CEO'S Prince

CEO'S Prince
Beradu Bicara Dengan Si Kecil



"Dimana kamar Rimba dan Tina, Ayah?" tanya Rimba sembari menggoyangkan tangan Andre yang sedari tadi menggandeng putranya. Sambil terus berjalan bersama memasuki ruang tamu rumah megah Andre. Langkah lebar Andre sengaja diperpendek dan ritmenya pun juga diperlambat agar putra kecilnya dapat mengimbangi langkah kaki panjangnya.


Perbedaan tinggi badan 187 cm dan 107 cm membuat dua pria tampan itu kelihatan makin kontras. Kinan yang berjalan bersama Tina di belakang mereka, tersipu bahagia melihat keharmonisan Andre dan Rimba.


Syukurlah Kak Andre mau menerima Rimba dengan baik. Bahkan mau melayani semua sikap manja Rimba. Rimba, Rimba ... biasanya kau tidak pernah bersikap semanja ini padaku. Kau selalu berusaha menjadi lelaki kuat dan pemberani untuk melindungiku dan Tina. Apakah ini semua karena Kak Andre? Karena sudah bertemu dengan ayahnya, maka Rimba bersikap layaknya seorang anak kecil berusia lima tahun? Menyesuaikan perannya sebagai anggota keluarga, bukan sebagai kepala keluarga lagi? batin Kinan.


Kinan menghela nafas panjang.


Kau memang luar biasa, Nak. Terima kasih sudah melindungi dan menjagaku dan Tina selama ini. Sekarang, jadilah seperti anak-anak seumuranmu. Manja, lucu dan menggemaskan. Biarkan Kak Andre yang melindungi dan menjaga kita semua sekarang, batin Kinan.


"Ehm ... Tina akan tidur di halaman belakang, Rimba," jawab Andre. "Ada sebuah rumah kaca penuh bunga dan tanaman. Oh ya, di sana juga ada kolam dengan air mancur yang sangat indah. Tina pasti suka tinggal di sana."


"Tidak, Ayah. Tina selalu tidur bersama Rimba tiap malam. Tolong jangan pisahkan kami berdua. Baik Rimba maupun Tina tidak akan merasa nyaman dan tenang dalam tidur jika tidak berpelukan saat tidur," rajuk Rimba dengan manik mata imutnya. Bulat dan berbulu mata lentik.


"Uuu ... Aaa." Tina membenarkan ucapan Rimba. Mereka berdua tidak ingin terpisah kamar.


Iuuuh! Tidur berpelukan dengan binatang berbulu saat tidur? Astaga! Senyum canggung tersungging di bibir Andre.


Bagaimana tidak canggung menimpali permintaan Rimba yang bersikeras tidur satu kamar dan satu tempat tidur dengan seekor orang utan? Memang sih orang utan peliharaan Rimba ini berbeda dengan orang utan lainnya. Selalu mandi setiap minggu. Selalu disisir bulu-bulunya agar tetap halus dan bersih. Memakai baju, pita dengan warna senada. Terlihat lebih sopan dan bertingkah laku layaknya manusia. Tapi tetap saja Tina itu orang utan, hewan berbulu, dan Andre kurang suka ada hewan peliharaan tidur dalam kamar putranya. Bulunya itu lho, akan mengotori kasur. Kasur jadi tidak higienis lagi.


Tapi apa boleh buat. Rimba begitu menggemaskan dengan sorot matanya itu. Tak sampai hati aku untuk menolak permintaannya, batin Andre.


Andre menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum bertanya. "Mau di lantai satu atau di lantai dua?"


Rumah Andre memiliki banyak kamar dan semuanya kosong. Maklum Andre tinggal hanya bersama beberapa pelayan, tukang kebun dan satpam. Mereka semua tinggal di bangunan belakang, berbeda dengan bangunan yang ditinggali Andre. "Jadi silahkan pilih kamar yang anda inginkan, Prince of Jungle."


"Rimba mau tidur di sebelah kamar Ayah dan Bunda. Jadi Rimba dan Tina selalu merasa tenang, tidur tidak jauh dari Ayah dan Bunda," jawab Rimba dengan senyum semanis gulali.


Uhuk! Kinan terbatuk-batuk mendengar jawaban Rimba. Wajahnya merona merah, tiba-tiba saja suhu ruangan yang cukup sejuk karena di tiap sudut ruangan rumah Andre dipasang pendingin ruangan, berubah menhadi panas dan menyesakkan. Hingga Kinan tak henti-hentinya berusaha mengusir hawa panas dengan mengibas-kibaskan tangannya yang lentik di depan wajah cantiknya. Namun ekor mata Kinan melirik, mengawasi Andre, ingin tahu apa reaksi Andre mendengar jawaban Rimba, ingin Andre dan Kinan tidur dalam satu kamar yang sama.


