
Dua bulan yang lalu.
Leony sedang bekerja di dapur Hades Mansion. Ia baru saja meletakkan potongan nangka di atas soursoup pannacotta yang sebelumnya disiram avocado english cream dan strawberry compote.
"Piring terakhir siap dihidangkan," seru Leony pada seorang pelayan agar segera mengangkat piring berisi dessert deconstructed es Manado. Untuk segera disajikan ke atas meja makan keluarga Ariandono dan keluarga besar Princess, tunangan sahabatnya.
Plok! Plok! Plok! Tepuk tangan kecil Leony tepukkan setelah berhasil meneyelesaikan tugasnya sebagai chef malam ini.
"Akhirnya finish juga! Semoga mereka semua menyukai masakanku." Leony tersenyum puas kembali membaca daftar menu yang berhasil ia sajikan malam ini.
Semuanya adalah masakan Indonesia yang naik kelas menjadi makanan bernilai international setelah dimodifikasi menjadi lebih modern dan ditata cantik di atas piring oleh Leony.
"Maaf, Chef Leony. Maaf mengganggu. Pak David, asisten Tuan Hades mengatakan bahwa ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan chef yang memasak hidangan lezat malam ini," ucap seorang pelayan yang baru saja masuk ke dapur setelah mengantarkan makanan terakhir.
Leony tersenyum ramah. "Baik, antarkan aku menemui tamu tersebut."
Leony kembali teringat beberapa tamu restoran tempat Leony bekerja, kadang-kadang memang ingin bertemu dengannya setelah makanan penutup disajikan. Untuk mengucapkan banyak terima kasih sekaligus melontarkan pujian atas kelezatan masakan Leony. Lalu ditutup dengan janji manis akan bertandang lagi ke restoran untuk bersantap malam. Semuanya adalah suatu kehormatan dan kebahagiaan tak terkira yang pernah diterima Leony.
Mungkin saja tamu di Hades mansion yang juga ikut bersantap malam juga akan melakukan hal yang serupa. Mengucapkan terima kasih dan memberinya pujian, batin Leony.
"Mari, silahkan, Chef." Pelayan mengangguk dan mempersilahkan Leony berjalan lebih dahulu keluar dapur. Kemudian memandunya ke arah belakang Hades mansion.
Melewati jalan setapak kecil menuju sebuah paviliun dengan konsep rustik. Tampilan depan paviliun didominasi oleh elemen alam seperti kayu dan bebatuan.
Hampir seluruh dinding luar eksterior paviliun ditutupi papan kayu. Kemudian batu alami dibuat seolah menjadi frame pintu utama mempercantik tampilan keseluruhan paviliun ini.
Konstruksi paviliun dibuat dengan gaya persegi sehingga menampilkan kesan modern yang khas. Beberapa jendela kaca dipasang di sisi-sisi rumah semakin menambah kesan modern.
"Paviliun yang sangat keren," gumam Leony.
"Silahkan masuk, Chef." Pelayan membuka pintu dan Leony segera masuk ke dalam paviliun.
"Tamunya ada di ruang makan," imbuh pelayan.
Leony mengangguk dan menuju lokasi tamu berada.
Sekali lagi Leony mengagumi keindahan interior paviliun mungil ini. Mewah dan tertata anggun. Dengan pencahayaan kuning temaram.
"Sepi banget paviliunnya," gumam Leony sambil terus melangkah ke ruang makan. Karena tidak ada orang lain selain dirinya di paviliun ini.
Begitu sampai di ruang makan yang juga minim pencahayaan, nampak seorang pria duduk membelakangi meja makan. Di ujung ruangan.
Pria itu duduk di kursi roda, memandang jauh ke arah jendela kaca. Sayang wajahnya tidak kelihatan karena posisi duduknya berada di tempat yang cukup gelap.
Ketika hendak menyapanya, manik mata Leony membulat terkejut melihat piring-piring di atas meja makan masih berisi hidangan buatannya. Hanya dimakan separuh. Sisa makanannya dari appertizer hingga dessert bahkan belum dibersihkan dari meja makan.
Apakah pria kursi roda itu tidak menyukai masakanku? Kenapa makanan yang kumasak tidak dimakan sampai habis? Apakah rasanya kurang enak? Atau tidak sesuai dengan seleranya? batin Leony gugup dan malu.
"Selamat malam, Tuan. Saya chef Leony," salam Leony memperkenalkan diri.
Tidak ada balasan salam dari pria itu. Dia hanya diam dan membisu di pojok ruangan. Membuat Leony makin gugup, kikuk, malu dan merasa bersalah karena tamu tersebut tidak menyukai masakannya.
Pasti pria itu sedang marah padaku. Sudah dibayar mahal tapi kok mengecewakan pembeli, batin Leony.
"Saya mohon maaf jika masakan saya kurang lezat dan tidak sesuai selera anda, Tuan." Leony membungkuk penuh hormat.
