
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Bu Komang terus menggeliat resah di atas jok mobil. Bibir tebalnya tak berhenti mengeluh dan memaki takdirnya yang selalu kalah dari adiknya, Ayu Sekar Sari.
"Kenapa sih Tuhan tidak adil padaku? Tuhan menciptakan wajahku tidak secantik Ayu Sekar. Tuhan juga memberikan pasangan hidup yang tukang selingkuh dan korupsi macam Pak Komang. Wajahnya pas-pasan, gemuk, menyebalkan pula. Hidup kami selalu saja bertengkar, kapan kami bisa hidup damai, adem ayem seperti pasangan Andre dan Kinan," keluh Bu Komang.
"Dari tadi ribut melulu. Bisa diam gak sih? Aku tidak bisa konsentrasi jika mendengar mulutmu mengomel terus, Bu," gusar Pak Komang sambil terus mengemudikan mobilnya membelah jalanan.
Nafas panjang dihembuskan dari bibir tebal Bu Komang. "Aku bete, Pak. Dengan semua problem kehidupan dan rumah tangga kita. Kalau tidak mengomel ke kamu, aku harus ngomel ke siapa? Ke kucing-kucing peliharaanku? Ya gak mungkin lah, Pak. Mereka mana tahu apa yang kukatakan."
"Trus mau kamu itu apa?" tanya Pak Komang jengkel.
"Pak, carilah akal supaya kita tidak terus menerus diinjak-injak Ayu Sekar dan putrinya, Ariani. Setidaknya sekali-kali aku bisa menang gitu dari Ayu Sekar dan Ariani. Apa Bapak tidak ingin menang dari mereka?" tanya Bu Komang.
"Ya, aku ingin menanglah. Tapi mereka berdua memegang bukti-bukti kesalahanku di masa lalu. Bukti itu dapat menyeretku masuk penjara. Aku tidak mau masuk penjara, Bu," jawab Pak Komang jujur.
"Lalu Bapak akan terus menuruti semua kemauan mereka setiap Bapak diancam dengan bukti-bukti kesalahan masa lalu?" tanya Bu Komang kesal.
Pak Komang mengangguk. "Terpaksa aku menuruti semua keinginannya daripada merasakan dinginnya penjara. Penjara itu tidak enak, Bu. Kalau Ibu yang jadi Bapak. Apakah Ibu berani membantah perintah mereka? Ibu tidak takut masuk penjara? Kalau cuma bicara sih memang mudah, Bu. Tapi yang menjalaninya itu sulit."
"Kalau begini terus, sampai kapan Bapak akan menuruti perintah mereka? Sampai seumur hidup Bapak?" tanya Bu Komang emosi.
"Mikir, Pak. Mikir. Aku sudah capek mengikuti perintah mereka. Bapak pasti juga capek kan diatur-atur hidupnya terus menerus," tambah Bu Komang.
"Tapi, tidak semudah itu mengalahkan Ayu Sekar Sari, Bu. Orang yang mungkin bisa mengalahkan Ayu Sekar Sari adalah orang berkekuatan besar yang tidak pernah berbuat kesalahan di masa lalu. Hidupnya lurus, tidak pernah curang sehingga dia tidak punya kelemahan dan dapat diancam Ayu Sekar. Mana ada orang seperti itu di dunia ini? Semua orang pasti punya kesalahan dan kelemahan di masa lalu," ucap Pak Komang.
Bu Komang terdiam. Meresapi kata-kata Pak Komang. Tiba-tiba Bu Komang terkekeh.
"Pak, bagaimana kalau sekarang kita berpihak pada Andre?" tanya Bu Komang.
"Andre?" Pak Komang menelaah kembali siapa Andre.
"Bapak lihat sendiri kan, sekarang Andre sudah berubah. Dia tidak idiot lagi. Punya kekuatan yang sangat besar, CEO Ariandono Group, memiliki saham yang lumayan besar. Dan selama Andre masih idiot, hidupnya itu lurus dan mulus, Pak. Andre pasti tidak punya kesalahan di masa lalu," ungkap Bu Komang.
"Benar juga kamu, Bu. Tumben Ibu pintar, dapat menilai seseorang dengan baik," balas Pak Komang.
"Bagaimana kalau Bapak mengajak para pemegang saham untuk berkhianat dan mendukung Andre?" tanya Bu Komang licik.
"Aku? Aku mengajak pemegang saham lain untuk membelot dan berpihak pada Andre? Bu, kau sudah gila! Mana mungkin kami berani berkhianat kalau Ayu Sekar memegang ekor kami semua?" balas Pak Komang.
