CEO'S Prince

CEO'S Prince
Iklan Teka Teki Angka di Games Online



Flash back On.


Sebuah plakat bertulis tinta emas. Raden Andre Ariandono, CEO Ariandono Group, ada di atas sebuah meja kerja gedung perkantoran yang sangat megah. Di belakang meja kerja itu duduk seorang pria tampan yang dingin dan menyeramkan auranya.


Andre sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sudah tinggal sedikit lagi beres.


Tok! Tok!


"Masuk!" perintah Andre dengan suara dingin. Bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah pintu ruang kerjanya.


"Pak Andre, keranjang bunga mawar birunya sudah datang. Saya sudah memberikannya pada satpam untuk meletakkannya di mobil bapak," ucap sekertaris pria Andre yang bernama Rendra.


"Ya." Andre membubuhkan paraf kecil di bawah kertas dan memberikan berlembar-lembar kertas proposal yang sudah ia periksa dan butuh revisi di sana-sini pada Rendra.


Rendra segera menyambut uluran dokumen-dokumen penting tersebut. Tanpa banyak bicara bahkan bertanya kalau tidak terlalu penting. Maklum atasannya, Pak Andre sangat dingin dan irit bicara. Apalagi auranya yang super mematikan sering membuat lutut lawan bicaranya bergetar kencang.


"Bagaimana keadaan ibu tiriku?" tanya Andre pada Rendra.


"Ibu Ayu Sekar sekarang dirawat di panti werdha yang sama dengan Ibu Levi, Pak. Keadaannya sudah jauh lebih baik daripada saat berada sendirian di rumahnya, Pak. Sekarang beliau lebih tenang dan sudah mau berkomunikasi dengan perawat yang bekerja di sana," jawab Rendra panjang lebar karena tahu bahwa atasannya tidak suka jawaban singkat yang tidak komplit.


"Hmm ... Apakah Ariani tahu akan hal ini?" tanya Andre lagi.


"Ibu Ariani tahu, Pak. Tapi belum ada tanda-tanda dari Ibu Ariani untuk datang menjenguk ibu kandungnya di panti werdha," jawab Andre lagi.


"Lalu, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?" tanya Andre lagi.


"Tugas mencari seorang gadis bernama Kinan Lee maksud Bapak?" tanya Rendra balik.


Andre berdehem dengan wajah dingin. "Tentu saja tugas itu. Tugas itu adalah tugas yang sudah lama tidak berhasil kau selesaikan. Apakah sekarang kau sudah berhasil menemukan Kinan?"


Rendra menggelengkan kepalanya. "Belum, Pak. Maafkan saya. Saya sudah mencarinya sampai ke ujung dunia. Namun masih belum berhasil menemukannya."


"Apakah baru-baru ini kau sudah mendapat kabar tentang Kinan dari kedutaan Australia dan Direktorat Jendral Imigrasi?" tanya Andre dengan nada tinggi.


"Kepala kedutaan Australia dan Direktorat Jendral Imigrasi tidak berhasil mendapatkan informasi apa pun tentang Kinan, Pak. Tidak pernah ada permohonan passport atau pun perpanjangan visa atas nama Kinan Lee. Berarti Kinan Lee masih di Indonesia, tapi entah di mana," jawab Rendra putus asa dengan tugas yang satu ini. Bayangkan sudah enam tahun mencari Kinan Lee tapi bayangannya saja tidak berhasil ditemui.


Harus cari di mana lagi ini? Di dalam tanah? Hmm ... Sepertinya satu-satunya tempat yang belum dicari adalah di dalam tanah. Kalau begitu, jika nanti aku senggang aku akan memeriksa laporan kematian selama 6 tahun terakhir ini, batin Rendra.


Andre menghela nafas berusaha mengontrol emosi kemarahan akibat kegagalan Rendra.


"Lalu bagaimana dengan tugas lain yang kuperintahkan padamu?" tanya Andre.


"Tugas tentang memecahkan soal teka teki buatan Bapak?" tanya Rendra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya. Apakah sudah berhasil dipecahkan?" tanya Andre penasaran.


Rendra menggelengkan kepalanya. "Saya sudah meminta semua staff perusahaan untuk mengerjakan soal teka teki dari Bapak. Bahkan saya juga sudah memberikan soal teka teki bapak ke teman, guru dan dosen saya. Tapi tidak ada satu pun yang berhasil, Pak. Kalau boleh saya tahu, due date untuk menyelesaikan soal teka teki itu kapan ya, Pak?"


"Secepatnya!" bentak Andre keras.


Rendra terdiam.


"Rendra, bagaimana jika soal teka-teki tersebut dibuat sebagai sayembara. Siapa yang bisa memecahkannya akan mendapat hadiah tang cukup besar?" tanya Andre yang tiba-tiba mendapat sebuah pencerahan.


