
Flash Back On.
Siang harinya.
Andre dan Ares berada di ruang kerja Ares. Ruangan berdinding ekspos batu bata. Sebuah rak buku berwarna gelap, dan juga perpaduan material stainless pada meja dan jendela membuat ruang kerja Ares terlihat mewah dan memberikan kesan lebih maskulin. Dengan pencahayaan yang tepat, ruang ini mampu memberikan suasana yang nyaman untuk bertukar pikiran bersama dengan putra seorang mafia besar.
"Apakah kau sudah menghubungi ayahmu?" tanya Andre dengan suara baritonnya.
Ares mengangguk. "Aku sudah meminta ayahku untuk menghalangi niat buruk Black Phanter pada keluargamu. Dan kau sudah mendapatkan informasi rahasia yang kau minta bukan?"
Andre mengangguk. "Terima kasih untuk semuanya. Sudah bertahun-tahun aku dan sekertarisku berusaha mendapatkan info tentang ibuku. Namun tidak berhasil. Hmm ... Cukup sekali menjetikkan jari, ayahmu langsung mendapatkan informasi itu."
Memang seorang mafia seperti Tuan Hades sangat luar biasa, batin Andre.
Ares menarik nafas panjang. Wajah tampannya terlihat sedikit resah.
"Dan apa yang diinginkan ayahmu sebagai imbalannya?" tanya Andre yang sangat paham bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Ia dapat menebak jika Tuan Hades pasti meminta imbalan besar pada Andre hingga Ares terlihat kurang nyaman membicarakannya.
"Andre, kuharap kau tidak marah atau membenci ayahku setelah aku mengatakan hal ini."
"Katakan saja, Ares." Andre sudah siap mendengar permintaan Tuan Hades.
Ares menggigit bibirnya. Terlihat masih ragu.
"Apakah Tuan Hades mau minta saham Ariandono Group? Katakan saja, Tuan Hades mau berapa persen?" tanya Andre yang sudah siap memberikan 5 persen sahamnya, menukar dengan keselamatan keluarga kecilnya dan informasi rahasia yang sudah diberikan Tuan Hades.
"Ayahku tidak menginginkan sahammu, Andre. Tapi lebih dari itu." Ares merasa sungkan mendengar pertanyaan Andre. Terlihat jika ayahnya adalah seorang mafia yang tidak mau rugi sedikit pun dan terlihat rakus.
"Aku tidak punya sesuatu yang bernilai lebih tinggi daripada saham Ariandono Group," balas Andre bingung.
"Apakah ayahmu ingin kedua tangan dan kakiku?" tanya Andre sambil melihat anggota tubuhnya yang berharga.
Ares menggelengkan kepalanya. "Ayahku tidak menginginkan tubuhmu. Tapi ...."
"Tapi apa, Ares?" tanya Andre penasaran.
"Putramu. Ayahku ingin putramu bertunangan dengan putriku setelah putriku dilahirkan," jawab Ares lemas.
"Bagaimana mungkin seorang bocah laki-laki berusia lima tahun bertunangan dengan seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkan? Ini benar-benar sudah gila," gumam Ares yang tidak rela putrinya yang masih bayi sudah ditentukan nasibnya oleh sang kakek.
Andre yang mendengar gumaman Ares, terhenyak kaget hingga mundur beberapa langkah. "Apakah tidak ada imbalan lain yang bisa kuberikan untuk menggantinya?"
Ares menggelengkan kepalanya. "Maaf, Andre. Aku bahkan sudah menawarkan hal lain yang lebih besar dari lima persen saham Ariandono Group pada ayahku. Tapi beliau tetap kekeh pada pendiriannya. Aku bahkan diancam akan dicoret dari daftar keluarga, dilarang menemui ibuku, Hera dan dua adikku (berbeda ibu), Nicole dan Nicholas jika tidak mau menuruti keinginannya."
Ares mengacak-acak rambutnya. Frustasi dengan ancaman dan tuntutan ayahnya.
"Ares, kalau hanya bertunangan, kurasa itu bukan perkara yang sulit. Tapi menjaga pertunangan itu sampai mereka dewasa dan berkomitment untuk menikah nantinya, itulah yang sulit. Aku tidak yakin apakah putraku akan jatuh cinta, menikahi putrimu dan hidup berbahagia jika mereka dijodohkan dari kecil seperti ini," jelas Andre.
Manik mata Ares terbelalak mendengar ucapan Andre.
"Andre, kau sangat cerdas. Ayahku tidak pernah mengatakan kalau putramu harus menikahi putriku setelah mereka dewasa. Ayahku hanya meminta mereka bertunangan saat kecil. Itu berarti putra putri kita bisa membatalkan pertunangan mereka jika saat dewasa, mereka tidak mau melanjutkannya. Jadi untuk saat ini, lebih baik kita tunangkan mereka. Setelah mereka dewasa, barulah mereka diminta menentukan. Mau lanjut atau dibatalkan?" ucap Ares dengan senyum kemenangan berhasil memecahkan masalah pelik dalam sekejab.
