
Makan malam bersama di rumah megah Andre sudah selesai. Kinan membereskan piring-piring kotor dan setelah itu ia memanggil pelayan untuk membawanya ke dapur.
"Rimba, Ayah ingin berbincang dengan Bunda di ruang kerja. Rimba baca buku-buku dulu di kamar ya. Rendra sudah membeli banyak buku untukmu," pinta Andre sambil mengapit lengan tangan Kinan.
Kinan mengangguk pada Rimba. "Jangan membaca sampai larut malam. Kalau sudah mengantuk, sikat gigi dan tidurlah dulu bersama Tina."
"Baik, Bunda." Rimba segera mengajak Tina naik ke kamarnya. Tina sudah diijinkan masuk dan tidur di kamar Rimba. Asyik!
Setelah Rimba naik ke lantai dua. Kinan tersenyum pada Andre. "Ada apa, Kak?"
"Kita bicara di atas. Di sini, tembok pun punya telinga," jawab Andre langsung menggandeng tangan Kinan menaiki tangga menuju ke ruang kerja Andre.
Kriet! Pintu ruang kerja Andre terbuka.
"Duduklah!" Andre mempersilahkan Kinan duduk di sofa tunggal dan Andre duduk di sofa yang lain. Saling berhadap-hadapan. Ada jarak cukup jauh di antara mereka berdua. Itu semua Andre lakukan agar selama berduaan dalam satu ruangan dengan Kinan, Andre dapat fokus berbicara. Bukan memikirkan hal-hal romantis yang membuatnya lupa akan tujuan utamanya mengajak Kinan ke ruang kerja.
"Apakah kau tahu kalau Rimba suka bermain games online dengan nama ID Pangeran Hutan?" tanya Andre membuka pembicaraan.
Kinan mengangguk. "Ya, sejak datang ke Surabaya, aku mengajarinya menggunakan komputer. Dan jika Rimba bosan di rumah tapi aku masih sibuk bekerja dan tidak bisa menemaninya, Rimba biasanya bermain games online. Ehm ... Julukan Rimba selama tinggal di hutan pulau asing adalah Pangeran Hutan. Jadi Rimba menggunakan nama julukannya sebagai nama ID games online."
Andre manggut-manggut. Ternyata Rendra benar, Rimba adalah Pangeran Hutan. Kinan sudah mengakuinya.
"Apakah kau tahu kalau Rimba mengikuti sayembara teka teki angka yang muncul di iklan games online?" tanya Andre ingin tahu apakah Kinan tahu sejauh mana Rimba bermain games online.
Sekali lagi Kinan mengangguk. "Rimba sakit demam dan mimisan karena terlalu lelah saat memecahkan sayembara teka teki itu. Hadiahnya memang besar, namun tidak sebanding dengan kekhawatiranku saat melihatnya jatuh sakit."
Andre terhenyak kaget mendengar penuturan Kinan. "Rimba sakit?"
"Ya, Rimba terlalu memaksakan diri. Memforsir pikirannya hingga ke limit tertinggi. Dia kelelahan hingga terus tertidur untuk mengistirahatkan pikirannya. Tubuhnya juga demam dan mimisan," jawab Kinan.
Seketika keraguan muncul di benak Andre. Jika untuk memecahkan teka teki itu saja, Rimba sampai sakit, apakah menyusun delapan angka menjadi koordinat lokasi harta warisan akan kembali membuatnya kelelahan dan sakit? Kinan pasti tidak setuju jika aku meminta Rimba untuk kembali bersentuhan dengan teka teki angka itu.
"Ada apa memangnya, Kak? Bagaimana Kakak tahu tentang sayembara teka teki angka di iklan games online? Kakak juga ikut sayembara itu?" tanya Kinan penasaran kenapa sedari tadi Andre berputar-putar tidak segera ke titik sasaran, mengatakan inti pembicaraan mereka.
Andre menelan salivanya, sedikit bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kinan. Namun akhirnya Andre memutuskan untuk berkata jujur pada Kinan. Menutupinya dari Kinan juga percuma, tidak akan mencapai solusi yang tepat.
"Akulah orang yang meminta Rendra untuk membuat sayembara teka teki angka yang diberikan ayahku ke dalam games online, Kinan," ucap Andre.
Kinan terkejut, ia tidak pernah menyangka jika Andre adalah pemilik teka teki angka yang rumit itu.
"Sebelum ayahku meninggal, ayahku memberikan delapan soal teka teki angka padaku. Menurut beliau, teka teki angka ini dapat membantuku menemukan lokasi tempat persembunyian harta warisan yang membuatku dapat mengalahkan ibu tiriku," jawab Andre jujur.
"Harta warisan?" tanya Kinan tak percaya.
