
Kinan mengelus pipi mulus putranya, mencolek hidung mancungnya dan menatap lekat manik mata bulat yang jernih tanpa dosa. Kinan menggedongnya dengan hati-hati lalu memberinya ASI.
Putra Kinan dengan cepat segera melahap minuman bergizi kaya kolostrum itu. Kinan yang baru pertama kali menyusui bayinya, tertawa geli melihat tingkah laku imut putranya.
"Putraku, kau sungguh pandai dan menggemaskan. Dengan cepat kau langsung minum susu. Hmm ... Kira-kira nama apa yang cocok untukmu?" tanya Kinan pada dirinya sendiri.
"Karena kau lahir di sebuah hutan pulau asing. Aku akan memberimu nama Rimba Lee," ucap Kinan sambil tersenyum bahagia.
Tina bertepuk tangan kegirangan. Tanda bahwa nama yang baru saja Kinan pilih memang tepat untuk putra Kinan yang pandai dan tampan itu.
Setelah perutnya kenyang, Rimba tertidur pulas dalam gendongan Kinan. Kinan meletakkan tubuh mungil Rimba ke dalam sebuah keranjang bayi yang dibuat dari untaian akar dan daun-daun hijau, berhias bunga warna warni.
"Good night, Rimba. Tidur yang nyenyak, Sayang," ucap Kinan dengan lembut.
Tina mendekati keranjang bayi, mengamati Rimba dengan seksama. Lalu tersenyum dan berjalan cepat ke sisi tempat tidur Kinan.
"Ayo kita tidur, Tina. Malam sudah begitu larut. Aku sangat lelah," ucap Kinan sambil memeluk Tina, langsung terkelap dalam mimpi.
Beberapa jam kemudian, kicauan burung di dalam hutan mulai riuh terdengar. Mereka nampak sangat bersemangat menyambut hangatnya sinar matahari yang terbit di ufuk timur. Kinan dan Tina perlahan membuka matanya yang masih mengantuk.
"Hari sudah pagi, Tina. Ayo kita berdoa dulu sebelum mengawali aktivitas hari ini," ucap Kinan dan Tina mulai menghaturkan syukur dan mohon berkat perlindungan dari-Nya.
Setelah berdoa, Kinan segera bangkit berdiri dan melongok ke dalam tempat tidur Rimba. Putranya yang tampan sudah membuka matanya lebar-lebar, namun tidak menangis atau rewel sama sekali.
"Wah, putra Bunda sudah bangun rupanya. Selamat pagi, Rimba," sapa Kinan dengan penuh senyuman.
"Terima kasih sudah begitu pengertian pada Bunda, Rimba. Hingga Bunda dan Tina dapat tidur nyenyak semalam dan bangun dalam keadaan segar bugar. Apakah kau lapar, Rimba?" tanya Kinan sembari menggendong Rimba dan segera memberikan ASI-nya. Rimba dengan lahap segera minum susu dan kembali tertidur setelah perutnya kenyang.
"Uuaa ...." Tina bangkit berdiri dan mulai menyiapkan sarapan. Mengambil persediaan buah-buahan yang disimpan di sebuah kotak kayu. Lalu membawa beberapa macam buah ke hadapan Kinan.
"Terima kasih, Tina." Kinan mengambil sebuah apel hijau dan memakannya dengan lahap. Sementara Tina makan pisang.
Buah-buahan adalah makanan yang biasa Kinan dan Tina makan saat sarapan di pulau asing ini. Pulau yang sangat subur, ditumbuhi dengan aneka pohon berbagai macam buah, umbi-umbian dan tanaman obat-obatan.
Dan setelah memakan buah, umbi dan memetik tanaman yang disediakan oleh pulau asing ini, Kinan dan Tina menanam kembali bijinya, merawat tanaman tersebut. Agar di kemudian hari, biji tersebut tumbuh dan kembali menghasilkan buah, umbi dan obat untuk mereka makan.
Sebagai manusia penghuni pulau asing, Kinan terpanggil untuk tidak merusak alam yang sudah menyediakan banyak hal untuk kelangsungan hidup Kinan.
Tok! Tok! Tok!
Semoga saja, tidak ada hewan di hutan yang sakit dan butuh bantuan pengobatan dariku. Tubuhku masih lemah setelah melahirkan. Setidaknya aku butuh waktu 40 hari untuk pemulihan, batin Kinan.
