
Princess masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di atas kasur empuknya.
Aroma harum bunga rose pink menyeruak ke hidungnya. Membuat Princess menoleh ke nakas yang ada di samping kasurnya. Mencari sumber bau harum di kamarnya. Sebuah buket rose pink tergeletak manis di atas nakas.
"Pangeran Hutan sudah kembali ke rumah sebelah. Kangeeen," ucap Princess sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil buket rose pink kesukaannya. Yang pasti ditinggalkan Rimba untuk Princeas saat Princess bersantai bersama Papa dan Mama setelah makan malam.
Princess mencium buket rose pink.
"Harum banget. Makasih, Kak Rimba. Eh, apa ini?"
"Teruntuk tunangan kecilku. Aku sudah kembali. Tapi ini sudah malam. Temui aku besok. Ingat besok! Jangan sekarang!" ucap Princess sambil membaca sepucuk surat yang terselip di rangkaian bunga rose pink.
"Iya! Iya!" ucap Princess lagi.
Ada rasa rindu menyeruak di hati Princess. Sudah hampir sebulan dirinya tak bertemu pria tampan baik hati yang selama ini sudah menjadi pelindung dan pengayom hidupnya.
Princess menegakkan tubuhnya, duduk di atas kasur, meletakkan buket rose pink di atas pangkuannya dan mulai memilin-milin rambutnya yang ikal kecokelatan.
Ia bingung. Rindu, ingin bertemu, ingin memeluk dan dipeluk tapi sadar bahwa beberapa menit yang lalu ia menolak dinikahkan sebelum pergi berduaan ke pulau terpencil.
"Aish! Masak abis nolak dinikahin sekarang malah gak sabar menunggu pagi, ingin bertemu Kak Rimba sampai-sampai tidak mau nurut kata-kata Kak Rimba di surat? Gengsi tahu! Cewek macam apaan kamu ini, Princess?" gumam Princess sambil mengerucutkan mulutnya. Menyadari kebodohannya.
"Kalau Papa dan Mama tahu kalau aku manjat atap dan lompat ke rumah sebelah untuk menemui si Pangeran Hutan, bisa gawat. Bisa dinikahin sekarang juga! Tahan! Tahan dirimu, Princess. Jangan malu-maluin!" tegas Princess pada dirinya sendiri.
Sayup-sayup terdengar suara mobil melaju keluar dari halaman rumah megah Princess. Buru-buru Princess berdiri, berlari ke balkon untuk melihat siapa yang pergi keluar rumah malam-malam.
Mobil hitam kesayangan Papa meluncur menembus malam.
"Papa dan mama mau kemana ya? Ngapain malam-malam pergi berduaan, gak pamit pula?" tanya Princess.
"Tapi baguslah, papa dan mama udah pergi. Kesempatan untuk bertemu Kak Rimba kembali terbuka. Dan gak bakal ketahuan kalau aku nyatroni tunangan malam-malam gini," tambah Princess dengan bibir penuh senyuman nakal.
Dengan cekatan Princess segera memanjat pilar balkon dan naik ke atas atap. Keahlian ini Princess peroleh dari Rimba saat kecil.
Rimba juga banyak mengajarkan bagaimana cara bertahan di alam bebas. Termasuk memanjat dan bergelantungan di tali yang aman. Semua ini demi Princess sendiri. Agar kelak Princess mandiri dan dapat bertahan hidup jika jauh dari Rimba.
Princess berjalan berjingkat-jingkat di atas atap lalu melompat ke atap rumah tetangga. Setelah tiba di genting yang sudah diberi tanda silang putih, Princess memanjat turun dan masuk ke balkon kamar tunangannya.
Tok! Tok! Tok! Princess mengetuk pintu kaca kamar Rimba.
"Sepi amat kayak kuburan. Lagi ngapain, Kak Rimba? Apa sudah tidur?"
