CEO'S Prince

CEO'S Prince
Ayah dan Bunda Sang Penyelamat



Rimba melepaskan tautan bibirnya dari Leony. Seulas senyum hangat terukir di wajah tampan Rimba. Lalu dia menyeka bulir air mata di pipi Leony dengan lembut.


Ekspresi wajah Rimba tetap setenang air Danau Kelinci Hitam, tidak menunjukkan rasa terkejut atau apapun walau sudah mendapat kiss secara tiba-tiba dari sahabat kecilnya. Rimba dengan mulus dapat menyembunyikan detak jantungnya yang bertalu-talu memekik kaget. Seorang pria genius selalu mengutamakan nalar daripada perasaan.


Rimba membuang jauh-jauh pikiran bahwa Leony berniat ingin menjadi pelakor dan merebut dirinya dari Princess. Tunangannya sejak 22 tahun yang lalu. Tidak! Leony bukan wanita seperti itu. Leony bukan pelakor.


Saat ini Leony sedang hancur. Dia sedang putus asa, haus belaian kasih sayang dan perlindungan dari sosok heroik yang selalu menolong Leony saat dalam keterpurukan. Jadi Leony memohon perlindungan dalam pernikahan pada Rimba. Tidak lebih.


"Kita pikirkan itu nanti saja, Leony. Yang penting sekarang kamu sehat dan pulih kembali. Melupakan semuanya. Menata hidupmu agar ceria lagi. Aku tidak akan pergi dari sisimu. Aku akan selalu bersamamu. Kita lalui semua ini bersama. Aku janji. Aku akan selalu bersamamu," ucap Rimba lembut.


"Tidak, Rimba. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kau harus menikah denganku. Beberapa bulan lagi, perutku akan membuncit. Membesar. Aku malu, Rimba. Aku malu. Kalau kau tidak mau menikah denganku, lebih baik aku gugurkan janin ini. Membuangnya sebelum berkembang jadi lebih besar lagi. Dan kemudian ... A-aku akan mengakhiri hidupku yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi," balas Leony dengan suara serak. Nada suaranya terdengar tidak main-main.


Deg! Ternyata Leony tahu kalau dirinya sedang mengandung. Ya Tuhan, bagaimana ini? Leony benar-benar menginginkan pernikahan karena janinnya butuh ayah. Ya, ayah! Leony hanya dibesarkan oleh ibunya selama ini. Dia sangat paham bahwa seorang anak juga membutuhkan ayah.


Apalagi janin yang dikandung Leony adalah janin hasil perkosaan. Tidak tahu siapa ayahnya. Dan hati Leony sekarang dipenuhi rasa egois. Dia tidak mau mengalah lagi. Dia menginginkan Rimba untuk menjadi ayah janin yang dia kandung atau dia akan menggugurkannya lalu mati bunuh diri.


Gila! Ini sudah gila! Wanita memang akan jadi egois dan gila jika terhimpit masalah seberat masalah Leony.


Rimba menarik nafas panjang berkali-kali.


Krak! Suara pintu kamar tiba-tiba terdengar berderak keras. Dari kejauhan Rimba dapat melihat sosok wanita yang selalu menolongnya di saat genting. Melangkah anggun dengan senyum yang begitu hangat.


"Bunda!" Rimba segera bangkit berdiri, setengah berlari dan mendapatkan ibunya yang masih cantik walaupun usianya sudah di atas 50 tahun.


Syukurlah, Bunda Kinan datang tepat waktu. Kepalaku rasanya hampir meledak memikirkan Leony yang ngotot minta dinikahi, batin Rimba.


Leony menolehkan kepala ke arah lain. Buru-buru menghapus air matanya dan mengatur nafasnya. Agar isak tangisnya yang memburu segera mereda.


Leony tidak mau Bunda Kinan tahu kalau dirinya yang kotor ini meminta putra semata wayang Bunda Kinan untuk bertanggung jawab atas kesalahan predator bejat yang sudah menghamilinya.


"Bunda, silahkan duduk di sini." Rimba menarik lengan kanan Kinan dan memandunya untuk duduk di samping Leony.


"Ini dari Si Tengil Princess. Dia memesan banyak roti dan permen untuk kalian berdua. Untung saja dia tidak ngambek dan marah-marah karena kau tidak mengangkat telepon dan menjemputnya," ucap Kinan sambil menyodorkan bungkusan kertas cokelat yang menggelembung penuh isi.


"Terima kasih, Bunda." Rimba tersenyum, mengacungkan two tumbs pada ibunya lalu menerima bungkusan kertas dan mengintip isinya.


