CEO'S Prince

CEO'S Prince
Pelaku



Dokter Song Hwa mempersilahkan ketiga tamunya masuk ke dalam rumahnya. Duduk di sebuah sofa biru tua.


Lalu Dokter Song Hwa mengulurkan sebuah kotak berlapis beludru biru tua yang sudah ia letakkan di atas meja ruang tamu. "Bukalah, Andre."


Andre mengambil kotak beludru bitu tua itu dan membukanya perlahan-lahan. Di dalamnya ada sebuah kunci dengan bandul kristal mawar biru.


"Itu adalah kunci sebuah ruangan bawah tanah yang ada di bawah kamarku. Ayo kita pergi ke sana," ajak dokter Song Hwa segera bangkit berdiri. Berjalan lebih dahulu daripada tamunya, lalu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke kamar dokter Song Hwa.


Kamar yang didesain dengan warna serba putih, sementara perabotnya berwarna biru tua. Sangat kontras sekali.


Dokter Song Hwa menunjuk sebuah lemari pakaian berwarna biru. "Masukkan kunci yang kuberikan tadi ke pintu itu. Turunlah ke bawah. Aku akan menunggumu di sini."


Dokter Song Hwa terlihat enggan masuk ke dalam ruang bawah tanah bersama-sama dengan putra dan menantunya.


Andre, Kinan dan Ares mengangguk. Andre menghargai keinginan ibunya dan tidak ingin memaksanya. Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam ruang bawah tanah begitu pintunya terbuka.


Sebuah tangga besi turun ke bawah menyambut kedatangan mereka. Setelah menyalakan lampu, mereka pun turun ke ruangan bawah tanah dengan rasa penasaran tak terkira.


Ruangan bawah tanah itu tidak terlalu luas. Mungkin ukurannya hanya 3 kali 3 meter, dilapis material serba kayu. Sangat bersih, tidak berdebu sama sekali. Di temboknya dipasang aneka macam pigura foto.


Andre dan Kinan yang mengamati foto-foto di dalam pigura kembali melelehkan air mata. Foto itu adalah foto dokter Song Hwa bersama dengan Raden Mas Eko Ariandono, foto maternity (kehamilan) dokter Song Hwa dan foto bayi Andre yang tidak pernah Andre lihat sebelumnya. Tertidur di dalam pelukan seorang ibu.


Ada juga foto pesta ulang tahun Andre dari kecil hingga dewasa selalu ditemani oleh dokter Song Hwa.


"Ternyata ibuku sangat mencintaiku. Ibuku tidak pernah bermaksud membuangku setelah dilahirkan. Ibuku selalu menemaniku di setiap acara ulang tahunku dan mengikuti perkembangan hidupku," ucap Andre saat melihat foto-foto dirinya tumbuh menjadi pria dewasa dan menjabat sebagai CEO Ariandono Group.


Krak! Terdengar suara berderak. Ares yang sedari tadi lebih tertarik pada keberadaan sebuah kotak kayu yang menempel di tengah-tengah dinding ruang bawah tanah daripada deretan foto-foto, segera membukanya tanpa berpikir panjang.


Andre menoleh dan segera menghampiri Ares. Di tangan Ares ada beberapa amplop cokelat yang diambil dari dalam kotak kayu. Ares menyodorkannya pada Andre. "Bukalah."


Andre mengambil amplop cokelat itu lalu membukanya perlahan-lahan. Ternyata di dalam amplop itu ada surat-surat kepemilikan saham Ariandono Group sebesar sepuluh persen.


"Jadi selama ini sepuluh persen saham Ariandono Group terkubur dalam ruang bawah tanah milik ibuku," gumam Andre lirih.


Pantas saja pemilik sepuluh persen saham Ariandono Group tak pernah muncul dalam rapat pemegang saham, karena pemiliknya adalah ibu kandungku yang tak pernah diumumkan ke publik, batin Andre.


"Sekarang bukalah amplop berikutnya," pinta Ares.


Andre kembali membuka amplop berikutnya. Amplop itu berisi bukti-bukti kejahatan yang pernah dilakukan Ayu Sekar Sari. Andre membacanya sekilas. Ada beberapa kasus pembunuhan yang dilakukan Ben, tangan kanan ibu tirinya sebelum bertobat dan menjadi detektif. Semua atas perintah dari Ayu Sekar Sari.


"Bukti-bukti ini dapat kupakai untuk mengirim ibu tiriku ke penjara," ucap Andre lega karena harta warisan yang diberikan ayahnya dapat mengukuhkan posisinya sebagai Ariandono Group sekaligus memberi efek jera pada ibu tiri dan adik tirinya di balik jeruji besi.


"Baiklah. Sekarang kita segera pulang ke Batu," pinta Kinan yang tiba-tiba punya firasat buruk. Hatinya menjadi tidak tenang seketika.


Mereka bertiga pun segera naik ke ruangan kamar tidur dokter Sing Hwa. Dan begitu mereka keluar dari ruang bawah tanah dan mendapat sinyal ponsel, ponsel Andre langsung berbunyi nyaring.


