
Kinan tidak menyangka suara dan aura Andre berubah sedrastis itu dalam semalam. Andre terlihat benar-benar berbeda dari kemarin. Dia terlihat seperti seorang pria dewasa yang gagah dan berwibawa.
Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi semalam. Kenapa Kak Andre tampak begitu berbeda? batin Kinan.
Tapi buru-buru Kinan menepis pemikiran anehnya. Ada masalah yang jauh lebih penting sekarang. Ibu tiri Andre sedang marah-marah di luar rumahnya. Jika Andre tidak cepat-cepat keluar dari rumah Kinan, maka kemarahan ibu tiri Andre akan semakin besar. Dan itu berbahaya buat Andre. Kinan tidak ingin pria kesayangannya dimarahi ibu tirinya.
"Iya, Kak Andre. Lebih baik Kak Andre pulang sekarang. Ini adalah kartu nama Kinan. Di sana ada nomer telepon ponsel Kinan. Kakak bisa menghubungi Kinan kapan saja," ujar Kinan sambil menyodorkan selembar kartu nama berwarna pink muda yang ada di meja tulis Kinan.
Andre menerima kartu nama Kinan, membacanya dengan seksama kemudian menyimpan kartu nama itu di saku celananya.
"Terima kasih, Kinan. Aku pasti akan menghubungimu secepatnya," ucap Andre sambil memeluk Kinan dengan hangat. Mengecup lembut dahi Kinan sebelum berpisah dengan malaikat penolong yang sudah menjadi miliknya semalam.
"Jaga dirimu baik-baik. Setelah semuanya beres, aku akan meminta seseorang menjemputmu dan Bu Levi untuk tinggal bersamaku," janji Andre sebelum pergi meninggalkan rumah Kinan.
Aku akan membalas semua budi baikmu dan ibumu, batin Andre.
Kinan mengangguk. Tak terasa bulir air mata menetes dari matanya yang bulat dan membasahi pipinya yang mulus. "Aku akan menunggumu, Kak Andre."
Andre menghapus air mata Kinan, kembali mencium dahi Kinan dengan lembut sebelum pergi meninggalkan rumah mungil dan sederhana itu.
"Aku pergi." Andre keluar dari rumah Kinan dikawal oleh anak buah Ayu. Dia kembali berpura-pura menjadi seorang pemuda dengan keterbelakangan mental.
Melangkah gontai mendekati ibu tirinya. Dengan wajah tertunduk takut. Selama ini Andre memang takut dan tidak berani menatap wajah cantik ibu tirinya yang super galak dan suka marah-marah itu. Sangat mengerikan.
"Ayo pulang! Ibu akan menghukummu di rumah karena tidak patuh dan menghilang saat diajak pergi ke restoran. Apa kamu tidak tahu betapa lelahnya ibu mencarimu saat kamu menghilang?" ucap Ayu senewen.
"Maaf, Bu. Andre tidak akan mengulanginya lagi," balas Andre dengan suara kekanak-kanakan. Menunduk patuh dengan tubuh gemetar.
"Awas! Kalau sampai diulangi lagi!" bentak Ayu marah.
Andre mengangguk patuh.
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam mobil dan berlalu dari hadapan rumah mungil Kinan.
***
Cerita Kinan akan pertemuannya dengan Andre untuk sementara dihentikan. Menilik pendengar cerita, putranya yang tunggal sudah terlelap dalam mimpi. Kinan mengelus lembut rambut panjang Rimba yang berwarna kecoklatan karena sering terbakar terik matahari.
Tak terasa bulir kristal air mata Kinan mengalir turun. Menceritakan kisah masa lalu Kinan bersama Andre, pada putra tunggalnya, membuat hati Kinan kembali merindukan sosok pria tampan yang sudah tidak ia temui selama enam tahun.
Kinan menghela nafas, menghapus air matanya, bangkit berdiri dan keluar dari rumah pohonnya. Duduk di sebuah cabang pohon. Memandangi gelapnya langit malam yang bertabur banyak bintang. Dihembus angin dingin malam.
"Kak Andre, bagaimana kabarmu di Surabaya? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau bahagia? Di sini, aku hidup berbahagia bersama Tina dan Rimba. Semoga Tuhan mempersatukan kita kembali secepatnya," ucap Kinan penuh harap.
***
Sementara itu, di Surabaya, seorang pria tampan duduk kesepian di sudut ruangan kamarnya yang begitu luas. Ia meneguk minuman soda dingin.
Di atas meja berhamburan kulit kacang, beberapa bungkus snack dan kaleng-kaleng minuman soda yang sudah kosong.
"Kinan Lee, dimana kau? Sudah bertahun-tahun aku mencarimu, tapi tak kunjung bertemu. Aku berhutang budi padamu. Aku harus segera menemukanmu dan membalas semua budi baikmu," tutur pria tampan itu dengan suara parau. Sebutir air mata meleleh dari sudut matanya yang selalu dingin sedingin es batu.
