CEO'S Prince

CEO'S Prince
Ayahku Penolongku



Monyet yang dioperasi Kinan sudah siuman dan masuk tahap pemulihan. Sebelum Kinan memperbolehkannya dibawa pulang oleh Profesor Rudolph, Rimba sempat bercakap-cakap dengan monyet tua itu.


Tapi saat Profesor Rudolph menanyakan isi pembicaraan Rimba dengan monyet tua, Rimba mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang penting untuk diberitahukan. Obrolan mereka hanyalah obrolan santai. Tidak ada yang penting.


"Rimba, kita pulang yuk!" ajak Kinan setelah menutup kliniknya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kinan khawatir Rimba kurang istirahat jika pulang ke rumah Andre lebih malam lagi. Besok kan sekolah, harus bangun pagi.


"Baik, Bunda." Rimba segera mengemas peralatan sekolahnya dan cepat-cepat turun ke halaman untuk pulang ke rumah ayahnya.


Di dalam mobil, Rimba memilih untuk tidak memejamkan matanya. Ada satu hal yang ingin Rimba bicarakan pada Bundanya setelah sampai di rumah. Mengenai Profesor Rudolph. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Rimba, jika belum memberitahukan penilaiannya tentang Profesor Rudolph sore tadi dan percakapannya dengan monyet tua.


Kinan mengusap lembut pucuk kepala Rimba dan menyandarkannya ke dada Kinan.


"Sayang, apakah Bunda harus mengikuti apa yang dikatakan Profesor Rudolph?" tanya Kinan dengan suara lembut.


"Memang apa yang dikatakan Profesor Rudolph?" tanya Rimba sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Kinan. Rimba sangat suka sekali dipeluk dan disayang oleh Bunda. Rasanya begitu hangat dan nyaman.


"Profesor ingin Tina segera kawin dan memiliki anak," jawab Kinan.


Rinba terperanjat kaget. "Kenapa Profesor menginginkan itu?"


Kinan menggelengkan kepalanya. "Bunda berharap pemikiran Bunda saat ini salah."


"Apakah Bunda mau menceritakannya pada Rimba?"


Kinan terlihat sedikit ragu namun akhirnya ia mau buka suara. "Sepertinya Profesor Rudolph ingin meneliti anak Tina. Apakah anak Tina nantinya akan jenius sepertimu atau tidak?"


Rimba membelalakkan matanya tak percaya. "Rimba tidak mengijinkan Profesor mengambil anak Tina untuk diteliti di laboratorium. Seorang anak harus tinggal bersama dengan ayah dan bundanya. Tina pasti sangat sedih jika harus berpisah dengan anak yang ia lahirkan, Bunda."


Kinan mengangguk dan kembali mengelus pucuk kepala Rimba. "Bunda akan membicarakannya dengan ayah Rimba. Bunda harap ayah Rimba punya solusi yang tepat untuk Tina. Karena Tina bukan milik Bunda tapi milik Profesor Rudolph. Secara hukum, Profesor berhak mengambil dan melakukan apa saja pada Tina, walaupun kita berdua tidak setuju."


Air mata turun membasahi pipi Rimba. Rasa perih dan sedih begitu menyayat hati Rimba. Ia tak ingin berpisah dengan Tina. Tina adalah segalanya baginya. Kakak, sahabat dan guru yang baik baginya. Ia juga tidak mau Tina maupun keturunannya nanti menjadi objek penelitian di laboratorium lagi. Tina dan anaknya harus hidup bebas merdeka.


Rimba mengambil nafas panjang, ia sadar jika ucapan Bundanya benar, Bunda tak sanggup berbuat apa-apa untuk mencegah Profesor mengambil Tina.


Ya, hanya ayah yang dapat menolong Tina. Kalau begitu aku harus membicarakannya dengan ayah secepatnya, batin Rimba.


***


Begitu tiba di rumah, Rimba buru-buru mencari ayahnya di kamar tidur.


"Astaga! Ada apa ini? Kenapa datang-datang langsung nangis begini? Apakah Bunda hilang diambil orang? Atau Rimba sakit?" tanya Andre sambil mengelus pucuk kepala Rimba dengan lembut. Berusaha menahan diri untuk tidak gegabah dan terus mencari tahu penyebab Rimba mengucurkan air mata sederas ini.


Rimba menengadahkan wajahnya. Sinar matanya seperti memohon sesuatu yang sangat penting. Andre berjongkok dan menyejajarkan diri dengan putranya.


"Ada masalah penting yang ingin kau bicarakan dengan Ayah?" tanya Andre sambil mengusap air mata yang terus meleleh di pipi gembul putranya.


"Selamatkan Tina, Ayah," pinta Rimba penuh harap.


