
"Butuh bantuan untuk melepas gaun pengantinnya?" bisik Andre di daun telinga Kinan. Suara bariton yang lembut itu sukses membuat bulu-bulu halus di tubuh Kinan langsung menegang. Geli!
Kinan meremas jari jemari Andre, tubuhnya sedikit dimiringkan, berusaha menjauh dari kontak fisik yang terlalu intim dengan Andre. Terlebih lagi dari gelagatnya, dewa Yunani yang masih berbalut setelan jas biru tua itu mulai menuntut sebuah kecupan.
Aish! Sudah menikah pun, malaikat penolongku ini masih suka jual mahal, susah benar membuatnya untuk first move lebih dahulu, batin Andre.
Andre tidak mau melepaskan lingkaran tangannya, semakin Kinan bergerak-gerak ingin lepas dari kungkungannya, semakin memantik bara api Andre yang memang sudah menggelora, jadi makin panas.
Mau lari kemana lagi? Tempatmu adalah di sini. Di dalam pelukanku, batin Andre. Dirinya sudah tak sabar menyapukan bibirnya ke bibir mungil Kinan, tapi tak kunjung berhasil. Akhirnya Andre mendaratkan bibirnya ke leher jenjang putih Kinan lebih dahulu. Menghirup wanginya parfum aroma bunga mawar pilihan dan white musk, classy dan lembut.
Percuma saja banyak tingkah ingin meloloskan diri, jika indera pengecap dewa Yunani sudah beraksi, tubuh ramping dan tinggi Kinan langsung membeku dan tidak lagi dapat dikontrol oleh pikiran dan hatinya. Tubuh Kinan seakan menyambut dan tak berhenti mendamba sentuhan-sentuhan berikutnya.
Tok! Tok! Tok!
Andre berdehem kesal. "Sepertinya kita berdua harus pergi ke kutub utara untuk bulan madu agar tidak ada seorang pun yang berani mengganggu kemesraan kita. Aku akan memangkas gaji Rendra dua bulan. Dia selalu saja menggangguku tiap sedang bersamamu, Kinan."
Tangan kekar Andre mengendur, Kinan langsung berdiri tegak lagi. "Kak, tolong bantu buka resleting bajunya sebelum membuka pintu. Kinan sudah berusaha, tapi tidak berhasil dari tadi."
Andre tersenyum lalu menarik kepingan besi kecil berwarna putih yang menyelip di bagian punggung Kinan. Krek! Punggung putih dengan beberapa guratan dan bekas luka lebar terpampang di hadapan Andre. Membuat Andre sadar. Setelah bulan madu, Andre akan mengantar Kinan ke klinik dokter kecantikan. Kinan harus mengobati luka di punggungnya agar kulitnya mulus dan elok.
"Aku buka dulu pintunya! Tunggu aku, kita belum selesai," ucap Andre. Bara api asmaranya langsung off karena ada interupsi. Raut wajahnya juga terlihat kesal dan marah.
Kinan menghela nafas.
Untung ada yang mengetuk pintu, kalau tidak, oh no! What will happen to me? batin Kinan.
Kriet! Andre membuka pintu kamarnya dengan kasar. Berniat memaki Rendra yang sudah mengganggu siang manisnya. Tapi yang ada di depan kamarnya bukan Rendra. Pria ini tua berkepala botak. Pak Broto, kepala pelayan rumah Andre.
"Maaf mengganggu, Pak Andre. Bu Ida Ayu Komang datang dan ingin bertemu Pak Andre. Sekarang Ibu Komang sedang menunggu Bapak di ruang tamu. Apakah Bapak bersedia menemuinya?" tanya Pak Broto sambil menyeringai licik.
Balas dendam dengan mengganggu siang manis atasannya tercapai, setelah Pak Broto habis dimaki-maki Nona Ariani di telepon. Gara-gara ia tidak tahu hari ini adalah hari pernikahan Pak Andre dan Bu Kinan.
Aish! Memang Andre dan Rendra sengaja merahasiakan semuanya dari semua orang di rumah ini. Kalau rahasia ini bocor sebelum hari H, bisa-bisa Ariani dan Ayu Sekar Sari datang mengobrak-abrik pesta pernikahannya.