Setelah menunggu beberapa saat dan masih belum dibukakan pintu dari dalam. Princess segera mengeluarkan jepit rambutnya. Lalu mengotak-atik lubang pintu dengan jepit rambutnya. Klik! Pintu terbuka dan Princess langsung melenggang masuk tanpa banyak suara.
Princess mencari Rimba di ruang tidur dan ruang kerjanya. Tapi nihil. Saat Princess melintas di depan kamar mandi, telinganya sayup-sayup mendengar gemericik air yang terpancar dari shower.
Hmm ... Pasti kak Rimba lagi mandi. Dan kalau lagi mandi itu, lamanya minta ampun. Rambut dishampoo dua kali, badan disabun dua kali, kumis dan jenggot dicukur sampai bersih. Jadi, daripada bengong nungguin orang mandi, mending tiduran aja di kasur Kak Rimba.
Kasur kak Rimba itu nyaman banget. Ukurannya besar. Maklum tubuh pemiliknya tinggi gede kekar seperti Tarzan. Beda dengan tubuh pria Indonesia pada umumnya. Entah karena faktor genetik dari Ayah Andre atau karena faktor lingkungan yang membentuknya saat masih kecil.
Saat Princess sedang berguling-guling di atas kasur empuk Rimba, pintu kamar mandi terbuka lebar. Seorang pria tampan dengan tubuh setengah telanhang karena hanya bagian bawahnya saja yang ditutup handuk putih, melangkah keluar tanpa suara.
Sengaja tak bersuara. Karena ia tahu tunangan kecilnya itu tidak pernah absen mengacak-acak kasurnya tiap ia memberikan buket rose pink setelah bepergian keluar kota atau keluar negeri.
"Seprai baru ya, Kak Rimba? Halusss banget, Princess suka!" ucap Princess sambil telentang dengan mata tertutup di atas kain sutra berwarna biru.
Melihat Princess tiduran santai di kasurnya dengan posisi yang menggiurkan membuat Rimba tanpa sadar menjatuhkan dirinya ke samping tubuh tunangannya yang tinggi semampai. Dengan cepat Rimba mengungkung tubuh ramping itu. Lalu mendaratkan sebuah kecupan super hangat di dahi Princess.
"Pasti kamu kangen berat, sampai gak bisa nunggu pagi," ucap Rimba dengan suara berat sembari memandangi wajah cantik tunangannya yang dibingkai rambut panjang ikal warna cokelat.
Makin hari kamu makin cantik Princess, batin Rimba.
Dan karena pertahanan Rimba kurang kuat setelah sebulan tidak bertemu pujaan hati, akhirnya Rimba ******* benda kenyal yang selalu menantang dan menggodanya itu.
Peduli setan, sebentar lagi juga bakal naik pelaminan. Cicipin dulu ah bibir manisnya.
Mata Princess langsung terbuka lebar, selebar-lebarnya, padahal sebelumnya sengatan ngantuk mulai terbayang di ubun-ubun begitu kulit mulusnya menyentuh seprai halus pilihan Bunda Kinan.
Benda kenyal merah muda milik Princess seakan tersedot ke dalam lubang hitam milik Rimba.
Astaga! Kak Rimba kesurupan atau gimana sih? Seumur-umur walaupun Princess pingin dicium ala-ala film Barat, Kak Rimba selalu nolak sekuat-kuatnya. Tapi kenapa sekarang gak diminta, malah nyosor kayak gini? Berhubung this is the first kiss dan rasanya enak banget rasanya, meleleh sudah hati Princess.
Teruskan sampai pagi! Princess suka! batin putri tengil.
"Gimana enak kissingnya?" bisik Rimba sambil terkekeh senang melihat tunangan kecilnya sudah hampir gila dimabuk asmara.
Princess tanpa malu menganggukkan kepalanya. Bohong juga pasti ketahuan karena Princess sempat membalas ciuman panas Rimba. Jadi lebih baik jujur saja. Apalagi sama tunangan.
