
Rimba meninggalkan ruang rawat Leony setelah perawat dan dokter yang bertugas datang untuk menangani pengobatan Leony.
Begitu di luar ruangan dan duduk di tempat yang sepi, Rimba mengambil ponselnya. Ada lima panggilan dari Princess yang tidak terjawab saat ia sedang berdua dengan Leony.
Rimba menggigit bibirnya. Tunangan kecilnya pasti sekarang sedang marah-marah karena ia tidak mengangkat panggilan teleponnya.
"Maaf, Little Princess."
Setelah terdiam beberapa saat, Rimba mengetuk kontak Bunda Kinan dilayar ponselnya. Tak lama suara lembut Bunda Kinan terdengar. Membuat hati Rimba yang gundah langsung tenang dalam sekejab. Memang suara ibu selalu berhasil menenangkan kegalauan putranya.
"Hallo, Son. Kau sudah di Surabaya?" tanya Kinan lembut di seberang sana.
"Sudah, Bunda. Sekarang Rimba ada di rumah sakit Emerald."
"Siapa yang sakit, Son?" tanya Kinan ingin tahu.
"Leony, Bunda. Leony mengalami musibah. Dan tidak ada siapa pun di samping Leony, Bunda. Jadi Rimba harus menemaninya," jelas Rimba.
"Musibah? Apakah Leony mengalami kecelakaan?" tanya Kinan cemas.
"Lebih buruk dari itu, Bunda. Nanti Rimba akan menceritakannya."
"Baiklah. Kalau begitu Bunda akan segera menyusulmu ke rumah sakit Emerald."
"Bunda, apakah sebelum kemari, Bunda bisa menjemput Princess di kampusnya dulu? Karena tadi Rimba berjanji akan menjemput Princess setelah bimbingan skripsinya selesai, tapi ... baru saja Leony pingsan dan mendapat perawatan dokter. Rimba tidak bisa meninggalkan Leony sendirian, Bunda," jelas Rimba.
"Baiklah, Son. Bunda akan menghubungi tunangan kecilmu dan menjemputnya di kampus. Jangan khawatir, Bunda pastikan tunangan kecilmu tidak ngambek karena telat dijemput," jawab Kinan yang memahami sekali sifat-sifat calon mantunya. Cantik tapi suka ngambek.
"Terima kasih banyak, Bunda. Bunda adalah penyelamat Rimba." Rimba tersenyum lega mendengar ucapan Kinan.
"Sama-sama, Son. Kabari Bunda jika Leony butuh sesuatu. Bunda akan segera menyiapkannya," ucap Kinan lagi.
"Terima kasih, Bunda. Love you much." Rimba memberikan kiss jarak jauh untuk Kinan. Lalu mengakhiri panggilan teleponnya. Kembali berjalan ke ruang rawat inap Leony.
Krak! Pintu geser ruang rawat inap Leony terbuka. Dokter dan perawat keluar dari pintu itu.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rimba khawatir pada sahabat kecilnya.
"Nona Leony sudah sadar beberapa saat lalu, Dokter Rimba. Kondisinya kurang baik. Sangat tertekan. Oleh karena itu, saya kembali memberikan obat penenang agar nona Leony dapat beristirahat kembali. Kami harap semoga saat bangun nanti, nona Leony sudah lebih tenang," jelas dokter berbaju putih.
"Ya, Dokter. Semoga Leony lebih baik setelah bangun tidur." Rimba menarik nafas panjang.
Perjalanan untuk mendampingi, merawat dan membantu Leony masih panjang dan berliku. Rimba harus bersiap tenaga dan mental demi Leony, sahabat masa kecilnya.
"Dan tolong, Dokter Rimba. Sementara ini, biarkan nona Leony tenang dulu. Jangan sampai tertekan dan stress lagi. Karena saya khawatir dengan kondisi kandungannya. Keguguran di awal trimester sangat besar resikonya," ucap dokter yang menangani Leony.
Rimba menganggukkan kepalanya. Tidak hanya fisik dan mental Leony yang harus dijaga, tapi ada jiwa lain yang juga harus diselamatkan.
Ya, janin yang dikandung Leony. Janin yang tak diharapkan datang, tapi malah datang saat Leony sedang terpuruk dan terpukul. Seburuk apapun situasi dan kondisinya, janin itu tidak berdosa, janin itu harus hidup dan selamat. Bukan digugurkan.
"Saya paham, Dokter. Terima kasih banyak."
"Kalau begitu kami permisi, Dokter Rimba." Dokter dan perawat menganggukkan kepala sebelum pergi meninggalkan Rimba seorang diri.
Rimba menenangkan pikiran dan hatinya.
Beberapa jam yang lalu, Dokter yang merawat Leony memberitahu Rimba bahwa beliau sengaja tidak memberitahu Leony tentang kehamilannya. Karena dokter khawatir Leony tidak dapat menerima berita buruk lagi.
Leony bisa gila atau bunuh diri jika tahu dirinya hamil setelah diperkosa pria tak dikenal, batin Rimba.
"Sungguh bejat dan kurang ajar sekali pelakunya. Sudah merusak masa depan sahabatku. Awas kau! Aku akan menghabisimu begitu kakek Hades menemukanmu," ucap Rimba.
