CEO'S Prince

CEO'S Prince
Menelepon Ayah



Di kamar tidur Kinan.


Hari sudah malam, Kinan sudah tertidur pulas. Namun putranya masih membuka kedua matanya yang sudah lima watt. Mengantuk tapi ditahan karena Rimba ingin menelepon ayahnya yang ada di luar negeri.


Rimba mengambil ponsel Kinan yang diletakkan di meja tulis lalu membawanya ke kamar mandi. Mencari nama Andre di daftar kontak ponsel bundanya. "Ini dia, My Andre. So sweet banget nama ayah."


Rimba segera menelepon ayahnya. Panggilan diangkat.


"Terima kasih, kau sudah tidak marah dan merajuk lagi. Aku menunggu panggilan teleponmu. Aku merindukanmu," ucap Andre di seberang. Suaranya terdengar sangat bahagia. Penantian selama 25 jam tidak sia-sia. Akhirnya malaikat penolongnya luluh dan meneleponnya lebih dahulu.


"Kapan Rimba marah dan merajuk pada ayah? Sepertinya sebelum ayah pergi, Rimba tidak bertengkar dengan ayah. Pasti bunda ya yang bertengkar dengan ayah?" balas Rimba demgan suara imutnya.


"Oh, hei! Ternyata bukan Kinan yang meneleponku, tapi si Pangeran Hutan." Suara Andre terdengar sedikit kecewa namun kembali ceria lagi.


"Iya, memang benar. Bunda sedang ngambek pada Ayah, Rimba. Ayah sedih sekali. Hmm ... apakah Rimba mau menolong ayah?" tanya Andre dengan suara mulai nakal. Ide usil untuk mengerjai Kinan kembali berkelebatan di pikirannya.


"Tentu. Rimba akan melakukan apa saja supaya Ayah dan bunda cepat baikan lagi," jawab Rimba.


"Tolong beritahu bunda kalau Ayah akan tinggal lebih lama di San Fransisco. Mungkin dua atau tiga bulan. Dan kalau bunda menanyakan alasannya. Katakan saja kalau bisnis ayah sedikit kurang lancar. Biar bunda sedih dan menyesal sudah ngambek pada ayah. Lalu tiba-tiba Ayah pulang ke Surabaya menemui bunda. Pasti bunda happy sekali," jelas Andre dengan rencana prank-nya.


"Wah, ide yang sangat bagus, Ayah. Tapi setelah ayah pulang ke Surabaya, Ayah harus berjanji pada Rimba. Ayah tidak boleh membuat bunda menangis lagi," pinta Rimba.


"Beres, Rimba. Ayah pasti menepati janji. Tidak ada air mata kesedihan lagi," ucap Andre mantap.


"Baiklah, Ayah. Rimba akan mengikuti rencana Ayah. Hoaaam ... Maaf, Rimba menguap. Semoga urusan bisnis ayah lancar dan cepat selasai. Sekarang Rimba mau tidur. Selamat malam, Ayah," salam dan doa Rimba sambil melambaikan tangan ke cermin seolah Andre ada di dalam cermin.


"Selamat malam, Rimba. Tidur yang nyenyak. Sweet dreams." Andre mengakhiri panggilan teleponnya.


Sebuah kotak perhiasan beludru biru ada di meja tulis Andre. Ia membukanya perlahan. Sebuah kalung, cincin dan anting-anting berlian dengan hiasan kristal berbentuk mawar biru berpendar sangat indah. Perhiasan yang dibelinya dari sebuah toko perhiasan yang hanya menjual barang-barang koleksi terbatas, begitu kaki Andre menjejak di San Fransisco.


"Semoga kau menyukainya, Kinan." Andre tersenyum penuh cinta.


***


"Rimba, ayo cepat habiskan sarapannya. Nanti terlambat ke sekolah," ucap Kinan dengan nada lebih tinggi satu oktaf dari biasanya.


Sebenarnya belum terlalu terlambat sih, hanya saja Kinan harus cepat-cepat ke kantor pemasaran perumahan setelah menurunkan Rimba di sekolah. Bu Komang, pemilik kucing berbulu tebal ingin bertemu dengannya pagi ini di kantor pemasaran perumahan.


Dari nada bicaranya di telepon, sepertinya Bu Komang marah, tidak terima jika kucing kesayangannya tertabrak mobil. Dan Bu Komang berniat memperkarakan cleaning servis yang bekerja di bawah naungan kantor pemasaran perumahan, karena sudah teledor saat membersihkan rumah mewahnya, sehingga kucingnya terluka.


Maksud Bu Komang, dia ingin menghadirkan Kinan sebagai saksi kasus tersebut agar pihak perumahan memecat gadis cleaning servis itu.


Rimba buru-buru meneguk susu cokelatnya. Lalu menyandang tas ransel di bahunya. "Tina, Rimba pergi dulu ke sekolah. Tina main di rumah kaca dulu ya. Bye, Tina."


"Uuu ...." (Hati-hati, Rimba)


Bergegas Kinan menggandeng Rimba, keluar ke halaman depan dan naik sebuah mobil hitam. Supir langsung mengemudikan mobilnya begitu Kinan menyebutkan tujuannya yang pertama.


"Bunda, tadi malam Rimba menelepon ayah menggunakan ponsel bunda," ucap Rimba.


