CEO'S Prince

CEO'S Prince
Siapa Ayah Rimba?



Kinan tersenyum lalu mengusap kepala Rimba dengan lembut. "Tentu saja, Rimba. Kau memiliki seorang ayah. Manusia tidak tercipta hanya dari seorang ibu. Tapi juga dari seorang ayah. Bukankah Bunda sudah pernah mengajarimu tentang proses terbentuknya seorang bayi?"


Rimba mengangguk. Ia masih ingat jelas penjelasan Bundanya. Seorang bayi memang terlahir dari rahim seorang wanita, tapi untuk membuahi sel telur dibutuhkan sebuah sel jantan dari seorang pria. Rimba juga masih ingat bagaimana susunan alat reproduksi pria dan wanita yang pernah digambar Bunda di pasir laut.


Pesisir pantai adalah tempat Rimba biasanya bersekolah bersama Bunda. Belajar membaca, menulis, menggambar dan pengetahuan tentang bahasa, ilmu alam, geografi, pendidikan moral dan agama.


"Lalu di mana ayah Rimba, Bunda?" tanya Rimba langsung terduduk dan meremas jari jemari tangan Kinan. Rimba begitu penasaran ingin tahu di mana keberadaan sosok pria yang seharusnya ada di hutan dan menemani Bunda, Tina dan dirinya.


Sinar mata Rimba tampak begitu ingin mendapatkan kejujuran dari jawaban Kinan.


Kinan menarik nafas panjang sebelum mulai berucap.


"Ayah Rimba tidak ada di hutan pulau asing ini, Rimba. Ayah Rimba ada di pulau lain. Pulau yang tidak memiliki hutan dan dihuni banyak manusia," jawab Kinan yang sudah mempersiapkan jawaban ini sejak lama.


"Apakah maksud Bunda, ayah Rimba ada di pulau Jawa?" tanya Rimba yang sudah belajar tentang peta Indonesia. Kinan pernah berkata bahwa kemungkinan besar Kinan, Tina dan Rimba ada di sebuah pulau di dekat pulau Kalimantan. Karena hewan khas pulau ini adalah orang utan dan monyet bekantan. Hewan yang menurut ilmu pengetahuan sosial menjadi hewan khas pulau Kalimantan.


Kinan mengangguk. "Ayah Rimba tinggal di Surabaya."


"Jawa Timur," ucap Rimba sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apakah Rimba ingin bertemu Ayah?" tanya Kinan lirih dan sendu.


Rimba mengangguk.


"Seandainya saja pulau asing ini tidak memiliki hamparan karang tinggi dan ombak yang begitu besar, mungkin dengan perahu kecil, kita bertiga dapat berlayar ke pulau Kalimantan lalu kembali ke sisi Ayahmu dengan naik pesawat," ucap Kinan.


Enam tahun yang lalu, Kinan dan Tina pernah mencoba untuk pergi dari pulau asing ini. Tapi tidak berhasil. Karang tinggi dan ombak besar membuat Kinan dan Tina terluka parah, tenggelam bahkan nyaris kehilangan nyawa. Oleh karena itu, Kinan dan Tina mengurungkan niatnya untuk keluar dari pulau asing ini. Dan mulai menerima kenyataan untuk hidup di pulau asing ini. Apalagi setelah Kinan mengandung. Keselamatan janin yang ada di rahim Kinan jauh lebih penting daripada menerjang maut untuk keluar dari pulau asing ini.


"Kenapa Ayah Rimba bisa terpisah dengan Rimba dan Bunda?" tanya Rimba takut akan menyinggung perasaan ibunya.


Kinan tersenyum lembut. Rimba menghela nafas lega.


Ternyata Bunda tidak marah dengan pertanyaanku, batin Rimba.


"Kisahnya sangat panjang, Rimba. Apakah kau ingin mendengarnya?" tanya Kinan sembari membelai pucuk kepala Rimba.


Rimba menganggukkan kepalanya dengan cepat. Manik matanya bersinar bahagia serasa akan mendengar cerita dongeng pengantar tidur yang sangat indah.


"Baiklah, Bunda akan menceritakan sebagian dahulu padamu. Karena malam sudah begitu larut, Rimba pasti mengantuk dan kecapekan karena hari ini Rimba sudah pergi jauh ke sarang macan tutul untuk melihat proses kelahiran anak macan tutul," ucap Kinan.


