CEO'S Prince

CEO'S Prince
Nikah Paksa



Setengah jam kemudian. Mobil yang ditumpangi Leony dan ibunya berhenti di depan sebuah kapel kecil sederhana. Letaknya terpencil, jauh dari keramaian. Karena memang kapel ini dibangun di tanah properti keluarga yang kekayaannya tidak akan habis dinikmati tujuh keturunan.


Supir ojek online memadamkan mesin mobilnya. Buru-buru turun menjejak bumi. Kaki besarnya menginjak rumput-rumput segar yang dipotong rapi dengan mesin pemotong rumput. Berjalan mendekati seorang pria tampan dengan rambut kelabu dan seorang pria berjubah hitam dengan kolar (krah warna putih yang melingkar di leher). Mereka berdua sudah menanti kedatangannya sejak beberapa menit yang lalu.


"Selamat siang, Tuan. Selamat siang, Pastor," salam supir ojek online setelah membuka topi yang menutup separuh wajahnya.


"Mereka ada di dalam mobil, Tuan," tambah supir ojek online.


Tuan tampan berambut kelabu berdehem. Supir ojek online langsung memutar tubuhnya dan berlari kecil menuju mobilnya. Dengan sigap ia segera membuka pintu mobil lalu mempersilahkan tuannya untuk menengok dua penumpang yang masih tertidur di sana.


Tuan tampan tersenyum kecil lalu menggendong tubuh Leony yang masih tertidur. Membawanya dengan hati-hati agar tidak terantuk body besi mobil.


"Bagaimana dengan ibunya, Tuan? Apakah perlu dibawa masuk ke dalam kapel juga?" tanya supir ojek online.


Tuan tampan berambut kelabu kembali berdehem.


Supir ojek online yang begitu mengenal dan paham arti deheman tuannya segera berlari ke belakang mobil. Membuka bagasi dan mengambil kursi roda yang terlipat di tumpukan koper-koper milik Leony dan ibunya.


Membuka kursi roda itu dengan cepat. Menggendong tubuh ibu Leony dan mendudukkannya di atas kursi roda. Lalu mendorongnya mengikuti tuannya, masuk ke dalam kapel.


Leony terbangun dari tidurnya saat tubuhnya sedikit terguncang dalam gendongan pria tampan berambut kelabu. Tapi matanya yang bulat terasa sangat berat untuk terbuka lebar dan melihat siapa orang yang telah menggendongnya saat ini.


Aroma citrus yang begitu kuat tercium oleh indera pembau Leony. Membuat Leony bingung dan mulai memutar otaknya yang masih belum sadar seratus persen.


Bukankah tadi aku ada di mobil dalam perjalanan ke bandara? Kenapa aku sekarang begitu mengantuk hingga tak kuat membuka mataku? Di mana aku sekarang? Kenapa ada seseorang dengan parfum berbau citrus yang begitu dekat denganku? batin Leony bingung.


Tak kunjung menemukan jawaban, Leony berusaha melawan kantuknya. Berusaha membuka matanya lebar-lebar.


Perlahan ia melihat seorang pria dengan rambut kelabu. Namun sayang, wajahnya tidak begitu jelas terlihat.


Pria tampan berambut kelabu itu menurunkan Leony di sebuah kursi yang dihiasi bunga-bunga berwarna putih.


Lalu pria itu meletakkan sebuah mahkota bunga putih di kepala Leony.


"Apa-apaan ini? Kenapa pria itu mendudukkanku di sini? Untuk apa memasang mahkota bunga di kepalaku? Hei! Aku dan ibuku bisa ketinggalan pesawat kalau tidak segera ke bandara," teriak Leony kesal karena rencananya pulang ke Australia bakal tertunda.


Hei! Kenapa suaraku tidak terdengar? Bukankah aku berteriak keras untuk memarahi pria itu? Tapi kenapa seperti orang bergumam dalam hati? Ada apa ini? batin Leony makin bingung.


Jangan-jangan aku dan ibuku disuntik obat bius dan diculik oleh supir ojek online lalu dibawa ke tempat ini. Tempat apa ini? batin Leony lagi.


Cepat-cepat Leony mengedarkan pandangannya yang terbatas karena kepalanya tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri secara maksimal.


Mata bulat Leony melihat sebuah altar, salib, pastor di antara rimbunan bunga putih segar. Nyala lilin yang kuning temaram membuat Leony tak habis pikir.


Apakah sekarang aku sedang berada di gereja? Apakah aku sedang menghadiri upacara pernikahan? batin Leony.


"Nona Leony Hadinata, apakah anda bersedia menjadi istri Tuan Nicholas Park dalam suka dan duka?" tanya pastor kepada Leony yang masih setengah merem melek, masih jetlag dengan keadaan di sekitarnya.