Jemari tangannya terkepal, tiba-tiba menonjok tembok rumah sakit hingga buku-buku jarinya memerah dan mengeluarkan darah segar.
***
"Bundaaa!" Princess langsung mendekap tubuh Kinan begitu ia masuk ke dalam mobil calon ibu mertuanya.
"Hallo, Putriku. Senang bertemu denganmu lagi," ucap Kinan sambil membelai rambut panjang Princess.
"Kak Rimba nyebelin deh, Bunda. Masak gak mau angkat telepon Princess. Malah ngrepotin Bunda, minta Bunda yang jemput Princess di kampus." Princess langsung nerocos mengungkapkan isi hatinya yang sebal.
Udah sebal pada dosen pembimbing yang ngotot tidak mau ganti sampel percobaan lain, eh ... Pujaan hati malah batal jemput dan meminta ibu mertua yang jemput. Kan bete abis!
"Bunda gak repot kok, Sayang. Bunda malah sukaaa banget diminta jemput Princess di kampus. Oh ya ... sebagai ganti ucapan permintaan maaf dari Rimba, bagaimana kalau kita ke toko roti dan es krim kesukaanmu?" tanya Kinan lembut berusaha meluruhkan rasa marah dan ngambek calon menantunya.
Princess mengacungkan dua ibu jarinya ke depan. "Bunda Kinan memang the best of the best. Tahu aja kalau Princess lagi pingin makan yang manis dan dingin biar pikiran gak makin stress."
Kinan tersenyum hangat dan segera melajukan mobilnya. Si tengil yang satu ini, walaupun suka ngambek tapi cepat juga luluhnya kalau disogok roti tart cokelat dan semangkuk besar es krim cokelat. Persis seperti Tina. Sahabat orang utan yang sudah pergi puluhan tahun yang lalu.
"Princess lagi banyak pikiran ya? Mau berbagi dengan Bunda?" tanya Kinan sabar.
Princess mendengus kesal.
"Dosen pembimbing Princess nyebelin, Bunda. Beliau gak mau dinego buat ganti sample penelitian. Princess udah kasih data tanaman langka yang ada di pulau Jawa dan yang lebih mudah dicari daripada harus jauh-jauh ke pulau asing. Tapi dosen pembimbing tetep kekeh dengan kemauannya. Kurang ajur banget kan itu dosen! Sebel! Sebel! Sebel!" gerutu Princess sambil menjejakkan kakinya dengan sebal ke atas karpet hitam mobil Kinan.
"Lalu? Princess mau nyerah gitu aja atau cari solusi untuk menghadapi?" tanya Kinan tenang sambil terus mengendarai mobilnya.
Princess mengerucutkan mulutnya dengan kesal. Pikirannya buntu. Solusi apa lagi yang harus dipikirkannya? Kok rasanya sudah hopeless banget. Begini salah, begitu salah. Mentok, kepetok, gak nemu solusi lain.
Apakah aku benar-benar harus nikah dengan Kak Rimba agar semua masalah ini selesai tanpa stress? Ya ampun! Aku belum siap nikah dengan si Tarzan. Tidaaakkk!!! Batin Princess.
"Gimana kalau Bunda yang nemani kamu ke pulau asing buat ambil tanaman langka?" tanya Kinan.
"Hah? Bunda Kinan serius?" tanya Princess tak percaya dengan ucapan Kinan.
"Dua rius, Sayang." Kinan terkekeh.
"Bunda Kinan, Bunda memang luar biasaaa. Princess sayang banget sama Bunda." Princess kembali memeluk Bunda Kinan dengan erat. Solusi dari Bunda Kinan adalah solusi yang terbaik.
Asyikkk! Skripsi jalan terus. Gak perlu ganti judul, ganti topik, batal nikah pula. Kebebasan. Selamanya jangan sampai pergi dari sisiku! batin Princess super happy dengan solusi yang diberikan Bunda Kinan.
Kinan tersenyum.
Beberapa hari yang lalu, Kinan sudah membicarakan hal ini pada Andre, suaminya.
Kinan merasa Princess belum mampu mengemban pangkat menjadi istri Rimba alias menantu. Gadis cantik ini pasti super sibuk setelah pulang dari pulau asing. Menyelesaikan skripsi, merampungkan revisi dan mengurus wisuda.
Kinan ingin Princess menyelesaikan semua urusannya lebih dahulu barulah menikah. Karena Kinan tidak ingin putranya menjadi sansak uring-uringan Princess selama mengejar dead line wisuda yang sudah mepet. Kasihan Rimba bisa ikut stress. Ditambah lagi hari ini Rimba mengatakan bahwa Leony terkena musibah.
Lebih baik, Kinan mengajukan diri untuk menemani Princess ke pulau asing agar Rimba dapat menemani dan membantu Leony memulihkan diri dulu. Setelah masalah Leony dan wisuda Princess selesai, Kinan dan Andre pasti jadi pasangan pertama yang mendukung Rimba dan Princess untuk segera naik ke pelaminan.
"Thank you so.much, Bunda. I love you." Princess tersenyum super bahagia.