
Flash Back On.
Di sebuah apartement mewah.
Prang! Ariani membanting guci-guci yang harganya selangit ke lantai marmernya. Tubuhnya gemetar ketakutan dan bibirnya tidak berhenti komat kamit menyumpah serapah.
"Bekerjalah, Otak Pintar. Apa yang harus kulakukan untuk mengelabuhi Kak Andre dan Rendra? Kak Andre ternyata masih belum putus asa menemukan Kinan Lee, ia masih meminta Rendra untuk terus mencari Kinan Lee," tanya Ariani pada dirinya sendiri. Hilir mudik berjalan ke sana kemari.
Menyembunyikan Kinan selamanya di perumahan mewah hanya langkah sementara. Aku harus punya ide cemerlang untuk menghentikan pencarian Kinan. Selamanya, batin Ariani.
"Astaga, Nona Ariani. Kenapa diberantakin lagi?" Pelayan rumah Ariani tiba-tiba datang ke ruang tamu, tempat Ariani berada. Nampak kaget melihat ruang tamu apartement yang baru saja ia bersihkan sudah kotor lagi. Pecahan guci mahal berserakan di mana-mana.
"Sudah jangan cerewet. Saya menggajimu untuk bersih-bersih di sini. Bukan untuk menanyakan alasanku melempar benda-benda ke lantai saat aku sedang kesal," timpal Ariani kesal.
Pelayan menarik nafas panjang lalu mengambil alat pembersih dan segera menyapu lantai hingga kembali mengkilat.
"Nona, saya permisi sebentar. Saya hendak memendam pecahan-pecahan guci ini di halaman belakang apartement agar tidak melukai siapa pun," ucap pelayan rumah Ariani buru-buru memasukkan pecahan guci ke dalam kantung plastik. Padahal sebenarnya ia ingin menelepon dan mengabari Pak Rendra, orang yang mempekerjakannya di apartement adik tiri Pak Andre, saat ia membutuhkan pekerjaan.
Sebagai balas jasa pada Pak Rendra, pelayan selalu melaporkan segala tindak tanduk Ariani pada Pak Rendra.
"Ide yang bagus sekali. Dikubur di tanah," pekik Ariani senang telah berhasil menemukan solusinya. Ariani buru-buru menelepon kenalannya untuk membakar mayat tak bernama lalu menyimpan abunya di sebuah rumah duka. Dengan nama Kinan Lee.
Flash Back Off.
***
Dua hari kemudian. Setelah pulang sekolah, Kinan mengajak Rimba untuk ke rumah sakit. Rimba memang sudah sembuh dan sudah dapat beraktivitas normal seperti sedia kala. Namun Kinan tetap harus memeriksakan seluruh kesehatan Rimba. Kinan bahkan sudah membuat janji dengan dokter spesialis anak.
Selain itu, hidup enam tahun di pulau terasing apalagi melahirkan di hutan tanpa bantuan medis yang memadai, membuat Kinan juga was-was dengan kesehatan tubuhnya. Memang setelah melahirkan Kinan mengkonsumsi jahe liar yang langka untuk membantu pemulihan stamina, tapi untuk lebih berjaga-jaga, lebih baik Kinan juga memeriksakan kesehatannya.
Rencanya, setelah nanti selesai memeriksakan kesehatan Rimba, Kinan akan menemui dokter penyakit dalam, dokter Song Hwa. Beliau adalah salah satu dosen senior yang mengajar di kampus Kinan. Dokter yang cantik, anggun dan sangat baik. Kinan sangat mengaguminya sejak dari jaman kuliah.
Tak berapa lama, Rimba dan Kinan sudah berada di dalam taxi dan segera meluncur masuk ke halaman rumah sakit yang tak jauh dari kompleks perumahan Kinan. Setelah membayar ongkos perjalanan, Kinan dan Rimba segera turun dari taxi.
"Langit agak mendung, Bunda. Awan gelap datang dihembus angin. Sepertinya akan hujan lebat," ucap Rimba memandang angkasa.
"Maaf, Bunda tidak mendengarkan ramalan cuacamu malah asal membuat janji dengan dokter. Seharusnya ibu pilih hari yang cerah dengan sinar matahari," balas Kinan.
Rimba tersenyum hingga membuat pipinya terlihat membulat dan menggemaskan. Sejak pindah ke Surabaya, Rimba jadi sedikit gemuk, maklum tubuhnya mulai mengenal karbohidrat dan lemak.
"Kita sekarang di Surabaya, Bunda. Tidak masalah pergi keluar rumah saat hujan sekalipun. Kita bisa memakai payung dan naik mobil. Tidak perlu khawatir," sahut Rimba.
Kinan tertawa. "Benar juga katamu, Rimba. Bunda lupa kalau kita tidak perlu takut pada air hujan dan petir lagi sekarang."
