
Enam tahun yang lalu.
Setelah syaraf-syaraf otak Andre berkembang terus menerus hingga mencapai taraf kecerdasan yang ada di atas level manusia normal, Andre mulai menyusun rencana untuk menghadapi Ayu Sekar Sari, ibu tirinya.
Andre dengan cerdas berhasil mengelabuhi Ayu. Tanpa sepengetahuan Ayu, Andre mengganti cairan racun yang ada di cooler bag merah milik Ayu dengan vitamin C yang kaya oksidan. Sehingga Andre terbebas dari suntikan beracun yang melemahkan syaraf-syaraf otaknya. Andre juga terus berpura-pura menjadi idiot sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik Ayu.
Sepertinya Tuhan memang sedang berada di pihak Andre, dalam kurun waktu beberapa hari, keadaan langsung berubah drastis. Ayu yang sebelumnya didukung penuh oleh pemegang saham, tiba-tiba dihujat dan tidak lagi mendapat dukungan dari pemegang saham.
Hal ini disebabkan oleh adanya rumor yang membanjiri media massa maupun media sosial. Ayu dikabarkan memiliki hubungan gelap dengan seorang aktor muda yang sedang naik daun. Dan untuk terus menggandeng aktor muda tersebut, Ayu sering memberikan hadiah-hadiah fantastis untuk si aktor muda.
Rumor murahan itu makin lama makin menjadi-jadi. Wartawan membuat rumor ini menjadi trending topic yang langsung booming di media massa maupun media sosial. Mereka menyebut uang yang dipakai Ayu untuk membeli hadiah fantastis itu berasal dari kecurangan Ayu saat mengerjakan tender-tender project-nya.
Hal ini tentu sangat merugikan perusahaan, Ariandono Group. Perusahaan raksasa di bidang real estate dan kontraktor. Beberapa proyek baru yang dikerjakan Ariandono Group terpaksa dihentikan. Pihak customer meminta periksaan secara menyeluruh terhadap rangka dan bahan bangunan. Mereka takut Ariandono Gorup berbuat curang dengan mengganti rangka dan bahan bangunan dengan bahan kualitas jelek sehingga meraup banyak keuntungan. Dan itu sangat berbahaya bagi keselamatan masyarakat.
Dan di saat perusahaan sedang kritis, Andre datang ke perusahaan, berusaha membereskan semua masalah yang ditimbulkan Ayu.
Berkat tangan dingin Andre, Andre berhasil mengembalikan kepercayaan para pemegang saham dan customer yang sudah memilih Ariandono Group sebagai pemenang tender pembangunan gedung-gedung.
Andre berhasil membuktikan bahwa kualitas rangka dan bahan bangunan sudah sesuai standard keselamatan. Tidak perlu diragukan lagi, karyawan dan pekerja di Ariandono Group juga sangat profesional dalam bekerja.
Rumor tentang Ayu yang memberikan hadiah-hadiah fantastis pada aktor muda juga satu-persatu diklarifikasi. Hingga wartawan yang meng-upload rumor palsu tersebut dipecat dari kantor berita dan dihujat balik oleh para penggemar aktor muda yang sedang naik daun tersebut.
Dan setelah melihat kemampuan dan kecerdasan Andre dalam menyelesaikan masalah Ayu, masalah perusahaan dan mendongkrak kembali harga saham Ariandono Group, para pemegang saham melengserkan Ayu Sekar Sari sebagai CEO.
Raden Andre Ariandono dipilih mutlak dalam rapat pemegang saham untuk menggantikan kedudukan Ayu Sekar di Ariandono Group.
Setelah keadaan berbalik 180 derajat, Andre juga mulai menghukum ibu tirinya yang mentalnya langsung down setelah nama baiknya hancur berkeping-keping.
Andre mengasingkan ibu tirinya ke sebuah vila mungil di sebuah pedesaan. Membuat Ayu terus meratapi nasibnya. Perlahan Ayu kehilangan semangat hidupnya.
"Tuhan, kumohon ... segera ambil nyawaku yang tak berharga ini. Aku benar-benar tidak ingin hidup lagi di dunia ini. Namaku sudah tercemar, kedudukan tinggi yang kurenggut dengan tangan bersimbah darah dan kotor ini, sekarang hilang ditelan bumi," pekik Ayu sendu berlinang air mata.
"Untuk apa aku hidup di dunia ini jika aku sudah tidak memiliki kebanggaan diri lagi? Anak tiriku sudah mengambil semua yang kumiliki. Harta dan tahta. Dia sekarang juga sudah berubah menjadi pria hebat, bukan pria idiot yang bisa kumarah-marahi dan kuhina. Sekarang akulah mahluk hina tersebut," pekik Ayu hingga suaranya serak.
