CEO'S Prince

CEO'S Prince
Ayah, Akhirnya Aku Menemukanmu



"Mawar biru? Oh, itu adalah hadiah dari seorang pasien, Rimba. Dia sangat menyukai warna biru sehingga ia selalu memberikan mawar biru pada keluarga atau orang terdekatnya. Mawar biru memiliki makna, unik dan langka. Mungkin pemberi bunga mawar biru ini menganggapku sebagai pribadi unik dan langka yang berarti untuknya," jawab Dokter Song Hwa sambil tersenyum.


"Apakah nama pasien itu adalah Andre?" tanya Rimba lagi.


Alis mata sebelah kanan dokter Song Hwa naik. Ia tak percaya seorang anak laki-laki yang baru saja ia temui dapat menebak nama pasien yang selalu memberinya buket mawar biru.


Kinan yang duduk di sebelah Rimba juga ikut terkejut. "Tolong bantu kami, Dokter. Apakah dokter mengenal Raden Andre Ariandono?"


Mata dokter Song Hwa membulat. Perlahan ia mengangguk. "Kau juga kenal Andre, Kinan?"


"Ya, Dokter. Saya pernah menolongnya enam tahun silam. Dan Rimba adalah ...." Kinan memeluk Rimba dan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.


Dokter Song Hwa terlihat sangat kaget. Tanpa mendengar kelanjutan jawaban Kinan, ia sudah dapat menebak apa yang akan dikatakan Kinan. Menilik wajah Rimba sama persis dengan wajah Andre saat ia masih kecil. Rimba adalah putra Andre.


"Dokter, apakah saya boleh minta nomer ponsel Kak Andre?" tanya Kinan penuh harap dokter kenalannya mau memberikan kontak ayah Rimba.


"Maaf sekali, Kinan. Saya tidak dapat memberikan informasi tentang pasien kepada orang luar. Saya harus tetap mematuhi aturan kode etik. Tapi jika kau ingin bertemu Andre, kau bisa menemuinya di ruangan mawar kamar 303. Adik tiri Andre sedang dirawat di rumah sakit ini. Mungkin saja Andre masih di kamar 303 bersama Ariani. Kau bisa kembali lagi kemari setelah urusanmu dengan Andre selesai," ucap Dokter Song Hwa.


"Terima kasih, Dokter. Saya dan Rimba permisi dahulu." Buru-buru Kinan dan Rimba pergi meninggalkan ruangan praktek dokter Song Hwa menuju ke kamar 303.


"Semoga kita belum terlambat untuk bertemu Ayah, Bunda." Rimba berlari bergandengan tangan dengan ibunya. Hingga tiba di depan kamar 303. Tanpa melupakan sopan santun, Rimba mengetuk pintu kamar 303. Meminta ijin lebih dahulu untuk masuk ke kamar VIP rumah sakit megah ini.


Kriet! Pintu kamar 303 terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dari kamar 303 dan menyambut Kinan dan Rimba. Wanita itu terlihat sedikit bingung melihat dua orang tamu yang ada di hdapannya seperti baru saja lari marathon hingga terengah-engah nafasnya.


"Selamat siang. Maaf mengganggu. Apakah saya dapat bertemu Kak Andre?" tanya Kinan di sela-sela nafasnya yang memburu.


Belum sempat wanita paruh baya itu menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam kamar. "Siapa di luar?"


"Sebentar, Nona. Atasan saya memanggil. Saya permisi dulu." Wanita paruh baya itu berniat kembali masuk ke dalam kamar 303. Namun dengan cepat Kinan mencekal pergelangan tangan wanita paruh baya itu. "Tolong jawab pertanyaan saya dahulu, Bu. Apakah Kak Andre ada di dalam kamar?" Kinan bertanya penuh harap.


"Tuan Andre sudah pulang, Nona," jawab wanita paruh baya.


"Pulang? Kak Andre tidak ada di dalam?" Kinan melepaskan cengkeraman tangannya, seketika tubuhnya lemas seperti tak bertenaga.


"Hei! Kenapa kau diam saja? Siapa yang ada di luar?" Nada suara wanita dari dalam kamar 303 sudah meningkat satu oktaf terdengar tidak sabaran.


"Bunda, Bunda, baik-baik saja?" tanya Rimba khawatir.


