CEO'S Prince

CEO'S Prince
Dasar Arek Semprul



"Good morning, Papa. Morning, Kak Rimba," salam Princess begitu mata bulatnya bertatapan dengan ayah dan tunangannya. Mereka berdua sedang menikmati santap pagi bersama di meja makan rumahnya.


"Mama mana, Pa?" tanya Princess sambil menarik kursi hendak duduk di samping Rimba.


"Mama di kamar," jawab Papa singkat dari balik koran ekonomi yang kembali dibacanya.


"Mama sakit lagi? Sepertinya sudah hampir seminggu mama tidak ikut sarapan bersama. Mama baik-baik saja kan, Kak Rimba? Tumben calon mantu datang tapi tidak dimasakin masakan kesukaan," ucap Princess setelah melihat isi meja makan hanya ada roti bakar, sereal dan omelete. Padahal biasanya mama membuat aneka dimsum, bubur atau aneka chinese food jika Rimba datang ke Batu.


"Kalau kamu sudah ngalamin sendiri apa itu morning shickness, kamu pasti gak akan ngomong kayak gini," jawab Rimba yang datang pagi-pagi ke rumah tetangga bukan untuk numpang sarapan tapi karena calon ayah mertua memanggilnya untuk memeriksa calon ibu mertua yang sedang hamil muda dan dilanda morning shickness pagi hari.


"Morning shickness? Mama hamil lagi? Princess bentar lagi punya adik?" tanya Princess tak percaya.


Rimba mengangguk. Sebagai seorang dokter, Rimba selalu jujur menjawab pertanyaan Princess jika Princess menanyakan kesehatan orang tuanya.


Roti panggang yang hendak dioles selai cokelat, kembali Princess letakkan di atas piring. Princess berdiri langsung memeluk Ares dengan penuh rasa bahagia.


"Terima kasih, Papa. Papa emang papa paling hebat sedunia. Papa selalu mengabulkan permintaan putri kesayangannya. Princess pingin adik, walaupun sudah segede gaban gini, juga tetep dikasi. Princess jenguk mama dulu, Pa." Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Ares.


"Papa memang luar biasa. Sudah tua tapi masih aja ... bisa bikin anak." Princess tertawa nakal setelah berhasil mengejek ayahnya.


"Papa juga masih pingin punya cucu dari kamu, Sayang. Biar adikmu punya teman sebaya nanti," balas Ares kembali mengingatkan Princess tentang syarat pergi ke pulau asing.


Princess menutup telinganya. Ia pura-pura tidak mendengar serangan balik dari ayahnya. Apalagi di sana ada Rimba, tunangan rasa kakak. Malu lagi! Apalagi semalam Princess ngebet minta kiss terus sampai diusir dengan hormat.


Tiba di depan kamar Athena, Princess segera mengetuk pintu dan memberi salam. Setelah diijinkan masuk, Princess langsung membuka pintu dan berlari memeluk ibunya yang sedang membaca buku di atas tempat tidur.


"Mamaaaa, kapan adik Princess lahir? Princess sudah tidak sabar," tanya Princess antusias.


"Mungkin bulan Juni, Sayang."


"Wah ternyata Mama sudah hamil tiga bulan, kok Papa Mama baru kasih tahu Princess hari ini sih?" Princess mengernyit kening.


"Mama kira Mama mau manapouse karena sudah tiga bulan tidak datang bulan. Tapi karena Mama sering mual dan muntah pagi hari, Mama beli test pack kemarin dan cek urine. Eh ternyata Mama hamil," jawab Athena sambil tersenyum senang.


"Mama sudah ke dokter kandungan?"


"Sudah. Tadi malam bersama Papa. Itu foto USGnya kalau mau lihat," jawab Athena lagi.


Princess mengambil sebuah buku putih di atas nakas. Lalu membukanya. Beberapa lembar foto kuning kecokelatan ada di dalamnya.


"Selama ini Princess cuma minta satu, ternyata Tuhan memberikan dua sekaligus. Terima kasih, Tuhan. Sehat terus twin babies dan Mama Athena. Love you all," ucap Princess kembali memeluk Athena dengan erat.


"Kamu udah sarapan, Sayang?" tanya Mama karena Princess masih bermanja-manja padahal dia harus segera on the way ke Surabaya. Ke kampus. Harus bimbingan skripsi tepatnya.


Princess menggelengkan kepalanya.


"Cepat sarapan. Rimba akan menemanimu ke Surabaya pagi ini," titah Athena.


"Siap, My Queen. Jangan capek-capek dan banyak istirahat ya, Ma. Princess turun dulu," ucap Princess langsung berlari keluar kamar ibunya.


Begitu tiba di meja makan, Princess hanya melihat Rimba di sana.


"Papa mana, Kak?"


"Terima kasih, Kak. Ayo berangkat!" Princess segera menggandeng tangan kekar Rimba dan melangkah menuju halaman. Mobil kesayangan sudah siap membawanya ke kampus.


Di dalam perjalanan, Rimba mulai menanyakan perkembangan skripsi tunangannya. Sekaligus ingin tahu pendapat Princess tentang pernikahan mendadak sebelum ke pulau asing.