Penyesalan selalu datang terlambat. Hukuman menanti. Ayu Sekar Sari akhirnya jatuh tak berkutik.
***
"Rendra, aku minta semua berita yang ada di media massa maupun media sosial tentang keburukan ibu tiriku segera di-take down. Aku juga tidak mau ada berita aneh-aneh tentang diriku di mana pun. Pastikan semuanya bersih. Aku tidak ingin direpotkan lagi dengan berita-berita miring yang membuatku sesak," ucap Andre pada Rendra, sekertarisnya.
Pak Andre ini memang agak sedikit aneh. Dia tidak punya akun media sosial. Dia juga tidak suka namanya muncul di surat kabar maupun di internet. Sepertinya dia tidak suka namanya terkenal atau dikenal banyak orang. Padahal jika dia punya akun media sosial dan namanya masuk di trending topic internet, pasti dia akan sangat populer di kalangan para wanita. Dia akan memiliki kekasih dan segera mengakhiri masa lajangnya, batin Rendra.
"Bagaimana, Rendra? Kau bisa melakukan tugas yang aku minta?" tanya Andre dingin melihat sekertarisnya tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Baik, Pak Andre. Akan saya laksanakan," ucap Rendra patuh.
"Oh ya, aku punya tugas penting untukmu," ujar Andre sebelum Rendra berbalik badan.
"Tugas apa, Pak?" tanya Rendra yang selalu berusaha menyelesaikan tugas dari atasannya dengan baik dan cepat.
"Atur sebuah pertemuan dengan Profesor Rudolph," jawab Andre.
Rendra menaikkan alisnya. "Apakah Profesor Rudolph yang Bapak maksud adalah profesor yang baru-baru ini mendapat penghargaan di bidang kesehatan?"
Andre mengangguk. "Kapan pun Profesor Rudolph bersedia menemuiku, segera kosongkan jadwalku hari itu juga. Aku harus menemui beliau."
"Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi Profesor Rudolph," ucap Rendra segera undur diri dari ruangan Andre.
Di luar ruang kerja Andre..
Rendra segera mencari kontak Profesor Rudolph di internet dan dalam beberapa menit Rendra berhasil mengatur sebuah janji dengan profesor kenamaan yang super sibuk itu.
***
Di Laboratorium milik Profesor Rudolph, nampak dua orang pria sedang bercengkrama.
Andre mengangguk. "Saya pernah mengambil satu ampul injeksi obat alzheimer dari cooler bag milik dokter Kinan. Dan menyuntik diri saya sendiri dengan obat itu."
"Kinan?" tanya Profesor Rudolph kaget. Ia tidak menyangka Kinan seceroboh itu hingga membuat obat alzheimer yang masuk ke tubuh manusia.
"Benar, Profesor. Dokter Kinan Lee, salah satu karyawan anda," jawab Andre.
Pria tampan di hadapanku ini adalah CEO perusahaan raksasa. Bisa tutup laboratoriumku jika Raden Andre Ariandono menuntutku, karena membuat obat alzheimernya yang belum lolos itu sudah disuntikkan ke manusia, batin Profesor Rudolph.
Profesor Rudolph berdiri dan segera membungkuk hormat pada Andre. "Ya, Tuhan. Pak Andre, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak menyangka hal ini dapat terjadi."
Andre bangkit berdiri dan menepuk punggung Profesor Rudolph. "Tenang, Prof. Tenang. Saya kemari bukan untuk mencelakai anda."
"Tapi ... Apakah anda baik-baik saja selama ini?" tanya Profesor Rudolph masih ketakutan.
"Iya. Saya baik-baik saja, Prof. Mari kita duduk kembali dan berbicara dengan tenang," pinta Andre sopan.
Profesor Rudolph menghela nafas lega.
"Prof, kedatangan saya kemari adalah karena saya punya beberapa pertanyaan. Saya ingin sebuah jawaban. Bukan ingin menuntut atau membuat anda celaka," jelas Andre.
"Baiklah, Pak Andre. Silahkan bertanya," ucap Profesor Rudolph lega.
"Begini, Prof. Apakah obat alzheimer yang anda buat itu dapat membuat manusia menjadi pandai dalam waktu semalam? Dan apakah obat alzheimer itu mempunyai efek samping?" tanya Andre ingin tahu.
Profesor Rudolph mengangkat bahu.
