CEO'S Prince

CEO'S Prince
Bunuh Diri



Rimba dan Prince berjalan masuk bersama ke dalam lobby RS Emerald yang begitu luas.


Suasana cukup ramai. Banyak pasien BPJS yang mengantri administrasi sebelum berobat, di ujung kanan lobby. Ada pula yang sedang duduk di bangku kayu yang disediakan. Menunggu panggilan untuk mendapatkan obat dari bagian farmasi.


Rumah sakit dengan dokter. Apotik dengan apoteker. Adalah perpaduan yang serasi, selaras dan tak bisa dipisahkan. Dokter memberikan resep dan apoteker yang meracik obatnya.


Komposisi inilah yang membuat Princess memilih jurusan farmasi setelah lulus dari bangku SMA. Alasannya supaya dirinya dibutuhkan Rimba si dokter jenius.


Rimba sudah memiliki segalanya. Wajah tampan, jenius, karier yang cemerlang dan membanggakan. Nyaris sempurna tanpa cacat. Jadi Princess sebagai tunangannya harus memiliki nilai lebih di mata Rimba. Tentu saja dengan menjadi penerus jasa kebaikan Rimba. Caranya dengan membuat racikan obat yang bisa menyembuhkan pasien. Smart Princess.


Rimba menoleh ke arah loket farmasi, manik mata Rimba tak sengaja menangkap sosok wanita yang begitu disayangi Leony. Siapa lagi kalau bukan Bunda Leony. Buru-buru Rimba mengubah tujuan kedatangannya ke RS Emerald.


"Prince, pergilah dulu ke atas. Ingat kamar 303. Jangan sampai salah kamar," perintah Rimba sambil menepuk bahu tegap Prince.


"Kok gak barengan aja, Kak?" tanya Prince yang canggung dan tidak percaya diri diminta Rimba datang sendirian menjenguk calon tunangan yang tidak pernah ia kenal.


"Ada sedikit urusan. Kamu duluan saja," jawab Rimba langsung bergegas mengejar sosok Bunda Leony yang ia lihat makin menjauh dari posisinya sekarang.


"Yah, gimana sih? Kok disuruh kenalan sendiri?" protes Prince sedikit kecewa dengan sikap Rimba.


"Main tinggal saja. Padahal ini masalah penting, menyangkut hidup matiku," gerutu Prince mengingat Rimba adalah sahabat baik Leony. Mereka berdua pasti akrab, pasti mereka punya banyak bahan obrolan saat ketemu. Sehingga suasana perkenalan Prince dan Leony yang krik krik bisa lebih cair dan hangat.


"Pantas saja Princess sering ngomel-ngomel sendiri kalau tiba-tiba Kak Rimba pergi meninggalkannya padahal lagi asyik berkencan," gerutu Prince.


Emang rasanya nyebelin banget. Lagi sayang-sayangan kok ditinggalin pergi begitu saja. Memang sudah resiko jadi tunangan seorang dokter. Pasien tiba-tiba datang dan butuh pertolongan, ya dengan senang hati seorang dokter jenius harus meluncur ke rumah sakit untuk menolong. Hancur berantakan deh kencannya.


Prince mengerucutkan mulutnya lalu meletak kedua jarinya di depan sensor tombol lift yang akan mengantarnya ke lantai tiga.


Pintu lift terbuka, Prince segera masuk. Kembali meletak kedua jarinya di depan sensor tombol angka tiga. Lift bergerak naik.


Ting! Pintu lift terbuka. Prince dengan santai keluar dari lift. Mencari kamar 303.


Setelah berjalan dan memastikan pintu kamar bernomor 303, Prince mengetuk pintu dengan perlahan. Lalu menggeser pintu kamar perlahan.


"Astaga! Apa yang kamu lakukan, Nona?" pekik Prince begitu melihat area dalam kamar tidur 303. Prince buru-buru berlari ke arah jendela kamar. Cemas. Tentu saja.


Seorang wanita dengan rambut panjang yang tidak tersisir rapi, berpakaian baju rumah sakit, sedang berdiri di atas kursi. Kaki kanannya sudah terangkat ke jendela. Bersiap menjulurkan kaki kirinya juga. Dan setelah itu terjun bebas ke bawah.


Siapa yang tidak syok akan menyaksikan pemandangan langka bunuh diri secara live? Sebisa mungkin Prince harus mencegahnya.


Wanita itu menoleh begitu mendengar suara Prince. Menghentikan aksinya sesaat.


"Apakah kau hendak bunuh diri dengan melompat ke bawah?" tanya Prince lagi.


Kali ini Prince sudah berada cukup dekat dengan wanita yang ia kenali sebagai calon tunangannya. Wajahnya tidak terlalu cantik dan kelihatan sedikit pucat. Kalau Prince boleh memberi skor, Prince akan memberi nilai tujuh lima. Nilai mepet KKM pelajaran matematika di SD.


