CEO'S Prince

CEO'S Prince
Bungaku Sudah Mati



Di kantor Group Ariandono.


Andre membalik kertasnya hingga tertutup sambil mendengus kesal. Sudah hampir sejam ia berkutat dengan cara memecahkan teka teki angka yang ia jadikan sayembara dengan hadiah fantastis. Kertas di hadapannya juga sudah penuh dengan coretan rumus-rumus dan angka. Tapi masih belum berhasil juga menemukan cara apa yang dipakai untuk memecahkan teka teki. Padahal ia sudah mencobanya berulang kali.


"Huh! Kenapa susah sekali?" gerutu Andre padahal ia sudah bukan idiot lagi. Tapi seorang pria jenius dengan IQ 160. Sama dengan IQ Albert Eistein. Tapi kenapa gagal melulu.


"Ini minumannya, Pak. Jus strawberry dengan sedikit es dan gula. Diminum dulu, Pak. Lalu lanjut memecahkan teka tekinya lagi," ucap Rendra sambil menyodorkan sebuah minuman dingin berwarna merah.


Andre mengambilnya dan menyedot isinya hingga kepalanya berdenyut pusing karena es batu yang ada di dalam minumannya terlalu dingin.


Tes! Tes! Tes!


Tiba-tiba gelas plastik minuman Andre berwarna merah. Jemari tangan Andre terulur ke hidungnya dan menghapus cairan merah yang mengalir turun mengotori benda yang sedang dipegangnya.


"Mimisan! Bapak mimisan!" seru Rendra buru-buru mencari tissue untuk atasannya. Lalu menyodorkan beberapa helai tissue ke hadapan bos dingin super workaholic.


"Bapak sih terlalu keras bekerja, sering lembur pula makanya sampai mimisan begini," ucap Rendra tanpa sadar, langsung membuat Andre menaikkan alis matanya. Tanda tak suka dengan kekurang ajaran sekertarisnya dalam bertutur kata.


"Maaf, maaf, Pak. Maksud saya, lebih baik Bapak segera beristirahat di rumah Bapak. Lagipula ini sudah hampir pukul sembilan malam, Pak. Biar saya yang menyelesaikan tugas-tugas yang belum Bapak selesaikan," tutur Rendra sambil membungkukkan badannya, memohon pengampunan. Daripada dipecat, lebih baik segera minta maaf. Paling-paling hanya dipotong gaji sedikit.


"Rendra, sekali lagi berbicara tidak sopan pada saya, saya potong gajimu separuh. Bukan satu persen lagi," geram Andre dengan sorot mata dingin.


Potongan gaji 50%? Benar-benar terlalu berlebihan deh Pak Andre ini! Hanya menasehati saja, kenapa dipotong separuh gaji? Bisa-bisa aku menunggak cicilan rumah mewah dan mobil mewah yang baru saja aku beli. Aish! batin Rendra.


"Saya tidak akan mengulanginya lagi, Pak." Tubuh Rendra langsung mengkerut.


"Bagus," sahut Andre. Menjadi atasan kadang-kadang perlu sedikit kejam agar bawahan tunduk dan menurut.


"Ehm ... Pak Andre, jika anda kurang sehat, apakah saya perlu mempercepat jadwal pemeriksaan kesehatan Bapak di rumah sakit? Seharusnya Bapak menemui dokter penyakit dalam dan dokter syaraf otak lusa. Tapi kalau Bapak ingin memajukan jadwal pemeriksaannya menjadi besok, saya akan segera memgatur ulang jadwal Bapak," tanya Rendra yang ingin memperbaiki situasi canggung ini dengan memberi perhatian lebih kepada atasannya.


"Tidak perlu. Aku akan ke rumah sakit sesuai jadwal saja," jawab Andre tak ingin merepotkan sekertarisnya lagi. Toh juga hanya beda satu hari saja. Jadi tidak masalah jika menemui dokter dua hari lagi.


"Baik. Oh ya, Pak Andre. Saat saya mengambil pesanan jus strawberry di lobby, saya menerima telepon dari pelayan rumah Nona Ariani. Katanya Nona Ariani sekarang sedang diopname di rumah sakit karena sakit maagnya kambuh. Sepertinya karena terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini," ucap Rendra.


"Banyak pikiran? Yang benar saja kau, Rendra. Mana mungkin Ariani punya banyak pikiran. Kegiatannya sehari-hari cuma duduk-duduk santai, belanja online shop dan jalan-jalan kalau dia bosan. Pasti kamu asal bicara," balas Andre sinis.


