CEO'S Prince

CEO'S Prince
Menjemput Bunda dan Sahabat Tersayang



Dengan bilah kayu kecil yang diasah setajam pisau, Rimba dengan berani mengusir tiga ikan hiu dari area perairan kapal pesiar. Bahkan Rimba berhasil membuat seekor hiu bertekuk lutut di hadapannya. Rimba melukai bagian moncong mulutnya dengan bilah kayu tajam dan hiu tersebut segera kabur bersama kedua temannya.


Semua orang yang ada di kapal pesiar langsung bernafas lega. Sekaligus malu karena tidak mengindahkan peringatan seorang anak kecil berusia lima tahun. Terutama petugas life guard. Penyesalan tumbuh di hati mereka, namun semuanya sudah terlambat. Banyak turis kapal pesiar yang dimakan hiu dan terluka akibat digigit hiu.


Dengan cepat kapten kapal pesiar segera mengamankan turis kapal pesiar yang terluka dan memberikan pengobatan di klinik kapal pesiar bagi yang luka ringan. Sedangkan untuk turis yang terluka parah, kapten kapal sudah menelepon rumah sakit di Jakarta untuk mengirim helikopter dan menjemput turis yang terluka parah. Sehingga mereka mendapat perawatan yang lebih baik lagi.


"Mana anak kecil yang sudah memberikan peringatan bahwa ada ikan hiu yang akan datang?" tanya kapten kapal pesiar pada petugas life guard yang sejak tadi membisu sedih karena gagal menjalankan tugasnya dengan baik.


"Itu, Kapten. Pria kecil berambut panjang kecokelatan yang sedang duduk di kursi itu," jawab petugas life guard menunjuk ke arah Rimba. Seorang anak kecil tampan yang sedang menjajal aneka kenyamanan fasilitas kapal pesiar.


Kapten kapal pesiar yang berperawakan gagah berani segera mendatangi Rimba yang sedang menikmati empuknya kursi santai di kapan pesiar. "Anak muda, saya adalah kapten kapal pesiar. Nama saya Kapten Budi. Saya selaku pimpinan di kapal pesiar ini mengucapkan banyak terima kasih untuk peringatan bahaya dan bantuannya dalam mengusir tiga ekor hiu."


Rimba segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat. "Sama-sama, Pak Kapten. Senang sekali saya bisa menggunakan kemampuan saya untuk menolong orang lain. Bunda selalu mengatakan bahwa kemampuan saya dalam menguasai bahasa hewan harus saya manfaatkan dengan baik untuk perbuatan baik juga."


"Sungguh mulia perbuatanmu, Anak Muda." Kapten kapal pesiar menganggukkan kepalanya lalu memberikan hormat pada Rimba sebagai tanda hormat kepada seorang pahlawan. Rimba segera mengikuti apa yang dilakukan oleh kapten kapal pesiar. Ikut menghormat pula.


"Anak muda, siapa namamu? Dimana orang tuamu?" tanya Kapten Budi penasaran melihat Rimba sendirian tanpa didampingi orang dewasa.


"Nama saya Rimba Lee. Bunda saya bernama Kinan Lee. Beliau dan sahabatnya, Tina ada di sebuah pulau asing di dekat sini," jawab Rimba tenang.


"Pulau asing? Apa maksudmu, Rimba?" tanya Kapten Budi tidak percaya bahwa Rimba bukan anak dari turis kapal pesiarnya. Tapi adalah seorang anak yang tinggal bersama ibunya di sebuah pulau antah berantah.


"Ya, kami bertiga tinggal di sebuah pulau asing. Dan kedatangan saya ke kapal pesiar ini hendak meminta bantuan agar Bunda dan Tina bisa keluar dari pulau asing. Sudah lama kami bertiga ingin keluar dari pulau asing tersebut, tapi baru hari ini saya berhasil menemukan bantuan. Apakah Pak Kapten bersedia menjemput Bunda dan Tina lalu mengajak kami bertiga berlayar ke Surabaya?" balas Rimba.


"Surabaya? Kalian bertiga ingin ke Surabaya?" tanya Kapten Budi takjub dengan permintaan Rimba.


"Iya, Pak Kapten. Kami bertiga ingin ke Surabaya mencari ayah Rimba," jawab Rimba jujur.


"Sungguh suatu kebetulan sekali, Rimba. Tujuan pelayaran kami berikutnya adalah Surabaya. Dan sebagai ucapan terima kasih, saya akan menjemput ibumu dan sahabatnya agar dapat ikut pelayaran kami berikutnya," jawab Kapten Budi serius.


