CEO'S Prince

CEO'S Prince
Butuh Bantuan Istri



"Om Komang, apakah Om mengenal Pak Hendra Wibisono?" tanya Andre.


"Tentu, Om kenal. Hendra Wibisono adalah pengusaha terkenal. Saya pernah berurusan dengan beliau dalam sebuah proyek pemerintahan. Ada apa, Pak Andre?" tanya Pak Komang.


"Apakah Bapak bisa mengajaknya untuk ikut abstain dalam rapat pemegang saham besok pagi?" tanya Andre santai.


Pak Komang mengangkat sebelah alis matanya. Sedikit heran dengan permintaan Andre. Kenapa Andre tidak meminta Hendra Wibisono untuk mendukungnya? Namun malah meminta Hendra untuk abstain? Sebenarnya strategi macam apa yang akan dimainkan Andre hingga tidak meminta kami berlima untuk memihaknya juga?


Entahlah, Andre memang susah ditebak, batin Pak Komang. Ia pun segera mengiyakan permintaan Andre. "Tentu, kalau Hendra memihak ibu Ayu Sekar, saya akan memintanya untuk ikut abstain."


"Baiklah, terima kasih, Om Komang dan Bapak-bapak sekalian. Hari sudah malam, saya kira kesepakatan sudah kita capai. Saya permisi undur diri dulu," pamit Andre segera berdiri dari sofa. Dengan tegas mengulurkan tangannya hendak membantu istrinya beediri dari kursi. Senyum kemenangan terukir di bibir Andre.


"Silahkan, Pak Andre. Sungguh senang, Pak Andre dan istri mau menyempatkan diri hadir dalam jamuan makan malam kami," ucap Pak Komang sembari mempersilahkan tamu agungnya keluar dari ruangan kerjanya. Disusul dengan tamu yang lain.


Semuanya, satu persatu berpamitan dan langsung menuju ke halaman rumah Pak dan Bu Komang. Pulang ke rumah masing-masing.


Di dalam mobil biru mewah Andre. Kinan duduk dengan gelisah. "Kak, apakah besok Kakak yakin akan menang jika pak Komang dan kawan-kawannya abstain besok pagi?"


Andre tersenyum hangat pada Kinan. "Agar besok aku bisa menang, ada satu hal yang harus kau lakukan malam ini."


"Apa itu, Kak? Apa yang dapat Kinan bantu?" tanya Kinan penasaran.


"Apakah kau mau bertemu Profesor Rudolph malam ini?" tanya Andre pada Kinan.


"Profesor Rudolph? Atasanku enam tahun silam?" tanya Kinan kaget. Ia tidak menyangka Andre akan mengajaknya bertemu Profesor Rudolph. "Memang Kak Andre kenal dengan Profesor Rudolph?"


Andre mengangguk.


"Laboratoriumnya ada di dekat sini. Kita mampir sebentar yuk!" ajak Andre.


"Tentu, ayo kita ke sana!" jawab Kinan dengan hati senang. Sudah lama ia tidak bersua dengan Profesor Rudolph. Beliau adalah atasan yang sangat baik.


Saat Kinan bekerja di laboratoriumnya, Profesor Rudolph selalu menyayanginya. Jika Kinan lembur, Profesor Rudolph menambahkan bonus di akhir bulan. Lumayan untuk menambah biaya pengobatan ibu Kinan yang sakit alzheimer.


Ngomong-ngomong tentang ibu Kinan, sudah lama Kinan tidak menjenguk ibunya. Besok sore setelah selesai bekerja di klinik, Kinan berniat ke panti wredha dan memberitahukan ibunya kalau sekarang ia sudah menikah dengan Andre. Ia sudah punya suami.


Tak berapa lama mobil biru yang ditumpangi Andre dan Kinan berhenti di depan laboratorium Profesor Rudolph. Mereka berdua segera turun dari mobil.


Laboratorium itu masih sama dengan laboratorium yang dulu. Bangunan yang bersih dan tertata rapi, karena pemiliknya suka kerapian dan kebersihan. Kinan sangat senang diajak bernostalgia bersama Andre.


Senyum manis tak pernah lekang bersemi di wajah Kinan. Apalagi saat bertemu satpam penjaga laboratorium, masih satpam yang sama dengan enam tahun silam. Sehingga mereka berdua lebih cepat diijinkan masuk ke dalam laboratorium.


Kinan dan Andre berjalan di sepanjang koridor lantai satu. Beberapa ruangan lantai satu digunakan sebagai tempat penampungan hewan-hewan percobaan.