"Tina? Dia baik-baik saja di kamarmu. Tadi saat Ayah pulang dan mau masuk kamar, Ayah sempat melihat Tina di depan kamarmu. Dia memakai baju berwarna merah muda. Sangat cantik." Andre menatap mata Rimba lebih dalam. Sepertinya ada sebuah rahasia yang Rimba pendam dan belum diceritakan lebih lanjut.


Kriet! Pintu kamar terbuka, Kinan melenggang masuk dengan anggun. Ia baru saja meletakkan barang-barang milik Rimba di kamar putranya dan sekarang ia mendapati putranya sedang menangis saat berbicara dengan Andre.


"Tadi Rimba berbicara dengan monyet tua milik Profesor Rudolph. Monyet tua itu berkata bahwa kemarin malam, setelah Ayah dan Bunda pergi meninggalkan laboratorium, Profesor Rudolph memanggil para staff laboratorium. Mereka rapat hingga tengah malam, Ayah. Dan sore ini Rimba menilai senyum dan tingkah laku Profesor Rudolph mencurigakan. Ada sesuatu hal tidak baik yang sedang beliau pikirkan. Ayah dan Bunda harus waspada," jawab Rimba cemas.


"Putraku, kenapa masalah Profesor Rudolph rapat tengah malam bisa membuatmu khawatir? Bukankah hal itu sudah biasa terjadi sebelumnya? Benar begitu, Kinan?" tanya Andre pada istrinya. Dan untuk masalah penilaian Rimba pada sikap Profesor Rudolph, Andre rasa itu hanya insting, yang bisa saja salah. Karena belum terbukti kebenarannya.


Kinan mengangguk. "Ya, jika ada masalah penting dan mendesak, Profesor Rudolph akan mengadakan rapat. Walaupun tengah malam sekalipun. Itu hal biasa, Rimba."


"Ayah, Bunda, Profesor Rudolph menggelar rapat tengah malam lalu beliau meminta Tina untuk kawin dan secepatnya hamil agar bisa meneliti anak Tina, apakah sejenius Rimba, itu jelas-jelas menandakan jika Profesor Rudolph mulai serakah," sahut Rimba dengan suara lantang. Ia berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa Profesor Rudolph itu berbahaya.


"Beliau ingin membuktikan bahwa cairan alzheimernya tidak hanya dapat mengobati penyakit alzheimer tapi juga dapat menciptakan anak-anak jenius. Itu sangat mengerikan sekali, Ayah, Bunda. Cairan obat itu jika dijual di masyarakat, pasti akan sukses terjual habis karena semua orang tua ingin memiliki anak jenius. Tapi menjadi jenius itu juga ada plus dan minusnya, Ayah, Bunda," jelas Rimba.


Rimba menarik nafas panjang dan meneruskan uneg-uneg hatinya.


"Plusnya adalah anak-anak jenius akan menciptakan hal-hal yang luar biasa di kemudian hari. Namun minusnya adalah mereka tidak dapat bergaul dengan anak-anak biasa. Pasti akan terjadi kesenjangan yang besar di antara yang jenius dan biasa. Rimba tidak berani memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi ... Rimba takut, Ayah, Bunda." Rimba kembali menangis.


Kinan langsung memeluk Rimba. Menenangkan Rimba yang menangis sedih, ketakutan setelah menyampaikan isi hatinya. Sebelumnya Kinan tak pernah tahu jika Rimba mengalami masalah sosial di lingkungan sekolahnya.


Selama ini, Kinan menyangka Rimba menyukai kehidupannya yang baru. Bergaul dengan banyak orang, memiliki teman sebaya dan belajar bersama di sekolah. Namun ternyata selama ini Kinan salah. Rimba yang terlahir jenius tidak bisa berbaur dengan anak-anak lain. Kecuali dengan Leony. Dan Leony sendiri adalah anak yang juga memiliki kejeniusan dalam hal memasak. Leony memiliki skill memasak yang tinggi dan dapat menghafal resep makanan hanya dalam sekali baca.


"Rimba, Ayah akan menyelidiki hal ini dengan baik. Jangan khawatir. Untuk masalah Tina. Baiklah, ajak Tina untuk ikut berwisata bersama kita besok pagi. Untuk sementara, kita sembunyikan Tina jauh dari Profesor Rudolph. Agar Tina tidak menjadi objek penelitian lagi di laboratorium. Bagaimana?" tanya Andre dengan solusinya yang sangat luar biasa.


"Terima kasih, Ayah. Terima kasih banyak." Rimba memeluk ayahnya dan mencium pipi Andre berulang kali.


"Sekarang, cuci wajahmu, sikat gigi dan segera tidur. Besok kita pergi ke tempat yang aman untuk Tina," ucap Andre sambil menepuk punggung putranya.


"Good night, Ayah. Nights, Bunda." Rimba melambaikan tangannya dan berjalan keluar kamar tidur Andre.