Wajah Andre seketika menjadi biru. Cukup syok dengan ucapan Rimba. Namun dengan IQ 160 tidak mungkin pikiran cerdas Andre diam saja. Pasti segera memutar otak untuk menolak permintaan Rimba yang menginginkan ayah dan bundanya tidur dalam satu kamar. Penolakan halus sehalus kapas.


"Rimba, jauh sebelum bertemu kalian, Ayah sudah menyiapkan kamar spesial untuk Bunda. Karena Ayah ingin membalas semua kebaikan Bunda yang sudah menolong Ayah enam tahun silam. Maafkan Ayah yang tidak tahu tentang kehadiran Rimba ke dunia ini," ucap Andre.


"Oh wow! Terima kasih, Ayah. Ayah memang the best father in the world. Ayah tahu yang Rimba inginkan," sahut Rimba senang sampai melonjak kegirangan. Lupa deh dengan tujuan awal ingin membuat Andre dan Kinan makin dekat dan saling mencintai.


"Sepanjang perjalanan kau terlihat sangat merindukan hutan dan semua mahluk yang ada di dalamnya, Nak. Jadi Ayah akan membuat kamarmu seperti hutan rimba." Andre mengacak-acak rambut cokelat Rimba sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih banyak, Ayah." Rimba menarik tangan ayahnya. Memberi isyarat dengan tangan agar Andre menunduk dan mendekatkan diri dengan Rimba. Andre mencondongkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh kecil Rimba.


Cup! Cup! Dua buah ciuman hangat mendarat di pipi Andre.


Blush! Pipi Andre langsung bersemu merah. Sebuah perasaan aneh kembali menjalar di hati Andre. Pria kecil tampan ini begitu pandai mengobrak abrik hati kecil Andre. "Sama-sama, Rimba. Apa pun yang kalian berdua minta akan kuturuti. Sebagai balas jasaku pada kebaikan malaikat penolongku."


Kembali Andre mengingatkan dirinya agar tidak terjebak dengan zona cinta yang berujung pernikahan. Cukup membalas budi setelah itu ... Bye-bye mungkin?


Rimba mengerucutkan bibir kecilnya, sedikit kurang suka dengan kata-kata terakhir yang diucapkan ayahnya. Selalu saja balas budi. Sebel! Tolong buka hati ayah dan cintailah bunda, harap Rimba dalam hati.


"Jangan manyun dong!" Andre mencubit halus bibir Rimba yang monyong dua centi meter.


"Okay-okay. Malam ini ayah ijinkan Tina tidur di sebelah kamar kalian. Kamar yang lebih kecil. Ada connecting doornya kok. Jadi kalian berdua tidak usah khawatir." Andre menjawab agar Rimba tidak kesal. Ia sengaja membuat tipu muslihat lagi agar Rimba kembali teralih perhatiannya. Hahaha! Andre juga genius, Sahabat. Tidak kalah bersilat lidah dengan putranya.


Aduh, Ayah sepertinya salah paham deh! Huh! Usahaku untuk mempersatukan Ayah dan Bunda ke depan harus lebih keras lagi. Fighting! batin Rimba.


"Ini kamar Bunda dan Rimba," ucap Andre segera mengantar Kinan dan Rimba ke sebuah kamar tamu yang spesial pakai telor sudah didekor habis-habisan oleh Ariani karena ke depan kamar itu akan dipakai Ariani jika ingin menginap di rumah Andre.


Astaga! Andre terbukti sekali lagi genius bukan? Mengklaim kamar hasil dekorasi Ariani sebagai kamar yang ia persiapkan untuk Kinan. Padahal tidak pernah terbayang di benaknya untuk memboyong Kinan ke rumahnya sama sekali.


"Oh wow! Kamar Bunda cantik sekali," puji Rimba yang melongo melihat keindahan kamar yang disiapkan Andre secara spesial. Lampu chandelier bergaya Victorian, tirai mewah model overlay, furniture kamar yang senada. Dengan sebuah tempat tidur berlapis seprai dan kain berenda. Nuansa biru dan emas.


Kinan menelan salivanya.


Seindah ini kamar yang dipersiapkan Kak Andre untukku? Oh, sungguh luar biasa! Hati ini jadi makin mencintainya, batin Kinan.