"Kalau gitu kapan kita nikah?" tanya Rimba tanpa tedeng aling-aling.
Mata bulat Princess melotot seperti ikan mas koki. "Nikah? Enggak ah! Kalau cuma mau kiss dari kakak, gak perlu juga sampai nikah. Cukup minta aja, nanti juga dikasih."
"Hush! Emang permen cokelat merk kisses? Kalau yang itu mah Kakak bisa beliin satu gudang buat kamu. Tapi kalau yang kayak tadi ya tunggu nikah baru dapat lagi," balas Rimba sambil beranjak keluar dari zona berbahaya.
Jika berada di dekat Princess yang kasmaran begini, bisa-bisa tembok pertahanan Rimba hancur berkeping-keping. Apalagi Princess tadi sukses membuat tongkat sakti milik Rimba menegang dan hingga kini masih kokoh berdiri. Belum layu juga.
Rimba berjalan menuju wardrobenya dan segera berpakaian. Piyama tidur warna biru.
Baru saja nongol kembali ke hadapan Princess, Princess sudah langsung memeluknya erat. Berjinjit dan hendak kembali melanjutkan apa yang tadi mereka lakukan di atas tempat tidur.
Gawat! Ini anak sekali dikasi, jadi kecanduan deh!
Rimba pun segera berjinjit lebih tinggi dan mendongakkan kepalanya. Berusaha melepaskan diri dari belitan Princess yang mengerat seperti ular anaconda.
"Kalau mau seperti tadi, kamu harus nikah dulu! Nikah! Kalau tidak jangan harap dapat lagi, Anak Nakal," ucap Rimba sambil menyingkirkan raut wajah cantik itu dari hadapannya.
"Dasar pelit! Padahal sama-sama suka. Main jual mahal aja!" sahut Princess bersungut-sungut.
"Memang kamu jadi perempuan gak takut diapa-apain sama Tarzan di dalam kamar ini?"
"Enggak! Kan sama-sama enak. Gak ada yang dirugikan." Princess menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ish! Kalau nanti enaknya jadi sakit gimana? Masih gak takut?" tanya Rimba sembari menjitak kepala Princess sebelum pikiran Primcess makin ngelantur.
"Aduh! Kalau sakit ya berhenti lah. Gitu aja repot!" Princess mengusap-usap kepalanya yang sakit lalu mundur beberapa langkah.
"Pokoknya kalau mau enak-enak di dalam hutan di pulau asing atau di kamar tidur, kita nikah dulu! Aku gak mau tanggung jawab kalau sampai kamu sakit dan berdarah di dalam hutan atau di kamar ini. Aku takut digantung Kakek Hades. Serem tahu!" ucap Rimba cepat-cepat mendorong tubuh tinggi semampai itu keluar dari kamarnya.
"Jangan main dorong-dorong ah! Papa dan mama lagi pergi, Kak. Mata-mata kakek juga lagi tidur. Aman! Princess bobok di kamar Kakak aja ya? Nti sebelum subuh, Princess janji bakal pindah kamar kok!" rajuk Princess yang belum ingin berpisah dari Rimba.
Rimba melirik tubuh bagian bawahnya. Oh No! Tongkat sakti kembali berdiri mendengar rayuan putri. Pasti gak akan bisa tidur kalau si putri tidur di sebelahnya.
"Maaf, kalau mau bobok di sini, kita nikah dulu ya!" bujuk Rimba.
"Heleh! Biasanya juga tidur sekamar, kenapa sekarang dilarang? Aneh-aneh aja deh!" ucap Princess.
"Good night, Princess. Sweet dream!" Lalu terdengar bunyi klik dua kali. Itu artinya pintu balkon kamar Rimba sudah dikunci dari dalam.
"Dasar nyebelin!" Princess pun pulang ke kamarnya dengan kesal.