CEO'S Prince

CEO'S Prince
Selamat Dari Pembunuhan



Flash Back On.


Di sebuah apartement mewah.


Otak pandai, ayo berpikirlah cepat! Katakan apa yang harus kulakukan agar Kinan Lee tidak bertemu dengan Kak Andre? Apakah aku harus menyewa pembunuh bayaran lagi untuk membunuh Kinan sekali lagi? batin Ariani saat menerima panggilan telepon dari Kinan.


No, no, no ... Kinan Lee sudah bertemu dengan Bu Erna. Jika aku mengutus pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Kinan di rumahnya, pasti Bu Erna akan berkoar-koar bahwa dia baru saja bertemu Kinan yang sudah lama menghilang. Dan pasti polisi akan mencurigaiku karena Kinan pernah menghubungi ponselku. Kami berbicara cukup lama di telepon, batin Ariani lagi.


Lalu apa yang harus kulakukan, Otak Pintar? batin Ariani sambil berjalan hilir mudik dan menggigiti kuku jari tangannya yang baru saja di-manicure.


Sepertinya untuk sementara ini, aku harus segera memindahkan Kinan Lee ke rumah lain. Kawasan perumahan yang penguninya adalah orang-orang kaya yang super cuek, tidak mau mencampuri urusan orang lain dan diprivate ketat oleh pengelola perumahannya. Semua perangkat lunak bertehnologi canggih yang ada di kawasan tersebut diprivate sehingga saat berselancar di dunia maya, identitas mereka selalu tersembunyi rapat. Jadi ... walaupun Kinan Lee masih hidup, Kak Andre maupun Rendra tidak akan berhasil menemukannya. Hmm ... Sepertinya aku tahu di mana kawasan yang cocok, batin Ariani senang karena sudah menemukan jawaban yang harus diambilnya saat ini.


Aku bisa mengarang sebuah kebohongan nanti. Yang penting, Kinan Lee harus segera pergi dari rumah itu. Sebelum sekertaris Kak Andre tahu tentang kedatangan Kinan di Surabaya. Aku juga harus menyuap Bu Erna, tetangga Kinan agar mulutnya tidak ember kemana-mana, batin Ariani teringat kecerdasan dan ketrampilan Rendra dalam menggali dan mendapatkan informasi akurat untuk atasannya, Kak Andre.


Setelah menutup panggilan teleponnya dengan Kinan, terdengar suara.


Prak!


Ariani membanting ponselnya ke lantai hingga pecah berantakan. Wajahnya mengeras marah. Bibirnya bergetar komat kamit menyumpah serapah.


"Dasar pembunuh bayaran tidak becus. Awas kau! Jika kita bertemu lagi, akan kuremukkan tulang-tulangmu!" ancam Ariani.


Flash Back Off.


***


Enam tahun lalu.


"Terserah mau dibunuh atau dibuang ke negara antah berantah. Pastikan dia tidak dapat kembali ke Surabaya, ke sisi Kak Andre lagi tepatnya," ucap Ariani enam tahun silam kepada seorang pembunuh bayaran di telepon.


"Baik, Nona Ariani. Saya pastikan dia menghilang dari muka bumi ini," balas pembunuh bayaran.


"Uang sudah saya transfer separuh. Sisanya akan saya transfer setelah gadis itu menghilang dari Surabaya," ucap Ariani.


"Baik, Nona Ariani. Terimakasih," ucap pembunuh bayaran.


Setelah panggilan telepon berakhir, pembunuh bayaran segera bergerak. Dengan cepat, ia mendatangi laboratorium tempat Kinan Lee bekerja. Dengan alasan yang cerdik, satpam laboratorium akhirnya mengijinkan pembunuh bayaran itu masuk ke dalam laboratorium. Ia pun segera mulai mencari Kinan Lee di bagian area kandang-kandang hewan percobaan.


Brak!


Tumpukan kertas-kertas tebal sengaja dijatuhkan di dekat kepala Kinan yang terkulai lemas di meja kerja miliknya.


Mendengar bunyi yang begitu mengejutkan, Kinan langsung terbangun dari tidur pulasnya. Jantungnya berdetak kencang saking kagetnya. Belum sempat Kinan mengusap liur yang menetes, semburan kata-kata pedas dan panas sudah membuat mata Kinan langsung membelalak bulat.


"Habis makan malam, perut kenyang, langsung enak-enakan tidur. Ini masih pukul delapan malam, Kinan. Kalau mau tidur nanti, kalau semua pekerjaan sudah beres," ucap Flo kesal melihat Kinan tertidur.


"Maaf, Kak Flo, saya ketiduran. Tapi semua pekerjaan saya sudah beres kok. Saya sudah menyuntik semua hewan dengan injeksi obat alzheimer sejam yang lalu," bantah Kinan sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Kalau begitu buat laporannya!" bentak Flo yang membuat pembunuh bayaran yang ada di dekat ruangan Kinan dan Flo berada, merasa iba dengan gadis cantik yang akan dibunuhnya.


"Kalau saya suruh kamu, ya kamu yang buatlah. Kan saya senior di sini. Junior kok mau enak-enakan. Sudah berani membantah ya kamu. Mau saya laporkan ke Profesor Rudolp kalau kamu tidak patuh dan selalu membantah perintah saya?" bentak Flo emosi mendengar penolakan Kinan.


