
Di kamar tidur Kinan.
Rimba membenarkan letak dasi kupu-kupu hitamnya yang membuatnya kurang nyaman. Kemeja biru laut dan setelan jas biru tua yang membalut tubuh mungilnya, membuat Rimba harus berhati-hati dalam bergerak agar tidak lusuh.
"Apakah aku sudah setampan ayah, Tina?" tanya Rimba pada seekor orang utan yang sedang menyisir rambut cokelat Kinan.
"Uuu ...." (Tentu saja, kau sangat tampan)
Kinan yang juga memakai gaun biru tua panjang, memamerkan kulit bahunya yang putih mulus, menimpali pertanyaan Rimba. "Kau jauh lebih tampan, Sayang."
Rimba tersenyum senang dengan pujian dari Kinan.
"Apakah gaun yang Bunda pakai tidak terlalu berlebihan untuk menghadiri acara ulang tahun Leony?" tanya Kinan pada Rimba. Kinan berdiri di depan cermin besar dan mematut gaun birunya yang menempel ketat di tubuhnya hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
"Lebih baik, Bunda ganti baju yang lain saja, Rimba. Ini terlalu seksi. Bunda takut digunjingkan orang tua murid yang lain," ucap Kinan tidak peecaya diri.
"Tidak perlu, Bunda. Memakai gaun apapun, Bunda selalu tampak bersinar. Bunda akan selalu menjadi bintang pesta. Bunda cantik, anggun dan tinggi," ucap Rimba memandang tubuh ramping setinggi 175 cm di sebelahnya.
"Terima kasih untuk pujiannya, Rimba. Baiklah Bunda tidak akan mengganti pakaian. Ayo kita berangkat, Leony pasti kecewa jika kita terlambat datang," ucap Kinan sambil meraup sebuah kado berpita biru yang ada di atas meja rias.
Mereka berdua segera berangkat ke acara ulang tahun Leony yang diselenggarakan di sebuah restoran besar yang ada di Surabaya Barat.
Tak berapa lama, mereka sampai di Jade Imperial restoran. Kinan dan Rimba didrop di depan restoran lalu supir pergi mencari tempat parkir.
"Selamat datang di Jade Imperial Restoran. Silahkan masuk," ucap seorang pelayan restoran yang bertugas di depan pintu masuk.
Kinan dan Rimba melempar senyum manis kepada pelayan. Dan pelayan menunjukkan jalan menuju ruangan VIP yang disewa oleh Ibu Leony untuk acara ulang tahun putrinya.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada sebuah lengan kekar yang melingkarkan tangannya ke pinggang Kinan. Membuat Kinan menghentikan langkah anggunnya. Membelalakkan matanya yang bulat ke arah pria yang berani kurang ajar menyentuh tubuhnya tanpa permisi.
"Kak Andre?" pekik Kinan tertahan. Ia tidak percaya pria tampan yang ia rindukan setiap malam, kini ada di sampingnya. Terlihat begitu tampan dalam balutan jas biru tua. Menebar senyum mematikan, membuat Kinan jatuh dalam pesonanya. Melupakan semua usahanya untuk jual mahal, jika kembali berjumpa setelah sekian hari tak bertemu.
"Ayaaaahh!" Rimba langsung memeluk perut Andre. Rindu yang menggumpal di hati Rimba langsung cair begitu Andre mengusap kepalanya. "Senang berjumpa kembali denganmu, Pangeran Hutan."
Andre menunduk dan menggendong Rimba. Ciuman hangat bertubi-tubi Andre kecupkan di pipi chubby putra tunggalnya. "Sahabatmu sudah menunggumu di ruang pesta. Segera masuk dan ikuti acara ulang tahunnya. Ayah dan bunda akan menemuimu setelah kami berbincang-bincang sebentar."
"Siap, Ayah. Mau ngobrol lama dengan bunda juga tidak apa-apa kok. Rimba sudah mandiri, jangan khawatirkan Rimba," ucap Rimba sambil mengedipkan sebelah matanya pada Andre. Sepertinya ada rencana yang sudah Andre dan Rimba persiapkan di luar sepengetahuan Kinan.
Perlahan Andre menurunkan Rimba dari gendongannya. "Pergilah, jangan nakal, okay?"
Rimba mengangguk lalu pergi masuk ke ruangan pesta dengan membawa kado berpita biru.
