CEO'S Prince

CEO'S Prince
Banyak yang Sakit



"Pak Andre, sepertinya Kinan bakal lama di ruangan karantina hewan. Bagaimana kalau kita duduk di ruangan saya sampai Kinan selesai memeriksa semua hewan yang sakit?" ajak Profesor Rudolph sembari menunjuk sebuah pintu yang ada di koridor lantai satu.


"Tentu, Prof." Andre segera mengikuti langkah Profesor Rudolph, masuk ke ruangan yang ditunjuk. Serasa bernostalgia, Andre kembali duduk di kursi yang sama seperti enam tahun silam. Di ruangan yang rapi, bersih dan tertata. Sangat berbeda dengan ruangan ilmuwan-ilmuwan biasanya, yang kebanyakan suka menumpuk kertas dan buku di meja tulis.


Profesor Rudolph memasukkan berkas-berkas penelitiannya dalam kardus, diberi label dengan sistim penulisan yang jelas dan dimasukkan ke dalam lemari besar. Begitu pula dengan buku-bukunya, tertata rapi dalam rak buku.


"Mau minum apa, Pak Andre?" tanya Profesor Rudolph saat membuka kulkas kecilnya. Ada beberapa botol air mineral, teh dan kopi.


"Air mineral, Prof. Terima kasih," jawab Andre yang selalu mengingat janjinya pada Kinan untuk hidup sehat.


"Pak Andre, apakah Bapak masih rajin check up kesehatan secara menyeluruh tiap bulan?" tanya Profesor Rudolph seraya menyerahkan sebotol air mineral dingin untuk Andre.


"Iya, Prof. Saya selalu rutin check up. Memangnya ada apa, Prof?" tanya Andre penuh selidik.


"Begini, Pak Andre. Seperti yang tadi saya katakan pada Kinan. Beberapa hewan eskperimen saya yang lama mengalami sakit. Mereka lesu dan seperti tidak bertenaga. Padahal biasanya mereka sangat aktif dan gesit bergerak. Mereka juga mulai tidak mau makan. Lama kelamaan tubuh mereka mengurus dan kemudian mati. Saya menduga mungkin ini adalah efek samping dari obat alzheimer penelitian saya. Jadi saya kembali mengingatkan Pak Andre. Karena enam tahun lalu Bapak juga pernah mendapat suntikan obat alzheimer saya," jawab Profesor Rudolph.


"Memang, Pak Andre hanya pernah mendapatkan sekali injeksi saja. Berbeda dengan hewan-hewan percobaan saya yang berkali-kali mendapat injeksi sampai saya memperoleh hasil maximal dari obat alzheimer buatan saya. Namun tak ada salahnya jika Pak Andre berjaga-jaga di kemudian hari," tambah Profesor Rudolph.


"Terima kasih untuk informasinya, Prof. Semoga apa yang terjadi pada hewan eksperimen anda tidak sekali pun pernah terjadi pada saya," balas Andre lalu menegak isi botol air mineral untuk menentramkan detak jantungnya yang cukup syok mendengar penuturan Profesor Rudolph.


"Maaf, Pak Andre. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti anda. Saya harap Bapak berumur panjang dan selalu hidup berbahagia dengan Kinan," ucap Profesor Rudolph. Ada nada sedih, kecewa dan takut dalam suara Profesor Rudolph.


Mungkin itu adalah sebuah penyesalan yang datang terlambat. Enam tahun yang lalu, ia terlalu percaya diri bahwa obat alzheimer ciptaannya berhasil membuat seekor orang utan menjadi sepandai manusia. Lalu membuat seorang pria idiot menyuntik dirinya sendiri dengan cairan obat itu hingga membuatnya menjadi pria yang cerdas dan berkharisma. Namun sekarang, nyalinya menciut setelah hewan-hewan eksperimennya tidak berumur panjang. Perasaan bersalah mulai mengantung di dadanya.


"Mungkin Tuhan belum mengijinkan aku memperpanjang umur pasien alzheimer atau mengobati penyakit alzheimer itu sendiri. Selamanya penyakit alzheimer akan menjadi momok menakutkan bagi manusia lanjut usia," gumam Profesor Rudolph putus asa karena penelitiannya gagal membuahkan hasil baik setelah hampir belasan tahun meneliti.


"Jangan berkecil hati, Prof. Saya akan mengucurkan sedikit dana untuk membantu penelitian laboratorium Profesor. Segera temukan solusinya, Prof. Saya yakin Profesor dapat menemukan formula obat baru yang lebih baik dari sebelumnya. Dan Kinan pasti dapat menyembuhkan hewan-hewan eksperimen milik Profesor. Tuhan hadir untuk menolong manusia, bukan untuk membuat manusia jatuh dan terluka, Prof," balas Andre dengan yakin.


