CEO'S Prince

CEO'S Prince
Wanita Hanya Ingin Dicintai



Di dalam kamar Kinan.


"Tina, Rimba haus. Mau ambil minum di bawah," ucap Rimba pada Tina sebelum keluar kamar. Tina membalas dengan anggukan dan Rimba segera keluar kamar.


Rimba melihat Rendra keluar dari kamar ayahnya sambil menarik dua trolley koper besar. "Om Rendra, ngapain bawa koper?"


Rendra berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Begitu manik matanya melihat hanya ada Rimba di belakangnya, hati Rendra langsung lega.


Jari telunjuk Rendra langsung diletakkan di tengah-tengah bibirnya. "Sssttt! Jangan keras-keras ngomongnya. Ini rahasia."


Rimba berlari kecil mendekati Rendra. "Rahasia apa, Om? Om mencuri sesuatu dari kamar ayah?" tanya Rimba dengan suara pelan.


Rimba tahu bahwa Rendra bukan pencuri, karena instingnya mengatakan seperti itu. Sengaja saja, ingin iseng mengerjai Rendra.


"Ayahmu mau kabur keluar negeri," jawab Rendra seenaknya karena sebal dikira pencuri.


"Kabur? Kenapa? Karena Rimba nakal ya?" tanya Rimba dengan raut sedih. Pelupuk matanya langsung penuh dengan kristal bening. Siap menetes jika Rendra tidak meralat ucapannya dan mengatakan yang sebenarnya.


Rendra berjongkok di dekat Rimba langsung memeluk Rimba, sebelum luapan sungai air mata membanjiri koridor lantai dua dan suara keras Rimba mengundang pelayan datang mendekati mereka. Bisa runyam, rahasia yang harus disembunyikan malah terbongkar. "Please jangan nangis, Pangeran Hutan. Maafkan saya asal bicara. Ayah kamu tidak berniat kabur kok. Hanya akan pergi beberapa hari ke luar negeri."


"Ayah mau kemana? Om Rendra juga ikut? Kenapa Rimba tidak diajak?" tanya Rimba bertubi-tubi sambil menyusut riak air di pelupuk matanya.


"Om Rendra ikut dong. Tapi Rimba di rumah aja menemani bunda dan Tina. Kasihan bunda dan Tina jika ditinggal di rumah sebesar ini, mereka bakal kesepian kalau tidak ada anak seimut dan selucu Rimba," jawab Rendra yang sengaja tidak mau memberitahu tujuan kepergian Andre kali ini. Pokoknya ke luar negeri. Titik tiada koma.


"Rimba, kalau ada pelayan atau siapapun bertanya tentang ayah yang tidak ada di rumah, jangan dijawab ya. Pura-pura saja tidak tahu. Nanti Om Rendra bawakan oleh-oleh yang banyak," bujuk Rendra supaya rahasia kepergian Andre hanya diketahui Rimba.


"Om Rendra mau kemana sih memangnya?" Rimba merajuk ingin tahu kemana ayahnya akan pergi sampai mengerucutkan mulutnya dengan kesal. "Kalau Om Rendra tidak mau ngomong, Rimba teriak kalau di sini ada pencuri ya?"


Aish! Mulai ngambek dan berani mengancam nih, anak. Daripada makin parah ngambeknya, lebih baik diberi tahu saja deh. "San Fransisco," bisik Rendra lirih di daun telinga Rimba.


"Mau ngapain di sana?" tanya Rimba lagi.


"Bisnis," jawab Rendra singkat. Duh ini anak, nanya terus sih.


"Penting sekali ya bisnisnya?" tanya Rimba.


"Ya, pentiiing banget lah. Kalau tidak penting banget, buat apa Om mengendap-endap keluar dari kamar Pak Andre dan minta hal ini dirahasiakan dari orang-orang? So please, Rimba, jangan ngomong-ngomong ke orang lain ya. Jaga rahasia ini baik-baik," jawab Rendra.


Rimba mengangguk. "Kapan penerbangannya berangkat?"


"Tengah malam," jawab Rendra cepat.


Rimba mendengus kesal. "Cepat pulang, Ayah. Jangan membuat Rimba dan Bunda kembali merindukanmu lagi."


***


Di ruang kerja Andre.


Andre menutup laptopnya setelah berkirim email dengan sekertaris salah satu pemegang saham besar Ariandono Group di San Fransisco.


Andre bernafas lega, hampir semua orang yang ada dalam list pemegang saham di benua Amerika, sudah ia kontak siang tadi. Beberapa di antara mereka sudah membalas email, mengirim surat kuasa yang sudah ditanda tangani, distempel resmi, disaksikan pengacara, menyatakan bahwa mereka setuju mendukung Andre sebagai CEO Ariandono Group.