Gitu dong, Pak. Bapak memberi tugas yang aneh dan susah dipecahkan, tapi bapak juga memberikan solusi yang baik untuk membantu saya menyelesaikan tugas, batin Rendra.


"Ide yang sangat bagus, Pak. Di dunia ini pasti banyak orang jenius tersembunyi yang dapat membantu Bapak memecahkan soal teka teki," ujar Rendra senang dengan ide cemerlang dari atasannya.


"Kalau begitu segera atur semuanya," titah Andre.


"Baik, Pak. Saya akan segera mengaturnya." Rendra segera keluar dari ruang kerja Andre untuk membereskan tugasnya yang ke dua. Senyum cemerlang merekah di bibir Rendra.


Setengah jam kemudian.


"Saya sudah menghubungi sebuah perusahaan games online yang produk gamesnya sangat disukai masyarakat. Saya sudah membayar mereka untuk mengiklankan sebuah teka teki berhadiah seperti yang Pak Andre perintahkan," jawab Renda.


"Kapan iklan teka teki berhadiah itu diluncurkan?" tanya Andre.


"Dalam tiga hari lagi, Pak. Karena iklan ini sudah dibayar mahal oleh Ariandono Group dan akan tayang di seluruh dunia, pihak perusahaan games online benar-benar akan menggarap tayangan iklannya semenarik mungkin untuk menjaring pemain-pemainnya agar mau memecahkan teka-teki tersebut," jawab Rendra.


"Bagus. Kuharap secepatnya ada pemain yang dapat memecahkan teka teki itu," balas Andre segera bangkit dari kursinya.


"Aku pergi dulu. Bereskan proposal tersebut. Ketika aku kembali, proposal tersebut sudah harus selesai sehingga dapat aku tanda tangani," ucap Andre yang ingin segera memulai proyek pembangunan apartement di dekat sebuah mall mewah di Surabaya, begitu proposal tersebut ditanda tangani oleh kedua belah pihak yang bekerja sama.


"Baik, Pak." Rendra mengangguk dan membuka pintu ruangan. Mempersilahkan atasannya keluar lebih dahulu lalu mengikutinya di belakang.


Andre segera turun ke basement parkiran tempat mobilnya diparkir. Setelah melihat sekeranjang bunga mawar biru yang cantik dan harum di sisinya, Andre segera melajukan mobil mewahnya yang berwarna biru ke panti werdha Surya. Panti jompo tempat ibu Kinan, ibunda wanita yang sangat dicintainya sekarang dirawat.


Tak berapa lama mobil mewah berwarna biru masuk ke halaman panti werdha. Andre memarkirkannya dekat dengan lobby panti. Lalu dengan langkah ringan segera turun dari mobil sambil menenteng keranjang mawar biru. Berjalan tegap menuju ke kamar Bu Levi Lee yang kondisi tubuh dan pikirannya makin hari makin menurun walaupun sudah dilakukan banyak pengobatan.


Tok! Tok!


"Wah, mimpi apa semalam, Tuan Andre tiba-tiba datang kemari," ucap perawat Bu Levi saat membuka pintu.


"Mari silahkan masuk, Tuan Andre," ucap perawat lagi langsung mempersilahkan Andre masuk ke dalam ruangan Bu Levi.


Andre meletakkan keranjang mawar itu ke meja kecil di samping tempet tidur Bu Levi. Lalu Andre menarik sebuah bangku dan duduk di sana. Menggenggam tangan kurus Bu Levi dan mulai mengajaknya berbicara.


"Apa kabar, Bu Levi? Maaf Andre terlalu sibuk hingga baru datang hari ini. Jangan marah ya, Bu. Andre sudah berusaha keras mencari Kinan, putri Bu Levi, tapi masih belum ketemu juga sampai hari ini. Tolong doakan Andre ya, Bu. Semoga Andre dapat menemukan Kinan secepatnya. Andre benar-benar kangen bertemu Kinan, Bu," ucap Andre sedikit serak. Ada perasaan sesak di dada Andre.


"Kinan, di mana kau? Aku ingin bertemu denganmu dan membalas semua budi baikmu," gumam Andre lirih.


Setelah menjenguk Bu Levi, Andre menyempatkan diri untuk menjenguk Bu Ayu Sekar, ibu tirinya yang sangat jahat. Andre berjalan perlahan ke ruang kamar ibu tirinya. Ia hanya mengintip dari pintu kaca. Nampak ibu tirinya sedang duduk di atas tempat tidur. Memandang keluar jendela. Raut wajahnya terlihat sedih dan kesepian.


Andre menarik nafas panjang. Sebuah rasa penyesalan merasuk ke hati Andre.


Seharusnya aku tidak berbuat sekejam itu padanya. Walaupun dia pernah berbuat jahat padaku, seharusnya aku tidak menghukumnya terlalu berat, batin Andre sembari berbalik badan dan meninggalkan tempat itu. Menuju ke halaman tempat mobil birunya bernomor plat L 3 VI diparkir.


Flash Back Off.