebenarnya dia tidak setuju dengan perbuatan yang dilakukan kakaknya. Itu sama saja dengan menghancurkan masa depan Kinan. Tapi jika bukan karena ulah kakaknya, Andre putranya pasti sangat menderita. Idiot dan selalu disiksa oleh ibu tirinya.
Sebagai seorang ibu, Song Hwa ingin yang terbaik untuk putranya Andre. Walaupun itu harus membuat seorang perempuan sebaik Kinan banyak meneteskan air mata.
PS: gimana seru nggak ceritanya? Atau ada tanggapan lain? Tinggalin koment dan like di bawah ya. Makasih.