"Ya, Bapak cari akal atau gimana gitu. Bapak temui Andre, bicarakan masalah ini dengannya lalu minta Andre untuk menolong Bapak keluar dari masalah ini. Kalau Andre bersedia membantu Bapak. Nanti Bapak ajak teman-teman pemegang saham lainnya untuk mengikuti jejak Bapak," jelas Bu Komang.
"Ya, Bapak coba dulu lah. Siapa tahu Andre mau? Kalau Andre tidak mau membantu Bapak, dia pasti kalah dari Ayu Sekar Sari saat rapat pemegang saham beberapa hari lagi. Dia akan kehilangan Ariandono Group, Pak. Apa dia mau kehilangan perusahaan yang sudah dibangun ayahnya?" Bu Komang tersenyum licik.
Pak Komang mengangguk-angguk. Kalau ingin menang melawan Ayu Sekar Sari, Andre memang harus mau menolong para pemegang saham yang ada di bawah tekanan Ayu Sekar Sari. Jika tidak mau menolong mereka, Andre pasti akan kalah telak. Ayu Sekar Sari punya banyak pendukung di belakangnya. Sedangkan Andre tidak memiliki seorang pun.
"Baiklah. Besok malam, undang Andre dan Kinan makan malam di rumah kita, Bu."
"Beres, Pak. Nanti Ibu atur semuanya."
***
Di kamar tidur Kinan.
Malam sudah begitu larut namun Kinan masih belum menutup matanya. Berkali-kali Kinan memandangi jari manis tangan kanannya. Sebuah cincin berlian dengan kristal mawar biru melingkar di sana. Senyum bahagia tersungging di bibir mungil Kinan.
Akhirnya Andre mengungkapkan rasa cintanya, memberikan status baru untuk Kinan. Tunangan. Status yang sangat luar biasa. Tidak pernah terbayang dalam pikiran Kinan kalau mereka akan bertunangan secepat ini setelah mereka kembali bertemu.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kaca dari arah balkon. Kinan terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu kaca. Nampak bayangan seorang pria rupawan mengenakan piama warna silver, berdiri di depan balkon kamarnya.
"Astaga, Kak Andre," pekik Kinan buru-buru menutup mulutnya dengan jari tangan. Khawatir Rimba dan Tina yang sudah tertidur terbangun gara-gara suaranya.
"Sssttt ... Tidur, tidur yang nyenyak, Putraku," bisik Kinan sambil mengelus rambut cokelat putranya. Agar makin terlelap di alam mimpi.
Perlahan Kinan turun dari peraduannya. Mengambil jubah tidur yang tersampir di kursi meja rias dan memakainya sebelum membuka pintu kaca yang memisahkan balkon dan kamar tidurnya.
"Ada apa, Kak Andre?" tanya Kinan setelah menutup pintu kaca pelan-pelan.
Tangan kekar Andre langsung melingkar di pinggang ramping Kinan. Menariknya dengan cepat sehingga tubuh Kinan menabrak dada bidang Andre. Jantung Kinan langsung berdetak tak menentu. Mereka memang sudah resmi bertunangan beberapa jam yang lalu, namun sebelum janur kuning melengkung, Kinan tetap harus menjaga harga dirinya. Jangan sampai terlalu cepat jatuh dalam pesona maskulinnya.
Jemari tangan Kinan terangkat, menyentuh dada keras Andre, menahan tubuhnya agar tidak makin jatuh bergesekan. Bahkan Kinan menyalurkan tenaganya untuk mendorong tubuh Andre yang menginginkan Kinan lebih dekat dengannya. Detik berikutnya, Kinan berusaha membebaskan diri dari kungkungan Andre. Hingga Andre kesulitan memetik manisnya madu yang ditawarkan bibir mungil Kinan.
"Aku tidak menginginkan penolakan darimu," bisik Andre lirih. Tangan kekar dan berotot Andre bergeser dari pinggang ke punggung Kinan. Mendekap Kinan cepat, memenjara kedua lengan tangan Kinan hingga tidak mampu berkutik lagi. Manik mata mereka kembali beradu. Kinan dapat melihat api asmara Andre berkobar begitu besar dari sorot mata Andre.
"Kau tahu kalau aku begitu menginginkan ini saat aku jauh darimu," ucap Andre sambil menyentuhkan ibu jarinya ke bibir mungil Kinan yang menggoda. Menggosoknya dengan lembut hingga Kinan lah yang akhirnya tidak mampu menahan diri untuk jual mahal lebih lama lagi.
Krek! Korden kamar Kinan kembali tertutup rapat. Tina menutupnya cepat-cepat sebelum Rimba membuka mata bulatnya dan melihat adegan dewasa ayah dan bundanya.
Ish! Kalau mau kiss-kiss jangan di balkon dong. Harap cari tempat yang tersembunyi dan tertutup, batin Tina.