Andre tersenyum. Pria tampan di hadapannya ini punya seribu akal untuk melihat celah perjanjian yang dibuat bersama dengan ayahnya.
Andre mengulurkan tangannya. "Kita rahasiakan hal ini dari istri-istri kita sampai Athena melahirkan bayi kembarnya. Siapa tahu hasil USG salah. Athena sedang mengandung dua putra kembar. Bukan kembar putra dan putri."
Ares menganggukkan kepalanya dan menjabat uluran tangan Andre. "Aku akan segera menghubungi ayahku. Setelah itu, kita segera berangkat ke Surabaya."
"Terima kasih, Ares." Andre menghela nafas lega. Untuk sementara hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melindungi Kinan dan Rimba. Menyingkirkan nama Black Panther dari list pembunuh bayaran yang mengincar anggota keluarganya.
***
Langit sudah mulai menghitam saat Andre, Ares dan Kinan sampai di depan rumah dokter Song Hwa.
Rumah yang bernuansa warna putih dengan aksen biru tua di pintu dan panel jendela. Tamannya terlihat begitu mempesona, dipenuhi tumbuhan mawar berwarna putih.
Mereka bertiga berjalan masuk ke teras rumah dokter Song Hwa. Andre sudah menelepon dokter Song Hwa dan mengabarinya kalau Andre bersama istri dan sahabatnya akan datang ke rumah dokter Song Hwa.
Kriet! Pintu biru itu terbuka. Muncul sesosok wanita yang sangat cantik dan anggun dari balik pintu. Mengenakan pakaian serba putih yang membuatnya terlihat masih terlihat muda walaupun umurnya sudah hampir kepala lima.
"Andre!" ucap dokter Song Hwa bahagia begitu melihat pria tampan ini datang ke rumahnya, bukan bertemu di ruang praktek kliniknya yang ada di rumah sakit, seperti yang sering mereka lakukan tiap bulan.
Tanpa ragu Andre memeluk tubuh wanita cantik di hadapannya. "Apakah sekarang aku boleh memanggilmu Ibu, Dokter Song Hwa?"
Seketika tubuh dokter Song Hwa membeku dalam pelukan Andre. "Darimana kau tahu kalau aku adalah ibu kandungmu?"
"Sahabatku yang memberitahukannya, Bu. Maafkan aku tidak mengenalimu sebagai ibuku. Padahal aku tahu kau sangat menyayangiku lebih dari sekedar pasien." Andre melepas pelukannya dan menghapus air mata yang meleleh di pipi dokter Song Hwa.
"Jangan pernah merasa bersalah, Andre. Ayahmu tidak ingin kau tahu bahwa aku adalah ibumu sampai kau sendiri yang mencari tahu. Dan sesuai perkiraan ayahmu, kau pasti datang kemari untuk mencari harta warisannya. Harta warisan yang dapat dipakai untuk mengalahkan ibu dan adik tirimu," ucap dokter Song Hwa sambil menyusut air matanya. Menenangkan pikirannya agar tidak larut dalam kesedihan. Ada hal lain yang lebih penting sekarang.
"Apakah Ayu Sekar berniat mencelakai Kinan dan Rimba?" tanya dokter Song Hwa sambil memandang wanita cantik dan anggun di sebelah putranya. Kinan Lee, mantan mahasiswanya yang telah menjadi menantunya beberapa hari lalu. Begitulah informasi yang ia dapat dari kakaknya. Profesor Rudolph.
Dokter Song Hwa menghampiri Kinan dan memegang kedua belah tangannya. Kinan terlihat masih sangat kaget dengan ucapan Andre. Ternyata dokter Song Hwa adalah ibu kandung Andre.
"Maaf, Dokter. Seharusnya saya lebih cepat memberitahu Kak Andre bahwa Rimba sudah berhasil menemukan delapan angka titik koordinat dari sayembara teka teki angka. Sehingga kalian berdua lebih cepat bertemu," sesal Kinan.
Dokter Song Hwa menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bersalah Kinan. Kau sudah banyak berkorban untuk puteraku."
Dokter Song Hwa kembali terngiang ucapan kakaknya, Profesor Rudolph yang sudah mengorbankan masa depan Kinan Lee agar putranya, Raden Andre Ariandono menjadi manusia normal. Bukan manusia idiot lagi.
"Saya mencintai putra Anda, Dokter. Dan sekarang saya bahagia hidup bersama dengannya," balas Kinan langsung memeluk dokter Song Hwa dengan penuh kasih sayang.
Kinan mengerti semua ucapan dokter Song Hwa. Dan memang Kinan tidak pernah menyesali keputusannya bersama Andre enam tahun yang lalu. Entah itu terjadi karena campur tangan Profesor Rudolph atau karena garis takdirnya. Kinan tidak menyesal bertemu Andre.