CEO'S Prince

CEO'S Prince
Tidak Punya Malu



Bu Komang berjalan hilir mudik di depan klinik hewan Kinan yang masih tutup.


"Sudah jam sepuluh kok masih belum buka sih? Dokter Kinan, Dokter Kinan!" panggil Bu Komang sambil mengetuk pintu rumah Kinan.


"Kemana sih, Dokter Kinan ini?" tanya Bu Komang kesal sudah datang ke rumah Kinan tapi si empunya rumah sedang tidak ada di tempat. Padahal Bu Komang berniat untuk mengundang Kinan dan Andre makan malam di rumahnya nanti malam.


Bu Komang akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Menelepon suaminya yang baru saja berangkat ke kantor pemerintahan. Hari Minggu kok ngantor, paling-paling ke rumah wanita simpanannya.


"Pak, ponsel Dokter Kinan tidak bisa dihubungi. Dokter Kinan hari ini juga tidak buka praktek. Tutup. Kira-kira kemana ya Dokter Kinan pergi? Kok susah bener dikontaknya?" tanya Bu Komang pada suaminya di telepon.


"Ah, Ibu ini seperti tidak pernah muda saja. Dokter Kinan itu sedang di rumah Andre, Bu. Kan kemarin mereka baru saja tunangan, siapa tahu semalam mereka bobok bareng di rumah Andre," jawab Pak Komang ngasal.


"Ih! Bapak ini pikirannya kotor bener sih. Andre itu bukan pria bejat seperti Bapak. Yang selalu nyosor tiap ketemu cewek cantik. Maunya diajak bobok melulu padahal belum diangkat jadi istri," balas Bu Komang sengit.


"Aduh, Ibu ini gimana sih? Jelas-jelas sudah ada bukti kalau kelakuan Andre persis seperti Bapak. Hobby nyosor dan ngajak bobok saat ketemu cewek secantik dan seanggun Dokter Kinan. Tuh lihat, Andre dan Dokter Kinan sudah memiliki putra sebesar itu sebelum mereka bertunangan semalam. Itu berarti Andre sudah pernah bobok dengan Kinan enam tahun lalu, Bu. Kalau semalam mereka bobok bareng lagi, ya kita tunggu saja tahun depan, pasti Andre punya putra kedua," sindir Pak Komang.


Bu Komang mengerucutkan mulutnya. "Benar juga kata-katamu, Pak. Pria jaman sekarang bejat-bejat semua. Huh!"


"Sudahlah, Bu. Jangan marah-marah. Ingat tujuan utama yang sudah kita bicarakan semalam. Ibu harus menemui Andre dan Dokter Kinan lalu mengundang mereka ke rumah kita nanti malam. Kalau Dokter Kinan tidak bisa dihubungi ponsel dan kliniknya tutup, coba Ibu ke rumah Andre sekarang. Lihat apakah Dokter Kinan ada di rumah Andre atau tidak?" pinta Pak Komang.


"Baiklah, Pak. Akan kucari di rumah Andre. Nanti Ibu kabari lagi kalau sudah bertemu Andre dan Dokter Kinan," balas Bu Komang.


Bu Komang menutup ponselnya. Menenteng tas kremesnya, menuju ke halaman. "Pak Supir, antarkan saya ke rumah Andre!"


"Baik, Bu." Supir bergegas membuka pintu mobil untuk atasannya.


Beberapa menit kemudian, Bu Komang tiba di seberang rumah Andre. Pak supir terpaksa memarkir mobilnya di seberang jalan karena halaman depan rumah Andre dipenuhi mobil-mobil. Ada mobil pengantar katering makanan, mobil toko bunga, mobil salon kecantikan dan mobil toko roti yang sangat terkenal dengan kue tart pengantinnya yang cantik.


"Kok ramai sekali ya rumahnya Pak Andre? Sedang ada acara apa ini?" tanya supir kepada dirinya sendiri.


"Coba Pak Supir turun dan tanyakan ke supir toko roti yang sedang duduk dan merokok di bawah pohon. Saya kepo banget ingin tahu, sedang ada pesta apa di dalam," titah Bu Komang sambil menunjuk seorang pria berpakaian hijau dengan sablon besar nama toko roti di kaosnya.


"Baik, Bu. Saya akan turun dan tanyakan. Tunggu sebentar ya, Bu." Supir segera turun, berlari menyeberang jalan dan menanyakan apa yang diperintahkan atasannya pada supir toko roti.


Setelah mendapatkan jawaban, supir Bu Komang segera kembali ke dalam mobilnya. "Bu, di dalam rumah Pak Andre sedang ada acara pernikahan. Kata supir toko roti, pemilik rumah ini menggelar acara pernikahan di halaman belakang rumahnya. Katanya mempelai wanitanya sangat cantik, Bu."