Sebuah ruangan kecil yang terletak di pojok koridor lantai satu adalah bekas ruang kerja Kinan. Di sanalah Kinan bekerja sebagai dokter hewan sebelum diculik oleh pembunuh bayaran dan menghilang selama enam tahun.


"Kak, di sini aku dulu sering ketiduran kalau ada lembur sampai tengah malam," ucap Kinan sambil menunjuk pintu cokelat yang bertulis 'Only Staf'.


"Sejak dulu kau suka tidur ya?" tanya Andre sambil pmengacak-acak poni rambut Kinan yang menutupi dahinya.


"Tidur itu sehat, Kak. Apalagi kalau bisa tidur sehari delapan jam, itu sehat banget!" balas Kinan langsung merapikan poni rambutnya yang berantakan.


Seseorang berdehem dari arah belakang Andre dan Kinan. Pasangan suami istri itu langsung menoleh ke belakang.


"Profesor Rudolph!" Kinan menjerit kegirangan bertemu kembali dengan atasannya. Ia segera membungkuk hormat, mengulurkan tangan dan berjabat tangan dengan Profesor Rudolph.


"Senang bertemu denganmu lagi, Kinan."


"Terlebih lagi saya, Prof." Kinan menabur senyum bahagia.


"Selamat malam, Pak Andre," salam Profesor Rudolph dengan senyum wibawanya.


"Selamat malam, Prof." Andre membalas salam Profesor Rudolph dengan santun.


"Lama kita tidak berjumpa, Prof. Bagaimana kabarnya, Prof?" tanya Kinan.


"Kabarku baik, Kinan. Hanya lagi pusing kepala, beberapa hewan percobaan lama sakit dan ada beberapa yang mati," jawab Profesor Rudolph sendu.


"Entah apa yang sedang terjadi, apakah mereka mati karena sudah tua atau karena mengidap penyakit, apakah kau mau memeriksanya, Kinan?" tanya Profeaor Rudolph.


Wajah Kinan langsung sedih. Ia paling tidak suka jika mendengar hewan percobaan riset laboratorium mati. "Apakah saya boleh melihat mereka, Prof?"


"Tentu, Kinan. Silahkan masuk ke ruangan itu. Beberapa hewan yang ada di ruangan itu menderita sakit. Aku mengkarantinanya, sengaja memisahkannya dengan hewan yang masih sehat. Agar jangan sampai tertular penyakit," jawab Profesor Rudolph.


"Terima kasih, Prof. Apakah saya boleh meminjam jas laboratorium dan memakai peralatan kedokterannya?" tanya Kinan lagi.


"Tentu. Ambillah di ruanganmu dulu. Aku masih menyimpannya di tempat semula," jawab Profesor Rudolph.


"Terima kasih, Prof." Kinan menoleh pada Andre. "Kak Andre, aku akan pergi memeriksa hewan-hewan itu lebih dahulu. Setelah itu aku akan menyusulmu."


Andre mengangguk. Istrinya sangat menyayangi binatang, ia harus maklum jika istrinya lupa dengan tujuan awal mereka datang menemui Profesor Rudolph di laboratorium.


Kinan segera masuk ke ruangannya, meninggalkan Andre dan Profesor Rudolph di luar koridor.


"Apakah kau datang semalam ini untuk meminta dukunganku di rapat pemegang saham besok pagi, Pak Andre?" tanya Profesor Rudolph di awal pembicaraannya.


Andre tersenyum dan mengangguk. "Saya tidak dapat merahasiakan apa pun dari Profesor. Profesor dengan mudah langsung dapat menebaknya."


Profesor Rudolph menepuk punggung kekar Andre. "Jangan khawatir. Tanpa kau minta, aku pasti akan memihakmu. Apalagi setelah kau datang kemari bersama Kinan. Aku jadi ingin merekrutnya lagi sebagai pegawai di laboratoriumku."


Andre menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Mohon maaf sebesar-besarnya, Prof. Saya sebagai suami Kinan, menginginkan istri cantik yang selalu menyambut saya setiap pulang kerja. Jadi semua lelah dan beban yang ada di pundak saya sirna seketika."


Profesor Rudolph terperangah. "Kau sudah menikahinya, Pak Andre?"


Andre mengangguk dan tersenyum bangga sudah menjadi suami Kinan pagi tadi.


Profesor Rudolph langsung menjabat tangan Andre. Raut wajahnya begitu penuh suka cita seakan dialah ayah kandung Kinan."Aku ikut senang mendengarnya, Pak Andre. Saya titip Kinan. Tolong jaga dan bahagiakan dia selama-lamanya."


"Terima kasih untuk restu dan doanya, Prof. Saya akan selalu menjaganya." Andre kembali tersenyum.