"Gimana? Tetap harus ambil sampel di pulau asing atau mau ganti judul skripsi?" tanya Rimba.


Princess mengigit bibirnya. Semalam ia sudah memikirkannya masak-masak. Nikah lalu ke pulau asing atau ganti judul skripsi dan mengulang dari awal?


"Princess gak sanggup kalau harus membuat skripsi dari awal lagi. Karena sekarang sudah tinggal sedikit lagi selesai. Masak gara-gara satu sampel saja, Princess harus ganti judul. Kan capek. Ketik ketik lagi, cari sampel lagi, penelitian lagi. Gak mau ah! Princess mau ngomong ke dosen pembimbing aja. Minta sampel yang langka itu diganti dengan sampel lain yang lebih mudah dijumpai di Pulau Jawa. Jadi Princess tidak perlu nikah, tidak perlu ke pulau asing dan tidak perlu ganti judul skripsi," jelas Princess. Sometimes di kala kepepet, ide-ide jenius untuk menyelamatkan diri bermunculan seperti pop up di handphone.


Rimba mengusap lembut pucuk kepala gadis kecil yang banyak akal ini.


"Kakak doakan supaya kau berhasil meluruhkan hati baja dosen pembimbingmu itu," ucap Rimba yang seratus persen yakin dosen pembimbing Princess tak mudah untuk dinego.


Karena di belakang dosen pembimbing ada kekuatan kuat yang tidak mungkin kalah dengan akal-akalan gadis cantik 22 tahun ini. Siapa lagi kalau bukan Kakek Hades. Pemimpin dunia hitam yang ditakuti banyak orang.


Beberapa hari yang lalu, sebelum Rimba kembali ke Batu, Rimba sempat dipanggil menghadap Kakek Hades di mansionnya.


Dan Kakek Hades sudah menurunkan titah agar Rimba segera menikah dengan cucunya.


Jika Rimba menolak, dana penelitian dan dana bantuan untuk rumah sakit baru Rimba akan ditarik kembali. Rimba juga akan dipekerjakan sepenuhnya sebagai dokter untuk dunia hitam kakek Hades.


Padahal selama ini sebagai balasan atas dana investasi yang diberikan Kakek Hades, Rimba hanya dipanggil sebagai dokter dunia hitam saat menangani kasus-kasus khusus, yang membutuhkan bantuan mendesak, yang tidak mungkin diselesaikan di rumah sakit. Karena jika pasien dunia hitam itu dibawa ke rumah sakit, akan terjerat masalah hukum dan ancaman pidana.


Itu pun jarang. Seminggu paling hanya satu dua kasus saja. Kadang juga zero.


Tapi kalau ke depan Rimba jadi dokter dunia hitam sepenuhnya, itu berarti Rimba akan menangani semua kasus pengobatan dunia hitam dari ringan sampai yang terberat. 24 jam dalam seminggu, tanpa hari libur. Oh no! Itu sangat melelahkan.


Dengan amat terpaksa Rimba pun harus mau mengikuti perintah Kakek Hades. Apalagi umur Rimba juga sudah cukup untuk nikah. Hampir 29 tahun.


Papa Andre dan Bunda Kinan pernah berkata bahwa sebelum umur 30 tahun kudu dan harus nikah sama Princess.


So please marry me, Princess.


"Seandainya Princess tidak berhasil membujuk dosen pembimbing, bagaimana kalau kita nikah pura-pura saja, Kak?" tanya Princess yang masih ingin berkelit dari pernikahan paksa.


"Pura-pura gimana maksud kamu?" Rimba bingung dengan arti nikah pura-pura. Memang ada ya istilah nikah pura-pura di dunia ini? Kok baru tahu ya?


"Ya, kita nikah tapi kita tidak nikah beneran gitu."


"Maksudnya nikah cuma di atas kertas saja tapi kita berdua tidak menjalankan kewajiban sebagai suami istri?" tanya Rimba.


"Nah, Kak Rimba pinter banget ternyata. Sangat mengerti maksud Princess. Jadi gini, Kak. Setelah nikah, kita tetap seperti biasanya saja. Kakak tidak punya kewajiban sebagai suami Princess. Begitu pula Princess. Princess masih bebas seperti dulu, tidak perlu merawat suami. Dan satu lagi, Kakak gak boleh mikir punya anak dari Princess," jawab Princess dengan wajah berbinar-binar penuh harap Rimba bakal setuju dengan syarat darinya.


"Sama-sama untung, tidak dirugikan. Kakak juga bebas menikmati kebebasan kakak," imbuh Princess.


"Dasar arek semprul! Ono-ono ae idemu," ucap Rimba dalam bahasa Suroboyoan.


"Ini ide bagus, Kak! Bukan ide semprul. Semalaman Princess memikirkannya sampai Princess kurang tidur. Sekarang Princess mau merem dulu. Bangunkan Princess kalau sudah sampai di depan kampus." Princess menguap dan tertidur di samping Rimba.


"Kapan kamu jadi penurut dan gak nakal lagi?" Rimba mengelus dada dan kembali fokus menyetir.