Tersisa dua pemegang saham besar, sahabat ayahnya yang masih belum berhasil dikontak. Dan Andre memutuskan untuk terbang ke San Fransisco menemui mereka. Ya, jauh lebih sopan, menemui langsung kedua sahabat ayahnya jika ingin meminta dukungan secara penuh.


Andre menghembuskan nafas dalam-dalam. Perlahan bangkit dari kursi yang ia duduki. Melangkah keluar menuju balkon di depan ruang kerjanya. Berniat mencari angin segar untuk meredakan hatinya yang gundah gulana. Ada sebuah masalah yang belum ia selesaikan sebelum pergi ke bandara. Masalah apalagi? Tentu saja masalahnya dengan Kinan, malaikat penolong Andre.


Manik mata Andre memandang jauh, melihat remang-remangnya cahaya lampu halaman belakang. Dan dari tempatnya berdiri, Andre dapat melihat sosok cantik malaikat penolongnya ada di dalam rumah kaca. Duduk sendirian di depan kolam air mancur.


"Sedang apa Kinan di sana? Bukankah seharusnya Kinan sedang mendiskusikan permintaanku dengan Rimba di kamarnya? Kenapa malah seperti termenung sedih seorang diri di rumah kaca? Apa ada masalah lain yang tidak kuketahui?" gumam Andre. Cepat-cepat Andre keluar dari balkon ruang kerjanya. Menuju rumah kaca yang ada di halaman belakang.


Klik! Andre membuka pintu ruang kaca, masuk tanpa suara mendekati kolam air mancur yang sangat menyegarkan. Mengamati Kinan, menangis sambil memeluk kedua kakinya di atas kursi kayu panjang. Isak tangisnya terdengar begitu menyedihkan dan sangat pilu.


Kaki panjang Andre terayun menyapu jarak di antara mereka berdua. Jemari tangan Andre dengan gemulai mengusap surai cokelat rambut Kinan. Lalu menyandarkan tulang ekornya di sebelah wanita cantik yang sedang menumpahkan semua kepedihan hatinya.


"Singkirkan tanganmu dari kepalaku, Kak." Kinan menengadah dengan mata merah menyalak marah.


"Jangan menyentuhku jika memang hubungan antara kita berdua hanya sebatas penolong dan pihak berhutang. Mulai sekarang jangan pedulikan aku lagi. Besok aku akan pulang ke rumah ibuku. Kita tidak perlu bertemu lagi. Dan Kakak juga tidak perlu khawatir, aku akan mengurus Rimba seorang diri. Aku tidak butuh Kakak." Nada suara Kinan begitu ketus.


Pukulan telak langsung menghujam ke tulang sunsum Andre. Seumur hidup hanya ibu tirinyalah yang paling kasar dan jahat dalam bertutur kata. Namun ternyata malaikat penolong yang ia kagumi selama ini, juga sangat galak, sanggup memukul perasaan Andre hingga terluka, dalam sekali pukul.


"Kinan, ada apa denganmu?" tanya Andre langsung mencengkeram lengan tangan Kinan. Cukup keras hingga membuat Kinan mengernyit kesakitan. Bilur merah berbentuk ruas jari Andre mulai membias di lengan putih mulus Kinan.


"Aku membencimu!" Kinan menghentakkan lengan tangannya dengan keras, berharap Andre melepaskan cengkeramannya yang tajam menembus kulit putih Kinan.


"Benci? Kenapa membenciku? Apa aku ada salah ucap kepadamu?" tanya Andre segera melepas cengkeramannya dan memeluk tubuh ramping Kinan. Ia benar-benar tidak ingin Kinan membenci dirinya, pergi meninggalkannya sembari membawa Rimba.


Jangan pernah tinggalkan aku lagi, aku mulai menyukai kehadiranmu dan Rimba di sisiku. Begitu hangat seperti sebuah keluarga yang saling membutuhkan, batin Andre.


"Katakan! Katakan dimana kesalahanku padamu? Apakah kau tidak suka kalau aku hanya menganggapmu sebagai malaikat penolongku? Kau ingin hubungan kita lebih dari itu?" tanya Andre dengan sabar. Ia mulai dapat mengurai simpul masalah yang membuat Kinan murka hingga sanggup berkata begitu sadis.


Akhirnya, Andre mengerti juga perasaan Kinan. IQ 160 jangan sampai so stupid, gak ngerti-ngerti maunya wanita itu apa. Aish! Wanita itu hanya ingin dicintai, dilegalkan hubungannya, biar lebih pasti ke arah mana langkahnya di masa depan. Benar begitu kan?