"Bunda baik-baik saja, Rimba." Kinan menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit yang dicat putih bersih. Agar tidak melorot ke lantai.


"Lebih baik Bunda duduk dulu di sana. Bunda istirahat dulu. Biarkan Rimba yang berlari ke parkiran mobil untuk mengejar ayah. Pastikan Bunda menerima panggilan telepon masuk begitu ada nomor tak dikenal menelepon ponsel Bunda. Siapa tahu, ayah sudah membaca pesan yang Rimba sematkan di wiper mobilnya lalu memutuskan untuk menelepon ponsel Bunda," pinta Rimba sambil menggandeng bundanya duduk di kursi tunggu yang disediakan rumah sakit.


Kinan mengangguk dan memilih mengikuti ucapan Rimba. Karena ia sudah tidak sanggup berlari lagi ke halaman parkir yanga jaraknya begitu jauh dengan kamar 303. Biarkan Rimba yang masih muda dan kuat yang berlari mencari ayahnya. Kinan percaya Rimba yang genius berhasil menemukan ayahnya. "Pergilah, Rimba. Hati-hati."


Setelah mendapat ijin dari Kinan, Rimba segera berlari lagi secepat kilat. "Seandainya di sini ada akar-akar pohon, aku tidak akan terlalu capai berlari. Cukup bergelantung di akar dan mengayun ke sana kemari. Tinggal di Surabaya membuatku jarang melatih otot lengan tanganku."


***


Andre berjalan santai menuju ke parkiran mobil birunya. Menekan remote kuncinya hingga kunci mobil mewahnya terbuka otomatis. Lalu segera melangkah masuk ke dalam mobil kesayangannya.


Bertepatan dengan itu, datanglah gerimis hujan yang beberapa saat kemudian berubah menjadi hujan lebat. Andre pun menyalakan wiper mobilnya. Menghapus tetesan air hujan dengan kecepatan maksimum. Note warna kuning yang ditulis Rimba langsung terbang terbawa angin.


Dengan cepat Andre menekan tombol start di dash board mobilnya. Mesin mobil menyala dan meluncur keluar dari tempat berdiamnya.


Tepat saat mobil Andre pergi, Rimba keluar dari pintu utama rumah sakit. Matanya menatap nanar ke arah mobil mewah berwarna biru yang terus bergerak di bawah guyuran air hujan. "Tidak ada kesempatan ketiga. Aku harus mengejar, mendapatkan ayah dan membawanya ke hadapan bunda."


Rimba kembali berlari namun melihat kecepatan mobil yang makin meningkat, tidak mungkin Rimba dapat mengejarnya. Rimba segera memutar otak dan tubuhnya dengan lincah langsung memanjat tiang lampu yang terpasang di halaman rumah sakit. Bergelantung di atas tiang-tiang lampu, memanfaatkan kabel untuk mencapai jarak terdekat dengan mobil biru ayahnya.


Beberapa pengunjung dan pihak keamanan rumah sakit yang melihat aksi Rimba hanya bisa berteriak ketakutan. Mereka khawatir Rimba jatuh ke tanah dari ketinggian atau tersengat listrik, yang dapat membuat nyawa kecil itu melayang.


Maklum mereka semua tidak pernah tahu bahwa Rimba sudah mempelajari tentang bagaimana caranya tidak tersengat listrik saat memegang barang-barang penghantar listrik, dari burung-burung sahabatnya di pulau asing. Jenis aves adalah mahluk yang tidak tersengat listrik walaupun berdiri di kabel bermuatan listrik tinggi.


Jadi, walaupun hujan mengguyur bumi pertiwi, Rimba tidak tersengat listrik.


Bruk! Rimba melompat beberapa meter di depan mobil biru ayahnya. Buru-buru berdiri dengan lengan tangan terbuka lebar berusaha mencegah ayahnya keluar dari pintu geebang rumah sakit.


Cit! Rem mobil mendecit hingga memekakkan telinga. "Astaga! Untung saja anak kecil itu tidak tertabrak!" seru Andre bergegas membuka pintu mobilnya, keluar menuju zona derasnya air hujan.


"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya Andre khawatir melihat anak laki-laki kecil itu sekarang menggigil kedinginan. Bibirnya sedikit membiru. Begitu Andre mendekat, Rimba segera berlari memeluk ayahnya. "Ayah, akhirnya aku menemukanmu."