Leony tidak menjawab pertanyaan Prince. Malas menjawab lebih tepatnya. Karena Leony merasa tidak mengenal siapa lelaki tampan yang masih terlihat seperti anak kuliahan itu. Jadi buat apa berpanjang lebar menjelaskan isi hati dan pikirannya.


"Apakah Nona tahu kalau meloncat dari lantai tiga itu tidak membuat Nona langsung mati tapi Nona akan mengalami sakit yang luar biasa?" tanya Prince sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Nada suaranya sudah lebih tenang dan ia mulai bersikap profesional sebagai seorang pengacara. Berubah 180 derajat dari beberapa detik yang lalu.


"Darimana kamu tahu? Memang kamu pernah mencobanya?" tanya Leony masih belum bergerak dari tempatnya. Tidak turun kursi tapi juga tidak segera melompat.


"Saya tahu tapi bukan berarti saya pernah mencobanya, Nona." Prince bersyukur tunangannya masih bisa diajak berbicara. Tidak diam saja seperti tadi.


"Tahu darimana kalau belum pernah mencoba?" tanya Leony dengan nada kesal merasa dibodohi oleh pemuda ingusan ini.


"Ada satu kasus yang baru-baru ini saya tangani, Nona."


"Kasus? Kasus bunuh diri? Apakah kamu dokter?" tanya Leony penasaran.


Sepertinya tidak mungkin dia dokter. Paling-paling mahasiswa kedokteran yang sok kepinteran, batin Leony.


"Kalau ingin mendengar jawabannya, turunkan dulu kaki Nona dari jendela. Lalu duduklah di kursi," pinta Prince dengan nada tenang tapi tetap waspada.


"Baiklah." Leony menurunkan satu kakinya ke kursi. Sekarang kedua kakinya berada di atas kursi. Tapi Leony tidak mau duduk di kursi.


Leony kembali memandang Prince meminta jawaban.


"Kenapa tidak duduk di kursi?" tanya Prince sambil menunjuk ke arah kursi.


"Kalau jawabanmu menarik, aku akan duduk di kursi dengan manis. Tapi kalau jawabanmu buruk, aku akan terjun ke bawah," jawab Leony menantang maut.


"Baiklah." Prince memilih mengalah meladeni orang stress yang ingin bunuh diri. Perlahan ia melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Leony.


"Stop! Ngapain deket-deket? Ngomong saja dari situ. Aku denger kok," sergah Leony tak ingin Prince mendekatinya lebih dekat lagi.


"Ok. Aku tidak akan mendekatimu lagi. Sekarang kumulai ceritaku. Aku bukan dokter, Nona. Aku pengacara muda. Baru saja lulus. Dan sekarang aku bekerja di firma hukum. Aku menangani kasus kriminal," jawab Prince tenang.


"Jelaskan maksudmu! Jangan bikin aku tambah bingung," ucap Leony kesal karena pria di depannya slow motion banget menguraikan jawabannya.


"Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah kasus pembunuhan yang direncanakan. Seorang suami mendorong istrinya hingga terjun bebas dari lantai tiga. Istrinya sempat koma selama beberapa hari tapi akhirnya terbangun dari koma. Sayang tulang punggung dan tulang kakinya patah. Sang istri lumpuh separuh badan," jawab Prince.


"Lalu?" tanya Leony.


"Lalu beberapa kasus terjun bebas dari lantai dua juga menyebabkan korban menjadi cacat dan lumpuh. Itu artinya bunuh diri dari lantai dua atau tiga tidak akan membuat mati. Malah menambah penderitaan saja," tambah Prince.


Leony menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu yang ingin kutanyakan. Lalu yang kumaksud adalah bagaimana kabar suaminya sekarang? Apakah suaminya akhirnya dipenjara?" tanya Leony ingin tahu.


Prince menggelengkan kepala.


"Sang istri tidak menuntut suaminya," jawab Prince.


"Yah ...." Leony melorot lemas, terduduk di kursi.


"Kenapa bodoh banget sih istrinya? Kenapa tidak dituntut saja supaya masuk penjara? Kan jelas-jelas suaminya jahat ingin membunuh sang istri," sambung Leony.


"Kau ingin tahu kenapa sang istri memaafkan perbuatan suaminya?" tanya Prince.


Leony mengangguk pelan.


"Karena sang istri memikirkan nasib anak-anaknya. Sang istri sudah lumpuh. Jika suaminya masuk penjara, lalu bagaimana nasib anak mereka berdua? Siapa yang menjaga dan menghidupi mereka semua?" jawab Prince.


Ah! Ternyata di dunia ini, ibu selalu rela berkorban demi kebahagiaan putra putrinya, batin Leony.