
"Bundaaa!!!" pekik Leony langsung menghambur ke pelukan bunda yang baru saja masuk ke ruang perawatannya. Tak lagi meneruskan lamunannya yang tiada berujung di depan jendela besar.
"Putriku, apakah kau baik-baik saja? Sehat?" tanya Bunda Leony sambil mendekap erat Leony. Jemari tangannya mengelus-elus punggung Leony yang dibalut baju rumah sakit. Memberikan kehangatan sekaligus kekuatan untuk putri tercintanya.
"Leony sudah jauh lebih baik, Bunda. Infusnya sudah dicopot," jawab Leony dengan mata berkaca-kaca. Mulut dapat berkata bohong tapi hati masih perih teriris sembilu.
"Lupakan semuanya ya, Nak. Yang lalu biarkan berlalu. Jadilah wanita yang kuat dan tegar," nasehat Bunda Leony dengan untaian air mata yang jatuh berantakan.
Leony menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil berusaha menahan tangis. Begitu sesak. Begitu pengap. Tapi semuanya harus ditahan. Di depan Bunda, Leony tidak mau terlihat menyedihkan, walaupun sebenarnya hidupnya sudah hancur berkeping-keping.
Bunda Leony menarik tubuh lemah Leony. Memandangi wajah Leony yang masih pucat. Untung saja memar di wajah Leony sudah mulai samar. Kalau tidak, Bunda pasti makin tambah merasa bersalah.
Namun Bunda masih saja bersimbah air mata padahal Leony sudah setegar batu karang.
"Bunda, jangan menangis lagi. Please. Ini bukan kesalahan Bunda. Leony yang sial karena tak sengaja bertemu lagi dengannya di rumah keluarga Princess," ucap Leony tak ingin Bundanya merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpanya.
"Seandainya mulut ini tidak asal mengajukan diri untuk memasak di acara jamuan makan malam keluarga Princess, pasti sekarang hidupku masih tenang dan berjalan seperti biasanya," tambah Leony lagi sambil menghembus nafas kekecewaan.
"Sayang waktu tidak bisa diputar kembali. Sekarang kita hanya bisa mengatur langkah agar jangan sampai salah lagi di masa yang akan datang," renung Leony.
OMG! Berarti selama ini Leony pura-pura tidak mengenali pelaku pemerkosaan pada dirinya? Kenapa? Kenapa Leony melakukan hal itu? Kenapa tidak diungkap saja biar Tuan Nicholas Park segera dijebloskan ke penjara? Apakah karena ....
Bunda Leony menggigit bibirnya gelisah.
"Dia sudah menanamkan benihnya di perutmu, Nak," gumam Bunda Leony lirih sambil memandang perut datar Leony.
"Dan kalian sudah menikah di gereja," tambah Bunda Leony mengingatkan status Leony dengan pria menyebalkan itu.
Apakah karena mereka sudah menikah di gereja dan akan punya bayi, sehingga Leony tidak ingin ayah bayinya masuk penjara?
Leony menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Bunda. Dia bukan suamiku. Dia predator buas yang keji. Dia memperkosaku. Membuat hidupku hancur. Masa depanku berantakan. Jangan pernah sebut dia sebagai suamiku. Aku membencinya sampai ke setiap tarikan nafasku. Aku benci dia. Aku ingin dia mati. Mati dan tidak pernah reinkarnasi lagi," pekik Leony histeris.
"Tenang, Nak. Tenang. Maafkan Bunda, Sayang. Maafkan Bunda." Bunda Leony buru-buru menenangkan Leony dengan memeluknya lebih erat. Memberikan tepukan lembut di punggung Leony.
Perlahan amarah Leony mereda dalam dekapan Bunda yang tulus dan penuh kasih.
Setelah yakin emosi Leony sudah terkendali, Bunda Leony kembali membuka suara.
"Lalu? Apa rencanamu, Nak? Kau akan mengugurkan bayi ini dan membuatnya membayar semua perbuatannya padamu di penjara?" tanya Bunda Leony yang tidak tega membunuh seekor semut sekalipun.
Tapi ... dengan menggugurkan bayi di perut Leony dan membuat mantan majikanku masuk penjara, Leony dapat menata masa depannya kembali, batin Bunda Leony.
Leony menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak. Aku akan membiarkan janin ini bertumbuh dalam rahimku, Bunda. Aku akan merawatnya setelah dia dilahirkan. Dan aku sudah meminta Rimba untuk menjadi ayahnya."
"Bunda, masalah akan selesai setelah aku menikah dengan Rimba secara resmi. Tercatat dalam hukum agama dan negara. Dia pasti tidak dapat berbuat apa-apa," sambung Leony.
Menjebloskan pria brengsek dan licik seperti Tuan Nicholas Park ke dalam penjara? Seumur hidup Leony tidak pernah memimpikannya. Karena Tuan Nicholas Park adalah penguasa dunia hitam. Semua lembaga hukum adalah rekan dan kenalannya. Leony bakal jungkir balik dalam emosi dan keuangan kalau berurusan hukum dengannya.
Aib akan tersebar ke seluruh antero dunia. Korban perkosaan dan keluarganyalah yang akan menanggung aib dan malu seumur hidup. Sedangkan pelaku malah tidak mendapat penghakiman dari masyarakat.