Kinan menarik nafas dalam-dalam. Ancaman yang sama, selalu sama, yang membuat Kinan muak dengan kelakuan Kak Flo. Tapi apa boleh buat, Kinan senang bekerja di laboratorium Profesor Rudolp. Selain gajinya yang tinggi, Kinan juga sudah terlanjur sayang dengan semua hewan-hewan yang menjadi objek eksperimen obat buatan Profesor Rudolp.


Gangguan-gangguan kecil dari Kak Flo tidak usah ditanggapi. Toh cuma membuat laporan, it's easy, batin Kinan.


Akhirnya Kinan pun mengambil kertas-kertas tebal yang tadi dilempar Flo untuk membuatnya terbangun. Dengan cekatan, Kinan segera menyelesaikan tugas yang diberikan Flo.


Setelah melihat Kinan kembali bekerja, Flo segera meninggalkan ruangan Kinan. Pembunuh bayaran pun masuk dan membekap hidung dan mulut Kinan dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat bius. Kinan langsung pingsan tak sadarkan diri. Dengan cepat pembunuh bayaran memasukkan tubuh Kinan ke dalam sebuah karung. Dan membawanya keluar dari laboratorium.


Tanpa diketahui oleh pembunuh bayaran, seekor orang utan kecil yang ada di dalam kandang melihat aksi penculikan Kinan. Orang utan kecil itu dengan cerdik membuka kandang miliknya dan mengekori kepergian pembunuh bayaran.


"Apa yang harus kulakukan dengan gadis cantik ini?" tanya pembunuh bayaran yang tidak tega membunuh Kinan Lee.


"Gadis ini adalah gadis yang baik. Ditindas oleh seniornya tapi tetap betah bekerja di laboratorium itu. Bahkan bekerja mati-matian untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang sakit alzheimer. Hmm ... Lebih baik aku membuangnya ke sebuah tempat yang terpencil hingga ia tidak dapat kembali ke Surabaya," ucap pembunuh bayaran sambil melajukan mobilnya dengan cepat ke arah pelabuhan Tanjung Perak.


Setelah tiba di tempat yang ia kehendaki, pembunuh bayaran itu membawa karung berisi Kinan naik ke sebuah kapal boat. Pergi meninggalkan daratan menuju ke laut yang sedikit berombak besar malam ini.


Orang utan kecil yang bernama Tina berjalan mengendap-endap tanpa suara di dalam kapal boat. Mendekati sebuah karung besar yang diikat tali sangat erat. Tina mengerucutkan mulutnya. Manik mata hitamnya terus memandangi simpul tali tersebut. Lalu perlahan menguraikan simpul tali itu hingga terbuka.


Tina menengadah dan melihat pembunuh bayaran yang wajahnya tertutup topi hitam. Pembunuh bayaran terlalu fokus mengendarai kapal boat hingga tidak menyadari Tina sedang membangunkan Kinan yang masih pingsan.


Perlahan Kinan membuka matanya, mengerjabkan matanya yang masih mengantuk. Melihat wajah Tina, Kinan tersentak kaget.


Bagaimana Tina yang tadi ada di laboratorium, dapat berada di dalam kapal boat dan menyelamatkanku? batin Kinan.


Tina menempelkan jarinya ke bibir, seperti memberitahukan Kinan untuk tetap diam tidak bersuara. Lalu Tina membantu Kinan keluar dari karung dan merangkak menjauhi pembunuh bayaran.


Bagaimana ini? Aku berada di tengah lautan. Kalau mau menyelamatkan diri dari penculik itu, aku harus terjun ke laut. Tapi ... sama saja bunuh diri dong. Laut begitu luas, nafasku pasti tak cukup untuk kembali ke daratan, batin Kinan.


Tina menggandeng tangan Kinan lalu menariknya untuk terjun ke laut. Kinan buru-buru menggelengkan kepala.


"Aku takut, Tina," bisik Kinan pelan.


Tina menunjukkan tangan ke lautan, sekelompok lumba-lumba ada di tengah lautan. Mereka mengikuti laju kapal boat.


Lumba-lumba adalah mahluk yang pandai dan suka menolong manusia. Semoga mereka mau menolongku dan Tina agar tidak tenggelam di lautan luas ini. Tuhan, tolong lindungilah kami berdua, batin Kinan.


Kinan menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk pada Tina.


"Hei! Bagaimana kau dapat lepas dari karung itu? Aku kan sudah mengikat ya dengan simpul mati. Ayo kembali kemari! Ikuti perintahku, aku tidak akan mencelakaimu," pekik pembunuh bayaran yang tidak dihiraukan Kinan maupun Tina.


Byur! Kinan dan Tina menceburkan diri ke dalam lautan dingin. Berenang ke arah lumba-lumba. Lalu segera ditolong lumba-lumba dan pergi menjauh dari kapal boat.


"Sial! Kinan melarikan diri di tengah lautan bersama seekor orang utan. Ya sudahlah, terserah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan nyawamu. Menghilanglah selamanya," pekik pembunuh bayaran kesal.


Pembunuh bayaran segera memutar kemudi kapal boat, pulang ke pelabuhan Tanjung Perak. Dan mengabari Ariani bahwa ia sudah berhasil membereskan Kinan Lee.