Kriet! Pintu kayu terbuka.
Betapa kagetnya Kinan dan Tina melihat ada banyak burung, orang utan, monyet bekantan dan beberapa hewan lain yang pernah ditolong oleh Kinan, berjajar di depan pintu rumah pohon Kinan.
Mereka membawa banyak hadiah untuk Kinan dan Rimba. Ada yang membawa biji-bijian. Ada yang membawa buah, sayur dan umbi. Ada yang sibuk berkicau untuk memeriahkan suasana pagi ini.
"Bantu aku berbicara dengan mereka, Tina," pinta Kinan dengan rasa penuh haru. Kinan tak pernah menyangka jika hewan-hewan di hutan sangat menyayanginya dan datang bersama-sama untuk merayakan kebahagiaan dengannya.
"Terima kasih banyak untuk cinta yang sudah diberikan untukku dan Rimba," ucap Kinan sambil menyusut air mata bahagia yang meleleh membasahi pipinya. Senyum manis merekah di bibir Kinan.
"Uuu ... Aaa ... Aaa ...." Tina menyampaikan ucapan Kinan ke dalam bahasa hewan.
Semua hewan satu persatu meletakkan hadiah yang mereka bawa lalu pergi meninggalkan rumah pohon Kinan. Dan Big Mama adalah orang utan terakhir yang memberikan hadiah pada Kinan.
"Apa ini, Big Mama? Apakah ini ginseng liar?" tanya Kinan tak percaya Big Mama memberikan beberapa ginseng liar yang langka dan sulit dicari di hutan. Benda yang sangat dibutuhkan Kinan untuk memulihkan tenaga dan staminanya setelah melahirkan.
Big Mama maju mendekati Kinan dan mengulurkan tangannya. Kinan memegang tangan Big Mama dan mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan kepedulian Big Mama padanya. Lalu mereka berpelukan dengan hangat.
"Uu ... Aaa." Tina ikut memeluk Big Mama. Seperti ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Big Mama dalam menjaga Kinan.
"Aku akan segera membersihkan ginseng liar ini dan memakannya, Tina. Dengan ginseng liar ini, aku akan lebih cepat pulih kembali. Stamina tubuhku juga terus terjaga sehat walaupun aku melahirkan di hutan pulau asing," ucap Kinan senang.
Tina mengangguk bahagia. Benih kebaikan yang selama ini ditanam Kinan di hutan pulau asing mulai berbuah. Hewan-hewan yang pernah ditolong Kinan, satu persatu membalas jasa perawatan dan pengobatan yang Kinan berikan saat mereka sakit dan sekarat.
***
Hari berganti hari, Rimba tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat dan sangat pandai. Lewat bimbingan Tina, Rimba menguasai bahasa hewan sehingga ia dapat berkomunikasi dengan hewan-hewan di hutan. Rimba juga mempunyai aura bak seorang pangeran hutan. Ia disegani banyak hewan-hewan di darat, laut maupun udara. Bahkan hewan-hewan buas yang ada di hutan, tunduk padanya.
Kinan yang dahulu sering khawatir di malam hari karena takut ada hewan-hewan pemangsa yang akan memangsanya. Hingga mendirikan rumah di atas pohon agar lebih terlindungi. Sekarang tidak lagi khawatir. Hidup Kinan terasa lebih damai dan tidak dipenuhi ketakutan lagi. Kehadiran Rimba serasa seperti pelindung dan penjaga hidup bagi Kinan dan Tina.
Putra kecil Kinan yang beranjak memasuki usia lima tahun, juga begitu genius, lucu, menggemaskan dan selalu ingin tahu. Kinan dan Tina yang menjadi guru bagi Rimba sampai sering kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan Rimba.
"Bunda, tadi aku melihat seekor ibu macan tutul melahirkan. Anaknya ada dua, Bunda. Jantan dan betina. Mereka sangat lucu. Ayah dan ibu macan tutul nampak sangat bahagia. Bunda, apakah aku juga memiliki ayah?" tanya Rimba saat berbaring di samping Kinan.
Jantung Kinan berdetak kencang mendengar pertanyaan Rimba. Akhirnya pertanyaan ini meluncur juga dari mulut putranya.