
22 tahun kemudian.
"Ada syaratnya?" tanya Princess tak percaya.
Jemari tangannya yang sedang bergelanyut manja di lengan pria tampan cinta pertamanya, langsung terkulai lemas.
"Kenapa pakai syarat segala sih?" Bibir merah muda Princess langsung mengerucut kesal.
"Kalau tidak mau menerima syarat yang Papa dan Mama ajukan, jangan harap ada surat ijin keluar dari rumah ini," timpal Ares sang Papa. Tidak mau mengendurkan syarat yang sudah dibuat bersama dengan Athena, istrinya.
Sementara Athena, Mama dari Princess, hanya mengulas sebuah senyuman tipis di bibirnya, melihat wajah putrinya yang berubah kesal.
Putri kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan makin susah ditundukkan. Princess pasti akan mengerahkan semua kekuatannya untuk membalikkan keadaan.
Selama ini Princess tidak pernah mau terjebak dalam aturan-aturan buatan orang tuanya. Dia selalu ingin bebas layaknya burung-burung di langit.
Dan sebagai orang tua, Ares dan Athena kali ini bersepakat untuk tidak goyah walaupun Princess putri tunggalnya melancarkan serangan-serangan manja yang meluluhkan hati.
"Grr! Nyebelin deh! Pake syarat-syarat segala," gerutu Princess lagi.
"Syaratnya tidak susah kok. Papa dan mama yakin kamu juga suka dengan syarat ini."
'Ah masak sih? Ok ok, mari dengarkan dulu syarat dari Papa Mama. Siapa tahu syaratnya mudah? Jadi gak perlu lanjut marah-marah dan bikin Papa Mama kesal,' batin Princess.
"Apa syaratnya, Pa?" tanya Princess melunak.
"Menikahlah dengan tunanganmu, Rimba," jawab Ares dengan nada tenang dan penuh wibawa.
"Apa? Menikah dengan Kak Rimba?" Princess tak percaya dengan pendengarannya. Nada suaranya mulai meninggi.
"Iya, menikah. Kalian kan sudah tunangan sejak kamu dilahirkan. Itu artinya, kalian sudah bertunangan hampir 22 tahun. Kalian sudah terlalu lama bertunangan, Sayang. Kini saatnya kalian menikah. Apalagi momentnya juga pas," jawab Ares tenang.
"Momentnya pas? Ya ampun, Papa. Princess kan hanya pergi ke pulau asing untuk ambil data-data skripsi selama dua minggu. Paling lama juga sebulan, Pa. Setelah kembali ke Surabaya, Princess bakal sibuk berat menyelesaikan skripsi Princess. Princess pasti tidak punya waktu untuk mengurus suami Princess. Jadi untuk apa Princess menikah dengan Kak Rimba kalau seperti itu?" elak Princess yang jelas-jelas tidak ingin menikah cepat-cepat di usia muda.
Ia ingin menikmati masa mudanya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak mau direpotkan dengan urusan suami, apalagi anak. Big No!
"Princess sayang, justru karena kalian hanya berduaan di pulau asing selama dua minggu, jadi lebih baik kalian menikah dulu di Surabaya sebelum berangkat. Toh kalian berdua sudah akrab kayak kertas surat dan perangko, saling menyayangi satu sama lain, lalu kenapa ditunda-tunda nikahnya?" Athena mulai ikut angkat bicara.
"Hitung-hitung selama di pulau asing, kalian berdua sekalian bulan madu. Kan enak tuh, berduaan di pulau asing, udah resmi. Jadi semisal Rimba mau ngapa-ngapain sama kamu, udah sah dan tidak melanggar ajaran agama," imbuh Ares.
"Papa dan mama juga pernah muda, Sayang. Papa dan mama tahu gimana sulitnya mengendalikan diri saat hanya berduaan dengan lawan jenis di tempat terpencil. Jadi lebih baik turuti saja keinginan kami berdua. Biar saat pulang dari pulau asing, benih yang sudah disemai, gak perlu bingung cari bapaknya," tambah Ares.
"Ish! Apa-apaan sih Papa ini? Jorok banget pikirannya. Kita di pulau asing gak mungkin ngapa ngapain lagi! Kita berdua punya tugas masing-masing. Princess mau cari tanaman langka, lalu mengektraknya. Dan Kak Rimba juga mau penelitian dengan hewan-hewan langka di sana. Satu lagi ... Kak Rimba dan Princess itu memang akrab dan saling sayang, tapi bukan saling mencintai. Nikah itu gak cuma butuh akrab dan sayang, Papa dan Mama sayang. Tapi butuh cinta. Ciiin - taaa!" jawab Princess
Ares dan Athena saling berpandang-pandangan, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Ish! Mama Papa apaan sih? Malah ketawa kayak gitu."
"Habis kamu lucu, Sayang. Benar gak, Ma?" tanya Ares pada istrinya.
"Kalau saling sayang itu artinya juga saling cinta, Princess. Kalau saling benci itu artinya saling bermusuhan. Aduh, gimana ini putri Mama yang sebentar lagi mau jadi sarjana farmasi kok tulalit gini sih?" sindir Athena.
"Ish! Papa dan Mama ini gak ngerti sih isi hati Kak Rimba. Kak Rimba itu cuma sayang sama Princess. Sayang, gak lebih. Kak Rimba itu mencintai wanita lain. Bukan mencintai Princess," jawab Princess sambil menepuk-nepuk dadanya. Pura-pura sedih, sesak karena cintanya kepada Rimba bertepuk sebelah tangan. Padahal semua itu adalah bualan Princess agar mereka batal nikah.
