CEO'S Prince

CEO'S Prince
IP Address Tidak Terlacak



Tina merengkuh jari tangan Rimba dan menggenggamnya dengan erat. Butiran air mata menetes dari manik mata hitam Tina. Orang utan sahabat Rimba ini merasa bersalah karena sudah mengijinkan Rimba mengikuti sayembara teka teki berhadiah. Hingga akhirnya Rimba sekarang terkapar sakit tak berdaya. Sedari siang tertidur dan sampai sekarang belum membuka matanya.


Tina begitu merindukan Rimba yang sehat, ceria dan bersemangat. Sejak kecil, Rimba jarang sekali sakit panas. Paling-paling hanya luka lecet atau luka ringan saja.


Tok! Tok!


Kinan mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar Rimba. Meletakkan sebuah mangkuk berisi air hangat dan mulai mengompres Rimba dengan cermat.


"Tina, pergilah makan malam dulu. Aku akan menjaga Rimba. Oh ya, aku sedang memasak bubur di slow cooker. Mungkin sejam lagi sudah matang. Tolong panggil aku kalau buburnya sudah matang," ucap Kinan.


Tina mengangguk dan mengikuti permintaan Kinan. Ia segera pergi keluar kamar Rimba untuk menyantap pisang dan beberapa buah lainnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Rimba? Tidak biasanya dia sakit panas seperti ini. Hmm ... Apakah karena selama di pulau asing, Rimba tidak pernah diimunisasi dan tidak pernah berkumpul dengan banyak manusia? Sedangkan sekarang, Rimba sudah mulai sekolah dan bertemu banyak orang. Mungkin kekebalan tubuh Rimba tidak cukup untuk melawan beberapa penyakit asing yang tidak pernah ada di pulau asing," ucap Kinan.


Kalau begitu setelah Rimba sembuh, aku harus menjadwalkannya untuk ikut lima imunisasi dasar lengkap untuk anak, batin Kinan.


Kinan menghela nafas dalam-dalam. Mulai membuka baju yang dipakai Rimba. Mencelup handuk kecil ke dalam air hangat, memerasnya dan mengompres dahi, leher dan ketiak Rimba selama 10 menit.


"Cepat sembuh, Rimba. Maafkan Bunda kurang waspada dengan dirimu yang baru saja datang ke Surabaya. Seharusnya Bunda membawamu ke rumah sakit untuk cek kesehatan secara menyeluruh dan mendapatkan imunisasi," sesal Kinan.


Sejam kemudian, bubur buatan Kinan matang. Tina segera memanggil Kinan dan Kinan segera menuju ke dapur. Menyiapkan bubur untuk putra tunggalnya.


Kinan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih ke dalam kamar Rimba. Membangunkan Rimba perlahan-lahan untuk menyuapinya makan.


"Panasmu sudah turun, Rimba. Ayo makan dulu. Setelah habis buburnya, kau boleh tidur kembali. Jika tidak makan, perutmu kosong, kamu bisa sakit perut nanti," ucap Kinan lembut.


Rimba membuka matanya sedikit. Lalu dibantu Kinan untuk duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya.


"Ayo buka mulutnya, Rimba. Buburnya sudah hangat kok," pinta Kinan.


Rimba membuka mulutnya dan memakan bubur ayam buatan bundanya.


"Buburnya enak, Bunda. Tapi Rimba tidak berselera makan," ucap Rimba.


Tes! Tes! Tes! Tiba-tiba cairan merah keluar dari hidung Rimba.


"Astaga, kamu mimisan, Rimba," ucap Kinan buru-buru meletakkan mangkok bubur ayam ke atas nakas. Kinan segera mengambil tissue dan membersihkan darah yang menetes dari hidung Rimba.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Rimba? Kenapa tiba-tiba Rimba sakit panas dan mimisan? Apakah tadi siang pelajaran di sekolah sangat berat hingga Rimba kecapaian?" tanya Kinan tetap tenang walaupun darah di hidung Rimba belum berhenti mengalir.


Kinan mengambil beberapa lembar tissue lagi dan membuang tissue yang kotor ke dalam tong sampah.


"Bunda, jika Rimba berkata jujur pada Bunda, please jangan marah ya," pinta Rimba dengan sinar mata ketakutan.


Kinan mengangguk. "Berani jujur adalah sikap yang terpuji, Rimba. Jadi Bunda tidak akan memarahi Rimba karena Rimba sudah mengatakan yang sebenarnya."


