
Bab 10
Sesampainya di rumah, Kinan melihat Rimba dan Tina sudah bangun. Mereka sedang bersantai menonton televisi.
"Bunda, acara televisinya bagus sekali. Rimba suka," celetuk Rimba di sebelah Tina.
Kinan tersenyum melihat keasyikan Rimba menonton film kartun. Persis seperti Kak Andre yang suka nonton film kartun, batin Kinan.
"Ayo sarapan dulu, Rimba. Jangan lupa diminum susunya," ucap Kinan dari arah meja makan.
"Baik, Bunda. Rimba ingin sekali mencoba susu sapi. Di hutan kan tidak ada sapi yang daapt diperah susunya," balas Rimba.
Kinan tersenyum dan menyorongkan piring berisi sandwich dan semangkuk sereal cokelat ke hadapan Rimba. Sementara Tina dengan cekatan mengupas pisang dan melahapnya dengan anggun seperti layaknya manusia makan.
"Rimba, habiskan sarapanmu. Setelah itu pergilah menonton televisi dengan Tina. Bunda mau menelepon Bu Ariani. Orang yang selama ini sudah membantu nenek Rimba dan membayar Bu Erna untuk merawat rumah ini," ucap Kinan.
"Baik, Bunda." Rimba kembali mengunyah sandwichnya dengan cepat.
Kinan mengambil gagang telepon rumah dan menelepon ponsel Bu Ariani.
"Selamat pagi, apakah ini Bu Ariani?" tanya Kinan.
"Ya, saya Ariani. Siapa ini?"
"Saya Kinan Lee. Putri dari Levi Lee. Saya dengar dari Bu Erna, tetangga saya, bahwa Bu Ariani sudah memindahkan ibu saya ke panti jompo. Apa nama panti jomponya? Saya ingin bertemu ibu saya," jawab Kinan.
"Oh, Tuhan. Apakah kau benar-benar Kinan Lee?" tanya Ariani tak percaya Kinan Lee telah kembali ke Surabaya dengan selamat.
"Iya, benar, Bu. Memang ada apa, Bu?" Kinan terperanjat dengan nada suara Bu Ariani.
"Saya sudah lama mencarimu, Kinan. Saya adalah adik tiri dari Raden Andre Ariandono. Saya diminta Andre untuk mencarimu. Namun kamu menghilang. Saya hanya bertemu dengan Bu Levi. Dan karena Bu Levi sakit, saya memindahkannya ke panti werdha Surya. Di sana Bu Levi dirawat dengan baik. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Kinan," jawab Ariani di seberang.
Deg! Jantung Kinan langsung berdebar kencang.
Kak Andre, ternyata kau tidak berbohong. Kau tidak melupakanku. Kau benar-benar mencariku setelah urusanmu selesai. Sayang, kita tidak sempat bertemu, batin Kinan.
"Hallo, hallo, Kinan! Apakah kau mendengar suaraku? Aku akan segera menjemputmu dan membawamu ke rumah Andre. Karena Andre sekarang sedang di luar negeri. Tapi aku pasti akan mengabarinya. Bahwa kau sudah kembali ke rumah dengan selamat," ucap Ariani.
"Baik, terima kasih banyak, Bu Ariani."
"Jangan panggil aku, Bu. Panggil saya aku Ariani."
"Baiklah. Ariani. Aku akan menunggu kedatanganmu," ucap Kinan kemudian menutup panggilan telepon.
Hati Kinan berbunga-bunga, senyum ceria tersungging di bibirnya.
Sungguh beruntung sekali, Kak Andre masih mengingatku. Dan Kak Andre baik-baik saja. Ariani berjanji akan segera mengabari Kak Andre. Kuharap kita akan segera bertemu, batin Kinan.
"Rimba, Rimba, kemarilah, Nak. Sebentar lagi, bibi Rimba akan datang menjemput kita semua dan membawa kita ke rumah ayah Rimba. Tapi ayah Rimba sedang di luar negeri, jadi kita belum dapat bertemu dengannya," jelas Kinan pada putra tunggalnya.
"Yes! Yes! Yes." Rimba langsung bersorak kegirangan. "Tidak apa-apa, Bunda. Rimba akan menunggu kedatangan ayah dengan sabar."
"Terima kasih, Rimba. Kau adalah anak yang sangat pengertian." Kinan mengusap lembut pucuk kepala putranya.
Setengah jam kemudian, Ariani, adik tiri Kak Andre datang. Gadis yang cantik, menarik dengan tutur kata yang sopan dan sangat anggun. Sekali lihat, Kinan langsung terkagum-kagum.
Memang keturunan ningrat itu berbeda, sangat luar biasa pesonanya. Sama seperti Kak Andre, batin Kinan.
"Hai, apakah kau Kinan Lee?" tanya Airiani setelah bertemu Kinan.
Cukup lama Ariani memperhatikan Rimba. Manik matanya melebar menunjukkan kekagetan yang luar biasa seperti melihat kakak tirinya dalam wujud lebih kecil dan lebih muda.
Tidak perlu melakukan tes DNA. Melihat 99 persen kemiripan Rimba dengan Kak Andre, aku yakin kalau Rimba berdarah Ariandono, batin Ariani.
"Oh, Tuhan. Kau putra kakakku? Pantas saja wajah kalian begitu mirip, pasti kau keponakanku," ucap Ariani langsung memeluk Rimba dan pura-pura menangis haru. Ia tidak menyangka kalau Andre sudah menanamkan benihnya pada Kinan sebelum Kinan pergi menghilang.