Kinan yang sedang berkabar dengan Bu Komang lewat pesan teks whatssapp, langsung menoleh ke arah Rimba. Matanya terbelalak, tak percaya putra tunggalnya menggunakan ponselnya untuk melakukan SLJJ dengan ayahnya. Waduh! Pulsa ponsel bisa bengkak nih. Maklum ponsel Kinan pakai pulsa pascabayar. Kenapa tidak pakai telepon rumah aja sih? Biar Kak Andre yang bayar mahal. Biar bangkrut sekalian! Kinan masih dalam bete mode on gara-gara Andre kabur sebelum berdamai dengannya.


Manik mata bulat Kinan mengerjab kaget.


Tiga bulan? Selama itu? Aduh! Aku pasti kangen berat kalau tidak bersua atau berbincang dengannya selama tiga bulan, batin Kinan. Bete mode on Kinan langsung off seketika. Raut wajahnya berubah sendu. Perasaannya jadi makin galau.


Kinan mendengus sambil memayunkan mulutnya. "Ayah bilang apa lagi di telepon?"


"Ayah kangen sama Bunda. Sampai-sampai begitu mengangkat ponselnya, Ayah langsung menyebut nama Bunda. Padahal Rimba yang telepon," ucap Rimba jujur, sesuai dengan fakta kenyataan di lapangan.


"Ayah merindukan Bunda?" Kinan takjub dengan penuturan Rimba.


Rimba mengangguk. "Jadi, nanti malam telepon Ayah ya, Bunda. Kasihan Ayah, pasti dia sangat merindukan Bunda yang super cantik, super baik dan anggun."


Kinan tersenyum kecut. Untuk urusan seperti ini, berani maju menelepon duluan setelah bertengkar dengan lawan jenis yang ia sukai, Kinan mempertahankan gengsinya habis-habisan. Malu ah! Mau ditaruh dimana wajah cantik ini?


"Akan Bunda pikirkan nanti. Sekarang Rimba sekolah dulu yang pinter. Oh ya, salam buat Leony, Rimba. Tadi koki di dapur menyiapkan bekal lebih untukmu. Berikan pada Leony yang sering berbagi bekalnya denganmu. Dijamin rendah gula dan kalori kok, tidak akan berpengaruh besar pada diet Leony," ucap Kinan. Sebuah ciuman hangat mendarat di dahi Rimba. "God bless you."


"Bye, Bunda. God bless you too."


Rimba segera turun dari mobil. Melambaikan tangan pada Kinan sebelum berlari bersama teman-teman sekolahnya, masuk ke halaman sekolah.


"Ke kantor pemasaran perumahan Grand Pakuwon, Pak," pinta Kinan pada supir.


"Baik, Nona." Supir segera mengemudikan mobilnya menuju tempat yang diinginkan Kinan.


Tak berapa lama, Kinan tiba di tujuan. Segera turun untuk menemui Bu Komang. Belum sempat mendorong pintu kaca yang menjadi pembatas halaman depan kantor dengan lobby kantor, Kinan sudah mendengar suara ribut-ribut.


"Kamu ini tidak becus kerja. Seharusnya dipecat. Jangan datang lagi ke perumahan mewah ini dan mengais rejeki di sini," ucap Bu Komang pedas. Telunjuk Bu Komang juga tak henti-hentinya mendorong-dorong kepala gadis cleaning servis yang tertunduk. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati.


Semua karyawan kantor perumahan hanya bisa memandang dari kejauhan, trenyuh dengan nasib malang gadis cleaning servis itu. Tapi tidak ada satu pun yang berani maju untuk menghentikan kelakuan kasar istri pejabat daerah Jawa Timur. Semuanya takut. Orang kaya berpangkat jangan sekali-kali dilawan, bisa hancur lebur nanti hidupnya.


Kinan menghela nafas panjang dan menghampiri Bu Komang. Kinan kurang setuju dengan sikap Bu Komang yang keterlaluan. Harus ada yang menghentikannya. Sudah cukup gadis cleaning servis itu dimarahi dan dipermalukan seperti itu.


"Selamat pagi, Bu Komang. Saya Kinan Lee. Dokter hewan yang sudah mengobati kucing kesayangan ibu."


Bu Komang yang bertubuh tambun dengan dandanan menor segera menoleh ke arah suara lembut yang begitu sabar.


"Pagi, Dokter," sapa Bu Komang dengan cuping hidung kembang kempis karena habis marah-marah.


"Bu Komang, semua biaya perawatan kucing ibu gratis. Saya tidak menarik bayaran apapun. Gadis cleaning servis ini juga sudah mengakui kalau dia bersalah. Jadi, saya mohon ibu mau memaafkannya. Saya rasa pelajaran hari ini akan membuatnya lebih berhati-hati di kemudian hari," ucap Kinan sambil tersenyum lembut.


Bu Komang menggerutu pelan seperti masih belum rela menyudahi caci maki dan kemarahannya pada gadis cleaning servis.


"Bagaimana kalau kita pergi ke coffee shop dan berbincang-bincang, Bu Komang? Klinik hewan saya baru buka pukul sepuluh siang. Masih ada waktu satu jam, saya ingin berteman dan lebih mengenal tetangga seberang rumah saya," ajak Kinan mengalihkan kemarahan Bu Komang yang pasti suka ngerumpi di cafee daripada terus menggerutu dan mengomel. Bisa menambah jumlah keriput makin banyak, Bu Komang.


Bu Komang mendengus keras. "Awas kau ya! Jangan menampakkan batang hidungmu lagi di depanku. Ayo kita pergi, Dokter."


Kinan dan Bu Komang segera pergi dari kantor pemasaran perumahan. Semua orang di sana lamgsung bernafas lega. "Untung ada Dokter Kinan."


PS. Siapa ya Bu Komang? Apakah dia nanti punya peran besar dalam kisah selanjutnya?