"Apa?! Menikah?" Bu Komang ternganga kaget. Ia tidak percaya kalau Andre begitu cepat menikahi Dokter Kinan. Padahal baru kemarin mereka bertunangan. "Dunia memang sudah gila! Andre juga sudah tidak waras!"


Bu Komang cepat-cepat mengambil ponselnya dan langsung menelepon suaminya. Mengabarkan kalau Andre hari ini menikah dengan Dokter Kinan.


"Tenang, Bu. Tenang. Ibu masuk saja ke dalam rumah Andre. Lalu temui mereka dan katakan saja kalau Ibu ingin mengundang pasangan suami istri baru ke rumah kita," jawab Pak Komang seenaknya.


"Ibu masuk ke dalam rumah Andre sekarang? Bapak sudah gila atau gimana sih? Malu lah, Pak! Datang ke pesta pernikahan tanpa diundang. Nanti kalau Ibu diusir, mau ditaruh dimana muka cantik Ibu? Enak saja Bapak ngomong, yang malu kan Ibu, bukan Bapak!" balas Bu Komang kesal.


"Lalu Ibu maunya bagaimana? Ibu mau nunggu sampai acara pernikahannya selesai? Waduh, jangan, Bu! Bapak khawatir, Andre dan Dokter Kinan keburu pergi berbulan madu," seru Pak Komang.


Bu Komang menepuk dahinya. Benar juga kata-kata Pak Komang. Sekarang kan banyak orang yang sering memilih merayakan acara bulan madu atau anniversary pernikahan di hotel.


Mungkin saja, Andre dan Dokter Kinan akan pergi berbulan madu di hotel mewah yang ada di Surabaya. Menunda pergi keluar negeri dahulu karena masih harus menghadiri rapat pemegang saham. Barulah setelah rapat pemegang saham selesai, mereka lanjut bulan madu keluar negeri.


"Tapi Ibu malu, Pak," tolak Bu Komang.


"Ya terserah Ibu sih. Ibu lebih memilih malu masuk ke rumah Andre atau Ibu ingin mengalahkan Ayu Sekar Sari?" tanya Pak Komang sambil menahan tawa. Ia begitu senang bisa menjahili istrinya. Apapun langkah yang dipilih istrinya, sama-sama akan membuatnya tersiksa dan kesal.


Bu Komang terdiam. Hatinya mulai bimbang. Pilihan yang sulit. Di satu sisi Bu Komang ingin mengalahkan Ayu Sekar Sari, di sisi lain, Bu Komang tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.


"Ya sudah, Ibu turun dan masuk ke rumah Andre saja. Ibu sudah capek diinjak-injak Ayu Sekar dan Ariani," ucap Bu Komang segera membuka pintu mobil.


"Ibu memang luar biasa," puji Pak Komang sambil terkekeh senang. Pak Komang menang satu kosong melawan Bu Komang.


"Huh!" Bu Komang mengakhiri panggilan teleponnya. Merapikan pakaian dan dandanannya. Kemudian turun dari mobil. Berjalan ke arah rumah Andre.


***


Kinan berdiri menyamping di depan cermin besar yang ada di depan ruang wardrobe kamar Andre. Ia sedang berusaha membuka resleting baju pengantinnya. Namun masih belum berhasil menggapai tuas resleting yang ada di pungungnya.


"Susah sekali sih. Apa memang begini desain baju pengantin wanita? Resleting bajunya sengaja dibuat susah dijangkau agar pengantin pria yang membantu membuka resleting gaun pengantin wanita?" gumam Kinan kesal. Akhirnya ia menyerah dan memijat lengan tangannya yang pegal. Leher jenjangnya juga dikebas-kebaskan agar tidak pegal sudah menunduk sampai 180 derajat.


Kriet! Pintu kamar Andre terbuka. Daun telinga Kinan mendengar suara gesekan sandal rumah dengan lantai marmer kamar, yang kian lama kian mendekatinya. Bayangan tubuh Andre yang menjulang tinggi mulai tertangkap cermin besar yang ada di hadapan Kinan. Wajah pria rupawan itu tersenyum penuh arti. Manik matanya dipenuhi cahaya cinta yang bercampur dengan percikan gairah.


Semakin mendekat, hingga nafas Kinan seperti tercekik. Oksigen, aku butuh oksigen! batin Kinan.


Grep! Tangan kokoh dan berurat itu melingkar di pinggang Kinan, menarik tubuh ramping Kinan ke belakang hingga membentur dada bidang Andre.


Astaga! Ini masih siang bolong, mau ngapain Kak Andre? Malu lageee!