Pantas saja Kak Andre begitu getol mencari Kinan. Ternyata Kak Andre sudah pernah memadu kasih bersama Kinan hingga Kinan mengandung dan melahirkan seorang putra. Ini tidak boleh dibiarkan. Kedatangan Kinan dan Rimba ke Surabaya dapat mengancam kedudukanku sebagai ahli waris Kak Andre. Aku harus memisahkan mereka dari Kak Andre. Jangan sampai mereka bertemu Kak Andre atau aku hanya akan memperoleh sedikit harta warisan. Aku harus memiliki semua yang dimiliki Kak Andre. Karena aku adalah adiknya. Mereka berdua adalah orang luar yang tidak seharusnya mendapatkan milik Kak Andre, batin Ariani.
Sinar mata Ariani sesaat berubah menjadi jahat dan licik. Namun cepat-cepat berubah lagi menjadi lembut dan pura-pura menyayangi Rimba. Keponakannya.
Rimba dan Tina yang memiliki insting tajam dan melihat perubahan sinar mata Ariani langsung tidak menyukai Airiani.
"Bunda, Bibi Ariani ini bukanlah manusia yang berhati mulia dan tulus. Seperti sedang bermuka dua di hadapan Bunda. Bunda harus berhati-hati padanya," bisik Rimba di telinga Kinan, begitu lepas dari pelukan Ariani.
Aish! Rimba ini aneh-aneh saja. Baru saja berkenalan dengan Ariani, kok sudah berpikir Ariani jahat dan bermuka dua. Selama kejahatan Ariani tidak terbukti, aku tidak akan mempercayai perkataan Rimba. Ariani begitu baik, tidak mungkin dia berbuat jahat kepadaku dan Rimba, batin Kinan.
"Iya, Bunda akan waspada," bisik Kinan lirih.
"Kinan, apakah kita sudah bisa berangkat ke runah Andre sekarang?" tanya Ariani.
Kinan mengangguk dan menggandeng tangan kecil Rimba. Sementara Tina bergelanyut manja di bahu Rimba.
Mereka semua pun segera pergi meninggalkan rumah mungil Kinan, naik mobil milik Ariani. Menuju ke rumah Andre. Rumah dua lantai dengan gaya minimalis yang sangat bagus dan indah. Jauh lebih besar dan megah daripada rumah mungil Kinan. Ruang tamu, ruang keluarga dan dapur ada di lantai satu, sementara kamar Kinan dan Rimba ada di lantai dua.
"Wow, kamar Rimba bagus banget, Bunda," ucap Rimba saat membuka sebuah kamar tidur dengan wallpaper warna biru lembut dan interior minimalis warna putih.
Ariani tersenyum bangga mendengar pujian Rimba. Design interior rumah ini memang luar biasa. Siapa saja pasti terpesona. Apalagi dua manusia yang sudah lama tinggal di pulau asing, batin Ariani.
"Kinan, di dalam lemari sudah ada baju untukmu dan Rimba. Di dapur juga sudah tersedia bahan pangan yang cukup. Oh ya, di laci meja kamarmu juga ada ponsel. Kau dapat memakainya untuk berkomunikasi denganku. Apakah kau butuh sesuatu lagi?" tanya Airiani takut Kinan masih butuh sesuatu yang lain.
"Ehm, apakah di dekat sini ada sekolah yang bagus?" tanya Kinan yang ingin menyekolahkan Rimba di sekolah terbaik agar Rimba dapat bergaul dengan manusia seumurnya. Bukan hanya dengan hewan-hewan di hutan.
"Ada. Rimba ingin sekolah ya? Kalau begitu aku akan mendaftarkan Rimba sekolah secepatnya. Kau tidak perlu khawatir,.Kinan. Aku akan mengurus semuanya," jawab Ariani.
"Terima kasih, Ariani. Kau banyak membantuku," balas Kinan.
"Apakah ada kebutuhan lain, Kinan?" tanya Ariani sambil membuka dompetnya lalu menyodorkan sebuah kartu atm pada Kinan.
Kinan membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Ariani akan membantu keuangannya sebelum Kinan mandiri dan dapat mencari nafkah sendiri untuk mencukupi kebutuhannya dan Rimba.
"Tidak perlu sungkan. Kartu ini dari Kak Andre. Kau dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu dan Rimba. Kuharap kau mau menerimanya," ucap Ariani sambil menarik tangan Kinan, membuka jari jemarinya dan meletakkan kartu atm ke dalam tangan Kinan.
"Terima kasih, Ariani. Kau banyak membantuku," balas Kinan. Untuk memulai hidup di salah satu kota terbesar di Indonesia tidaklah mudah. Uang hadiah dari Kapten Budi tidak akan cukup untuk bertahan sampai Kinan dapat bekerja kembali sebagai dokter hewan.
"Sama-sama. Kalau kau perlu sesuatu, hubungi saja aku. Aku dengan tulus akan membantumu," ucap Ariani.
Rimba menjulurkan lidahnya di belakang punggung Ariani. "Dasar tukang bohong!" ucap Rimba pelan.
Kinan yang melihat ulah Rimba, buru-buru menggiring Ariani keluar kamar Rimba. Agar Ariani tidak kecewa dengan sikap Rimba dan Tina yang tidak mempercayai ketulusan hatinya.
"Ariani, karena Andre masih di luar negeri, aku bermaksud untuk bekerja sebagai dokter hewan lagi. Agar aku tidak terus merepotkanmu. Hmm ... Sepertinya garasi rumah ini dapat kupakai menjadi klinik hewan. Apakah kau setuju?" tanya Kinan.
Ariani tersenyum. "Tentu, kau boleh membuka klinik hewan di sini. Aku akan memfasilitasi perlengkapan dan peralatannya. Tak perlu khawatir."
"Terima kasih banyak, Ariani." Kinan menggenggam tangan Ariani dengan hangat. Dengan cepat mereka pun menjadi akrab.