"Setelah selesai mengerjakan PR, Rimba bermain games, Bunda. Rimba ikut sayembara memecahkan teka teki angka. Dan setelah berhasil menyelesaikannya, Rimba sangat lelah dan tertidur. Saat Rimba bangun, tubuh Rimba rasanya masih lemas, Bunda. Maafkan, Rimba ya," jawab Rimba.


Kinan mengusap lembut rambut Rimba yang sudah rapi dipotong pendek.


Rimba mengangguk dan melingkarkan tangannya ke pinggang Kinan. "Terima kasih untuk nasehatnya, Bunda. Ke depan, Rimba akan lebih berhati-hati agar hal seperti ini tidak terjadi lagi."


"Ya, Rimba. Sekarang dihabiskan buburnya ya." Kinan kembali menyuapi Rimba.


***


Ddrrt ... Ponsel Rendra bergetar. Ada sebuah panggilan masuk ke ponsel Rendra.


"Aish! Lagi enak-enak main games online, ada telepon masuk. Wah, game over deh!" ucap Rendra kesal. Terpaksa ia menghentikan permainan games onlinenya dan mengangkat panggilan telepon.


"Hallo, selamat malam," salam Rendra.


"Selamat malam, Pak Rendra. Ini saya, Pak Aldwin. Marketing dari perusahaan games online. Begini Pak Rendra, beberapa jam yang lalu ada seseorang dengan user name Pangeran Hutan dengan profil picture seekor orang utan mungil, telah memberikan penjelasan cara dan rumus untuk memecahkan teka teki yang dibuat oleh pimpinan perusahaan anda. Tapi sangat disayangkan sekali, IP address perangkat internet yang dipakainya tidak terlacak dalam sistim kami. Kami sudah meminta bantuan badan yang berwenang untuk mencarinya. Namun tidak berhasil," jelas Pak Aldwin.


Rendra menepuk dahinya dengan kesal.


"Baik, terima kasih, Pak Aldwin. Saya akan segera melaporkan hal ini pada atasan saya," ucap Rendra sopan.


"Terima kasih untuk pengertiannya, Pak Rendra."


Panggilan telepon ditutup. Rendra berjalan hilir mudik di kamar tidurnya. Pikirannya kavau, detak jantungnya tidak menentu.


Melaporkan pemenang sayembara teka-teki kepada Pak Andre, tapi tidak tahu siapa pemenangnya, sama saja dengan bunuh diri. Pak Andre pasti akan marah besar jika aku tidak melaporkan identitas pemenangnya, batin Rendra ketakutan.


"Lalu apa yang harus kulakukan? Lebih baik aku rahasiakan dulu hal ini dari Pak Andre," ucap Rendra sambil membuka daftar komtak ponselnya.


"Harry Bianto. Aku akan menghubungi Paman Harry, seorang jendral polisi yang mungkin dapat membantuku menemukan pemenang sayembara teka teki Pak Andre," ucap Rendra segera menghubungi Pak Harry.


"Selamat malam, Paman Harry," salam Rendra sopan.


"Malam, Rendra. Keponakanku yang tercinta. Ada apa, Rendra?" tanya Harry balik.


Rendra dengan ringkas dan lugas segera menerangkan duduk permasalahan yang sedang ia hadapi pada pamannya.


"Sepertinya paman punya ide untuk menyelesaikan masalahmu. Bagaimana jika memancing Pangeran Hutan untuk mengikuti sayembara teka teki yang lain? Biasanya pengikut sayembara adalah pemain games online yang suka tantangan. Mungkin jika ada tantangan baru dengan hadiah yang menarik, dan Pangeran Hutan akan muncul kembali. Saat itu, paman akan mencari IP address-nya dengan lebih teliti dan cermat," jelas Harry.


"Wah, ide yang sangat bagus, Paman. Kira-kira teka-teki apa yang akan paman buat sayembara?" tanya Rendra penasaran.


"Di kepolisian ada beberapa kasus pembunuhan yang tidak terpecahkan. Pasti akan sangat menarik sekali jika diangkat menjadi teka teki games online," jawab Harry.


"Benar, Paman. Jika pihak kepolisian saja menemui kebuntuan, pasti teka teki tersebut bukan teka teki yang mudah untuk dipecahkan. Pasti sangat sulit dan membuat Pangeran Hutan tertantang untuk memecahkannya," jawab Rendra.


"Benar sekali. Kuharap Pangeran Hutan tidak menyia-nyiakan bakat dan potensi dalam dirinya. Dan mau membantu kepolisian dengan kecerdikan dan kegeniusannya," ucap Harry.


Rendra tersenyum senang. Masalahnya sedikit lebih ringan daripada sebelumnya.


"Pangeran Hutan segeralah muncul ke permukaan. Kami semua menunggumu," ucap Rendra.