Duit Leony juga akan terbuang banyak untuk menyewa pengacara. Tapi tetap saja berakhir dengan kekalahan di pengadilan. Power yang dimiliki Nicholas Park jauh lebih tinggi di atasnya. Untuk apa berjuang lebih keras kalau tahu akan kalah telak?
Lebih baik, Leony diam dan tidak menuntut macam-macam. Toh masih ada pria lain yang bersimpati dan mau menolong dirinya.
"Rimba?" tanya Bunda Leony tak percaya dengan ucapan putrinya.
"Tapi Rimba mencintai tunangannya. Mereka akan menikah dalam waktu dekat, Nak. Apakah kau tega memisahkan Rimba dan Princess agar anak di dalam kandunganmu memiliki ayah?" tanya Bunda Leony lagi.
"Ini bukan masalah tega atau tidak tega, Bunda. Aku mencintai Rimba. Aku dan anak ini membutuhkan Rimba," jawab Leony meyakinkan Bundanya agar menyetujui tekad Leony yang ingin dipersunting Rimba sebelum kehamilannya makin membesar.
"Tapi ...." Bunda Leony terdiam.
"Tapi apa, Bunda?"
"Ada yang harus kamu tahu, Nak. Orang-orang yang membebaskan Bunda dari bungalow kecil tempat Bunda ditahan, mengatakan bahwa akan datang seorang pria yang akan menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung. Dan pria itu bukan Rimba, karena Rimba adalah milik Princess," jelas Bunda Leony lirih takut menyinggung perasaan Leony. Membuat masalah jadi makin besar.
"Ehm ... Bunda sudah berjanji padanya kalau akan menerima lamarannya, Nak. Maafkan Bunda yang bodoh dan egois ini. Dasar bodoh! Bodoh!" Bunda Leony menampar pipinya sendiri berulang kali sambil memaki dirinya sendiri. Bodoh!
"Bunda! Bunda! Jangan lakukan ini. Please hentikan, Bunda," pekik Leony segera menahan Bundanya untuk tidak menyakiti diri sendiri.
"Maafkan Bunda, Leony." Bunda Leony kembali menangis tersedu-sedu.
"Bunda tidak tahu harus berbuat apa? Bunda syok mendengar kabar bahwa kamu hamil anaknya. Dan ketika pria itu memberikan tawaran bahwa ada pria lain yang akan menikahi, Bunda terpaksa menerimanya. Maafkan Bunda, Nak," lanjut Bunda Leony.
Leony membuang nafas sedih. Hidupnya makin bertambah runyam. Keinginannya untuk menikah dengan Rimba tidak tercapai malah akan ditunangkan dengan pria lain. Bundanya dengan gegabah menyetujui tawaran gila yang dilontarkan sang penyelamatnya.
"Sebenarnya siapa pria yang menyelamatkan Bunda? Kenapa dia meminta Leony bertunangan dengan pria lain? Memang siapa dia kok ngatur-ngatur hidup Leony?" tanya Leony memberondong cepat seperti suara senapan.
Bunda Leony menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala.
"Sebelum pria penyelamat itu datang ke bungalow, suara baku tembak terdengar bersahut-sahutan, membuat Bunda ketakutan. Bunda pingsan tak sadarkan diri saat ditarik keluar bungalow. Setelah Bunda sadar, Bunda juga tidak berani membuka mata, takut kalau akan dibunuh dengan senapan. Jadi Bunda tidak melihat wajah orang yang menyelamatkan Bunda."
"Oh Tuhan!" Leony memeluk Bundanya. Ternyata perjalanan Bunda untuk keluar dari cengkraman pria busuk itu begitu berbahaya.
"Dan setelah Bunda berada di tempat yang aman, pria yang menyelamatkan Bunda menyuruh anak buahnya untuk menyampaikan pesan bahwa kau akan ditunangkan dengan pria lain karena sudah mengandung janin Tuan Nicholas Park," ucap Bunda Leony.
"Bunda tahu siapa pria yang akan bertunangan denganku?" tanya Leony.
Bunda Leony menggelengkan kepala. "Bunda tidak tahu. Mereka tidak menyebutkan sebuah nama."
"Apakah pria yang menyelamatkan Bunda sudah mengabari kapan pesta pertunangannya akan digelar?"
Bunda Leony menggelengkan kepala lagi.
Leony menghembuskan nafas lega. Syukurlah! Berarti masih ada kesempatan kabur sekali lagi. Daripada bertunangan dengan pria tak dikenal, lebih baik aku kabur dari rumah sakit.
Krak! Pintu ruang rawat Leony terbuka. Leony dan Bundanya langsung menghentikan pembicaraan dan memandang ke arah pintu. Seorang perawat masuk dan berjalan mendekati mereka.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu. Apakah Nyonya adalah ibu dari Nona Leony?" tanya perawat dengan sopan.
Bunda menganggukkan kepalanya. "Ada apa, Suster?"
"Ada beberapa berkas yang perlu ditanda tangani di ruang administrasi, Nyonya. Apakah Nyonya bisa ikut saya turun ke bawah?" tanya perawat.
"Baiklah." Bunda Leony menepuk-nepuk tangan putrinya sebelum pergi mengikuti perawat.
Leony mengantar kepergian Bundanya dengan seulas senyum tipis.