"Bukan kata saya, Pak Andre. Tapi kata pelayan rumah Nona Ariani. Beberapa hari ini Nona Ariani suka marah-marah sendiri, membanting barang-barang mahal, kadang suka melamun, kadang seperti orang ketakutan, Pak." Rendra membela diri supaya tidak dipotong gaji karena salah analisis.


"Kalau begitu pesan dua buket bunga mawar biru. Aku akan menjenguk Ariani sekaligus kontrol kesehatan di rumah sakit. Aku akan menanyakannya pada Ariani. Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sampai dia uring-uringan seperti itu," ucap Andre.


"Baik, Pak. Satu buket untuk Nona Ariani dan satu buket untuk dokter penyakit dalam, dokter Song Hwa. Dokter kesayangan Pak Andre." Rendra segera mencatatnya dalam note di gadgetnya.


"Bagus. Sekarang next topic. Jawab pertanyaan saya dengan jujur," tukas Andre dengan nada dingin seperti es batu di frezer.


Dag dig dug! Jantung Rendra langsung berdetak kencang.


"Jawab jujur! Kalau kau masih berbohong, aku potong gajimu 70%," ancam Andre dengan mata berkilat kejam.


Rendra menggigit bibirnya untuk meredakan ketakutannya.


"Apakah sudah ada orang yang berhasil memecahkan teka-teki angka ini?" tanya Andre dengan wajah kesal.


Rendra tercekat kaget. Sampai kakinya mundur beberapa langkah menjauhi atasannya.


Astaga! Darimana Pak Andre tahu kalau sudah ada orang yang berhasil memecahkan teka teki? batin Rendra.


"Ayo jawab! Jangan diam saja seperti patung!" tukas Andre makin kejam.


"Su-sudah, Pak." Rendra menjawab singkat demgan suara lirih. Khawatir Pak Andre mengomel karena dia merahasiakan berita sepenting ini.


"Lalu kenapa kau tidak segera memberitahuku?" tanya Andre.


"Maaf, Pak. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyembunyikannya dari anda," jawab Rendra.


Kurang asem! Aku lupa meminta Pak Aldwin untuk tidak menceritakan pemenang sayembara pada Pak Andre. Pantas saja sedari tadi Pak Andre galak banget, main potong gaji sampai sebesar itu, batin Andre.


"Dasar! Kemarin aku menelepon Pak Aldwin dan beliau mengatakan bahwa Pangeran Hutan sudah menemukan cara memecahkan delapan kode angka yang tersembunyi pada teka-teki. Sekarang aku sedang berusaha membuktikan apakah delapan kode angka itu benar atau salah. Melalui cara dan rumus matematika yang ditulis Pangeran Hutan, tapi gagal terus. Aish! Aku harus bertemu Pangeran Hutan dan meminta penjelasannya," tukas Andre geram.


"Maafkan saya sekali lagi, Pak. Saya belum dapat menemukan identitas Pangeran Hutan sehingga Pak Andre belum dapat bertemu dan bertanya langsung tentang cara dan rumus matematika Pangeran Hutan. Saya butuh beberapa waktu lagi, Pak." Rendra membungkuk penuh hormat.


"Kumaafkan. Secepatnya dapatkan identitas dan kontak Pangeran Hutan," lanjut Andre.


"Siap, Pak." Rendra membungkuk hormat pada atasannya.


"Jadi tugas yang masih belum kau selesaikan ada dua. Mencari Kinan dan mencari Pangeran Hutan," ucap Andre kembali berkutat dengan teka teki angka.


"Maaf, Pak Andre. Saya sudah berhasil menemukan Kinan Lee," jawab Rendra dengan senyum bangga.


"Apa? Kau yakin, Rendra?" tanya Andre tak percaya.


Rendra mengangguk percaya diri.


"Dimana Kinan sekarang?" tanya Andre gugup. Hatinya berdebar tidak karuan. Membayangkan pertemuannya kembali dengan malaikat penolongnya. Banyak ide cemerlang yang sudah Andre susun untuk membalas kebaikan dokter hewan yang sudah merubah hidupnya menjadi lebih bermakna. Sekarang ia hanya perlu merealisasikan ide-ide cemerlang itu untuk Kinan.


Melihat sinar mata Andre yang berkilat bahagia dan terharu, Rendra jadi salah tingkah. Ia tidak menyangka Andre akan bersikap seperti itu. Padahal berita yang akan disampaikannya adalah berita kurang baik alias berita duka.


"Kinan Lee sudah meninggal baru-baru ini, Pak Andre. Tubuhnya sudah dikremasi dan abunya disimpan di rumah duka Grand Heaven," jawab Rendra lirih.


Seketika itu juga tubuh Andre langsung lemas, sebutir air mata kembali menetes membasahi pipinya.