
Hari sudah larut malam, Kinan keluar dari kamar mandi setelah selesai menggosok gigi. Ia mendapati Rimba sudah tertidur dalam posisi duduk di atas tempat tidur. Kepalanya terkulai ke samping. Sementara buku encyclopedia yang Rimba baca masih terbuka di pangkuannya.
Kinan tersenyum dan berjalan berjinjit menghampiri Rimba agar tidak mengusik mimpi indah putra tunggalnya. Mengambil buku tebal dari pangkuan Rimba, menutupnya dan meletakkan di atas nakas. Mengelus lembut rambut kecokelatan Rimba lalu memperbaiki posisi tidurnya. Agar lebih nyaman dan pulas.
Kresek! Kresek!
"Suara apa itu?" tanya Kinan segera mencari sumber bunyi yang mencurigakan. Pandangan mata Kinan langsung tertuju pada jendela dan pintu besar dari kaca yang tidak tertutup korden.
"Ini Surabaya bukan hutan. Tidak ada binatang buas mengancam kami berdua. Di luar juga ada satpam, sepertinya juga bukan pencuri," gumam Kinan berusaha menenangkan diri.
"Aku akan memeriksanya." Kinan mengambil jubah tidurnya dari satin putih yang lembut. Memakai jubah tidur dan mengikat talinya sebelum pergi membuka pintu kaca yang mengarah pada balkon kamar tidurnya.
Klik! Kinan membuka pintu kaca perlahan-lahan berharap jangan sampai ada suara ribut yang dapat membangunkan Rimba. Lalu ia berjalan keluar. Menuju ke balkon yang diterangi cahaya temaram.
Kinan terus mencari asal sumber suara mencurigakan. Tiba-tiba ada sebuah bayangan bulat menggelinding mendekatinya. Karena kaget, Kinan berteriak cukup keras.
Andre yang sedang asyik minum minuman soda dingin di balkon, langsung menoleh mendengar suara teriakan seorang wanita. "Kinan!" Tanpa berpikir panjang, Andre yang hanya mengenakan celana panjang satin warna putih langsung melompat dari balkon. Berpindah tempat ke balkon kamar Kinan. Segera memeluk Kinan dari belakang.
"Aah!" Kinan kembali berteriak dan terlonjak kaget saat ada yang memeluknya dengan tiba-tiba.
"Ssshh! Tenang, tenang. Ini aku, Kinan. Andre. Jangan takut. Semuanya baik-baik saja." Andre membalikkan tubuh Kinan hingga wajah mereka saling berhadap-hadapan. Mata mereka berdua bertautan.
"Kak Andre," gumam Kinan lirih. Sinar ketakutan dari manik mata Kinan perlahan menghilang.
"Ya, ini aku, Kinan. Jangan takut, aku akan selalu melindungimu." Suara Andre terdengar begitu hangat menentramkan denyut jantung Kinan yang berdetak melebihi kecepatan dentang jam antik di ruang tamu Andre. Ada sebuah perasaan lega membalut hati Kinan. Andre datang di saat yang tepat.
"Tepati janjimu, Kak. Lindungi aku dan Rimba selamanya," gumam Kinan lirih.
Kinan memeluk Andre dan menyandarkan wajahnya di dada telanjang Andre. Nyaman dan hangat. Aroma harum tubuh Andre yang maskulin menguar memenuhi indera penciuman Kinan. Membuainya hingga terisak kecil.
Enam tahun Kinan hidup dalam bayangan Andre. Ia begitu merindukannya, menantikan perjumpaan mereka. Untuk melalui semua ini tidaklah mudah. Banyak duka dan luka dalam hidup, daripada kata suka. Bertahan hidup dengan seorang putra di dalam hutan tidaklah mudah. Hingga Kinan seringkali meneteskan air mata saat di pulau asing. Sekarang pria tampan bak dewa Yunani itu sudah berada di dekatnya. Sangat dekat malah.
"Kak Andre," bisik Kinan lirih.
Sebuah belaian lembut diterima rambut panjang Kinan.
"Jangan menangis. Aku di sini. Selalu untukmu," pinta Andre.
Membuat Kinan kembali mengetatkan pelukannya pada tubuh pria yang sudah berpisah dengannya sekian lama. Isak tangis Kinan menjadi lebih keras. Malam ini Kinan menumpahkan seluruh perasaannya tanpa rasa malu lagi. Daripada ditahan dan membuat hantinya mengeras menjadi batu. Lebih baik dicurahkan agar semua beban di pundak hilang dan besok kembali memulai hidup dengan lebih ceria.