"Maaf, Pak Andre. Selama ini saya hanya pernah menguji cobanya pada beberapa hewan. Belum pernah sekalipun pada manusia. Dan tidak semua hewan yang menjadi spesimen percobaan berhasil menjadi hewan yang pandai dalam semalam. Semuanya tergantung penyerapan tubuh masing-masing. Hampir semua hewan harus disuntik beberapa kali dalam seminggu agar otak mereka berkembang dengan baik. Ehm ... Dan mengenai efek samping obat alzheimer yang saya catat hanyalah demam tinggi dan gairah yang meningkat setelah disuntik. Oleh karena itu, setelah disuntik hewan harus segera diletakkan satu kandang dengan lawan jenisnya. Agar hasratnya segera tersalurkan."
Astaga! Gairah yang meningkat? Pantas saja malam itu, gairahku meningkat dan aku menyalurkannya pada Kinan. Gadis lugu yang sudah menolongku. Kinan, tolong maafkan aku. Malam itu aku sudah memanfaatkanmu sebagai pelepas dahaga dari efek samping obat alzheimer. Sesuai dugaanku, berarti perasaanku pada Kinan adalah perasaan bersalah dan banyak berhutang budi. Bukan rasa cinta. Ya ... ini bukan cinta. Aku tidak mungkin secepat itu jatuh cinta dan meniduri seorang gadis hanya dalam waktu semalam. Aku bukan pria gampangan. Semuanya karena injeksi obat alzheimer, batin Andre.
Setelah menenangkan perasaannya, Andre kembali melontarkan pertanyaan. "Apa yang terjadi jika hewan eksperimen itu tidak mendapatkan keinginannya?"
"Menjadi gila dan merusak tubuhnya sendiri. Ehm ... Bunuh diri. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasinya," jawab Profesor Rudolph yang teringat beberapa ekor spesimen percobaannya menggigit dirinya sendiri hingga terluka parah dan kemudian mati beberapa saat kemudian.
Andre terhenyak kaget mendengar jawaban Profesor Rudolph.
"Sungguh mengerikan sekali efek samping obatnya," cicit Andre.
Syukurlah malam itu Kinan datang ke kamarku dan dia mau berhubungan denganku. Jika Kinan menolakku, aku tidak mungkin duduk di sini dan berbincang dengan Profesor Rudolph. Kinan, terima kasih, kau sudah menolongku berkali-kali, batin Andre.
"Pak Andre, mohon maaf sebelumnya. Karena Bapak pernah mendapat injeksi obat alzheimer, sebaiknya Bapak selalu memeriksakan kesehatan di rumah sakit secara rutin. Sehingga jika ada sesuatu yang terjadi pada diri Bapak, segera dapat diketahui dan diambil langkah pengobatan," ucap Profesor Rudolph yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Andre.
"Terima kasih banyak untuk nasehatnya, Profesor. Jangan khawatir. Saya selalu rutin memeriksakan kesehatan saya di rumah sakit," ucap Andre.
"Sama-sama, Pak Andre. Semoga anda selalu sehat."
"Profesor, bagaimana kondisi hewan-hewan spesimen percobaan anda sekarang? Apakah mereka bertambah kuat dan dapat berumur panjang? Atau mungkin sebaliknya?"
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Pak Andre. Semuanya tergantung pada penyerapan tubuh masing-masing. Jika penyerapan obatnya baik, regenerasi selnya juga menjadi lebih cepat. Tubuhnya menjadi kuat dan sehat. Tahun ini adalah tahun ke empat penelitian saya, namun belum ada hewan spesimen percobaan yang berhasil hidup sampai empat tahun."
"Apakah itu berarti saya juga tidak akan berumur panjang?" tanya Andre dengan perasaan tidak nyaman.
Profesor Rudolph tercekat kaget hingga terbatuk-batuk.
"Belum tentu, Pak Andre. Setelah Kinan tidak bekerja lagi di laboratorium ini, saya kesulitan mencari pengganti yang cakap dalam perawatan dan pelaporan hasil uji coba. Mungkin itu juga menjadi faktor kegagalan hewan spesimen percobaan untuk hidup lebih panjang." Profesor Rudolph berusaha menenangkan Andre dengan memberikan jawaban yang memacu semangat hidup seseorang.
Alis mata kanan Andre naik. Seakan tidak percaya dengan jawaban Profesor Rudolph.
"Keberhasilan sebuah obat tidak hanya ditentukan oleh obatnya saja. Terkadang faktor lingkungan pun dapat memperngaruhinya, Pak Andre. Jadi saya usulkan agar Bapak tidak terlalu memikirkan kata-kata saya. Hiduplah dengan gaya hidup yang sehat sehingga anda memiliki umur yang panjang," ujar Profesor Rudolph.
"Baik, Profesor. Terima kasih banyak."