"Tante Komang datang?" tanya Andre pura-pura memasang ekspresi terkejut. Padahal dalam hatinya, ia sudah tahu apa yang ingin Tante Komang bicarakan saat bertemu dengannya. Pasti Tante Komang ingin bernegosisasi dengannya. Keiri hatian Tante Komang kepada ibu tiri Andre sangat terbaca jelas. Dan semalam, Andre sudah menunjukkan pesona kehebatannya. Sekarang Andre hanya perlu mendengarkan apa yang akan Tante Komang tawarkan dalam negosiasi ini.
"Pak Broto, tolong minta Tante Komang menunggu sebentar dengan sabar. Aku harus ganti baju lebih dahulu," ucap Andre kembali menutup pintunya.
Kinan lupa membawa baju ganti ke kamar Andre sebelum diminta Rimba untuk masuk ke kamar Andre. Tentu saja hal ini tidak disia-siakan Andre. Andre melepas jas birunya, dasi yang mencekik lehernya lalu membuka kancing kemeja biru mudanya satu persatu sebelum berjalan mendekati wanita yang sudah sah menjadi miliknya sejam yang lalu.
"Selamat menunggu, Tante Komang. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Kinan, sebelum membahas urusan Tante," gumam Andre penuh senyum kemenangan.
***
Di ruang tamu rumah Andre.
Bu Komang mengelus-elus perutnya yang membesar karena terlalu penuh dengan bergelas-gelas jus jeruk yang dibawakan Pak Broto. Bu Komang juga sudah bolak balik tiga kali ke toilet untuk buang air kecil.
"Sudah dua jam aku menunggu Andre di sini, kenapa Andre belum juga turun menemuiku?" tanya Bu Komang pada Pak Broto yang kembali membawa segelas jus jeruk dengan sepiring buah segar.
"Maaf, Bu Komang. Saya juga sudah mengetuk pintu kamar Pak Andre dua kali sebelum saya kemari. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Pak Andre. Saya hanya kepala pelayan di rumah ini, Bu. Saya tidak punya hak untuk memaksa Pak Andre membuka pintu kamarnya dan meminta beliau segera turun menemui Ibu. Jadi harap bersabar, Bu. Mungkin Pak Andre ada urusan lain," ucap Pak Broto yang juga kesal sudah berkali-kali naik turun tangga.
Ternyata Andre jauh lebih cerdas dari Pak Broto. Dia tidak mau rugi sedetik pun setelah berhasil meminang gadis impiannya. Dinikmati dulu dong, manisnya madu yang ditawarkan Kinan. Apalagi jika sudah sah di hadapan Tuhan dan hukum.
Mumpung putra kecilnya sedang asyik main games online bersama Rendra. Andre juga harus menikmati waktu kebersamaannya dengan Kinan.
Bu Komang menggerutu kesal. Jemari tangannya kembali mengambil segelas jus jeruk dingin yang dibawa Pak Broto. Untuk meredakan amarahnya yang terus membuncah. "Baik, kutunggu sepuluh menit lagi. Kalau Andre tak kunjung turun menemuiku, aku mau pulang saja. Tolong berikan aku secarik kertas dan pulpen, aku akan menulis sesuatu untuk Andre."
"Baik. Sebentar saya ambilkan, Bu." Pak Broto segera mengambil notes dan pulpen di meja tulis yang ada di dekat ruang tamu. Lalu memberikannya pada Bu Komang.
Bu Komang mendengus. Dengan cepat ia segera menulis undangan makan malam di secarik kertas. Melipatnya dengan rapi sebelum memberikannya pada Pak Broto.
"Apakah Bu Komang perlu sesuatu yang lain?" tanya Pak Broto.
Bu Komang menggelengkan kepala. "Tak perlu mengantarku keluar. Aku tahu jalan keluar dari rumah ini. Cukup sampaikan surat itu ke Andre. Kau boleh pergi."
"Baik, Bu. Kalau begitu saya pamit dahulu. Banyak pekerjaan yang harus saya lakukan di belakang," ucap Pak Broto.
Pak Broto melangkah pergi meninggalkan Bu Komang. Membawa surat dari Bu Komang. Sesampainya di ruangan makan yang posisinya tersembunyi, tak terlihat dari arah ruang tamu, Pak Broto membuka surat yang ditulis Bu Komang.
"Hanya undangan makan malam biasa. Sepertinya ini bukan hal spesial. Aku tak perlu melaporkannya pada Nona Ariani. Pasti dia akan kembali memarahiku. Daripada pusing diomelin melulu, lebih baik tidak usah diberitahu saja ah," gumam Pak Broto.