"Kak Andre." Bibir merah muda Kinan sedikit terbuka menggaungkan nama pria di hadapannya, terlihat begitu basah dan begitu menggoda. Tanpa diperintah dua kali oleh pusat pikirannya, Andre melabuhkan bibirnya di sana. ********** seperti menikmati permen manis yang semakin dikulum makin bertambah manis.
Kenangan malam romantis enam tahun yang lalu kembali berputar di kepala Andre. Andre seakan tersedot masuk ke dalam pusaran asmara yang makin menggulungnya untuk bertindak lebih berani.
Tangan kekar dan berotot Andre menyusup menyibakkan surai rambut kecokelatan Kinan, menarik lembut leher Kinan. Sementara tangannya yang lain melingkar di pinggang Kinan, menariknya, membawanya lebih merapat ke dada Andre yang tak tertutup sehelai benang pun. Seakan Andre menginginkan Kinan lebih dekat lagi.
Kinan yang tidak menyangka akan mendapat French kiss yang begitu dalam dari Andre. Perlahan mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Hingga ia melewatkan waktu untuk memupuk oksigen. Lupa untuk bernapas. Dadanya terasa sesak dan hampir meledak.
Andre yang menyadari bahwa Kinan membutuhkan asupan oksigen, mengubah arah perjalanan bibirnya secara perlahan. Tidak lagi bertaut di bibir Kinan. Tapi merayap ke pipi lalu menyapu telinga dan makin lama makin menurun ke leher jenjang Kinan.
Seakan diijinkan untuk kembali bernapas, Kinan segera meraup oksigen sebanyaknya-banyaknya. Sekaligus menggaungkan nama dewa Yunani saat Andre juga melantunkan namanya dengan lembut dan sangat seksi.
Jari jemari Andre kembali bergerak dengan lincah setelah merasa Kinan siap menerimanya lebih dari sebelumnya, Andre membuka ikatan jubah tidur Kinan. Menarik jatuh jubah tidur Kinan, hingga Andre dapat melihat baju tidur seksi yang dikenakan Kinan.
Krek! Korden jendela dan kaca besar di kamar Rimba tiba-tiba tertutup. Maaf tontonan kurang menarik untuk anak di bawah umur. Hahaha!
***
"Uuu ... Uuu ..." Tina menutup korden kamar Rimba lalu bertepuk tangan kecil di dalam kamar Rimba.
Besok, Tina berniat bercerita pada Rimba. Rimba pasti tidak percaya dengan apa yang baru saja Tina lihat. Kedua orang tuanya sudah menjadi satu kembali.
Beberapa menit yang lalu Tina tidak menyangka kalau dirinya yang sedang bermain-main di balkon kamar Rimba, karena tidak dapat memejamkan mata jika berpisah tidur dengan Rimba, malah akan membuat Kinan kaget dan berteriak histeris.
Sebenarnya Tina ingin menenangkan Kinan namun saat melihat bayangan Andre melompati balkon, Tina buru-buru masuk ke kamar Rimba lewat pintu kaca yang sudah tidak dikunci dari dalam. Bersembunyi di balik korden sambil mengintip apa yang akan dilakukan Ayah Rimba setelah melihat Kinan ketakutan.
Tina sadar diri. Ayah Rimba terlihat kurang menyukai kehadiran Tina di gedung rumah utama. Karena Tina adalah hewan peliharaan, seharusnya tinggal terpisah dengan manusia. Namun karena Rimba bersikeras tak ingin berpisah dengan Tina, maka orang utan tersebut diijinkan tinggal di kamar sebelah Rimba.
Dan saat ada kesempatan emas, Tina tidak menyia-nyiakannya untuk masuk ke kamar Rimba. Konyol! Bukankah sebenarnya Tina dapat keluar masuk ke kamar Rimba dengan mudah lewat connecting door? Tapi kenapa Tina tidak masuk saja dengan baik-baik lewat connecting door.
Ups! Itu karena Tina tidak ingin membuat Rimba kena masalah. Jika Tina masuk ke kamar Rimba lewat connecting door, itu berarti Rimba melanggar janji pada ayahnya. Membiarkan Tina tidur bersama Rimba. Dan Tina tidak ingin Rimba tumbuh sebagai pria yang suka ingkar janji.
Tina kembali mengintip keluar balkon. Astaga! Tina hampir tidak mempercayai pengelihatannya. Berkali-kali Tina menggosok matanya. Bayangan di depannya tetap belum berubah. Kinan dan Andre sedang ....
"Uuu ...." Yang berarti sebentar lagi, kau akan memiliki adik, Rimba.