"Kalau begitu, ayo jemput Bunda dan Tina secepatnya," ajak Rimba.


"Baik, saya akan segera menyiapkan kapal boat untuk menjemput mereka berdua. Ayo, ikut saya!" seru Kapten Budi segera mengajak Rimba turun ke lambung kapal dan menaiki kapal boat bersama dengan beberapa awak kapal.


Kapten Budi memberikan pelampung pada Rimba dan membantunya memakai pelampung. "Walaupun Rimba pandai berenang, tetap harus memakai pelampung sebagai standard keselamatan. Itu adalah aturan di perairan."


"Iya, Pak Kapten. Kata Bunda, hidup itu harus mengikuti aturan dan tata tertib yang berlaku agar kehidupan dapat berjalan teratur dan tertib," ujar Rimba.


Rimba tersenyum. Baru kali ini ia mendapat pujian dari orang lain selain Bunda dan Tina.


"Baik, mari kita berangkat, Rimba," ajak Kapten Budi.


"Silahkan ikuti teman lumba-lumba saya, Pak Kapten. Mereka akan memandu arah ke pulau asing," seru Rimba sambil menunjuk ke kawanan lumba-lumba yang berenang tak jauh dari kapal boat.


"Baik, Rimba," balas Kapten Budi segera mengomando anak buahnya untuk menyalakan mesin kapal boat dan mengikuti lumba-lumba.


Setengah jam kemudian, kapal boat Kapten Budi mendarat di tepi pantai pulau asing setelah melewati ombak besar di area karang tinggi.


Pemandangan hutan yang hijau dan pesisir pantai yang indah membuat Kapten Budi dan awak kapalnya terpesona. Mereka juga kagum pada Rimba dan ibunya yang tinggal berdua di pulau sepi dan terasing ini selama beberapa tahun.


Kinan dan Tina yang terus menunggu kepulangan Rimba di tepi pantai, dengan cepat berlari ke arah kapal boat dan menyambut kedatangan Rimba bersama Kapten kapal pesiar dan beberapa awak kapal.


Rimba dibantu Kapten Budi segera turun dari kapal boat.


"Rimba, syukurlah kau pulang dengan selamat, Nak. Bunda sangat khawatir," ucap Kinan serak langsung memeluk Rimba. Matanya yang bulat basah dengan air mata. Rasa lega, senang dan rindu menghalau semua rasa cemas dan sedih yang hinggap di hati Kinan beberapa jam yang lalu.


"Uu ... Uu ... Aaa." Tina segera bergelanyut manja di bahu Rimba.


Kapten Budi tersenyum lega melihat Bunda Rimba dan sahabatnya yang berupa orang utan kembali bertemu dengan Rimba. Kapten Budi juga merasa bahagia sudah berhasil mendarat di pulau asing, hendak menyelamatkan seorang wanita muda yang sangat cantik dan putranya, yang sudah tinggal bertahun-tahun di sebuah pulau yang tidak dihuni manusia.


"Perkenalkan, nama saya Kapten Budi. Rimba meminta tolong pada saya untuk menjemput anda dan sahabatnya. Lalu bersama-sama naik kapal pesiar ke Surabaya. Mari silahkan naik ke kapal boat kami. Kapal pesiar sebentar lagi akan segera berlayar ke Surabaya," ucap Kapten Budi.


Kinan mengelus pucuk kepala Rimba dengan lembut. "Terima kasih, Rimba. Berkat kamu, kita semua dapat keluar dari pulau asing ini. Sekarang, mari kita pergi ke Surabaya."


Rimba tersenyum senang melihat wajah Bunda yang merona bahagia. "Sama-sama, Bunda. Surabaya, here we go."


Ayah, please tunggu kedatanganku, batin Rimba.


Kinan segera menggandeng tangan Rimba dan bersama-sama naik ke kapal boat. Pergi meninggalkan pulau asing yang sudah mereka huni selama enam tahun.


"Selamat tinggal semuanya. Jaga diri kalian baik-baik. Maaf kami tidak dapat berpamitan pada semua hewan di hutan. Jika nanti kami ada waktu, kami akan kembali ke pulau asing sekali lagi," pekik Rimba sebelum mesin kapal boat kembali dinyalakan.


Bulir air mata Kinan kembali menetes. Kinan dan Tina melambaikan tangannya pada pulau asing. Berpamitan pulang kembali ke kota tempat seharusnya manusia tinggal.