"Wow! Gedung rumah sakitnya besar dan megah sekali, Bunda. Halaman parkirnya luas sekali." Rimba terkagum-kagum dengan bangunan rumah sakit yang baru saja direnovasi menjadi lebih modern dan lebih mewah. Serta luasnya area rumah sakit.
"Masuk yuk!" ajak Kinan sembari menggandeng tangan kecil Rimba.
"Bagaimana kau bisa tahu, Rimba?" tanya Kinan tak percaya.
Rimba menunjuk ke sebuah mobil mewah berwarna biru yang diparkir tepat di hadapan mereka.
"Itu mobil ayah, Bunda. Berwarna biru dan nomor platnya sama seperti nama dari nenek Rimba. L 3 VI. Levi," timpal Rimba sambil tersenyum senang. Manik matanya berkilat bahagia akhirnya kembali memiliki kesempatan untuk bertemu ayahnya hari.
"Ya, Tuhan. Semoga kali ini, kami bertiga dapat berjumpa," ucap Kinan penuh haru.
"Bunda, apakah Bunda punya pulpen dan kertas? Mari kita tinggalkan pesan di mobil ayah agar ayah menghubungi kita jika kita tidak berhasil bertemu ayah di dalam rumah sakit," pinta Rimba.
"Ide yang sangat bagus, Rimba. Kau memang genius, Putraku." Kinan mengambil pulpen dan secarik note kuning dari tas tangannya. Lalu memberikannya pada Rimba.
Rimba segera menulis nama, alamat dan nomor ponsel Kinan Lee di secarik note kuning. Rimba juga menggambar seekor orang utan di bagian ujung kanan bawah note kuning. Lalu dengan cepat, ia menyelipkannya di bawah wiper mobil mewah berwarna biru yang ia yakini sebagai mobil ayahnya.
"Beres, Bunda. Sekarang ayo kita masuk ke rumah sakit," ucap Rimba sambil tersenyum lebar.
Pertama Kinan menemani Rimba menemui dokter spesialis anak. Rimba diminta melakukan serangkaian test seperti MRI, tes darah lengkap dan tes jantung. Setelah hasilnya keluar dan dokter anak mengatakan kondisi tubuh dan otak Rimba baik-baik saja, Kinan dan Rimba langsung menuju ruangan klinik dokter penyakit dalam.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Perawat membuka pintu dan mempersilahkan Kinan dan Rimba masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang, Dokter Song Hwa," sapa Kinan yang melihat dokter yang ia kagumi sedang sibuk mengetik di komputer.
"Selamat siang. Uhm ... Kinan Lee. Nama ini mengingatkanku pada nama seorang mahasiswa teladan fakultas kedokteran hewan," ucap Dokter Song Hwa saat membaca deretan huruf nama pasiennya di layar komputer.
"Dokter masih ingat saya?" tanya Kinan sambil tersenyum lebar saat bersitatap dengan dosennya setelah sekian tahun tak bersua.
"Kinan, lama kita berjumpa. Aku tak menyangka kalau Kinan Lee yang ada di hadapanku adalah Kinan yang kukenal." Dokter Song Hwa menyambut uluran tangan Kinan dan tersenyum hangat.
"Bagaimana kabarnya, Dokter? Baik?" tanya Kinan kembali duduk ke kursi pasien yang ada di hadapan Dokter Song Hwa.
"Tentu, Kinan. Bagaimana denganmu? Kuharap kau mengunjungiku kemari bukan karena sedang sakit," balas Dokter Song Hwa.
Kinan tersenyum. "Saya ingin check up kesehatan secara menyeluruh, Dokter. MRI, tes darah dan tes jantung."
"Baik. Kalau begitu, perawat akan mengantarmu ke ruang MRI dan laboratorium." Dokter Sing Hwa menulis di kertas lalu memberikannya pada perawat.
"Oh, hai! Siapa pria tampan ini?" tanya Dokter Song Hwa melihat ada seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang wajahnya mirip dengan pasien yang beberapa menit lalu meninggalkan ruang praktek ruangannya. Siapa lagi kalau bukan Raden Andre Ariandono, pasien yang selalu mengunjunginya secara rutin tiap bulan dengan sebuah buket bunga mawar biru tiap kali berjumpa.
"Perkenalkan nama saya Rimba Lee, Dokter. Saya adalah putra dari Kinan Lee." Rimba segera mengulurkan tangannya dengan sopan. Tapi dokter Song Hwa malah terpaku memperhatikan wajah tampan Rimba, hingga tak kunjung menyambut uluran tangan Rimba.
"Senang berkenalan denganmu, Rimba." Dokter Song Hwa melempar senyum manis pada Rimba lalu menjabat tangannya.
"Dokter, apakah dokter juga menyukai mawar biru?" tanya Rimba tiba-tiba sambil menunjuk bunga mawar biru di dalam vas bunga yang baru saja diletakkan seorang perawat ke atas meja.