***
"Tina, Rimba ingin pergi ke pulau Jawa. Rimba ingin bertemu ayah Rimba. Semalam Bunda menangis karena merindukan Ayah. Apakah Tina tahu cara untuk keluar dari pulau ini?" tanya Rimba pada orang utan di sebelahnya.
"Uuu ... Aaa ...." Tina menjawab pertanyaan Rimba dengan bahasa orang utan.
Rimba mengangguk mengerti.
"Rimba tahu, Tina. Memang terlalu beresiko untuk melewati karang tinggi dan ombak besar dengan sebuah rakit yang dibuat dari kayu. Pasti rakit akan hancur lebur menghantam karang tinggi dan penumpangnya akan tenggelam digulung ombak besar. Tapi apakah tidak ada cara lain yang bisa Tina pikirkan agar kita semua dapat keluar dari pulau ini?" tanya Rimba lagi.
"Uu ... Aaa," jawab Tina sambil menggambar seekor ikan lumba-lumba di atas pasir pantai.
"Ide yang sangat bagus, Tina. Lumba-lumba adalah hewan laut yang suka menolong manusia. Pasti lumba-lumba tahu caranya melewati karang tinggi dan ombak besar. Dan dapat menolongku menyelam dan berenang di daerah berbahaya itu," sahut Rimba senang dengan ide yang dikemukakan Tina.
Tina kembali menggambar sesuatu di atas pasir. Sebuah kapal pesiar.
"Oh ya? Lumba-lumba mengatakan bahwa di dekat pulau asing ada sebuah kapal pesiar?" tanya Rimba takjub dengan informasi Tina.
Tina mengangguk cepat.
"Aha! Tina, kau hebat. Kalau begitu Rimba akan meminta bantuan lumba-lumba untuk membantu Rimba menyeberangi karang tinggi dan melawan ombak besar. Rimba yakin dengan berpegangan pada sirip lumba-lumba dan berlatih pernapasan yang baik, Rimba dapat pergi mencari bantuan pada orang-orang di kapal pesiar. Lalu meminta mereka menjemput Bunda dan Tina di pulau ini," ucap Rimba Si Anak Genius.
"Uuu ...." Tina menarik-narik pergelangan tangan Rimba.
"Tidak usah khawatir, Tina. Rimba berjanji akan pulang dengan selamat setelah berhasil meminta bantuan pada orang-orang di kapal pesiar," ucap Rimba sembari menenangkan Tina yang panik karena sudah memberikan ide yang terlalu berbahaya untuk dilakukan oleh seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
"Tina, please jangan beritahu Bunda kalau Rimba akan pergi ke tempat kapal pesiar itu berlabuh," pinta Rimba memelas.
Tina mencibir dan menangkupkan kedua tangannya ke dada. Seolah kesal dengan Rimba yang keras kepala. Tidak patuh pada nasehat Tina bahwa mendekati kapal pesiar itu sangatlah berbahaya.
"Rimba akan berhati-hati, Tina. Rimba juga tidak akan gegabah. Rimba janji akan berlatih pernapasan, menyiapkan diri dengan baik lebih dahulu, sebelum memutuskan untuk pergi bersama lumba-lumba. Tina, tidak usah khawatir," ucap Rimba percaya diri.
Tina membuang muka ke arah lain. Kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa kalau Rimba sudah membuat keputusan. Rimba memang keras kepala, sulit diubah kehendaknya jika sudah berkeinginan.
"Rimba pergi dulu, Tina." Rimba bangkit berdiri dan berjalan ke pantai. Masuk ke dalam laut dan menyelam.
Tina menghembuskan nafas panjang. Dan memilih menunggu Rimba di bawah pohon kelapa.
Saat menyelam di dalam air laut, Rimba mulai memanggil sekawanan lumba-lumba dengan bahasa lumba-lumba.
Tak berapa lama lima ekor lumba-lumba datang menembus karang tinggi dan ombak besar laut. Menghampiri Rimba yang sudah memanggilnya.
Pemimpin lumba-lumba segera menanyakan maksud Rimba memanggil mereka. Rimba dengan cepat menjawab pertanyaan pemimpin lumba-lumba dengan bahasa lumba-lumba.
Pemimpin lumba-lumba menganggukkan kepalanya. Ia bersedia menolong dan membantu Rimba menembus karang tinggi dan ombak besar laut. Mengantar Rimba ke lokasi kapal pesiar yang berlabuh di tengah-tengah Selat Karimata. Selat yang terletak di antara Sumatera dan Kalimantan.
"Kalau begitu sampai bertemu besok pagi, Lumba-lumba. Terima kasih banyak sudah mau menolong Rimba," ucap Rimba senang.
Besok pagi adalah waktu yang tepat untuk keluar dari pulau. Karena menurut perkiraan Rimba yang dapat membaca cuaca dan arah angin, cuaca besok akan cerah dan anginnya tidak terlalu kencang, batin Rimba.