Ada kegetiran dalam hatinya. Selama ini semua tamu restorannya selalu menghabiskan masakannya sampai tandas tak bersisa. Tapi kenapa tamu yang satu ini hanya makan separuh porsi saja?
Pria itu menolehkan kepalanya sejenak. Lalu kembali berpaling memandang jendela di ujung ruangan. Dan Leony lagi-lagi tidak sempat melihat raut wajah pria itu. Apakah pria itu kesal atau sebal padanya?
Ah! Seandainya pria itu mau mengatakan di bagian mana yang kurang sedap dan apa kesalahannya. Leony berjanji akan memasak sekali lagi untuknya secara gratis sebagai permohonan maaf.
Keheningan terus melingkupi ruang makan. Setelah hampir sepuluh menit tidak ada percakapan di antara dua mahluk, Leony memutuskan untuk pamit pergi. Meninggalkan tamu yang membosankan itu dan masuk ke dalam Hades mansion untuk bercakap-cakap dengan Rimba, Princess dan keluarga besar.
"Sungguh tamu yang aneh. Katanya ingin bertemu denganku. Tapi kenapa setelah bertemu, diam saja gak bicara sama sekali. Krik krik banget sih," ucap Leony sedikit sebal sudah dicuekin.
"Hei, Sohibku. Dari mana aja kamu?" tanya Rimba begitu Leony nongol di ruang tamu Hades mansion.
Leony tidak menjawab pertanyaan Rimba. Dia hanya melempar senyum pada Rimba. Dan kemudian terlibat dalam pembicaraan keluarga besar Rimba.
***
Seminggu setelah jamuan makan malam.di Hades Mansion.
"Sudah dicek semua, Bunda? Listrik, air semua sudah dimatikan?" tanya Leony pada Bundanya.
"Sudah, Sayang. Bunda sudah memeriksanya dua kali. Bunda sudah siap berangkat bersamamu ke bandara," jawab Bunda Leony yang sudah berpakaian rapi.
Di belakangnya juga sudah berderet rapi koper-koper besar berwarna gelap. Isinya penuh dengan baju dan beberapa perlengkapan lain yang tidak ingin ditinggalkannya di Surabaya, setelah pindah ke negeri kangguru bersama putrinya.
"Okay. Sebentar lagi ojek online akan datang menjemput kita, Bunda. Nanti kunci rumahnya diletakkan di bawah pot bunga ya, Bunda. Bunda Kinan nanti akan datang mengambilnya. Bunda Kinan berjanji akan mengirim pelayan kemari tiap tiga hari sekali. Untuk bersih-bersih," jelas Leony.
Bunda Leony mengangguk. "Sungguh beruntung sekali, putriku dapat mengenal Rimba dan keluarganya. Mereka sangat baik pada kita. Seandainya saja, Rimba tidak dijodohkan dengan putri tetangganya di Batu, pasti kamu sekarang sudah menjadi istri Rimba."
"Ah ... Bunda mulai lagi deh. Ngomongnya nglantur. Huft! Leony sudah mengikhlaskan Rimba untuk Princess sejak lama, Bunda. Tepatnya ... sejak Leony tahu kalau Rimba ditunangkan waktu usianya masih enam tahun. Sedih tapi bagaimana lagi? Rimba terlihat sangat menyayangi Princess. Karena Princess terlihat seperti Tina. Sahabat Rimba yang rela mati demi Rimba," ucap Leony sambil menguatkan hatinya untuk tidak sedih setiap mengingat peristiwa 22 tahun yang lalu.
Bunda Leony mendengus sedih. Hatinya masih tidak menerima pertunangan Rimba walaupun sudah 22 tahun berlalu.
Tin! Tin! Tin! Terdengar suara klakson mobil ojek online yang sudah nongkrong di depan rumah Leony.
"Buruan, Bunda. Ojek onlinenya udah datang. Ayo!" Leony segera membuka pagar. Supir ojek online dengan sigap membantu Leony memasukkan semua koper-koper ke dalam bagasi mobil.
"Terima kasih, Pak." Leony segera masuk ke dalam mobil bersama ibunya. Duduk dengan santai dan melupakan perbincangan mereka sebelumnya.
"Ke bandara, Nona?" tanya supir ojek online ramah.
"Benar, Pak."
"Baik, Nona." Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal Leony.
"Kok lewat sini, Pak?" tanya Leony bingung melihat rute perjalanannya ke bandara tidak lewat jalan biasanya.
"Ini jalan tembus, Nona. Akan lebih cepat lewat sini daripada jalan biasanya. Macet."
Leony mengangguk. Terserah deh. Yang penting nyampe. Perlahan rasa kantuk menyusup dan membuat Leony tertidur di samping bundanya yang sejak tadi sudah masuk ke alam mimpi.