CEO'S Prince

CEO'S Prince
New Neighbour



"Selamat pagi, Tetangga Baru," sapa sepasang suami istri pemilik vila di sebelah vila Andre.


Sang pria sangat tampan, namanya Ares. Di dalam darahnya mengalir darah mafia Italia. Dan sang istri, Athena terlihat masih sangat muda, cantik walaupun wajahnya dibingkai kacamata tebal. Perutnya membuncit besar. Ukurannya lebih besar daripada perut wanita hamil biasanya. Namun sang istri terlihat masih gesit dan sangat ramah.


"Kami sudah menunggu kedatangan kalian. Mari silahkan masuk," ajak Ares dan Athena untuk segera bergabung di ruang makan rumah mereka berdua.


Acara sarapan pagi pun dimulai. Athena dengan cepat dapat mengakrabkan diri dengan Kinan. Mungkin karena mereka sama-sama satu profesi. Dokter. Walapun berbeda spesialisasi. Satunya dokter umum dan satunya lagi dokter hewan. Namun ngobrol apa pun langsung nyambung dan lancar.


Athena juga sangat menyukai kehadiran anak kecil. Rimba merasa nyaman berbicara dengan Athena. Insting Rimba mengatakan bahwa sepasang suami istri di sebelah rumahnya adalah sepasang suami istri yang saling mencintai, rukun dan bahagia. Terlebih lagi mereka berdua sedang menunggu kelahiran anak-anak mereka.


Rimba menyukai Athena. Jadi, Rimba sama sekali tidak keberatan akan diasuh sementara oleh Athena saat kedua orang tuanya pergi ke Surabaya bersama Ares di sore hari.


Ya, Andre mengajak Ares dan Kinan ke rumah dokter Song Hwa untuk mencari harta warisan yang diberikan ayah Andre sebelum meninggal. Jadi, untuk sementara waktu, Rimba akan berada di vila Andre bersama Athena.


"Rimba, Tante Athena mengantuk. Mau tidur dulu. Rimba cepet tidur juga ya. Jangan main kelamaan sama Tina, okay?" ucap Athena sambil mengelus perutnya yang bulat. Sejak usia kehamilannya makin mendekati kelahiran, Athena sering mengantuk setelah selesai makan malam.


Rimba tersenyum lalu mengelus perut Athena. "Adik kembar sudah kenyang dan sekarang mau tidur ya? Baiklah, good night, Tante Athena dan adik kembar."


Athena mengelus pucuk kepala Rimba lalu berjalan pulang ke vilanya sendiri. Malam ini, Athena berencana tidur di kamar tidurnya sendiri karena merasa kurang nyaman tidur di tempat asing.


Sebelumnya, Athena sudah menelepon Ares dan Ares sudah meminta ijin pada Andre dan Kinan. Orang tua Rimba berterima kasih karena Athena sudah menemani Rimba sampai malam, dan sekarang Rimba akan dijaga oleh pelayan vila yang tepercaya.


"Rimba, ini nomer telepon di rumah Tante Athena. Langsung terhubung ke kamar Tante. Jadi kalau Rimba ada keperluan penting dan mendesak, Rimba dapat menelepon Tante. Tante pasti akan segera datang kemari," ucap Athena sebelum pulang ke rumahnya sendiri.


"Terima kasih, Tante." Rimba tersenyum.


"Sebelum pergi ke Surabaya, ayah dan bunda juga memberikan catatan nomer ponsel mereka pada Rimba. Sehingga jika sewaktu-waktu ada perlu, Rimba dapat menghubungi mereka berdua," tambah Rimba.


"Sama-sama. Tante pulang dulu ya," pamit Athena.


"Hati-hati, Tante." Rimba mengantar kepergian Athena sampai ke halaman vilanya. Setelah bayangan Athena menghilang, Rimba pergi ke kamar Tina.


"Tina, tante Athena sudah pulang. Ayo kita minum minuman hangat sambil duduk-duduk di balkon," ajak Rimba yang sudah meminta pelayan rumah untuk menyiapkan susu cokelat hangat dan aneka cemilan.


Susu hangat dipercaya dapat membantu Rimba cepat tidur. Dan karena Rimba tidak alergi bahan makanan dari cokelat, Kinan mengijinkan Rimba minum susu cokelat jika Rimba menginginkannya.


Tina bertepuk tangan senang lalu membuka pintu balkon kamarnya dan duduk-duduk di sana. Pemandangan kota Batu dilihat dari atas balkon saat malam hari sangat indah. Tertutup kabut tipis tapi tidak membuat kilau cahaya berkelap kelip menghilang.


"Tina, belum apa-apa, Rimba sudah kangen ayah dan bunda. Specially bunda. Hmm ... Jika urusan ayah dan bunda selesai terlalu malam, ayah dan bunda akan menginap di rumah Om Ares yang ada di Surabaya. Aduh Rimba jadi tambah kangen deh," rajuk Rimba sambil memeluk Tina.