Profesor Rudolph mengambil nafas dalam-dalam. "Semoga apa yang Pak Andre katakan benar-benar terjadi. Semoga obat baru yang saya ciptakan tidak memiliki efek samping yang buruk di kemudian hari."


Andre mengangguk dan menghabiskan sisa cairan di botol air mineral.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" jawab Profesor Rudolph dengan suara lantang.


Kriet! Kinan muncul di depan pintu. Wajahnya terlihat sendu. Berarti masalah yang dihadapi Kinan tidak mudah.


"Bagaimana Kinan? Apakah kau sudah tahu mereka menderita sakit apa?" tanya Profeaor Rudolph.


Profesor Rudolph berjengit. "Rimba dapat berbicara dengan hewan?"


Kinan mengangguk. "Putra kami berdua dilahirkan di hutan. Memiliki talenta yang tidak seperti manusia biasa. Sejak kecil putra kami dapat berbicara dengan hewan. Talentanya benar-benar sangat membantu pekerjaan Kinan sebagai dokter hewan, baik saat masih tinggal di dalam hutan maupun setelah pindah ke Surabaya."


Andre tersenyum bangga. "Putra kami berdua sangat genius, Prof. Rimba juga sangat pandai matematika."


"Oh, wow ... Luar biasa sekali," sahut Profesor Rudolph dengan mata berbinar.


Jadi putra Andre dan Kinan, buah hasil malam itu sangat jenius? Apakah itu berarti setelah Andre menginjeksi dirinya sendiri dengan cairan obat lalu berhubungan bersama Kinan, janin yang dikandung Kinan juga menjadi jenius karena pengaruh dari cairan obat alzheimer itu? Sungguh luar biasa. Kalau begitu aku akan memulai penelitian baru. Aku akan membuat hewan-hewan eksperimenku mengandung, lalu meneliti anak dari hewan-hewan itu. Apakah mereka menjadi pandai seperti Rimba? batin Profesor Rudolph.


"Profesor masih belum menjawab. Apakah besok staff laboratorium mau mengantarkan beberapa hewan tersebut ke klinik Kinan?" tanya Kinan lagi.


"Oh, maaf. Aku melamun. Tentu. Aku sendiri yang akan membawanya ke klinikmu sekaligus bertemu dengan Rimba," jawab Profesor Rudolph yang ingin menyaksikan kegeniusan Rimba secara langsung.


"Saya tunggu, Prof." Kinan menghembuskan nafas lega karena Profesor Rudolph yang biasanya begitu ketat dengan aturan, mau mengantar keluar beberapa hewan eksperimennya untuk berobat di klinik Kinan.


"Apakah urusanmu sudah selesai, Kinan? Jika sudah, sebaiknya kita pulang, sudah larut malam," tanya Andre.


"Sudah selesai, Kak. Mari kita pulang." Kinan menggandeng tangan Andre dan berpamitan dengan Profesor Rudolph.


"Terima kasih, Kinan. Sampai berjumpa besok." Profesor Rudolph mengantar pasangan suami istri itu keluar sampai bayangan mobil mereka menghilang di ujung jalan.


Di dalam mobil, Kinan menepuk dahinya tiba-tiba. "Astaga, Kinan lupa kalau harus menolong Kak Andre. Bagaimana ini, Kak?"


Andre tersenyum dan mengelus pucuk kepala Kinan dengan lembut. "Kau sudah membantuku, Kinan. Aku tadi sudah berbicara dengan Profesor Rudolph. Beliau akan mendukungku besok di rapat pemegang saham. Jangan khawatir, Sayang."


"Benarkah? Kinan sudah menolong Kakak? Syukurlah! Maaf tadi Kinan terlalu sibuk dengan urusan Kinan hingga melupakan urusan Kakak," ucap Kinan menyesal sudah egois.


"Sepertinya maaf saja tak cukup, berikan aku lebih," balas Andre sambil tersenyum liar.


Kinan tertawa mendengar candaan Andre. "Apakah Kakak tidak malu berbicara terang-terangan seperti itu?"


"Kenapa harus malu? Kau lah yang harus merubah sikapmu. Jangan pernah lagi malu mengatakan isi hatimu padaku. Karena sekarang kita sudah menjadi satu," balas Andre lamgsung menggenggam jemari tangan Kinan dan mengecup punggung tangannya dengan mesra.


Kinan tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Pria tampan di depannya ini ternyata tahu kalau Kinan sering menutupi isi hatinya.