"Dia selalu tahu apa yang kusuka." Senyum manis kembali tersungging di bibir Rimba. Rasa sakit kepala Rimba seakan lenyap setelah teringat Princess, gadis tengil yang selalu ceria dan bebas itu. Rimba mengambil sebutir permen dan memakannya. Rasa manis permen membuatnya bertenaga dan dapat berpikir jernih lagi.


"Leony, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik lagi?" tanya Bunda Kinan sambil mengelus lembut kedua punggung tangan Leony.


Leony menatap wajah cantik Bunda Kinan dengan penuh haru. Ingin rasanya menceritakan semua kisah tragisnya, bersandar di bahu Kinan dan menangis sepuasnya. Tapi kalau semua ia ceritakan, Bunda Kinan dan Ayah Andre pasti akan menjauhinya. Karena dirinya kotor dan hina. Tidak pantas untuk menjadi calon menantu keluarga Ariandono.


Princess sekarang jauh di atas Leony. Princess masih murni, belum terjamah pria lain dan masa depannya sangat cerah. Sedangkan dirinya sudah kotor, hancur lebur, masa depannya suram. Sangat suram.


"Yang kuat dan tabah, Sayang. Ayah, Bunda dan Rimba akan mendampingimu melewati semuanya," ucap Kinan lembut.


"Bundaaa ...." Leony menumpahkan air matanya di dalam pelukan Kinan yang sudah tahu semua kisahnya tanpa harus ia atau Rimba yang memberitahukan.


Di ruang tamu kediaman Ariandono.


Andre mengambil secangkir teh camomile dan menyeruputnya perlahan. Aroma teh yang menenangkan membuat Andre dapat berpikir lebih jernih setelah mendengar kisah tragis Leony dari mulut Rimba.


"Kita harus menyelidiki semuanya lebih dahulu. Menemukan pelakunya adalah yang terpenting," ucap Andre sambil meletakkan cangkir minumannya ke atas meja.


"Ayah benar-benar penasaran dengan motifnya. Menyekap seorang gadis, menyiksa dan memperkosanya selama dua minggu berarti pelakunya benar-benar terobsesi dan punya kelainan seksi dengan Leony. Selain itu, ayah juga ingin tahu apakah dia memiliki dendam dengan Leony hingga tega menyiksa Leony dengan mencabuti kuku jari tangan." Andre menarik nafas panjang.


"Jika pelakunya memiliki penyakit kejiwaan yang parah, lebih baik gugurkan saja janin yang dikandung Leony. Menurut ayah, itu yang terbaik buat Leony," tambah Andre yakin.


"Memang menggugurkan kandungan itu dosa besar tapi jika janin yang dikandung adalah hasil perkosaan, belum berumur 4 bulan dan sang ayah (si pemerkosa) adalah seorang predator dengan kelainan jiwa, lebih baik janin tersebut tidak dilahirkan karena hanya akan makin menyiksa Leony," ucap Andre.


Kinan dan Rimba yang ada di samping kanan dan kiri Andre hanya terdiam dan membisu.


Ucapan Andre memang ada benarnya.


Semua ini Andre ucapkan karena Andre sangat menyayangi Leony. Ia sudah menganggap sahabat baik putranya sebagai anaknya sendiri. Ia tidak tega melihat kondisi Leony yang makin hancur tertimpa tangga.


"Tapi Leony mengancam akan bunuh diri setelah menggugur kandungannya, Ayah," ucap Rimba kalut.


Andre dan Kinan bersama-sama mendesah resah.


"Leony butuh pendampingan psikiater selain kita, Kak Andre," tutur Kinan.


Rimba dan Andre mengangguk setuju.


"Apakah kalian punya referensi psikiater terbaik untuk Leony?" tanya Andre serius.


"Bunda Athena memiliki kenalan yang mungkin dapat membantu Leony, Ayah. Seorang psikiater hebat. Namanya Dokter Roy. Dokter Roy pernah membantu Bunda Athena dan Nenek Hera, Ayah," jawab Rimba yang pernah mendengar kisah Athena di novel Misteri Danau Kelinci Hitam.


"Kalau begitu, Ayah akan meminta Rendra untuk membuat appointment," ujar Andre.


"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Bunda. Maaf Rimba merepotkan Ayah dan Bunda dengan masalah Leony dan Princess," ucap Rimba.


"Jangan sungkan, Son. Ada masalah sekecil apapun, kami akan selalu siap menolongmu, Son. Jadi, jangan pernah menyembunyikan masalahmu dari kami. Ceritakanlah dan kami akan membantu jika memang kami dapat membantu," balas Andre.


"Tolong bantu Rimba menemukan pelakunya, Ayah."


"Apa yang kau lakukan jika Ayah berhasil menemukannya?"


"Rimba ingin memukul wajahnya sampai bonyok dan membuatnya ompong tak bergigi lagi."


Astogeee!