Rimba menelepon dan firasat buruk yang dirasakan Kinan terbukti. Tina tertembak dan sekarang kritis.


"Ibu, maafkan Andre. Andre harus pulang menemui Rimba. Ada sesuatu yang terjadi di vila," ucap Andre sedikit panik.


Kinan menggenggam tangan Andre. "Apakah Rimba baik-baik saja?"


Andre mengangguk. "Tina tertembak. Athena sudah mengeluarkan pelurunya. Sekarang Tina masih kritis."


Andre, Kinan dan Ares langsung berpamitan pulang.


Dalam perjalanan ke Batu, Kinan terus menangis hingga suaranya serak.


"Aku sudah meminta ayahku untuk mengirim orang ke vila yang ada di seberang rumahmu. Sekarang mereka sudah berhasil menangkap pelakunya," ucap Ares yang sedang mengemudikan mobil di jalan tol.


"Siapa yang berani sekali melukai Tina?" tanya Kinan dengan suara serak dari kursi penumpang.


"Bersabarlah, Kinan. Kita akan segera tahu setelah sampai di Batu dan menginterogasi tersangka." Andre menepuk lembut punggung Kinan dan membiarkan Kinan bersandar di bahunya. Melepaskan kesedihannya karena orang utan yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri sedang meregang nyawa.


***


Mobil Ares masuk ke halaman vila yang berada tepat di seberang vila Andre.


Ares, Andre dan Kinan buru-buru turun dari mobil. Masuk ke dalam vila tetangga yang pintunya sudah rusak.


Engsel pintunya patah dan ada lubang besar di daun pintunya, kemungkinan besar karena ditembak dari jarak dekat oleh anak buah ayah Ares yang berusaha membobol masuk vila.


Diperkirakan seorang pembunuh bayaran masih bersembunyi di dalam vita tersebut setelah menembak Tina karena gagal mengenai sasaran target sebenarnya. Rimba.


"Mana orang yang telah menembak Tina?" tanya Andre begitu melihat sederetan pria berbadan tegap, berpakaian setelan jas hitam dan berkaca mata hitam di ruang tamu vila.


"Pelaku ada di kamar tidur lantai dua, Tuan," jawab salah seorang pria yang diperkirakan adalah pemimpin tim penangkapan.


Ares, Andre dan Kinan segera naik ke lantai dua. Masuk ke sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar.


Nampak beberapa pria tegap berpakaian jas hitam dan berkaca mata hitam seperti yang ada di lantai satu sedang mengacungkan pistol pada seorang wanita muda yang berpakaian serba hitam.


Wanita muda itu duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat kabel tie. Sedang menangis. Mungkin wanita muda itu sekarang ketakutan karena ditahan oleh sekelompok pria yang tampangnya mirip gangster di drakor. Atau jangan-jangan sedang sedih dan kecewa karena gagal membunuh Rimba.


"Ariani?" Andre dan Kinan tidak percaya jika wanita muda yang sudah menembak Tina dari jarak jauh adalah Ariani, adik tiri Andre.


Andre memperhatikan isi kamar vila itu. Sebuah senapan laras panjang yang muthakhir masih menancap di tiang penyangga senapan. Ada di dekat jendela kamar vila. Juga ada teropong yang tergeletak di lantai. Itu berarti Ariani sudah memata-matai Andre dan keluarganya sejak Andre datang ke Batu.


Andre berjalan menghampiri Ariani. Mencengkeram dagu Ariani dan menariknya ke atas sehingga mata mereka beradu pandang.


"Apakah kemarahan dan kebencianmu sebesar ini hingga kau tega membunuh putraku? Kenapa kau membunuh putraku, hah?" tanya Andre dengan sinar mata penuh kemurkaan. Dingin dan tajam, langsung menakuti perasaan siapa saja yang menjadi target pelampiasan emosinya.


Apa? Putra Kak Andre dan Kinan benar-benar sudah mati? Yes! Aku berhasil, batin Ariani.


Sebelumnya Ariani sempat ragu pelurunya melukai Rimba. Karena tiba-tiba Rimba memutar tubuhnya sehingga Ariani merasa tembakannya meleset dan mengenai mahluk berbulu cokelat. Itulah mengapa Ariani kesal hingga menangis karena belum berhasil membunuh Rimba, sudah tertangkap bodyguard Tuan Hades.


Ariani terkekeh, makin lama suara tawanya makin membahana. "Tak sia-sia aku latihan menembak selama ini. Akhirnya aku berhasil membunuh pewaris tunggal Ariandono Group."


Ada nada bangga terselip di tawa Ariani. Ternyata peluru yang dilesatkannya berhasil mencelakai orang utan sekaligus putra kakak tirinya. Bahkan membunuh putra kakaknya.


Plak! Andre menampar pipi mulus adik tirinya cukup keras hingga memerah dan bengkak.


"Kau memang sudah gila!" Andre kelihatan sangat kesal sekali. Semula dia berharap adik tirinya menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf. Namun ternyata adik tirinya terlalu serakah dan gila harta.