"Jadi, kakak membutuhkan bantuan Rimba untuk menemukan lokasi tempat persembunyian harta warisan ayah kakak?" Suara Kinan terdengar meninggi satu oktaf, tersirat kalau Kinan tidak suka Rimba harus dilibatkan dalam hal pencarian harta warisan ayah Andre.
"Kinan, kuharap kau tidak salah paham. Aku tidak serakah sampai ingin menimbun harta terus menerus. Tapi aku memang membutuhkan bantuan Rimba untuk mengalahkan ibu dan adik tiriku. Aku sudah tahu kalau dalang di balik hilangnya dirimu selama enam tahun ini adalah Ariani. Ariani meminta ayah kandungnya yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran untuk membunuhmu. Dan setelah kau kembali ke Surabaya, Ariani juga menghalangi kita untuk bertemu. Dia memindahkanmu ke rumah Grand Pakuwon. Ariani juga meminta bantuan kenalannya untuk menemukan mayat tak dikenal, mengkremasi dan menyimpan abunya di rumah duka atas namamu, Kinan. Adik tiriku itu memang benar-benar jahat dan licik," jelas Andre.
Kinan terhenyak kaget. Ternyata Andre diam-diam menyelidiki semuanya.
Dewa Yunani yang ada di depannya ini tidak mudah percaya dan tidak mudah menyerah jika tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Kinan merahasiakan sesuatu, Andre dengan cekatan langsung mencari tahu semuanya.
"Sekarang Ariani sudah tahu kalau kita telah bertemu kembali dan dia pergi menemui ibunya di panti wredha. Ibu tiriku pasti akan segera bertindak untuk mengambil semua milikku dan memisahkan kita lagi. Maaf Kinan, aku tidak ingin berpisah denganmu maupun Rimba. Kau adalah malaikat penolongku. Sementara Rimba adalah putraku. Aku ingin kita semua selalu bersama-sama," sambung Andre.
Hiks! Kau berkata kalau ingin bersamaku dan Rimba. Tapi kenapa kau hanya menganggapku hanya sebagai malaikat penolong? Satu lagi. French kiss siang tadi, apakah itu tidak ada artinya bagimu, Kak Andre? batin Kinan nyeri memikirkan Andre yang tak kunjung mengakui kalau sudah ada benih cinta di antara mereka berdua.
Mau sampai kapan kita seperti ini? Aku pihak penolong dan kau pihak berhutang, batin Kinan makin sesak.
"Apakah Kakak dapat memberikan sedikit waktu untukku? Aku akan mendiskusinya lebih dulu dengan Rimba. Menimbang baik dan buruknya demi keselamatan Rimba. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada putraku," ucap Kinan memilih untuk tidak mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya. Memendam perasaan galaunya yang ditarik ulur oleh Andre.
Andre bangkit berdiri dan berjalan mendekati Kinan. Berlutut di hadapan Kinan. "Rimba juga putraku, Kinan. Aku juga tidak ingin memaksakan kehendakku kepadanya. Jika memang kalian tidak setuju, aku akan mencari cara lain untuk mempertahankan semua yang kumiliki." Selalu ada plan B jika plan A gagal.
Jemari tangan Andre terulur hendak menggenggam tangan Kinan. Namun Kinan menggeser tangannya dan segera bangkit berdiri. Menjauhi Andre yang terhenyak kaget. Andre langsung menyadari bahwa ada murka yang melanda hati Kinan.
"Aku permisi, Kak. Selamat malam," salam Kinan buru-buru pergi keluar dari ruang kerja Andre.
Bulir kristal air mata langsung merebak begitu pintu hitam ruangan pribadi Andre tertutup. Langkah kaki Kinan mantap berjalan pergi menuju ke rumah kaca di halaman belakang. Ia butuh menyendiri, menangis pedih meratapi cintanya yang tak kunjung bersambut.
Andre terduduk lemah di kursi. Mendengus panjang. "Wanita memang susah dipahami. Jika aku diam dan tidak menceritakan maksudku meminta bantuan Rimba untuk memecahkan teka teki angka, Kinan pasti menganggapku pria yang aneh. Sudah mengajaknya bicara empat mata tapi kemudian main rahasia-rahasiaan."
Huh! Andre menghembuskan nafas panjang.
"Tapi setelah aku mengatakan segalanya dan bersedia menunggu keputusan yang diambil Kinan, eh ... Kinan malah marah. Seandainya waktu dapat diputar, lebih baik aku tidak membicarakan masalah ini dengan Kinan. Tapi segera menjalankan plan B sebagai solusi."
"Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menenangkan hatinya yang kesal?" pikir Andre bingung dengan sikap wanita yang sulit dihadapi ini.
Aih, ada yang salah memahami kemarahan Kinan. Lelaki ber-IQ 160 ternyata kurang cerdas membaca pikiran wanita.