"Jawablah I do, Bola-Bola Ubi," bisik pria tampan berambut kelabu di samping Leony. Jemari tangannya dengan lembut mengusap rambut Leony.


Apa? Dia memanggilku Bola-bola Ubi? Dasar pria tidak sopan! Enak aja aku dibilang bulat kayak bola! Tubuhku sudah langsing. Tidak gendut lagi seperti saat aku kecil, keluh Leony kesal.


What? Nikah?


Leony mengerjabkan mata bulatnya. Tak percaya bahwa beberapa menit yang lalu dia diculik, sekarang berada di sebuah gereja dan akan menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Bahkan wajahnya saja tidak jelas.


Apa-apaan ini? Apakah ini halusinasi? Kenapa tiba-tiba aku harus menikah dengan Tuan Nicholas Park? Siapa dia? Gila! Aku tidak mau menikah! Lebih baik aku jadi perawan tua jika aku tidak bisa menikahi Rimba Lee. Tolong! Jangan nikahkan aku dengan pria gila ini, Pastor, pekik Leony berusaha berbicara sekeras-kerasnya. Leony juga berusaha menegakkan tubuhnya, berdiri dan lari. Kabur dari situasi gila dan aneh ini.


Namun bukannya dapat berdiri, malah kepala Leony tertunduk ke bawah. Lehernya seakan tidak kuat menopang kepalanya.


"Ya, Nona Leony sudah menjawab pertanyaan saya dengan sebuah anggukan. Dengan demikian, Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus telah memanggil dan mempersatukan kalian dalam perkawinan. Akan memberkati kalian dan memenuhi rumah tangga kalian dengan kasih karunia Roh Kudus supaya dalam iman, pengharapan dan kasih, kalian hidup suci dan bahagia selama-Iamanya. Amin,” ucap Pastor sembari tersenyum.


Ya Tuhan! Apa-apaan ini? Aku tidak pernah menganggukkan kepalaku. Never! Kepalaku ini hanya menunduk tak terkendali. Bagaimana sih? Kok malah dibilang setuju menikah. Dasar gila! pekik Leony histeris gara-gara dinikahkan secara paksa. Tentu dia marah besar.


"Sekarang, Anda boleh mencium pasangan Anda, Tuan." Pastor mengijinkan Nicholas mendekati pengantin wanitanya dan mencium bibir Leony yang masih perawan.


Tidaaakkk! Jangan cium aku! Pergi! Jauhkan bibir kotormu itu dari wajahku, teriak Leony sambil berusaha mendorong tubuh pria tampan berambut kelabu mendekatinya.


Tapi semuanya sia-sia. Tangan Leony yang biasanya lincah memotong sayuran, mencacah daging dan menguliti buah, tidak punya tenaga sama sekali untuk diangkat. Apalagi untuk mendorong tubuh kekar pria berambut kelabu.


Dalam kepanikan, hidung Leony kembali mencium aroma citrus yang pekat.


Leony memejamkan matanya, tak kuat melihat bibirnya diberangus oleh bibir pria tak dikenal yang beberapa detik lalu sudah resmi menjadi suaminya di hadapan Tuhan.


Semoga ini mimpi buruk! Tuhan, cepat bangunkan aku dari tidurku, gumam Leony.


***


Leony mengerjabkan matanya berkali-kali.


Cahaya kuning yang lembut dan temaram membuat pengelihatan Leony tidak butuh waktu terlalu lama untuk beradaptasi dengan keadaan sekelilingnya, setelah terbangun dari tidurnya yang lelap.


"Dimana ini?" tanya Leony lirih.


"Apakah ini kamar tidur?" tanya Leony lagi saat melihat dirinya terbaring di tempat tidur berukuran king size dengan taburan bunga mawar di sana sini.


"Apakah aku masih belum bangun dari mimpi burukku?" tanya Leony dengan badan menggigil ketakutan.


Tubuhnya yang putih mulus sekarang dibungkus gaun tidur hitam dari satin yang sangat halus.


"Siapa yang mengganti bajuku?" Leony panik. Ia cepat-cepat turun dari tempat tidur. Ia harus kabur sebelum Tuan Nicholas Park, suami yang baru saja menikahinya di gereja datang dan menggaulinya di malam pertama pernikahan mereka.


Kriet!


Seorang pria berambut kelabu dengan topeng besi menutupi wajahnya ada di ambang pintu.


"Tidaakkk! Aku harus kabur dari sini! Apa pun yang terjadi, aku tidak mau diperkosa suamiku sendiri!" pekik Leony sekuat tenaga.


.