Biasanya dalam sinetron-sinetron, jika ada pihak ketiga, pasti semuanya bakal runyam. Nah kali ini, Princess sengaja mengarang kehadiran pihak ketiga dalam hubungannya dengan Rimba. Biar geger, biar gak jadi nikah.
Princess mengangguk.
"Iya. Kak Rimba itu cinta sama Kak Leony, Pa. Perlakuan Kak Rimba ke Kak Leony itu beda banget. Kak Rimba gak pernah jitak kepala Kak Leony. Kak Rimba juga gak pernah marah-marah pada Kak Leony. Selalu lembut, baik, banyak senyum. Beda kalau dengan Princess. Kak Rimba suka marah-marah pada Princess," jawab Princess mulai mencari-cari lima perbedaan hubungan Rimba-Leony dengan Rimba-Princess.
"Untuk masalah itu, Papa dan Mama sudah menanyakan langsung pada Rimba. Dan Rimba mengatakan bahwa Leony hanyalah sahabat masa kecil Rimba. Tidak lebih. Jadi jangan banyak alasan kamu, Princess! Kalau mau lulus tahun ini, segeralah menikah dengan Rimba," jawab Ares masih setenang sebelumnya.
Wajah Princess memerah. Ketahuan boong deh!
Kurang ajar! Awas kau, Rimba! Kenapa jadi orang jujur amat pada calon mertua? Kalau gini kan, aku jadi bingung mau cari alasan apa lagi biar kita batal nikah, batin Princess.
Putar otak! Cari alasan lain kalau yang tadi gagal.
"Pa, Ma, Princess kan masih muda. Masih 22 tahun. Prince, kembaran Princess aja masih belon nikah. Tunangan aja juga belon. Gak adil ah kalau Princess yang nikah duluan. Dimana mana itu, anak laki-laki itu harus lebih dahulu nikah daripada anak perempuan. Jadi kalau Prince belum tunangan dan nikah, Princess juga gak mau nikah duluan." kilah Princess masih tetep kekeh berjuang agar batal nikah.
"Jangan khawatir, Princess. Sebelum kamu pergi ke pulau asing, Prince akan bertunangan. Kakek Hades sudah siapkan calonnya. Jadi kamu gak usah khawatir. Semuanya beres. Kamu gak perlu iri-irian lagi dengan saudara kembarmu itu. Akan tiba waktunya Prince dan kamu menikah," ucap Athena tenang.
Astaga! Habis sudah! Papa dan Mama sudah melibatkan Kakek Hades. Melawan Kakek Hades sama seperti melawan raja di jaman Joseon. Gak mungkin menang. Kekuatannya terlalu besar dan otoriter. Salah-salah, malah akan terluka jika terus melawan Kakek Hades, batin Princess.
Kepala Princess terkulai, tulang leher dan punggungnya terlalu lemah untuk menahan kepala. Terpaksa Princess mundur ke kamarnya.
"Baiklah, tenangkan dulu pikiranmu, Sayang. Jika kamu benar-benar ingin jadi apoteker, menambah wawasan dengan magang di apotik-apotik besar, segera beritahu Mama dan Papa. Kita berdua akan segera menyiapkan acara pernikahan sederhana untuk kalian berdua," ucap Ares penuh senyum kemenangan mengantar kepergian Princess ke lantai dua.
Begitu bayangan Princess menghilang, Ares memeluk Athena bahagia.
"Putri bandelmu sebentar lagi akan menikah dan memberi kita cucu. Aku sudah tidak sabar menimang cucu, Sayang," ucap Ares yang suka dengan anak kecil. Setelah masuk kepala 50 tahun, Ares kembali rindu moment-moment saat Prince dan Princess masih kecil.
Athena membalas senyuman Ares dengan memberikan sebuah kotak mungil berwarna pink yang sejak tadi tersimpan manis di dalam saku bajunya.
"Apa ini, Sayang?" tanya Ares sedikit terkejut, mendapat hadiah secara tiba-tiba dari Athena.
Today isn't my birthday, kok dapat kado dari istri? Apakah ini hari jadi pernikahan kita? Sepertinya juga bukan, kenapa dapat kado? batin Ares.
"Bukalah, Kak Ares."
Ares segera mengambil kotak mungil tersebut, menarik pita putih yang melingkar di atasnya. Lalu buru-buru membukanya.
Dan benda pipih putih yang pernah dilihatnya 22 tahun yang lalu ada di dalam kota mungil itu.
"Athena, aku mencintaimu. Puji Tuhan, di usia setengah abad ini masih diberi kesempatan untuk memiliki bayi lagi." Ares mengecup kedua belah pipi Athena dengan mesra.
"Apakah kali ini juga kembar?" tanya Ares sambil menggoyang-goyangkan test pack dua garis biru. Binar kebahagian dan bangga bersinar terang, tak malu untuk ditutupi.
"Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke rumah sakit dan mendengar detak jantungnya?" tanya Athena tak sabar ingin mengetahui perkembangan janinnya.
"Ayo!"
"Aku ambil tas dulu di kamar, Kak." Athena beranjak pergi.
"Sekali lagi, terima kasih, Sayang. Aku tidak perlu berdebat dengan putrimu lagi sekarang. Karena beberapa bulan lagi, rumah ini sudah ramai suara tangis bayi lagi," gumam Ares bahagia.
Semoga adik Prince dan Princess sehat ya. Karena mama Athena sekarang sudah hampir 43 tahun, sudah cukup tua untuk mengandung dan melahirkan.