"Uuu ...." Tina berusaha menghibur Rimba dengan memeluknya lebih erat. Tapi tiba-tiba saja, Tina terkulai lemas dan mengendurkan pelukannya.


Rimba yang masih memeluk Tina, merasakan ada cairan hangat yang mengalir membasahi tangan Rimba. Rimba menarik tangannya dan melihat tangannya basah oleh cairan merah pekat.


"Tinaaa," pekik Rimba begitu Tina menutup matanya. Tina tidak sadarkan diri.


"Tina tertembak!" Rimba sadar, dirinya dan Tina dalam bahaya.


Jantung Rimba berdetak kencang. Ia harus segera mencari pertolongan.


"Bunda, Bundaaa." Rimba menangis sedih melihat darah yang mengalir dari punggung Tina.


"Tapi bunda tidak ada di rumah, aku harus memberikan pertolongan pertama pada Tina." Rimba teringat kalau Kinan selalu menekan luka berdarah dengan kain untuk menghentikan pendarahan lebih dahulu.


Rimba meletakkan Tina di lantai kayu kamarnya lalu cepat-cepat pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk. Rimba menekan handuk itu ke luka menganga di punggung Tina.


"Dokter, Tina butuh ditangani dokter. Tapi Bunda tidak di sini. Bagaimana ini?" Rimba berusaha memikirkan cara mendapat pertolongan yang lebih cepat.


"Tante Athena! Dia dokter manusia," pekik Rimba buru-buru menyambar telepon yang ada di kamarnya dan langsung menekan nomer telepon kamar Athena.


Nada sambung berbunyi dua kali dan setelah itu terdengar suara di seberang. "Hallo. Siapa ini?"


"Tante Athena, Rimba butuh pertolongan Tante. Orang utan sahabat Rimba baru saja ditembak oleh seseorang di balkon. Tolong cepat kemari, Tante. Bawa semua peralatan kedokteran Tante dan selamatkan Tina," pekik Rimba dengan suara keras.


"Baik, Rimba. Tante akan bersiap. Hubungi orang tuamu secepatnya. Jangan ke balkon. Tetap di kamar. Tunggu Tante datang," ucap Athena langsung menutup teleponnya.


Dengan gesit Athena segera mengambil tas dokter yang berisi peralatan dan perlengkapan komplit untuk menolong pasien gawat darurat. Langsung segera bergegas ke rumah yang ada di sebelah rumahnya.


"Anak-anakku, maafkan Mama mengajak kalian lari malam-malam. Rimba membutuhkan pertolongan Mama. Kalian sabar ya, jangan nakal dan menghambat Mama menolong seekor orang utan," ucap Athena sambil mengelus perutnya yang sedikit kaku saat diajak berjalan lebih cepat dari biasanya.


Brak! Pintu kamar Rimba terbuka, nampak Athena dengan baju tidur merah mudanya berdiri di ambang pintu. Keringat bercucuran di dahinya, napas Athena juga ngos-ngosan karena harus berlari dengan beban seberat hampir enam kilogram di perutnya.


"Tante Athena, terima kasih sudah datang," pekik Rimba di sela-sela tangisnya.


"Rimba, jangan menangis. Ayo bantu Tante menyelamatkan Tina." Athena berjalan mendekati tempat tidur yang ada di dalam kamar. Athena meletakkan tasnya ke atas nakas. Mengambil underpad (perlak sekali pakai). Melebarkannya di atas kasur.


"Tolong letakkan orang utan itu tertelungkup di atas underpad," titah Athena pada Rimba.


Rimba langsung menggendong Tina dan membaringkannya tertelungkup.


Athena kembali mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah gunting. Dengan gesit Athena menggunting lebih dahulu bulu-bulu cokelat di sekitar area luka tembakan yang ada di punggung Tina. Lalu mengambil cairan antiseptik dan mencelupkan kapas bulat ke dalamnya.


Athena memberikan pinset dan kapas kepada Rimba agar Rimba dapat membantu Athena membersihkan luka Tina dengan kapas antiseptik.


Setelah itu Athena segera mencari peluru yang ada di punggung Tina dengan pinset. Peluru menancap cukup dalam dan di area yang sangat berbahaya. Mengoyak pembuluh darah penting.


Klang! Peluru berhasil diambil dari tubuh Tina dan dibuang ke sebuah wadah aluminium. Athena segera menjahit luka di punggung Tina. Lalu menyuntikkan beberapa obat ke tubuh Tina.


Langkah terakhir adalah membalut luka Tina dan menenangkan Rimba yang kembali menangis saat Athena mengatakan kondisi Tina masih kritis karena Tina kehilangan banyak darah.


Athena terus memeluk Rimba hingga ketiduran bersama Rimba.