"Ya, Bunda. Ceritakan sebagian dahulu. Besok malam disambung lagi," balas Rimba senang.


***


Enam tahun yang lalu, di sebuah rumah mungil yang memiliki taman bunga berwarna warni.


Kinan Lee menguap lebar-lebar setelah terbangun dari tidur siangnya. Cepat-cepat Kinan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Rupanya aku sudah tertidur hampir tiga puluh menit di sofa ruang tamu, batin Kinan.


Kinan segera mematikan televisi yang sedari tadi tidak dia tonton. Lalu bergegas mencari ibunya di semua sudut ruangan rumahnya termasuk di dalam kamar ibunya. Namun ibunya menghilang, tidak ada di mana pun.


Kinan segera merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan mencari keberadaan ibunya lewat aplikasi pelacak orang hilang.


Ibu Kinan yang bernama Levi Lee menderita penyakit alzheimer. Penyakit progresif yang menghancurkan memori dan fungsi mental penting lainnya. Membuat ibunya sering hilang ingatan dan kebingungan mencari rumahnya sendiri setelah bepergian keluar rumah.


"Ini dia. Ibu ada di taman perumahan," seru Kinan senang berhasil menemukan keberadaan ibunya dengan cepat lewat aplikasi pelacak orang hilang yang tersambung dengan kalung yang dipakai ibu Kinan.


Kinan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu berjalan cepat keluar rumah. Menuju ke taman perumahan yang tidak begitu jauh dari rumah Kinan.


Dengan cepat Kinan berhasil menemukan ibunya yang hari ini menggunakan baju dress panjang berwarna kuning cerah. Ibunya terlihat sedang duduk bersama seorang pria di sebuah kursi taman.


Jantung Kinan berdesir aneh. Pandangan mata Kinan seolah terbius akan pesona pria itu. Sangat tampan dan atletis bak patung dewa Yunani. Rambutnya hitam tebal, matanya bulat besar, hidungnya mancung dan bibir tipis yang memikat.


Maklum selama 25 tahun Kinan belum pernah sekali pun pacaran, ia juga lebih suka bergaul dengan hewan daripada manusia. Jadi, saat kebetulan di waktu senggang bertemu pria super tampan, Kinan langsung terpikat dan jatuh hati.


Aish! Pipiku terasa panas, batin Kinan. Sambil menepuk-nepuk pipinya yang bersemu merah agar segera sadar bahwa tujuannya ke taman perumahan untuk menjemput ibunya dan mengajaknya pulang ke rumah, karena hari sudah sore. Kinan harus segera memandikan ibunya lalu memasak untuk makan malam.


Ya, semua tugas itu Kinan lakukan dengan tulus ikhlas karena pengasuh yang biasanya Kinan tugaskan untuk menjaga dan merawat Levi, meminta ijin libur dua hari. Sehingga Kinan pun mengajukan cuti bekerja sebagai dokter hewan di laboratorium milik Profesor Rudolp. Untunglah Profesor Rudolp yang baik hati mengijinkan Kinan cuti untuk merawat ibunya selama dua hari.


"Selamat sore, Ibu. Bagaimana kabarmu, Bu? Apakah ibu senang berjalan-jalan di taman?" tanya Kinan sambil tersenyum lembut. Walaupun ibu Kinan pergi tanpa berpamitan lebih dahulu padanya, tetapi Kinan tidak menegur atau marah pada ibunya.


Levi menoleh dan memandangi Kinan. Manik matanya yang bersinar redup terlihat bingung saat menatap seorang gadis cantik berambut panjang dan bertubuh tinggi langsing.


"Apakah kau mengenalku, Gadis Cantik? Siapakah engkau?" tanya Levi tidak mengenali Kinan sebagai putrinya.


Kinan tersenyum dan menjawab, "Aku Kinan Lee, putri ibu. Ayo kita pulang, Bu! Kita mandi air hangat dengan busa berlimpah lalu bersama-sama memasak makanan kesukaan ibu. Bubur abalone."


Kinan menarik tangan ibunya agar segera bangkit berdiri dari duduknya. Namun pria tampan di samping Levi segera menarik tangan Levi, seakan tidak ingin berpisah dengan Levi.


Kinan sedikit kaget melihat sikap pria tampan berambut cokelat dan bertubuh atletis itu.