Andre membuka pintu ruang VIP. Ruangan itu gelap namun Kinan dapat melihat sebuah meja bulat di tengah-tengah ruangan yang didekor bak taman bunga penuh mawar putih dan biru. Berkat cahaya lampu-lampu kuning yang berpendar sangat cantik, gelapnya ruangan VIP menjadi makin romantis.
Andre menggandeng jemari tangan Kinan, terus membimbing Kinan berjalan di atas karpet biru langit menuju meja bulat yang sudah dipenuhi makanan yang super lezat. Di sana juga ada tiga lilin biru tua dengan hiasan bunga mawar putih yang cantik.
Andre menarik kursi putih dengan pita biru besar. Membungkuk hormat lalu mencium punggung tangan Kinan. Mempersilahkan Kinan duduk dengan begitu sopan.
"Terima kasih," gumam Kinan lirih. Sedikit irit bicara, khawatir bibirnya hilang kontrol dan menyatakan rindu pada pria tampan dengan alis tebal, mata cokelat, hidung mancung dan rahang yang keras. Bak medan magnet yang siap mengobrak abrik pertahanan Kinan yang maunya ingin tetap sok jual mahal padahal sudah kangen setengah mati.
Setelah memastikan Kinan duduk dengan nyaman, Andre menarik kursi putih di hadapan Kinan dan duduk di sana dengan senyum bahagia yang sangat menyejukkan hati. Tidak ada kemunafikan dalam diri Andre, ia benar-benar bahagia kembali dipertemukan lagi dengan Kinan setelah semua urusannya di San Fransisco berjalan lancar. Andre pergi jauh ke Amerika tidak pulang dengan tangan kosong. Apa yang ia kerjakan di Amerika itu demi dirinya, Kinan dan Rimba.
"Bagaimana kabarmu? Apakah kau merindukanku?" tanya Andre yang langsung membuat bibir mungil Kinan kembali terkunci rapat.
Kenapa Kak Andre selalu memancingku untuk menyatakan perasaanku lebih dahulu? Bukankah seharusnya Kak Andre yang menyatakan rindunya yang membuncah kepadaku? batin Kinan.
Melihat raut wajah Kinan yang mulai masam, Andre tidak lagi ingin berbuat usil dan memancing kemarahan Kinan. Wanita cantik di hadapannya ini kalau marah begitu mengerikan. Lidahnya tajam sanggup membuat Andre terkapar dalam sekali melempar uppercut.
"Aku sangat merindukanmu. Siang malam. Bahkan kau muncul dalam setiap mimpiku," ucap Andre tanpa malu.
"Gombal! Mana mungkin Kak Andre memimpikanku?" ucap Kinan sambil tersenyum. Ternyata pria ber-IQ 160 ini punya kelemahan. Dia kurang pandai merangkai kata rayuan untuk wanita.
"Sure. Believe me." Manik mata Andre memancarkan keseriusan. Ia mengambil sebuah kotak biru dengan pita putih di atas meja. Kembali bangkit berdiri dan berjalan mendekati Kinan. Berlutut di hadapan Kinan. Lalu memberikan kotak biru itu kepada wanita cantik yang terbengong-bengong melihat kelakuan Andre. Sudah dua kali Andre berlutut di hadapan Kinan jika ia mempunyai permohonan besar. Kali ini permohonan apa yang akan diucapkan Andre?
"Bukalah, Kinan." Suara bariton Andre membuat Kinan gugup.
Apa isi kotak biru ini? Sepertinya bukan cincin lamaran karena kotaknya cukup besar dan tebal. Huh! Aku terlalu berharap berlebihan padanya. Kak Andre hanya menganggapku penolong. Tidak lebih, batin Kinan.
Kinan mengambil kotak biru berpita putih dari tangan Andre. Membukanya perlahan, bersiap untuk terluka kesekian kalinya.
Sebuah kotak perhiasan berlapis beludru biru berisi anting, kalung dan cincin yang sangat cantik. Perpaduan berlian dengan kristal mawar biru yang berkilau diterpa cahaya lilin.
"Would you marry me, Kinan?" tanya Andre penuh harap.
Kinan memandang wajah tampan dewa Yunani yang baru saja melamarnya. "Telingaku tidak salah dengar kan? Kak Andre benar-benar ingin menikah denganku?" tanya Kinan tak percaya.
Andre mengangguk. "Aku mencintaimu, Kinan."
Kinan menutup kotak perhiasannya, meletakkannya di atas meja. "Aku juga mencintaimu, Kak Andre."
Kinan merangkul bahu kekar Andre. Dan sedetik kemudian, Kinan larut dalam ciuman membara Andre.